NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Milly terpaku dalam dekapan Arkan, meresapi kehangatan yang mendadak terasa begitu kontras dengan ancaman maut yang baru saja mencairkan karpet di dekat kakinya. Namun, sifat kaku sang Presdir tidak membiarkan momen melankolis itu bertahan lebih dari semenit.

Arkan melonggarkan pelukannya, lalu menepuk bahu Milly pelan dengan sisa kelembutan yang sangat irit. "Berdiri yang tegak, Milly. Air matamu bisa mengotori kemeja mahalku," ucapnya, kembali ke mode ketus andalannya.

Milly buru-buru mundur selangkah, mengusap pipinya yang basah sembari merengut kesal. "Tuan ini tidak punya empati ya! Saya baru saja hampir disiram air keras, bukan ketumpahan kuah bakso!"

Arkan tidak membalas. Ia melangkah menuju rak buku besar di belakang meja kerjanya. Dengan satu gerakan santai, ia menarik salah satu replika buku tebal di sana.

Klek. Sreeet...

Rak buku itu bergeser otomatis, memperlihatkan sebuah pintu baja tersembunyi yang langsung menuju ke ruang monitor darurat di balik dinding kantor.

"Masuk," perintah Arkan. "Ruangan ini kedap suara, kedap ledakan, dan memiliki ventilasi udara terpisah. Kau akan aman di dalam sementara aku turun ke bawah bersama Bara."

Milly menatap lorong rahasia itu dengan ragu. "Tuan tidak berniat mengunci saya di dalam sana sampai kontrak sepuluh tahun saya habis, kan?"

Arkan mendengus, kilat geli melintas tipis di matanya. "Jika aku ingin mengurung mu, aku akan memilih tempat yang lebih murah daripada ruang teknologi ratusan miliar ini. Cepat masuk sebelum aku berubah pikiran dan menambahkan enam bulan lagi karena kau membuang waktuku."

Milly mendelik, tetapi buru-buru melangkah masuk ke dalam ruang rahasia tersebut sebelum sang iblis perfeksionis benar-benar menggenapkan masa dendanya. Begitu pintu rak buku tertutup rapat, menyisakan Milly di dalam ruangan canggih penuh layar monitor, ia hanya bisa terduduk lemas di kursi empuk yang tersedia.

Setengah jam kemudian, rak buku kembali bergeser terbuka. Arkan melangkah masuk dengan rahang yang mengeras, ditemani oleh Bara yang tampak sibuk mengetik sesuatu di tablet barunya. Dari ekspresi mereka, Milly tahu interogasi di bawah tanah tadi berjalan sangat serius.

"Bagaimana, Tuan? Petugas kebersihan palsu tadi bicara?" tanya Milly, langsung berdiri menghampiri mereka.

Arkan duduk di kursi kerjanya, melonggarkan sedikit dasinya yang terasa mencekik. "Dia hanya pion kecil yang dibayar mahal oleh sisa-sisa pengikut Keluarga Wijaya. Mereka frustrasi karena investasi mereka di Eropa Barat terancam runtuh akibat pembatalan sepihak dariku."

Pria itu kemudian menatap Milly, menghitung sesuatu di dalam kepalanya. "Milly, mengingat kau berhasil mendeteksi bahaya dan mematuhi perintahku untuk tidak meminum teh itu, aku akan memberikanmu kompensasi."

Milly langsung berbinar di balik kacamata bulatnya. "Kompensasi? Potongan masa kontrak pernikahan?!"

"Benar," Arkan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja mahoni. "Mari kita hitung dengan logika matematika yang adil."

"Karena kau tidak ceroboh kali ini dan berhasil bertahan hidup tanpa merepotkan ambulans, aku akan memotong masa kontrakmu sebesar 10%," lanjut Arkan dengan nada sedatar dosen kalkulus.

Milly mengerutkan keningnya, mencoba menghitung cepat. "10% dari sepuluh tahun enam bulan... berarti sekitar satu tahun satu bulan?"

"Tepat. Jadi sisa masa kontrakmu sekarang adalah:"

Milly melongo, menatap Arkan dengan pandangan tidak percaya. "Tuan Arkan, Anda benar-benar gila! Menghitung masa pernikahan kontrak pakai rumus aljabar?! Lagipula, kenapa potongannya sedikit sekali?!"

Arkan menatap Milly lekat-lekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius yang membuat jantung Milly berdegup tidak karuan. "Anggap saja itu strategi bisnis, Gadis Ceroboh. Aku tidak boleh membiarkan tameng terbaikku lepas terlalu cepat sebelum semua musuhku benar-benar hancur."

Arkan tidak memedulikan protes Milly. Pria perfeksionis itu menarik selembar kertas kosong, mengeluarkan pena berlogo Mahendra Group dari saku jasnya, lalu menuliskan kalkulasi matematis dengan gerakan tangan yang sangat presisi.

"Dunia bisnis bergerak atas dasar angka yang pasti, Milly. Bukan perkiraan kasar seperti caramu memasak atau berjalan," ucap Arkan dingin, menggeser kertas tersebut ke hadapan Milly.

Di atas kertas putih itu, guratan tinta hitam Arkan membentuk persamaan formal yang rapi:

Arkan mengetuk angka 12.6 tersebut dengan ujung penanya. "Dua belas koma enam bulan. Itu setara dengan satu tahun, Target waktu potonganmu adalah dua bulan penuh, ditambah sisa konversi dari desimal 0.6 bulan yang jika dikalikan dengan tiga puluh hari..."

Pria itu mencoret kertas lagi, menuliskan sisa kalkulasi akhir:

Milly menatap deretan angka dan lambang matematika itu dengan kepala yang mendadak pening. "Tuan, Anda benar-benar sakit jiwa! Kita ini sedang membicarakan pernikahan, kenapa bentuknya jadi mirip soal ujian akhir semester program studi akuntansi?!"

"Pernikahan kita adalah bentuk transaksi bersyarat, Millyanita. Sudah sewajarnya dihitung dengan akurasi tinggi," sahut Arkan datar, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan riak bercanda. Ia melirik jam tangannya. "Sembilan tahun, lima bulan, dua belas hari. Ingat angka itu dengan baik. Setiap kecerobohanmu di masa depan akan langsung menggeser variabel angka tersebut ke atas."

Milly mendengus kencang, melipat tangannya di depan dada sambil memalingkan wajah ke arah jendela besar. Meskipun dalam hati ia merasa kesal setengah mati karena kelakuan ajaib sang Presdir, ada sedikit rasa lega yang menyelinap. Setidaknya, waktu kurungannya berkurang lebih dari satu tahun.

Belum sempat Milly menyelesaikan aksi merengutnya, Bara kembali melangkah mendekati meja kerja Arkan dengan membawa sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat formal.

"Tuan Arkan," panggil Bara formal. "Pihak humas perusahaan menanyakan jadwal rilis foto keluarga resmi untuk meredam spekulasi media pasca insiden dengan Nona Davina di lobi tadi. Mereka membutuhkan konfirmasi jumlah anggota keluarga yang akan terlibat dalam sesi pemotretan eksklusif minggu depan."

Arkan menghentikan ketukan jarinya, lalu melirik ke arah Milly yang masih sibuk membetulkan letak kacamata bulatnya yang melorot.

"Tanyakan pada calon Nyonya Mahendra," ucap Arkan pendek, melimpahkan tanggung jawab itu begitu saja. "Dia yang memegang kendali atas urusan domestik mansion sekarang."

Milly terperanjat, menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Eh? Saya? Kenapa tanya saya?"

Bara berbalik, membungkuk sopan ke arah Milly dengan wajah tanpa ekspresi andalannya. "Nona Milly, untuk publikasi pernikahan privat ini, kami perlu memvalidasi jumlah anggota keluarga inti yang akan masuk ke dalam frame foto bersama Anda dan Tuan Arkan. Berapa banyak anggota keluarga yang Anda miliki?"

Milly terdiam sejenak. Ingatannya langsung melayang pada orang-orang tercinta yang selalu mendukungnya di tengah keterbatasan hidup mereka selama ini. "Keluarga saya... semuanya ada 7 anggota keluarga," jawab Milly pelan, suaranya melembut saat memikirkan mereka.

Arkan sempat menghentikan gerakan penanya mendengar jawaban Milly. Mata elangnya menatap gadis itu lekat-lekat, merekam ekspresi tulus yang jarang ia lihat di dunia korporatnya yang penuh kepalsuan. Namun, ego sang Presdir buru-buru mengambil alih kendali.

"Tujuh orang," ulang Arkan, kembali membalik berkasnya. "Bara, siapkan mansion utama untuk menampung mereka selama prosesi minggu depan. Pastikan standar keamanan ditingkatkan. Aku tidak mau ada satu pun anggota keluarga dari tamengku yang tergores oleh sisa-sisa pengikut Wijaya."

Milly menoleh cepat, matanya berbinar haru. "Tuan... Anda mengizinkan keluarga saya datang ke mansion?"

Arkan mendengus pelan, menolak menatap mata bulat Milly yang terlalu bersinar. "Jangan salah paham, Milly. Itu hanya protokol pengamanan aset. Jika keluargamu diculik, kau akan menangis dan merusak fokus kerjamu di sini. Dan itu... sangat merugikan efisiensi Mahendra Group."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!