Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Areksa semakin gila
Pagi hari di kediaman mewah keluarga Areksa sama sekali tidak berjalan tenang. Pukul tujuh pagi, kamar utama bernuansa monochrome itu sudah diwarnai drama kecil yang menguras emosi Zevanna.
Zevanna berdiri di depan cermin besar, menatap penampilannya yang baru saja berganti untuk ketiga kalinya. Kemeja putih berlengan panjang dengan rok spans selutut berwarna navy sebenarnya sudah sangat formal untuk ukuran karyawan baru di divisi pemasaran. Namun, pria yang sedang bersandar di pintu kamar mandi sambil bersedekap dada itu tampak belum puas sama sekali.
"Ganti lagi, Nana," ucap Areksa dingin, matanya menatap tajam ke arah rok yang menampilkan betis mulus istrinya.
Zevanna memutar tubuhnya cepat, menatap Areksa dengan tatapan berapi-api. "Areksa! Ini sudah yang ketiga kalinya aku ganti baju! Yang pertama kamu bilang kemejanya terlalu ngepas, yang kedua kamu bilang celana kulotku terlalu ngebentuk pinggul, dan sekarang rok ini juga salah?!"
"Rok itu kependekan. Pas kamu duduk nanti, naik berapa senti coba?" Areksa melangkah mendekat, raut wajahnya sama sekali tidak menerima bantahan. "Kamu mau paha kamu jadi tontonan karyawan laki-laki di sana, hm?"
"Ini rok standar kantoran, Areksa! Kamu kira aku mau pergi ke clubbing?!" celetuk Zevanna frustrasi. "Lagian aku kan cuma karyawan biasa di bawah, nggak bakal ada yang peduli!"
"Aku peduli," tegas Areksa pendek tapi tajam. Pria itu berjalan menuju lemari pakaian, menarik sebuah celana kain bahan longgar berwarna hitam dan kemeja oversized berlengan panjang bernuansa krem. Ia melemparkannya pelan ke atas tempat tidur. "Pakai ini. Atau kamu nggak usah keluar dari kamar ini seharian."
Zevanna mengepalkan tangannya, membuang napas kasar. Ingin rasanya ia melemparkan sepatu high heels-nya ke wajah tampan yang menyebalkan itu. Namun melihat tatapan Areksa yang tak bermain-main, Zevanna akhirnya mengalah. Dengan sungut kesal, ia menghentakkan kaki menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sepuluh menit kemudian, Zevanna keluar dengan pakaian yang jauh lebih tertutup hampir seperti tenggelam dalam pakaian longgar, tapi tak bisa dipungkiri ia tetap terlihat anggun dan cantik alami.
"Puas?!" tembak Zevanna ketus sembari memoleskan lipstick merah muda di bibirnya.
Areksa tersenyum tipis, kepuasan terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berniat mengambil kunci mobilnya di meja rias. "Bagus. Sekarang ambil tas kamu, kita berangkat bareng."
"Nggak mau," tolak Zevanna cepat.
Areksa menghentikan langkahnya, menaikkan satu alisnya. "Apa?"
"Aku nggak mau berangkat bareng kamu. Kalau kita datang bareng satu mobil, satu kantor langsung tahu aku ada hubungan sama CEO-nya! Aku mau naik taksi atau bus," ujar Zevanna tegas sambil merapikan tas kerjanya.
"Zevanna, jangan mulai," suara Areksa merendah, bernada peringatan. "Kamu istri aku. Mana mungkin aku biarkan kamu desak-desakan di transportasi umum?"
"Aku mau mulai dari bawah, Sa! Kamu udah janji!"
Areksa menatap istrinya dalam-dalam. Sifat keras kepala Zevanna memang selalu berhasil menguji kesabarannya, tapi di saat yang sama justru membuat Areksa makin bergairah untuk menaklukkannya. Pria itu menghela napas, lalu berjalan santai menuju kursi kerjanya di sudut kamar, melipat kaki, dan menyandarkan punggungnya.
"Ya sudah," kata Areksa santai.
Zevanna mengerutkan kening. "Ya sudah apa?"
"Ya sudah, kamu nggak boleh pergi kerja hari ini. Aku bakal telepon HRD detik ini juga buat batalkan surat penerimaan kamu," ancam Areksa dengan raut wajah paling tak berdosa, sambil mengacungkan ponsel di tangannya.
"Areksa! Kamu curang banget sih!" pekik Zevanna panik.
"Pilihannya cuma dua, Dear," bisik Areksa penuh kejahilan. "Berangkat bareng aku... atau, kamu boleh berangkat sendiri pakai mobil pribadi yang disiapin sopir, tapi dengan satu syarat."
Zevanna memicingkan mata curiga. "Syarat apa?"
Areksa menepuk pahanya sendiri pelan. "Sini. Duduk di pangkuan aku, terus kecup bibir aku duluan. Baru aku izinkan kamu melangkah keluar dari pintu rumah ini."
Pipi Zevanna seketika membara. "Pikiran kamu benar-benar cuma isinya mesum, ya! Nggak! Aku nggak mau!"
"Oke, aku telepon HRD sekarang..."
"Eh, jangan!" Zevanna memotong cepat saat jari Areksa berpura-pura hendak menekan layar ponsel.
Zevanna menggeram rendah, menggertakkan giginya kesal. Mengapa pria ini selalu punya seribu cara untuk menyudutkannya? Dengan langkah berat dan napas terengah menahan emosi, Zevanna akhirnya berjalan menghampiri Areksa.
Ia berdiri ragu di depan pria itu. Areksa menatapnya dengan senyum culas yang sangat memprovokasi.
"Cepat, Nana. Nanti kamu terlambat," goda Areksa.
Dengan pasrah dan terpaksa, Zevanna menurunkan harga dirinya. Ia memiringkan tubuhnya dan perlahan duduk di atas pangkuan tegap Areksa. Kehangatan paha Areksa menyengat kulitnya. Zevanna menunduk, lalu mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Areksa hanya sekadar kecupan singkat satu detik.
"Sudah, kan? Sekarang izinkan aku—"
Belum sempat Zevanna menuntaskan kalimatnya atau bangkit dari pangkuan itu, tangan kekar Areksa sudah melingkar protektif di pinggangnya, menahannya rapat. Sebelum Zevanna sempat memprotes, Areksa sudah memiringkan kepala dan membungkam bibirnya kembali.
Kali ini bukan sekadar kecupan. Areksa melumat bibir Zevanna dengan brutal dan penuh dominasi. Pria itu menyesap bibir manis istrinya seolah-olah sudah kelaparan berhari-hari. Tangan Areksa yang satu lagi merayap naik, menahan tengkuk Zevanna agar wanita itu tidak bisa meloloskan diri.
"Emmhh... Sa... lepas..." lenguh Zevanna di sela-sela ciuman yang makin panas.
Namun Areksa justru makin memperdalam ciumannya, mengabaikan dorongan lemah di dadanya. Pria itu menikmati setiap detik sapuan bibir mereka, menyerap rasa manis yang selalu berhasil membuatnya ketagihan sampai gila. Sensasi panas menjalar cepat, membuat pertahanan Zevanna runtuh seketika hingga matanya terpejam pasrah, melayang dalam keahlian suaminya.
Baru setelah beberapa menit yang menggebu-gebu, Areksa melepaskan tautan bibir mereka. Napas keduanya berburu, saling berhembus di jarak yang terlewat dekat.
Zevanna membuka matanya yang berkaca-kaca, dadanya naik turun. Namun saat ia melihat pantulan dirinya di cermin meja rias tak jauh dari sana, matanya langsung membelalak. Lipstik merah muda yang baru saja ia poles rapi kini belepotan sampai ke sekitar dagu dan pipinya akibat ciuman ganas Areksa.
"Areksa! Lihat gara-gara kamu!" jerit Zevanna kesal, memukul dada Areksa cukup keras. "Belepotan begini! Kamu jahat banget sih!"
Areksa malah terkekeh puas, suara tawanya yang berat terdengar sangat menyebalkan di telinga Zevanna. "Lagian bibir kamu manis banget, mana tahan aku kalau cuma dikasih kecupan tipis."
"Tuh kan! Selalu cari alasan!"
"Sini, aku benerin," potong Areksa lembut.
Pria itu meraih tissue basah di atas meja, lalu dengan sangat telaten dan perlahan menyapu sisa-sisa lipstik yang berantakan di sekitar bibir dan dagu Zevanna. Wajah Areksa yang tadi penuh kejahilan mendadak berubah sangat fokus dan lembut, menatap lekat-lekat setiap inci wajah istrinya dari jarak dekat.
Setelah bersih, Areksa mengambil tabung lipstick milik Zevanna, membukanya, lalu memoleskan kembali warna indah itu ke bibir Zevanna dengan ibu jarinya yang lihai. Usahanya begitu hati-hati, seolah sedang merawat barang yang paling berharga di dunia.
Zevanna terdiam. Hatinya berdesir aneh melihat perlakuan manis yang kontras dengan sifat mesum pria ini. Tatapan matanya terkunci pada manik mata Areksa yang pekat.
Setelah selesai memoles lipstik, jemari Areksa tak langsung menjauh. Ibu jarinya mengusap lembut rahang Zevanna. Raut wajah Areksa mendadak berubah sangat serius, binar matanya mengeras penuh dominasi yang pekat.
"Ingat kata-kata aku baik-baik, Nana," bisik Areksa dengan suara berat dan dingin, memutus keheningan di antara mereka.
Zevanna mengerutkan kening. "Apa?"
Areksa mendekatkan bibirnya ke telinga Zevanna, memberi peringatan yang sanggup membuat bulu kuduk Zevanna merinding.
"Jangan pernah coba-coba dekat atau tersenyum manis sama laki-laki mana pun di kantor nanti... kalau kamu nggak mau lihat laki-laki itu mendadak hilang dari dunia ini esok harinya."
Zevanna menelan ludah dengan susah payah. Sorot mata Areksa tidak memancarkan kebohongan atau candaan sedikit pun. Pria itu benar-benar bersungguh-sungguh dengan ancamannya.
"Kamu... kamu gila, ya?" bisik Zevanna pelan.
Areksa tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh misteri dan kepemilikan mutlak. "Aku memang gila kalau itu menyangkut kamu, Dear. Sekarang, pergi kerja. Sopir sudah tunggu di depan."
Areksa menepuk pinggul Zevanna pelan, membiarkan istrinya berdiri dengan tubuh yang masih sedikit gemetar akibat kombinasi rasa terpesona, kesal, dan terancam oleh kegilaan suaminya sendiri.