Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arinda
Mereka bertemu di taman kota pukul lima sore.
Bukan pilihan Rio. Arinda yang menyebutkan tempatnya dalam pesan kedua yang ia kirim setelah Rio tidak membalas yang pertama — taman kota, bangku di dekat kolam fontana yang sudah tidak mengalir sejak renovasi dua tahun lalu dan belum ada yang repot-repot memperbaikinya, pukul lima sore.
Rio datang tepat waktu.
Arinda sudah di sana sejak sepuluh menit sebelumnya — duduk di bangku dengan jaket lapangan abu-abu gelapnya, tidak ada tablet, tidak ada peralatan, tidak ada atribut resmi apapun. Satu cangkir kopi takeaway di tangan kanan yang sepertinya sudah menjadi properti tetap setiap kali Rio bertemu perempuan ini.
Taman kota jam segini setengah ramai — orang-orang yang pulang kerja memotong jalan lewat sini, beberapa anak kecil yang bermain di area rumput, sepasang orang tua yang duduk di bangku jauh dan memberi makan burung merpati yang tidak kekurangan makan tapi tetap datang karena kebiasaan lebih kuat dari kebutuhan.
Kehidupan yang sangat biasa.
Yang adalah alasan Arinda memilih tempat ini, Rio menebak — tempat di mana percakapan yang tidak biasa bisa berlangsung di antara kebisingan yang sangat biasa tanpa ada yang memperhatikan.
---
Rio duduk di ujung bangku yang lain.
Wukong di pundaknya sudah dalam mode kamuflase sejak pintu masuk taman. Tidak ada serigala — Rio meninggalkannya di kontrakan bersama Adrian yang butuh istirahat lebih dari yang ia akui. Abyssal Goddess Weaver di lekukan bahu kiri seperti biasa, tidak terlihat, ada.
"Terima kasih sudah datang," kata Arinda.
"Bapak yang memilih tempatnya," jawab Rio — kemudian menyadari bahwa kalimat itu salah orang dan bahwa otaknya rupanya sudah mengkategorikan pembuka percakapan dengan lokasi yang dipilih orang lain ke dalam satu respons default.
Arinda menatapnya sebentar. Kemudian tersenyum tipis — bukan senyum yang hangat dan bukan yang dingin, senyum seseorang yang menangkap sesuatu yang tidak dimaksudkan untuk ditangkap tapi memilih untuk tidak mengomentarinya.
"Saya yang memilih tempatnya," koreksinya dengan santai. "Tapi poinnya sama."
---
Keheningan selama beberapa detik.
Fontana yang tidak mengalir di depan mereka memantulkan cahaya sore yang sudah condong ke barat — permukaan airnya yang diam dan sedikit berlumut menciptakan refleksi langit yang tidak sempurna, versi langit yang lebih gelap dan lebih tenang dari aslinya.
"Ada hal-hal," kata Arinda akhirnya, dengan nada seseorang yang sudah mempertimbangkan titik masuk percakapan ini sejak lama dan baru menemukan yang tepat, "yang kita lihat bukan karena kita mencarinya, melainkan karena kita tidak bisa lagi pura-pura tidak melihatnya."
Rio menunggu.
"Saya sudah dua belas tahun bekerja di Asosiasi." Arinda minum kopinya sekali. "Dan dalam dua belas tahun itu ada satu hal yang saya pelajari tentang institusi — institusi tidak pernah sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Institusi adalah cermin dari orang-orang yang menjalankannya. Cermin yang kadang memantulkan dengan akurat, dan kadang — seperti kolam ini — memantulkan versi yang lebih gelap dari aslinya."
Rio menatap kolam fontana yang tidak mengalir.
Langit yang dipantulkan di sana memang lebih gelap. Lebih diam. Lebih seperti versi langit yang tidak pernah berubah karena air yang diam tidak bisa menangkap awan yang bergerak.
"Bapak mulai dari mana?" tanya Rio.
"Dari nama," jawab Arinda. "Adrian Albert. Tiga tahun lalu saya menemukan referensi nama itu di file arsip yang seharusnya sudah dihapus tapi terlewat karena ada di sistem backup lama yang tidak ada yang ingat masih aktif." Ia memutar cangkir kopinya. "Nama yang tidak ada di database manapun. Tidak ada foto, tidak ada rekam jejak, tidak ada apapun. Tapi ada di satu file arsip dengan cap *dihapus atas perintah direktur* dan tanggal yang sangat spesifik."
"Tiga belas tahun lalu."
"Tiga belas tahun lalu." Arinda mengangguk. "Saya simpan itu. Tidak melaporkan, tidak menindaklanjuti. Hanya simpan — karena ada hal-hal yang lebih bijak untuk disimpan dulu sebelum digunakan, seperti kartu yang nilainya baru terlihat saat semua kartu lain sudah di atas meja."
Rio menatap perempuan di sisi lain bangku ini dengan cara yang sedikit berbeda dari cara ia menatapnya di gang kontrakan atau di koridor sekolah.
"Bapak sudah tahu sebelum saya muncul di radar Bapak."
"Saya curiga sebelum kamu muncul di radar saya," Arinda mengoreksi dengan presisi yang menunjukkan bahwa perbedaan antara *tahu* dan *curiga* bukan hal kecil baginya. "Kecurigaan dan pengetahuan adalah dua hal yang sangat berbeda. Yang satu membuat kamu bergerak. Yang lain membuatmu bertanggung jawab atas gerakanmu."
---
Seorang anak kecil berlari melewati bangku mereka mengejar bola yang menggelinding ke arah kolam, hampir menabrak Rio, berbelok di detik terakhir, menangkap bolanya di tepi kolam, dan berlari kembali tanpa sekalipun menyadari percakapan apa yang baru saja ia lewati.
Kehidupan yang sangat biasa, berlangsung tepat di sebelah hal-hal yang tidak biasa.
Seperti selalu.
---
"Anomali dungeon pelabuhan," kata Arinda setelah anak itu menghilang di balik pohon. "Signature energi yang tidak ada dalam database manapun. Signature yang aktif bukan karena kekuatan yang bocor melainkan karena kekuatan yang sangat aktif menyembunyikan dirinya sendiri." Ia menatap Rio langsung. "Saya sudah cukup lama di bidang ini untuk tahu bahwa hal yang paling keras berteriak di dalam data biasanya bukan anomali yang muncul. Melainkan anomali yang tidak muncul."
Rio tidak mengkonfirmasi atau menyangkal apapun.
Tapi diam juga adalah jawaban, dan keduanya tahu itu.
"Yang membuat saya di sini hari ini," lanjut Arinda, "bukan karena saya ingin melaporkanmu. Kalau itu niatnya saya tidak akan mengirim pesan pribadi ke nomormu — saya akan datang dengan tim dan prosedur resmi." Ia meletakkan cangkir kopinya di bangku di sampingnya. "Saya di sini karena ada pertanyaan yang sudah terlalu lama saya simpan sendiri dan saya butuh seseorang yang mungkin punya jawabannya."
"Pertanyaan apa?"
Arinda menatap kolam fontana yang tidak mengalir selama beberapa detik.
"Hana Soekarno," katanya akhirnya. Pelan. Dengan cara seseorang yang sudah terbiasa mengatakan nama itu dalam konteks hormat dan respek selama dua belas tahun dan baru pertama kali mengucapkannya dengan nada yang berbeda dari itu. "Apakah ada hal yang saya tidak tahu tentangnya yang seharusnya saya tahu?"
---
Rio menatap Arinda.
Perempuan yang sudah tiga minggu mengikuti jejaknya dengan peralatan grade-A dan kemampuan investigasi yang bahkan membuat Raymond menyebutnya bukan investigator biasa. Yang datang ke gang kontrakannya sendiri pagi-pagi dengan kopi yang terlalu manis. Yang berhenti di koridor sekolah dan melakukan pemindaian pasif yang hampir tidak terdeteksi sistem.
Yang malam ini duduk di bangku taman dengan cangkir kopi yang sudah dingin dan satu pertanyaan yang cara mengucapkannya menunjukkan bahwa ini bukan pertanyaan yang baru ia pikirkan.
Ini adalah pertanyaan yang sudah ia simpan selama tiga tahun sejak menemukan nama yang seharusnya tidak ada di file arsip yang seharusnya sudah dihapus.
Ada hal-hal yang tidak bisa dibohongi — bukan karena sistem atau sensor atau kemampuan deteksi energi manapun, melainkan karena ketulusan memiliki teksturnya sendiri yang berbeda dari semua yang lain dan seseorang yang cukup lama bekerja dengan informasi akan belajar mengenali tekstur itu bahkan tanpa alat bantu apapun.
Rio membuat keputusan.
Bukan keputusan yang diambil setelah kalkulasi panjang. Keputusan yang muncul dari tempat yang lebih dalam dari kalkulasi — dari bagian yang sudah membaca orang ini dalam tiga minggu terakhir dan sudah mengumpulkan cukup data untuk menyimpulkan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara teknis tapi terasa benar dengan cara yang lebih dapat diandalkan dari bukti teknis manapun.
"Ya," jawab Rio. "Ada."
Arinda tidak bereaksi berlebihan. Tidak mengeluarkan tablet, tidak menyalakan perekam, tidak berubah posisi duduk. Hanya menatap Rio dengan cara seseorang yang sudah menunggu jawaban ini cukup lama untuk tahu bahwa yang penting bukan bagaimana menerimanya melainkan apa yang dilakukan sesudahnya.
"Ceritakan," kata Arinda.
---
Rio menatap kolam fontana yang tidak mengalir di depan mereka.
Air yang diam tidak bisa memantulkan awan yang bergerak — hanya bisa menangkap langit yang tetap, versi langit yang lebih gelap dan lebih tenang dari aslinya. Tapi air yang mulai bergerak, bahkan sedikit saja, mulai menangkap hal-hal yang tadinya tidak bisa ia tangkap.
Selalu seperti itu.
Kebenaran tidak butuh genangan yang tenang untuk terlihat. Ia butuh air yang cukup bergerak untuk memantulkan cahaya dengan cara yang benar.
"Tiga belas tahun lalu," Rio mulai, dengan suara yang pelan dan terukur dan mengandung keputusan yang sudah diambil dan tidak akan ditarik kembali, "ada seorang tamer yang namanya dihapus dari semua catatan resmi. Bukan karena ia melakukan sesuatu yang salah. Melainkan karena ia menemukan sesuatu yang membuat seseorang yang sangat berkuasa merasa terancam."
Arinda mendengarkan.
"Tamer itu," lanjut Rio, "adalah ayah saya."
---
Di taman kota yang setengah ramai, di antara suara anak-anak yang bermain dan orang-orang yang memotong jalan pulang kerja dan sepasang orang tua yang memberi makan burung merpati yang tidak kekurangan makan, percakapan yang sudah menunggu tiga tahun dari satu sisi dan tiga minggu dari sisi lain akhirnya menemukan titik temunya.
Di bangku taman di depan kolam fontana yang tidak mengalir.
Yang mungkin sudah waktunya mulai diperbaiki.
Arinda Kusuma memilih sisi. Dan pilihan itu mengubah peta kekuatan yang selama ini Rio susun dengan sangat fundamental — karena investigator senior dengan akses penuh ke database internal Asosiasi Hunter Nasional yang sudah tiga tahun diam-diam mengumpulkan bukti tentang Hana Soekarno adalah aset yang bahkan Raymond tidak punya.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣