Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kebohongan Sang Mertua
Sore itu, setelah menolak memberikan uang belanja kepada Kania, Tuti masuk ke kamarnya sambil membuka amplop cokelat yang tadi dititipkan Firman.
Lembar demi lembar uang ratusan ribu tersusun rapi di dalamnya.
Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
"Hm, lumayan."
Tanpa sedikit pun merasa bersalah, Tuti mengambil sebagian besar uang itu, lalu memasukkannya ke dalam dompet kulit miliknya.
"Besok arisan. Masa aku datang dengan tangan kosong?" gumamnya.
Tak hanya itu, matanya juga tertuju pada brosur toko emas yang terselip di atas meja.
"Gelang itu juga cantik. Mumpung ada uang."
Baginya, kebutuhan dapur masih bisa ditunda. Toh menurutnya, Kania hanya terlalu manja.
Sementara itu, di dapur, Kania membuka tutup wadah beras. Hanya tersisa segenggam.
Ia memeriksa rak bumbu. Minyak goreng tinggal beberapa tetes. Telur tinggal dua butir. Sayuran sudah layu.
Kania mengembuskan napas panjang.
"Ya Allah...."
Ia tak mungkin memasak makanan yang layak dengan bahan sesedikit itu. Akhirnya ia mengolah apapun yang masih ada.
Semangkuk bening berisi daun kelor. Tempe goreng yang dipotong tipis-tipis agar terlihat banyak. Dan sambal sederhana.
Beberapa kali matanya memanas.
Bukan karena lelah memasak.
Melainkan karena ia merasa gagal menjadi seorang istri.
Padahal uang belanja sudah ada.
Hanya saja bukan berada di tangannya.
Menjelang malam, suara mobil Firman memasuki halaman rumah. Kania segera menyambut suaminya dengan senyum yang dipaksakan.
"Mas, sudah pulang."
Firman tersenyum lelah. "Iya. Mas lapar sekali sayang."
"Ayo cuci tangan dulu."
Mereka menuju ruang makan.
Begitu melihat hidangan yang tersaji, Firman tampak sedikit heran.
"Hari ini cuma ini, Sayang?"
Kania menunduk. "Iya, Mas."
Belum sempat ia menjelaskan, Tuti datang sambil membawa segelas teh.
"Aduh, Firman. Mama jadi malu."
Firman menoleh. "Kenapa, Ma?"
"Lihat saja masakan istrimu."
Tuti menghela napas panjang seolah sangat kecewa.
"Masak buat suami yang kerja keras kok seadanya begini padahal Mama sudah kasih uang belanjanya."
Deg!
Jantung Kania seolah berhenti berdetak. Ia menatap ibu mertuanya dengan mata membulat.
Mertuanya berbohong?
Wanita itu berbicara begitu tenang, seolah ucapannya adalah kebenaran.
"Entah uangnya dipakai buat apa. Mama juga bingung."
Firman perlahan menoleh kepada istrinya. "Kania, apa benar?"
Tatapan suaminya tidak marah. Tetapi cukup membuat dada Kania terasa sesak. Ia ingin mengatakan semuanya.
Bahwa ia tak pernah menerima uang itu. Ia juga sudah memintanya kepada Tuti tapi mertuanya menolak memberikannya.
Saat melihat wajah Firman, Tatapannya bergeser kepada Tuti.
Wanita itu balas menatap dengan sorot mata tajam. Sorot mata yang seakan berkata,
Berani bicara, rasakan akibatnya.
Jika Kania mengatakan yang sebenarnya, bagaimana hubungan Firman dengan ibunya?
Bagaimana jika mereka bertengkar hebat gara-gara dirinya?
Bukankah Firman sangat menyayangi sang ibu?
Air mata nyaris jatuh. Dengan susah payah ia memaksakan senyum.
"Maaf, Mas." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Firman mengembuskan napas pelan. "Kalau uangnya kurang, bilang sama aku sayang."
"Iya."
"Jangan sampai kebutuhan rumah tidak terpenuhi."
"Iya, Mas."
Jawaban itu terasa seperti pisau yang mengiris hati Kania. Karena ia tahu, Firman sedang mempercayai kebohongan ibunya.
Tuti diam-diam tersenyum puas.
"Lain kali belajar mengatur uang, ya. Kasihan Firman capek-capek kerja."
Kania kembali menunduk. Tak ada satu kalimat pun untuk membela diri. Sepanjang makan malam, ia hampir tak menyentuh nasi di piringnya.
Setiap suapan terasa tercekat di tenggorokan.
Firman sesekali mengajaknya mengobrol, tetapi Kania hanya menjawab seperlunya. Ia takut jika membuka mulut lebih lama, tangisnya akan pecah.
Malam itu, setelah Firman tertidur karena kelelahan, Kania duduk sendirian di dapur. Lampu kecil di sudut ruangan menjadi satu-satunya penerangan.
Ia membuka kembali tempat beras.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung.
"Aku harus bagaimana?" bisiknya lirih.
Ia bukan menangisi makanan. Bukan pula uang belanja.
Yang membuatnya paling sakit adalah kenyataan bahwa orang yang paling ia hormati tega memfitnahnya.
Dan yang lebih menyakitkan, pria yang paling ia cintai seolah mempercayai kebohongan itu.
Kania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya pecah dalam sunyi. Namun tangis itu sengaja ditahannya agar tidak terdengar sampai ke kamar.
Ia tak ingin Firman terbangun. Ia tak ingin suaminya melihat betapa rapuh dirinya malam itu.
Karena bagi Kania, mencintai Firman berarti menjaga hati pria itu, bahkan jika yang harus ia korbankan adalah perasaannya sendiri.
*
*
Keesokan paginya, rumah itu kembali diselimuti kesibukan.
Kania sudah bangun sejak sebelum subuh. Meski semalam ia menangis hingga larut, ia tetap menyiapkan pakaian kerja Firman, menyetrika kemejanya, lalu membuat secangkir kopi seperti biasa.
Saat Firman keluar dari kamar dengan setelan jas abu-abu, Kania langsung menghampiri sambil membawa dasi.
"Mas sini, dasinya belum rapi."
Firman tersenyum tipis, lalu sedikit membungkukkan badan agar Kania lebih mudah memasangkan dasinya.
Jari-jari Kania bergerak hati-hati merapikan simpul itu.
"Aku siapkan sarapan, ya?"
Firman melirik jam tangan.
"Nggak usah, Sayang. Pagi ini ada meeting penting. Aku makan di jalan saja."
"Oh, ya sudah."
Ada sedikit kecewa yang disembunyikan Kania di balik senyumnya.
Setiap pagi ia selalu berusaha memasak makanan kesukaan suaminya. Namun hari ini, masakan itu kembali tak tersentuh.
Sebelum melangkah keluar, Firman merogoh tas kerjanya dan meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja ruang tamu.
"Ini ada sedikit uang. Pakai saja kalau ada kebutuhan mendadak."
Kania menatap amplop itu.
"Mas, bukannya uang belanja bulan ini sudah ada?"
"Iya, tapi nggak apa-apa. Siapa tahu kurang."
Kania mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas."
Firman mengusap puncak kepalanya penuh kasih.
"Jaga diri."
"Mas juga. Hati-hati di jalan."
Kania mencium tangan suaminya, lalu mengantarnya hingga mobil itu menghilang di tikungan.
Ia kembali masuk ke dalam rumah. Tatapannya kembali tertuju pada amplop cokelat di atas meja. Ia tidak langsung membukanya.
Justru sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Kalau sebagian uang ini kupakai sebagai modal membuat kue, mungkin aku bisa membantu keuangan rumah tanpa harus terus bergantung pada mas Firman."
Wajah Kania perlahan berbinar.
Ia membayangkan menjual bolu kukus dan risoles buatannya secara daring. Dulu, sebelum menikah, banyak tetangga memuji hasil masakannya.
Dengan hati-hati ia mengambil amplop itu. Belum sempat membukanya, suara Tuti terdengar dari belakang.
"Mau apa kamu?"
Kania menoleh cepat. "Eh, Mama. Aku cuma..."
Tatapan Tuti langsung jatuh pada amplop di tangan menantunya.
"Itu uang dari Firman?"
"Iya, Ma."
"Kamu minta lagi?"
"Bukan. Mas yang memberikan."
Kania tersenyum kecil.
"Aku kepikiran mau coba jualan kue secara online. Sebagian uang ini mau kupakai beli bahan. Siapa tahu hasilnya bisa membantu kebutuhan rumah."
Bukannya mendapat dukungan, wajah Tuti justru berubah masam.
"Halah, mimpi mu terlalu tinggi!"
Kania terdiam.
"Jualan kue? Memangnya ada yang mau beli buatanmu?"
"Ma, aku hanya ingin berusaha."
"Usaha apa? Jangan buang-buang uang anakku!"
"Tapi nanti modalnya akan aku kembalikan."
Tuti mendengus sinis.
"Sudah miskin, sekarang sok jadi pengusaha. Mending urus rumah yang benar!"
Ucapan itu membuat senyum di wajah Kania perlahan menghilang. Ia menggenggam amplop itu erat.
Harapan kecil yang baru saja tumbuh di dalam hatinya, seolah kembali dipatahkan sebelum sempat berkembang.
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor