Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Pohon
Cakra yang menyadari memutuskan untuk tidak berinteraksi dengan piringan itu. Marisa mendatangi Cakra untuk meminta bantuan.
“Cakra” Marisa muncul dibakang Cakra perlahan.
“Apakah kau bisa membantuku?”
.
“Membantu apa?” Cakra menoleh.
.
“Ikut aku”
Marisa melayang dan Cakra mengikuti terlihat sebuah pesawat futuristic muncul dengan rune yang mengelilingi pesawat itu.
“Apakah kau tau benda ini?” Marisa bertanya kepada Cakra.
.
“Tidak…”
“Tapi mungkin aku tau siapa mereka”
“Aku akan mencoba berbicara kepada mereka.”
.
“Oh kau bisa?” Marisa sedikit terkejut.
.
“Ya kita bisa”
“Tapi kau perlu memadatkan model inti duniamu terlebih dahulu”
“Pada dasarnya aku menyadari kalau setiap model memberikan ciri khas yang akan bisa membuat kita minimal berbicara pada mahluk hidup”
.
“Ah aku paham”
Cakra melayang bersama Marisa masuk kedalam pesawat angkasa, saat didalam Cakra melihat beberapa mahluk yang Cakra rasakan berniat jahat.
“Kalian…”
“Apa yang kalian lakukan di planet ini” Cakra menekan dengan suaranya.
Makhluk makhluk itu terlihat tertunduk merasakan berat yang sangat besar, sambil mendengar suara jubah mereka tersingkap yang rupanya adalah seekor mahluk seperti kadal berkaki dua. Sebelum mahluk tersebut membuka mulut Cakra segera mengaktifkan resonansi untuk mempelajari bahasa dunia ini dengan meniru frekuensi milik alat penerjemah elien di dunianya.
“Marisa”
“Gunakan ini untuk memahami mereka” memasangkan sejenis energi kepada Marisa.
.
“Baik terima kasih” Marisa menerima energi tersebut.
.
.
“Siapa kau?” Mahluk tersebut terlihat berekspresi ketakutan.
“Apa yang kalian inginkan?”
“Apakah kalian ingin menghalangi kami?”
.
“Menghalangi?”
“Tergantung.”
“Apa yang kalian ingin lakukan” Cakra menekan dengan auranya.
“Lebih baik jujur padaku atau akan kuhancurkan armada kalian”
.
“Kau…”
“Kau sama sekali tak perlu tahu”
“Dunia kami adalah urusan kami”
“Siapa kau berhak ikut campur?”
“Kami adalah ras penguasa”
“Planet sampah ini sama sekali tak pantas dilindungi”
.
“Apakah kau meragukan penilaianku?” Cakra semakin menekan.
.
“Kugh…”
“Bunuh!”
“Bunuh saja kami!”
“Kau juga akan mati karena tuan pasti akan membalaskan dendam kami”
.
“Tuan kalian?”
“Kalau begitu panggil saja”
Cakra melepaskan tekanan, makhluk makhluk itu langsung bergerak ke semacam monitor memanggil seseorang. Marisa bertanya pada Cakra apa yang dia lakukan.
“Cakra”
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?”
.
“Aku juga tak tau..”
“Aku hanya merasa harus melakukannya…”
“Karena niat dan cara mereka mengingatkanku pada peringatan yang diberikan mahluk asing di duniaku”
“Kau juga jangan terlalu lembut”
“Tak semua makhluk itu benar benar baik” Cakra mengelus kepala Marisa”
.
“Umm”
“Baiklah”
Beberapa waktu setelah itu terasa fluktuasi ruang yang muncul, seorang mahluk dengan wujud elemen angin muncul dari retakan ruang.
“Kau”
“Siapa kau berani melawan kami?” Makhluk itu hanya kepala tanpa wajah berbicara arogan.
.
“Kenapa kau tak perkenalkan dulu siapa kau?”
“Setauku dirimu ini bukanlah penguasa dunia ini?”
“Kau hanya salah satu elemen kan?”
.
.
“Lancang!”
“Berani kau mempertanyakan keberadaan tuan kami?”
Cakra menatap dan mengeluarkan aura untuk menekan makhluk kadal tersebut.
“Lebih baik kau diam”
“Atau aku tak peduli jika harus membunuhmu”
.
“Kau….”
“Apa yang kau lakukan” elemental berbicara ke Cakra.
.
“Tidak ada” Cakra dengan santai menjawab.
“Aku hanya menghukum makhluk yang merasa dia paling superior”
.
“Kau berani?”
.
“Ya tentu saja”
“Kenapa tidak”
Elemental mengangkat tangannya.
“Semua kontrol akan angin dan daya Tarik dunia ini adalah milikku”
“Kau pikir bisa melawanku”
Angin terlihat menyelimuti tubuh Cakra.
“Hmmm aku gak merasakan apapun”
.
“Apa apaan kau ini?” Makhluk itu terlihat sangat kaget.
.
“Kenapa?”
“Kaget?”
“Diriku itu adalah gravitasi”
“Yang membuat kalian itu bisa ada”
“Yang mengikat kalian untuk bisa berada disini”
.
“Kau…”
“Bagaimana mungkin kau bisa ada disini?”
“Bukannya kau telah kami segel?”
Elemental terlihat mundur beberapa Langkah. Sedangkan Cakra masih terus maju…
“Kenapa?”
“Kau kaget?”
Elemental terdiam lalu kabur masuk ke celah ruang.
“Cakra” Marisa memanggil Cakra.
“Dia kabur”
.
“Biarkan saja…” Cakra menatap mahluk itu dengan tatapan merendahkan.
“Sekarang urusan kita dengan makhluk ini”
.
.
“KKK-Kau mau apa?” Makhluk kadal yang awalnya sombong sekarang ketakutan.
.
“Jelaskan niat kalian terhadap planet ini…”
.
“Kami hanya mengikuti tugas”
“Elemental angin yang menyuruh kami untuk menangkap planet ini” menjawab dengan ketakutan.
.
“Sudah berapa lama kalian melakukannya?”
.
“Kami sudah melakukan ini selama 100 tahun”
“Planet ini adalah planet terakhir untuk menyelesaikannya”
“Kau menggagalkan rencananya”
.
“Memangnya untuk apa?”
.
“Kami tidak tau…”
“Elemental mengatakan dia ingin membangun sesuatu yang menyaingi pohon dunia”
“Dia juga menjanjikan kami untuk menjadi ras utama dalam formasi itu…”
.
“Jadi dia ingin menghancurkan pohon dunia….”
.
“Tidak”
“Tidak mungkin tuan ingin melakukan itu”
.
“Kenapa tidak?”
.
“Karena pohon dunia adalah satu satunya yang menopang dunia ini…”
“Jikalau benar benar hancur peradaban seluruh alam akan dimulai dari awal”
Cakra menghentikan tekanannya…
“Sekarang pergilah”
Pesawat luar angkasa langsung kocar kacir melarikan diri setelah mendengar perintah itu. Cakra dan Marisa saling berhadapan.
“Hmm jadi pohon dunia benar benar adalah sesuatu yang menopang dunia ini”
“Bukan hanya menopang….”
“Harusnya ini hasil asal mula sebuah dunia”
“Mungkin ranting mu itu…”
“Adalah asal mula pohon dunia” Cakra menjelaskan.
.
“Asal mula?”
“Bagaimana mungkin ranting kecil ini bisa jadi Cahaya sebesar itu?”
.
“Apakah kau pernah melihat isi ranting tersebut?”
.
“Aku belum pernah…”
“Tapi ranting ini terasa hidup saat memasuki diriku…”
“Walau aku gak bisa mengecek lagi”
“Aku yakin akan hal itu…”
.
“Ranting yang tetap hidup walau terpotong menarik”
“Eh dari mana kau mendapatkan ranting itu?” Cakra seperti menyadari sesuatu.
.
“Umm rantingnya kudapatkan dari sebuah bola transparan yang isinya sebuah pohon…”
“Dan bola itu mirip dengan energi di salah satu celah ruang yang pernah kumasuki di masa lalu”
.
“Apa isi celah ruang itu?”
.
“Sebuah energi kehidupan yang sangat besar…”
“Bahkan membuat para penyihir yang gak memiliki afinitas kewalahan”
“Itu hanya sebuah hutan yang ditumbuhi pohon”
“Dan pohon utama ditempat itu adalah sebuah tempat beristirahat bagi ribuan Binatang”
“Tapi kurasa bukan hanya Binatang mahluk mahluk yang ada di alam rahasia itu lahir dari pohon tersebut”
.
“Apakah kau bisa berkomunikasi?”
“Dengan salah satu mahluk disana?” Cakra bertanya seperti tergesa gesa.
.
“Jujur aku gak bisa berkomunikasi”
“Dan gak ada satupun mahluk yang bisa diajak berkomunikasi di ruang tersembunyi itu”
“Hanya saja aku mendengar suara suara sayup dimana ada yang mengatakan untuk diriku jangan mempercayai yang kulihat”
Cakra berpikir keras, dia merasakan keadaan di luar sudah sangat terang dan mengisyaratkan ke Marisa untuk bangun. Saat terbangun Cakra menyadari matahari sudah sangat tinggi, Marisa yang baru terbangun juga menyadari jikalau mereka kesiangan. Untuk itu Cakra bergegas untuk mandi terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan ke Marisa. Selain itu terlihat satu notifikasi muncul dari handphone milik Cakra yang berisi pertanyaan aneh.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...