NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAWAN ABNORMAL

​BAB 3: KAWAN ABNORMAL DAN AMARAH SANG API

​Pada fajar hari ketiga, kesadaran Kael Ardyn perlahan kembali dari kegelapan Void.

​Kelopak matanya terasa seberat timah, membutuhkan usaha keras hanya untuk sekadar mengerjap.

​Aroma obat-obatan herbal yang pekat berpadu wangi kayu manis langsung menyengat indra penciumannya, memicu denyut pening di pelipis.

​Kael mengerjap beberapa kali, mencoba mengusir kabut pada pandangannya.

​Dinding batu kasar yang kokoh, langit-langit tinggi dari kayu ek yang menghitam, serta perabotan kuno sederhana. Ini jelas bukan kamar mewah di kediaman militer keluarganya.

​Saat mencoba menggeser tubuhnya yang kaku, sendi-sendinya berderit protes.

​Rasa nyeri menusuk langsung ke pusat saraf, sisa dari pembuluh darahnya yang sempat menghitam akibat beban spiritual Morthas.

​Namun, rasa sakit itu mendadak menguap ketika Kael menoleh ke sisi kanan tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang, memicu lonjakan adrenalin instan.

​Tepat di samping ranjangnya, sepasang mata bulat besar berwarna hitam legam sedang menatapnya lurus dari jarak dekat.

​Itu adalah kepala seekor Mammoth Purba berbulu lebat setinggi langit-langit kamar.

​Sepasang gadingnya yang melengkung tajam berkilau mengancam, tampak mampu merobek zirah besi tebal dalam sekali seruduk. Hawa kuno yang berat menguar dari makhluk itu, memenuhi ruang kamar yang sempit.

​Secara refleks, insting bertahan hidup Kael yang terlatih di lingkungan militer langsung aktif.

​Ia menggertakkan gigi, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lalu memaksakan energi jiwanya yang masih rapuh untuk menarik kembali sabit merah Morthas dari dimensi Void.

​"Hei, tenang! Jangan tegang begitu!" sebuah suara cempreng dan santai menginterupsi dari balik perut besar sang Mammoth.

​"Wajahmu jadi tambah pucat seperti mayat tahu, bisa-bisa kau pingsan lagi."

​Kael tertegun, menghentikan aliran spiritualnya yang baru saja memercik.

​Seorang pemuda berbadan gemuk dengan pipi tembem melangkah maju sambil membawa sepasang tangan yang kerepotan memegang mangkuk sup hangat.

​Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi waspada, melainkan cengiran polos tanpa beban.

​Bocah ini gila atau otaknya memang lowong? umpat Kael dalam hati.

​Bagaimana bisa seseorang dengan santai memanggil Anima berukuran raksasa di dalam ruang tidur yang sempit seperti ini?

​Jika insting bertarungnya tadi tidak ditahan, kamar ini pasti sudah hancur berantakan.

​"Bisakah kau... menarik kembali makhluk purba ini?" ucap Kael.

​Suaranya terdengar serak dan kering, sengaja dibuat sedatar mungkin untuk menyembunyikan keterkejutan yang sempat mengguncang egonya.

​"Oh! Maaf, maaf. Morgrath cuma penasaran denganmu," Hugo, pemuda gemuk itu, terkekeh tanpa rasa bersalah.

​Dengan satu lambaian tangan yang kasual, Mammoth raksasa itu memudar, pecah menjadi butiran cahaya spiritual kebiruan yang kembali meresap ke dalam dadanya.

​Hugo meletakkan mangkuk sup di meja kecil, lalu menjelaskan dengan nada santai bahwa mereka saat ini berada di markas tersembunyi Guild Scar Horizon.

​Tempat ini terletak di Lapisan Kedua luar dinding—sebuah zona mematikan yang dihuni kawanan Beast ganas setara Kelas Perak. Tempat di mana manusia biasa tanpa persiapan seharusnya sudah mati tercabik-cabik dalam hitungan menit.

​Belum sempat Kael mencerna informasi tentang lokasi keberadaannya saat ini—

​BRAKKK!

​Pintu kayu tebal kabin dihantam terbuka dari luar dengan kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya yang berkarat.

​Detuman keras itu bergema memekakkan telinga, membuat mangkuk sup di atas meja bergetar hebat.

​"Woi, Gendut! Keluar tidak kau?!"

​Sesosok pemuda kurus dengan rambut merah acak-acakan menerobos masuk tanpa permisi. Matanya menyala-nyala penuh gairah bertarung.

​"Tiga hari penuh kau bersembunyi di kamar ini hanya untuk menjaga anak baru!" teriaknya meluap-luap.

​"Cepat panggil Morgrath-mu keluar, aku sudah gatal ingin bertarung!"

​Kael memijat pelipisnya yang mendadak pening berlipat ganda.

​Pemuda berambut merah yang baru datang ini—yang belakangan ia ketahui bernama Ren—terus mengoceh tanpa memedulikan kondisi pasien.

​Ren mondar-mandir seperti cacing kepanasan, sementara Hugo hanya membalas makian itu dengan cengiran provokatif.

​Suasana kamar yang harusnya menjadi tempat pemulihan jiwa yang tenang kini tak ubahnya seperti pasar malam yang bising.

​Namun, kegaduhan itu terputus secara absolut dalam satu detik berikutnya.

​Wusssss!

​Suhu di dalam ruangan batu mendadak melonjak drastis secara ekstrem.

​Oksigen di sekitar mereka seolah tersedot habis, digantikan oleh gelombang hawa panas yang pekat hingga menekan dada.

​Dinding-dinding batu kamar mulai mengeluarkan uap panas, dan lantai kayu di bawah kaki mereka berderit seakan siap menyala menjadi bara.

​Merasakan tekanan aura yang mengerikan itu, Hugo yang tadinya santai langsung menciut.

​Dengan wajah yang mendadak pucat ketakutan, ia melompat dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya, menyembunyikan wujud tambunnya di balik punggung Kael yang kurus.

​Hugo menjadikan si anak baru yang bahkan belum bisa berdiri tegak sebagai tameng hidup.

​Sementara Ren, pemuda cerewet yang tadinya berapi-api menantang duel, langsung membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat.

​Tubuhnya kaku seperti batu, dan pelipisnya bercucuran keringat dingin yang langsung menguap. Semua kesombongan bertarungnya lenyap tanpa sisa.

​Kael mengepalkan tangannya erat-erat di atas selimut, matanya menatap tajam ke arah pintu.

​Aura intimidasi ini... rasanya seperti sedang dihampiri oleh perwujudan matahari itu sendiri. Penuh kehancuran sekaligus keagungan.

​Dari balik koridor yang gelap, siluet sesosok wanita melangkah maju dengan anggun namun mengintimidasi.

​Setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas abu hitam yang membara di lantai kayu, diiringi oleh kibasan samar sayap api ilusi seekor Phoenix yang bertengger di balik pundaknya.

​Gadis itu bernama Elena. Dia adalah cucu dari lelaki tua legendaris yang telah menyelamatkan nyawa Kael.

​Di balik punggungnya bertengger Pyrael—Anima kelas Mitologi berwujud burung Phoenix api purba yang memancarkan hawa neraka.

​Sepasang mata merah menyala milik Elena langsung mengunci ketiga pemuda di dalam kamar dengan tatapan menusuk.

​"Ren... Hugo..." suaranya terdengar rendah, namun mengandung getaran vibrasi api yang sanggup membakar nyali siapa saja yang mendengarnya.

​"Bisa kalian jelaskan padaku, kenapa pasien yang baru saja sadar dari koma tiga hari sudah kalian ajak ribut seperti ini?"

​Kekesalan di wajah cantik Elena semakin mendalam melihat kedua temannya diam membisu seperti patung lilin.

​Di balik pundaknya, wujud ilusi Pyrael membesar, mengepakkan sayap api yang memercikkan bara merah ke udara, membuat oksigen di dalam ruangan semakin menipis.

​Ironisnya, Elena datang untuk menghentikan keributan agar Kael bisa istirahat, namun kehadirannya justru membuat kamar tersebut terancam hangus terbakar menjadi abu.

​Melihat lantai kayu yang mulai menghitam di dekat kaki Elena, Kael tahu ia harus menengahi sebelum mereka semua benar-benar terpanggang hidup-hidup di tempat tidur ini.

​Ia menarik napas dalam-dalam, menahan rasa panas yang membakar tenggorokannya, lalu angkat bicara menembus tekanan aura tersebut.

​"Nona... sebaiknya tenangkan dulu amarahmu," ucap Kael.

​Suaranya terdengar sangat tenang dan datar, namun memiliki ketegasan di tengah gemuruh hawa panas.

​"Aku Kael. Dan situasi di sini tidak seburuk yang kau lihat."

​Mendengar suara sang pasien yang merespons auranya tanpa rasa takut, fokus Elena beralih penuh.

​Sepasang mata merah menyalanya menatap Kael lekat-lekat, menyelidiki kekuatan jiwa remaja di depannya.

​Perlahan, melihat Kael yang sama sekali tidak gentar atau gemetar seperti dua orang lainnya, wujud raksasa Pyrael mengecil dan memudar kembali ke dalam Ranah Jiwa Elena.

​Hawa mencekam yang menindas di dalam ruangan sedikit mereda, meskipun Elena tetap melipat tangan di depan dada dengan tatapan yang masih tajam.

​"Bicara yang jelas," ketus Elena, nadanya dingin meskipun sisa auranya masih terasa panas.

​"Aku ke sini sebenarnya hanya ingin memastikan dua idiot ini tidak membuat pasien yang baru sadar mati jantungan karena ulah mereka."

​Kael tersenyum tipis secara samar, merasa geli dengan kontras sifat gadis di depannya.

​Niatnya menenangkan, tapi kehadirannya hampir membakar seisi rumah, gumam Kael dalam hati.

​"Sebenarnya, kami tidak sedang bertengkar," Kael berdeham sedikit, mencoba mencairkan suasana yang kaku sambil menyenggol Hugo yang masih gemetar di belakang bahunya.

​"Kami hanya... sedang bertukar cerita tentang pengalaman luar biasa mereka bertarung di Lapisan Kedua luar dinding. Iya kan, Hugo?"

​Mendengar namanya disebut sebagai pelampung keselamatan dari amarah Elena, Hugo memberanikan diri melongokkan kepalanya dari balik bahu Kael dengan cengiran yang dipaksakan.

​"Ah! Iya, Elena! Benar kata Kael!" seru Hugo panik.

​"Kami hanya terlalu bersemangat menceritakan luar dinding sampai terbawa suasana!"

​Tak mau menanggung beban interogasi sendirian, Hugo melirik ke sampingnya, memberikan kode mata.

​"Iya kan, Ren?!"

​Ren yang merasa mendapat giliran langsung tersentak dari kekakuannya, mengangguk patah-patah seperti boneka rusak.

​"I-iya! Betul! Cuma cerita pengalaman masa lalu, tidak ada ribut-ribut sama sekali, bersumpah!"

​Melihat kekompakan yang dipaksakan dan wajah ketakutan dari ketiga pemuda itu, Elena menghela napas panjang, memutar matanya dengan ekspresi bosan yang kentara.

​Sisa-sisa hawa panas benar-benar lenyap dari ruangan, mengembalikan suhu kabin batu ke kondisi semula yang sejuk berkat angin malam luar dinding.

​Ketegangan yang tadinya mencekam perlahan mencair, digantikan oleh kecanggungan yang menggelikan di antara mereka berempat.

​Di dalam kamar sederhana di Lapisan Kedua yang berbahaya itu, Kael, Ren, Hugo, dan Elena akhirnya mulai duduk bersama dengan layak.

​Tanpa mereka sadari, di antara sisa abu hangat yang ditinggalkan oleh Phoenix api, ikatan pertemanan pertama mereka baru saja terbentuk—sebuah awal dari persekutuan empat jiwa abnormal yang siap mengguncang hukum dunia yang korup

1
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi.id: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi.id: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Anonim
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Anonim
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi.id: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi.id: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi.id: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi.id: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi.id: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi.id: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi.id: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
WER
Thor apakah ada benih cinta di antara El dan kael pasti seru /CoolGuy/
Kausafiksi.id: Bisa kelihatan sih, sudah ada debar debar kaya nya si el
total 3 replies
WER
sabar El sabar orang sabar di sayang Tuhan 👍😆
Day Chuk: 🤣 galak amat ya cewe nya
total 2 replies
Muhammad Nur Septyawan
keren bang gua suka alur nya lumayan pas dan tidak basa basi👍
Kausafiksi.id: terimakasih bang, di bab 12 kesana baru baku hantam nya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!