Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Fisya Yang Membara
Malam semakin larut, rumah besar keluarga Alexander mulai sunyi lampu ruang tengah sudah dimatikan hanya tersisa lampu kecil di kamar bayi yang masih menyala redup.
Fisya berbaring di sofa kecil dekat tempat tidur Tina, ia memejamkan matanya seolah sudah tertidur sejak tadi padahal pikirannya masih terjaga.
Tak lama kemudian… suara pintu kamar terbuka perlahan terdengar Jason masuk, langkah pria itu pelan.
Ia melihat Fisya yang tertidur di kamar bayi bersama Tina.
Jason tersenyum tipis.
“Tidur di sini lagi…” gumamnya kecil.
Ia mendekat perlahan tatapannya tertuju pada Tina yang tertidur pulas, senyum Jason perlahan berubah miring.
Tangannya menyentuh kepala bayi itu pelan.
“Anak yang kamu sayang itu adalah anakku dan Kasandra…”
Jason tertawa kecil penuh kemenangan.
“Kamu benar-benar wanita bodoh, Fisya.”
Fisya yang pura-pura tidur mengepalkan tangannya pelan di balik selimut namun wajahnya tetap tenang.
Jason masih bicara pelan tanpa sadar istrinya mendengar semuanya.
“Rumah… Perusahaan… Dan semua aset kekayaanmu… Nanti akan jadi milikku.” Tatapan Jason penuh keserakahan.
Ia kembali melihat Tina.
“Dan anak ini akan jadi jalan buat semuanya.”
Fisya hampir tertawa mendengar itu, Jason benar-benar yakin rencananya berhasil padahal, bayi yang sedang ia banggakan itu adalah anak kandung Fisya sendiri.
Jason akhirnya berdiri tegak, ia melihat Fisya sekali lagi lalu tersenyum sinis.
“Tidurlah yang nyenyak, istri bodoh ku"
Setelah itu Jason keluar dari kamar bayi, pintu tertutup perlahan.
Beberapa detik kemudian… Fisya perlahan membuka matanya, tatapannya dingin.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Aku memang wanita bodoh di hadapanmu, Jason…” gumamnya pelan.
“Tapi wanita bodoh ini juga yang akan menghancurkan dan menggagalkan semua rencana kalian.” gumamnya lagi
Fisya menoleh ke arah Tina dan tatapannya langsung berubah lembut.
“Mama gak akan biarkan siapa pun mengambil semuanya dari kita"
Ia lalu membelai pelan tangan kecil putrinya, tak lama kemudian Fisya benar-benar memejamkan matanya dan tertidur.
***
Keesokan paginya… suasana rumah kembali sibuk.
Fisya sudah bangun sejak pagi, ia sudah selesai mandi dan bersiap.
Di ruang makan, sarapan sudah tersedia rapi, Tina tadi sempat menangis karena lapar.
Fisya langsung menyusui putrinya dengan tenang di kamar bayi.
Setelah Tina kembali tidur, Fisya memompa ASI untuk persediaan.
Botol-botol kecil berisi ASI tersusun rapi di dalam pendingin khusus.
Bik Lili yang melihat itu tersenyum kagum.
“Ibu hebat sekali,” ucap Bik Lili.
Fisya tersenyum kecil.
“Aku cuma mau Tina tetap dapat ASI meski nanti aku kerja.”
Bik Lili mengangguk.
“Pasti non Tina sehat terus karena mempunyai ibu yang hebat seperti ibu Fisya"
Fisya lalu menyerahkan beberapa botol pada Bik Lili.
“Nanti kalau dia bangun kasih yang ini dulu.”
“Iya Bu.” jawab Bik Lili mengerti
Setelah semuanya selesai, Fisya akhirnya duduk di meja makan sambil minum teh hangat.
Tak lama kemudian… suara langkah cepat terdengar dari lantai atas.
Jason turun tergesa-gesa sambil memakai jam tangannya, wajahnya terlihat terburu-buru karena sebenarnya pagi ini ia ingin cepat pergi ke rumah Kasandra.
Ia ingin melihat keadaan wanita itu dan memastikan semuanya aman namun begitu melihat Fisya duduk di meja makan…
Jason langsung mengubah ekspresinya, senyum manis langsung muncul di wajahnya.
“Pagi sayang.”
Fisya menoleh santai.
“Pagi.”
Jason langsung duduk di samping Fisya dengan sikap mesra, ia bahkan merangkul bahu istrinya pelan.
Kalau orang lain melihat… mereka akan mengira pasangan itu sangat harmonis.
“Tidur nyenyak?” tanya Jason lembut.
Fisya tersenyum kecil.
“Lumayan.”
Jason mencium pelipis Fisya singkat sedangkan dalam hati Fisya merasa muak namun ia tetap memasang wajah tenang.
Jason lalu mengambil roti sambil berkata santai,
“Aku lihat status kamu semalam.”
Fisya pura-pura tidak mengerti.
“Yang mana?”
“Foto Tina.” ucap Jason cepat
“Oh…” jawab Fisya
Jason tersenyum.
“Tina sangat cantik seperti kamu sayang"
“Iya.” jawab Fisya lagi
Jason menatap Fisya beberapa detik.
“Kamu benar-benar mau buat pesta besar?”
Fisya mengangguk.
“Tentu.”
“Untuk apa sebesar itu?” tanya Jason
Fisya tersenyum tipis.
“Karena Tina anak pertamaku dan dia pewaris keluarga Alexander.”
Jason langsung merasa senang mendengar itu namun ia menahan ekspresinya.
“Oh ya?”
Fisya mengangguk santai.
“Aku mau semua orang tahu.”
Jason mencoba terdengar biasa saja.
“Pestanya kapan?”
“Minggu depan.” jawab Fisya
“Siapa saja yang diundang?” tanya Jason lagi
“Relasi bisnis, teman-teman, beberapa keluarga.” ucap Fisya seperlunya
Jason mengangguk sambil tersenyum, dalam pikirannya sekarang hanya satu… status ahli waris, itu yang paling penting.
Jason lalu menatap Fisya lebih serius.
“Sayang…”
“Hm?” jawab Fisya yang sudah malas
“Apakah kamu akan mengumumkan ahli waris keluarga Alexander di pesta itu?” tanya Jason serius
Fisya perlahan menoleh dan tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik suasana terasa aneh namun kemudian… Fisya tersenyum.
“Iya, aku akan mengumumkannya.” jawab Fisya
Jantung Jason langsung berdegup lebih cepat dan ia hampir tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
“Apa benar?”
Fisya mengangguk pelan.
“Tunggu saja.”
Jason tersenyum lebar.
“Baguslah kalau begitu"
Di dalam hati Jason benar-benar sangat puas, akhirnya setelah semua usaha dan rencananya, anak kandungnya akan resmi menjadi pewaris keluarga Alexander.
Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana seluruh kekayaan Fisya nantinya jatuh ke tangannya.
Sedangkan Fisya… diam-diam menyeringai kecil sambil meminum tehnya.
“Masuklah lebih dalam ke perangkapku, Jason…” batinnya.
Jason sama sekali tidak sadar, semua yang dilakukan Fisya sekarang memang sengaja.
Ia sedang membangun harapan setinggi mungkin… agar saat semuanya runtuh nanti…
Jason dan Kasandra akan hancur lebih menyakitkan.
Jason lalu berdiri sambil merapikan jasnya.
“Aku berangkat duluan ya sayang"
Fisya mengangguk.
“Hati-hati.”
Jason kembali mencium kening Fisya sebelum pergi.
Begitu Jason keluar rumah… senyum di wajah Fisya langsung hilang, tatapannya berubah dingin.
Bik Lili yang dari tadi diam di dapur perlahan mendekat.
“Ibu…” panggilnya
Fisya menoleh.
“Kenapa Bik?”
Bik Lili terlihat ragu.
“Bapak kelihatannya senang sekali.”
Fisya tersenyum tipis.
“Biarkan, semakin tinggi harapan seseorang maka akan semakin sakit saat jatuh nanti.”
Bik Lili langsung diam, entah kenapa, ia mulai takut membayangkan apa yang sudah disiapkan Fisya untuk Jason dan Kasandra di masa depan.
__Bersambung__