Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Besar
Satu minggu berlalu sejak perintah besar itu dikeluarkan. Angin perubahan dan kekuasaan kini bertiup kencang di seluruh kota, menyapu bersih segala keraguan dan ketidaktahuan siapa pun yang bergerak di dunia bisnis maupun dunia bawah tanah. Nama Buwana dan Zafira yang kini bersatu, menjadi satu nama yang lebih menakutkan dan lebih dihormati dari sebelumnya. Di bawah kepemimpinan Dewa Angkasa Buwana, pria yang dikenal sebagai iblis berdarah dingin yang tidak pernah mengenal ampun, gerakan pembersihan besar-besaran berjalan mulus dan mematikan.
Di lantai teratas gedung pencakar langit milik keluarga Buwana, ruang rapat besar itu kini dipenuhi oleh puluhan orang berpengaruh pemimpin cabang, pengurus perusahaan, serta orang-orang kepercayaan yang memegang kendali di berbagai sektor. Suasana begitu hening dan tegang, tidak ada yang berani bersuara lebih keras dari bisikan, karena di ujung meja panjang itu, Dewa duduk bersandar di kursi besarnya. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh wibawa, membuat siapa pun yang berani menatapnya langsung merasa merinding ketakutan. Di sisi kanannya, Naura duduk tegak, wajahnya tenang namun berwibawa, sesekali memberikan catatan atau persetujuan yang kini sama beratnya dengan keputusan suaminya. Di sisi kiri, Sera berdiri memegang papan data, menjadi saksi sekaligus penasihat yang paling mengerti seluk-beluk musuh yang sedang mereka hadapi.
"Semua aset di wilayah utara sudah kita amankan sepenuhnya," lapor Rian dengan suara lantang namun penuh hormat. Di balik punggungnya, puluhan pengawal elit bersenjata lengkap berdiri siaga. "Tidak ada perlawanan yang berarti. Beberapa yang mencoba melawan sudah kami berikan pelajaran, dan sisanya memilih menyerah dan tunduk. Jalur distribusi, gudang, hingga dokumen kepemilikan sudah beralih nama ke tangan Buwana-Zafira."
Dewa hanya mengangguk pelan, jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu mahoni. Bunyi ketukan itu terdengar sangat jelas di ruangan yang hening itu.
"Bagus," ucap Dewa singkat, namun satu kata itu sudah cukup membuat semua orang di ruangan itu menghela napas lega. "Ingat, jangan tinggalkan celah sedikit pun. Aku ingin nama kami tertanam kuat di sana, bukan hanya sebagai pemilik baru, tapi sebagai penguasa mutlak. Siapa pun yang masih berani bergerak di luar aturan kita, atau masih diam-diam berhubungan dengan kelompok lama, singkirkan. Aku tidak butuh pengkhianat di kerajaanku."
Suara Dewa rendah namun bergetar kekuatan, mengingatkan semua orang bahwa pria di hadapan mereka ini adalah pemimpin mafia yang namanya dibisikkan dengan ketakutan di seluruh penjuru kota. Tangannya penuh darah, dan ia tidak akan ragu menambah jumlahnya demi menjaga apa yang menjadi miliknya.
"Untuk sektor bisnis resmi, properti dan ekspor-impor sudah berjalan sesuai rencana," Raga melanjutkan laporan, menatap ke arah Naura dengan rasa hormat yang mendalam. "Berkat arahan Nyonya Naura dan data-data lengkap dari Ibu Sera, semua perizinan berjalan lancar tanpa hambatan. Bahkan beberapa mitra lama keluarga Zafira yang dulu menarik diri karena perselisihan, kini kembali mendukung penuh setelah mengetahui penyatuan ini."
Naura melirik sekilas ke arah Dewa, lalu berbicara dengan suara tenang namun tegas.
"Pastikan aliran uang berputar rapi dan tercatat bersih. Kita tidak hanya menguasai pasar, tapi kita juga membangun fondasi yang kokoh agar tidak bisa dijatuhkan musuh lewat jalur hukum. Ingat, musuh kita tidak hanya bergerak dengan kekerasan, mereka juga bergerak lewat meja hijau dan politik. Kita harus lebih cerdas dari mereka."
"Benar kata istriku," sahut Dewa cepat, sorot matanya melembut sepersekian detik saat menatap Naura, sebelum kembali berubah tajam ke arah yang lain. "Kekuatan sejati bukan hanya siapa yang punya senjata lebih banyak, tapi siapa yang punya kendali penuh atas segalanya. Dan kita akan memiliki keduanya."
Setelah rapat selesai dan semua orang keluar untuk menjalankan tugas masing-masing, hanya Dewa, Naura, dan Sera yang tersisa di ruangan luas itu. Sera berjalan mendekat ke arah meja, wajahnya kembali serius dan penuh kekhawatiran.
"Dewa, Naura..." ucap Sera pelan sambil meletakkan sebuah berkas tertutup di depan mereka berdua. "Ada satu hal yang belum aku sampaikan sepenuhnya. Kita memang sudah mengambil alih wilayah dan aset mereka, tapi pemimpin tertinggi dari jaringan ini... sosok yang berada jauh di atas Arga, dia belum muncul sama sekali. Dia diam saja, membiarkan kita mengambil semuanya, seolah-olah dia tidak peduli."
Dewa meraih berkas itu, membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat foto-foto lama dan catatan nama yang disamarkan.
"Itu yang membuatku takut," lanjut Sera, suaranya sedikit bergetar. "Aku tahu dia bukan orang yang mudah menyerah. Dia membiarkan kita maju, membiarkan kita merasa menang, sementara dia sedang merencanakan jebakan yang jauh lebih besar dan lebih mematikan. Dia tahu kelemahan kita, Dewa. Dan dia tahu bahwa hal yang paling berharga bagimu adalah Naura."
Tangan Dewa yang memegang berkas itu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Aura dingin dan membunuh seketika menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia tahu Sera benar. Permainan ini belum selesai, bahkan belum sampai di pertengahan jalan yang mereka rencanakan. Musuh yang sesungguhnya masih bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang di saat yang paling menyakitkan.
"Biarkan saja dia bersembunyi," ucap Dewa dingin, matanya menatap tajam ke arah jendela kaca besar yang memandang ke arah kota di bawah sana. "Semakin lama dia menunggu, semakin kuat aku membangun kekuasaanku. Dan saat dia berani keluar, aku akan pastikan bahwa itu adalah hari terakhir dia melihat cahaya matahari."
Dewa berbalik menghadap Naura, seketika itu juga kekerasan di wajahnya lenyap, digantikan oleh kelembutan yang mendalam. Ia berjalan mendekat, meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya erat di depan dada.
"Jangan khawatir, Sayang," bisiknya, matanya menatap lekat-lekat manik mata cokelat itu. "Tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa menyentuhmu selama aku masih bernapas. Aku adalah iblis yang menguasai neraka ini, dan aku akan membangun benteng yang begitu kokoh di sekitarmu, sehingga bahkan maut pun tidak akan berani mendekat."
Naura tersenyum, menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. Ia tidak takut pada ancaman apa pun, karena ia tahu di sampingnya berdiri pria terkuat yang pernah ada. Pria yang dulu ia benci karena perjodohan berbalut dendam, kini menjadi seluruh dunianya.
"Aku tahu itu, Dewa. Dan aku juga akan menjadi perisaimu, sama seperti kau menjadi perisaiku," jawab Naura lembut namun tegas. "Kita sudah melewati banyak hal untuk sampai di sini. Kebohongan soal hubungan darah, kebencian, dan perpisahan... semuanya sudah kita lalui. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Bahkan musuh terbesar sekalipun, dia harus melewati mayatku dulu sebelum dia bisa menyakitimu atau merusak apa yang kita bangun."
Dewa tersenyum, senyum bangga dan penuh cinta. Ia mencium telapak tangan istrinya, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukan eratnya, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam kehangatan yang hanya bisa diberikan Naura.
"Apapun yang terjadi," ucap Dewa pelan, seolah berjanji pada dirinya sendiri, pada Naura, dan pada takdir, "kita akan terus berjalan maju. Kita akan ambil semua yang berhak kita miliki, kita akan balas semua rasa sakit yang pernah kita terima, dan kita akan menulis akhir cerita ini dengan kebahagiaan abadi. Tidak ada kebohongan lagi, tidak ada dendam lagi, hanya ada kita, Buwana dan Zafira, selamanya."
.