NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 7 Rencana Gila Davian|

...|Legacy of Soryu|...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Langkah mereka menuju gedung parkir terhenti seketika saat saku jas Davian bergetar hebat.

BRRRING... BRRRING...

Davian merogoh ponselnya dengan sigap. Layar LED itu menyala terang, memantulkan nama yang sudah sangat familiar: Liam.

"Liam. Ada apa?"

Bara berhenti melangkah, ia berdiri tegap dengan tangan masih di dalam saku, mengawasi gerak-gerik asistennya.

Sementara Davian masih terus mendengarkan dengan saksama; matanya bergerak gelisah antara wajah Bara dan trotoar di depan mereka.

"Kirimkan sekarang. Pastikan enkripsinya aman," perintah Davian sebelum memutus panggilan teleponnya.

Notifikasi WhatsApp masuk secara bertubi-tubi. Davian menggeser layar dengan jempolnya yang lincah, membaca setiap baris pesan yang masuk. Ekspresinya berubah drastis—dari asisten yang tenang menjadi seorang detektif yang baru saja menemukan kepingan puzzle terakhir.

Bara mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"

"Keluarga Adama, Wakadanna," Davian mendongak, matanya berkilat.

"Liam berhasil melacak mereka. Mereka tinggal di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Rumah dua lantai, nomor 27. Luas tanah delapan ratus meter dengan estimasi harga pasar enam puluh miliar."

Bara mendekat, melirik layar ponsel Davian. "Cukup mencolok untuk seseorang yang ingin bersembunyi."

"Liam juga mendapatkan pola rutinitas mereka," Davian menggeser slide informasi.

"Ariessandy Adama adalah orang yang cukup tertutup bahkan ia diketahui bekerja dari rumah. Istrinya, Anzeli, hampir tidak pernah terlihat di ruang publik. Putra sulung mereka, Shu Hades, sedang menempuh studi di luar negeri kemungkinan pulang untuk liburan. Dan yang terakhir..."

Davian memutar ponselnya, memperlihatkan sebuah profil yang sangat familiar. "...Nana.

Gadis itu mahasiswi semester tiga, Jurusan Manajemen Bisnis di sebuah universitas swasta ternama. Bahkan Liam mendapatkan jadwal kuliahnya lengkap, termasuk nama dosen dan ruang kelasnya."

Bara menatap jadwal itu dengan ekspresi tak terbaca. "Informasi yang sangat detail. Lalu, kau ingin aku melakukan apa dengan data ini? Mengirimkan karangan bunga?"

Davian tersenyum-senyum khas yang selalu muncul saat ia merasa logikanya berada satu langkah di depan tuannya. "Saya punya rencana strategis, Wakadanna."

"Rencana apa?"

"Nana adalah mata rantai terlemah di keluarga Adama. Ayahnya benteng yang tak tertembus, ibunya tidak pernah terlihat, dan kakaknya entah lah sepertinya sulit didekati. Tapi Nana? Dia bisa diprediksi. Dia bisa jadi pintu masuk kita."

Bara menatap Davian tanpa berkedip. "Jadi, intinya kau ingin aku mendekati anak kecil?"

"Dia sudah mahasiswi, Wakadanna. Tolong bedakan antara 'anak kecil' dan 'mahasiswi'."

"Dia tersesat di mall sambil kebingungan seperti orang linglung, Davian. Itu definisi anak kecil bagiku."

"Itu karena dia terlalu terlindungi!" Davian menghela napas panjang.

"Wakadanna, dengarkan saya. Ariessandy menatap Anda dengan cara yang sangat personal kemarin. Mungkin saja ada koneksi tersembunyi antara Adama Group dan sejarah Soryu puluhan tahun lalu. Jika kita ingin tahu siapa yang membunuh ayah Anda, kita harus masuk dari dalam. Dan pintu itu bernama Nana."

Bara menatap Davian dengan pandangan ngeri. "Kau ingin aku menjadi mata-mata?"

"Bukan. Saya ingin Anda menjadi... temannya."

"Teman." Bara mengulang kata itu seolah itu adalah racun. "Dengan anak yang kehilangan arah di pusat perbelanjaan?"

"DIA MAHASISWI, WAKADANNA!"

Davian nyaris melonjak dari posisinya. Suaranya yang melengking menarik perhatian beberapa pejalan kaki. Davian segera membetulkan letak kacamatanya, wajahnya memerah padam.

"Maksud saya... ini bukan soal perasaan. Ini human intelligence. Anda hanya perlu muncul di tempat yang sama secara konsisten. Buat dia merasa pertemuan itu adalah sebuah takdir yang wajar, lalu tarik informasi darinya secara perlahan."

"Kedengarannya seperti grooming," cetus Bara dingin.

"WAKADANNA! DEMI TUHAN!" Davian mendesis, suaranya naik satu oktav. "Jangan pakai kata itu! Ini pendekatan strategis! Saya baca di internet kalau teknik ini sangat efektif untuk—"

"Internet? Kau membangun strategi untuk Soryu Group berdasarkan artikel internet?"

Davian menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan jantungnya. "Rencana ini legal secara etika bisnis! Anda tidak perlu memanipulasi hatinya, cukup keberadaannya saja."

"Tidak," jawab Bara mutlak.

"Tapi Wakadanna..."

"Aku tidak akan mendekati gadis itu, Davian. Cari cara lain."

Davian terdiam. Ia tahu Bara adalah dinding yang sulit diruntuhkan, namun ia juga tahu di mana letak celah pada dinding itu.

"Cara lain akan memakan waktu berbulan-bulan. Sementara itu, pembunuh ayah Anda mungkin sedang menertawakan kita dari jauh. Apakah Anda sanggup menunggu selama itu sementara kuncinya ada di depan mata?"

Rahang Bara mengeras. Titik terlemahnya baru saja ditekan dengan telak.

"Aku akan melakukannya," kata Bara akhirnya, suaranya rendah dan sarat akan kebencian pada dirinya sendiri. "Tapi dengan syarat."

Davian mengerjap lega. "Sebutkan, Wakadanna."

"Pertama, aku tidak akan berbohong padanya. Kedua, aku tidak akan memanipulasi perasaannya; jika dia tidak suka padaku, rencana ini batal. Ketiga, aku tidak akan menyakitinya dalam bentuk apa pun. Dia mungkin jalan keluar, tapi aku bukan monster yang akan menghancurkan hidup seorang gadis demi dendam masa lalu."

Davian tersenyum tipis. "Syarat yang sangat... terhormat. Anda benar-benar orang baik, Wakadanna."

"Jangan puji aku. Kau yang bersihkan kekacauan ini jika gagal."

"Saya siap menanggung segala konsekuensinya," Davian mengangguk mantap. Namun, sesaat kemudian, ekspresi profesionalnya runtuh. Imajinasi liar mulai merasuki kepalanya.

"Wah, bayangkan saja, Wakadanna menyamar jadi mahasiswa... memakai kaus, membawa buku catatan, lalu bertemu Nana di bawah pohon palem yang berguguran... sangat sinematik! Seperti adegan di drama The Hidden CEO yang saya tonton kemarin! Anda akan menjadi pahlawan yang—"

Bara berhenti melangkah dan menoleh dengan tatapan mematikan. "Lupakan soal bonus yang baru saja kukatakan tadi. Aku membatalkannya."

Wajah Davian seketika pucat pasi. "APA?! TIDAK! Wakadanna, jangan! Saya khilaf!"

Tanpa rasa malu, Davian langsung mengejar Bara dan bergelayutan di lengan jas tuannya yang mahal.

"Maafkan saya! Saya tarik kata-kata saya! Tolong bonusnya, Wakadanna! Cicilan rumah ibu saya tergantung pada bonus itu!"

Beberapa orang yang lewat menatap mereka dengan dahi berkerut, melihat seorang pria berjas rapi sedang merengek-rengek pada pria lain yang tampak ingin menendangnya ke planet lain.

"Lepaskan aku, Davian sialan! Kau memalukan!"

"Tidak sampai Anda bilang bonusnya tetap aman!"

"Iya! Iya! Lepaskan!" Bara menyentakkan lengannya dengan gusar. "Dan jangan beritahu siapa pun. Terutama Indra dan Ashura. Jika rahasia ini sampai bocor, kau adalah orang pertama yang akan kuhilangkan dari muka bumi."

"Rahasia mati, Wakadanna!" Davian kembali tegak, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Bara terus berjalan menuju parkiran. "Jadwal kuliah Nana... kirim ke ponselku sekarang."

Davian hampir tersandung karena senang. Ia menatap punggung tegap Bara dengan senyum kemenangan yang lebar. "Segera, Wakadanna! Operasi 'Mahasiswa Menyamar' dimulai!"

...***...

Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Bara mengaktifkan layar ponselnya. Sebuah notifikasi pesan dari Davian muncul di barisan paling atas: satu file PDF dengan judul yang sangat spesifik.

Bara membukanya, menatap barisan teks yang berisi jadwal akademik Nana Adama untuk semester ini.

Senin: Manajemen Operasi (08.00-10.30), Etika Bisnis (13.00-15.30).

Selasa: Pemasaran Digital (10.00-12.30), Bahasa Inggris Bisnis (14.00-16.30).

Rabu: Perilaku Organisasi (08.00-10.30), Akuntansi Manajemen (13.00-15.30).

Kamis: Hukum Bisnis (10.00-12.30), Manajemen Strategik (14.00-16.30).

Jumat: Statistika Bisnis (09.00-11.30), Kewirausahaan (13.00-15.30).

Bara mematikan layar ponselnya dengan satu ketukan jari yang mantap. Pandangannya beralih ke luar jendela, menatap gedung-gedung pencakar langit yang mulai menjauh.

"Selasa," gumam Bara rendah. "Pemasaran Digital, jam sepuluh pagi."

Davian, yang sejak tadi duduk dengan punggung tegak di kursi depan, memutar tubuhnya sedikit untuk melirik sang majikan.

"Wakadanna sudah menentukan titik masuk?"

Bara menghela napas panjang, menatap Davian dengan pandangan yang sarat akan penilaian.

"Kau tahu, Davian? Kau benar-benar gila. Merancang konsep bodoh menggunakan jadwal kuliah seorang mahasiswi... ini adalah titik terendah dalam sejarah karier profesionalmu."

Davian justru menunjukkan senyum lebarnya, sama sekali tidak merasa terhina. "Dalam dunia intelijen, Wakadanna, tidak ada strategi yang terlalu rendah selama targetnya tercapai. Lagi pula, bukankah sedikit variasi dalam hidup Anda itu menyenangkan?"

"Menyenangkan? Aku harus duduk di ruangan sempit bersama puluhan remaja yang mungkin bahkan belum tahu cara membayar pajak sendiri," balas Bara ketus. "Ini bukan variasi, ini penghinaan untuk harga diriku."

"Tapi Anda akan menjadi pusat perhatian di sana, saya jamin itu," sahut Davian tenang sebelum kembali menghadap ke depan.

Mobil terus melaju, meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta Barat menuju ke pusat kota.

Bara kembali menyandarkan punggungnya ke kursi mobil yang nyaman. Meski mulutnya terus melontarkan protes, sebuah lengkungan samar muncul di sudut bibirnya—sebuah senyum tipis yang menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada satu agenda dalam jadwalnya yang tidak melibatkan angka, saham, ataupun musuh bisnis.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!