Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Dungeon dan Inti Evolusi
Angin bau lumpur dan ozon memenuhi seluruh aula gua.
Raja Naga Komodo Lumpur itu terbaring di tanah berbatu dengan tubuh yang masih gemetar lemah. Nafasnya keluar putus-putus, menciptakan uap hijau tipis setiap kali ia mengembuskan sisa energi dari paru-paru raksasanya. Sisik hitam di punggungnya yang biasanya berkilap angkuh kini retak di beberapa bagian, mengeluarkan cahaya emas yang bocor perlahan seperti lilin yang hampir padam.
Rio berdiri di bibir kolam lumpur, memandang monster tiga abad itu dengan ekspresi yang susah dibaca.
Di pundaknya yang kosong — Wukong masih berdiri di atas kepala si komodo, santai menggaruk-garuk telinganya sendiri seolah baru selesai mengerjakan tugas sekolah yang membosankan.
"Nol koma tiga persen," Rio bergumam lagi.
Panel sistem masih mengambang di depan matanya, menunggu perintah dengan sabar.
Secara logika, pilihan A adalah satu-satunya jawaban waras. Core monster Bos Tier Master V itu nilainya luar biasa. Di pasar gelap hunter, satu buah Core kelas itu bisa laku ratusan juta rupiah. Belum lagi manfaatnya untuk membuka segel senjata Wukong yang sudah Rio incar dari tadi.
Namun Rio tidak langsung mengucapkan pilihan A.
Ia malah jongkok, menatap langsung ke arah mata kuning emas si komodo yang masih sadar meski tubuhnya sudah tidak bisa bergerak. Di dalam mata reptil yang besar itu, Rio tidak melihat kebencian atau amarah.
Yang ia lihat hanya kelelahan yang sangat tua.
"Berapa lama kamu di sini?" tanya Rio pelan. Bukan ke Wukong. Ke monster itu.
Jelas tidak ada jawaban. Monster dungeon bukan makhluk yang bisa berbicara dalam bahasa manusia, setidaknya bukan di tier ini. Tapi komodo tua itu berkedip lambat satu kali, dan entah kenapa, Rio merasa itu sudah cukup sebagai jawaban.
Ia menghela napas panjang.
"Sistem," ucapnya dalam hati. "Pilihan B."
**[Pilihan B Dipilih — Mencoba Ikatan Kontrak Darurat...]**
**[Probabilitas Keberhasilan: 0.3%]**
**[Menghitung...]**
Lima detik berlalu dalam keheningan total.
Wukong di atas kepala si komodo berhenti menggaruk telinganya. Ia menatap Rio dengan ekspresi yang sulit didefinisikan — campuran antara tidak percaya dan sedikit kagum yang ia sembunyikan seburuk mungkin di balik wajah monyetnya yang datar.
**[Hasil: GAGAL.]**
**[Ikatan Kontrak Darurat tidak berhasil terbentuk.]**
**[Beralih ke Pilihan A secara otomatis — Mengeksekusi Bos Dungeon...]**
"Ya, memang," kata Rio datar, berdiri kembali dan menepuk debu dari lututnya. "Nol koma tiga persen."
Wukong mengangkat satu alis — sejauh monyet bisa mengangkat alis.
"Udah, jangan dipandangin gitu," tegur Rio ke arah monyetnya. "Gue tahu probabilitasnya kecil. Tapi kan lumayan kalau jadi."
Wukong mencicit dengan nada yang terdengar sangat mirip dengan *ya iyalah gagal, bos*.
Rio mengabaikannya.
Satu hantaman terakhir dari Wukong. Singkat, bersih, tanpa drama berlebihan.
Raja Naga Komodo Lumpur itu menghembuskan napas terakhirnya dan perlahan-lahan hancur menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan naik ke langit-langit gua sebelum menghilang. Yang tersisa di lantai aula hanya sebuah benda sebesar kepalan tangan orang dewasa, berdenyut dengan cahaya ungu tua yang tenang dan berirama, seperti jantung yang masih berdetak.
**Core Monster Bos Tier Master V.**
Rio memungutnya dengan kedua tangan.
Hangatnya mengaliri telapak tangannya seketika. Benda itu berdenyut pelan di dalam genggamannya, dan setiap denyutan membawa serta gelombang tekanan energi yang halus namun padat. Bagi hunter biasa, memegang Core setier ini tanpa perlindungan khusus bisa membuat telapak tangan melepuh dalam hitungan menit.
Rio tidak merasakannya sama sekali. Bagi sistem miliknya, ini tidak ubahnya seperti memegang batu biasa.
**[Ding! Item Langka Diperoleh: Core Naga Komodo Master (Tier Master V)]**
**[Kegunaan Terdeteksi: Membuka Segel Senjata Hewan Kontrak Tingkat Pertama]**
**[Apakah Anda ingin menggunakannya sekarang?]**
"Aktifkan."
Cahaya ungu dari Core itu mendadak menyala terang, memancar keluar dari sela-sela jari Rio. Wukong melompat turun dari reruntuhan kepala komodo dan mendarat di hadapan Rio, berdiri tegak dengan kedua tangannya terentang ke samping — postur yang sama sekali tidak pernah Rio lihat sebelumnya dari si monyet.
Core itu melayang keluar dari tangan Rio. Berputar perlahan di udara antara Rio dan Wukong. Kemudian pecah menjadi ribuan partikel cahaya yang semuanya menghujam masuk ke dalam tubuh si monyet sekaligus.
WHUUUMMMM—
Seluruh aula gua bergetar. Bukan dari ledakan atau hantaman — lebih seperti senar gitar raksasa yang dipetik satu kali, menciptakan gelombang yang merambat dari pusat tubuh Wukong ke seluruh penjuru ruangan.
Bulu kusam Wukong yang tadinya berwarna abu kecokelatan mendadak berdiri semua. Kemudian, perlahan-lahan, bulu-bulu itu berubah warna dari pangkalnya — emas tipis yang menjalar naik seperti api kecil yang membakar sumbu lilin, dari ujung ekor hingga ubun-ubun kepala.
Tubuh Wukong membesar sedikit. Tidak dramatis, tidak seperti transformasi monster film. Tapi cukup untuk membuatnya kini seukuran anjing herder yang tegap dan padat. Rahangnya terlihat lebih kokoh. Bahunya lebih lebar. Dan di telapak tangannya yang kecil, ada garis-garis merah samar yang bersinar seperti rune kuno yang baru saja terukir di sana.
**[EVOLUSI TEROBOSAN BERHASIL!]**
**[Sun Wukong — Tier: Grandmaster I → EPIC I ★☆☆☆☆]**
**[Segel Senjata Tingkat Pertama Terbuka!]**
**[Item Tersegel Dilepas: Ruyi Jingu Bang (Tongkat Pembatas Lautan) — Wujud Saat Ini: Ranting Kayu Kering]**
**[Keterangan: Senjata sejati masih tersegel di lapisan lebih dalam. Wujud saat ini menyesuaikan dengan tier Epic. Potensi penuh terbuka di Tier Mythic ke atas.]**
Dari balik punggung Wukong, sebuah ranting kayu kering sebesar jempol orang dewasa jatuh ke lantai gua dengan suara tok yang sangat tidak dramatis.
Rio menatap ranting itu selama tiga detik penuh.
Wukong memungutnya. Menggenggamnya. Menimbang-nimbangnya di tangan. Kemudian menatap Rio dengan ekspresi yang persis sekali seperti ekspresi orang yang baru membuka kado ulang tahun mahal dan isinya ternyata sendok plastik.
"Sabar," kata Rio dengan nada yang susah payah ia jaga agar tidak tertawa. "Itu tongkat sakti yang dulu kamu pakai buat ngamuk di istana surga. Cuma lagi dalam wujud ranting sekarang karena tier kamu belum cukup."
Wukong menatap rantingnya lagi.
Kemudian dengan sangat perlahan, ia menyelipkan ranting itu di balik telinganya seperti orang tua yang menyimpan pena di telinga.
Rio akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Suara kekeh singkat meluncur keluar sebelum bisa ia tahan, bergema di dinding aula gua yang sepi. Ini adalah pertama kalinya sejak siang hari ia benar-benar tertawa.
"Oke, oke." Rio mengusap sudut matanya, menarik napas pelan. "Evolusi pertama berhasil. Tier Epic. Senjata tersegel sudah keluar walau masih dalam kondisi... minimalis."
Wukong mencicit dengan martabat yang sangat dijaga.
"Sekarang sudah hampir subuh." Rio melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum pendeknya sudah menunjuk angka empat. "Kita keluar. Besok masih ada sekolah."
Mereka berjalan keluar dari aula bos, menyusuri koridor gua yang kini benar-benar sunyi — semua monster sudah habis tersapu bersih dalam dua jam terakhir. Langkah Wukong yang berjalan di samping Rio kini terdengar lebih berat dan pasti dibanding sebelumnya. Ia tidak bertengger di pundak Rio seperti tadi, melainkan berjalan sendiri di sebelah kirinya, ranting kayu tersembunyi di balik telinga, dengan gaya berjalan seorang pengawal yang sangat serius menjaga wibawanya.
Tepat saat mereka melewati ambang portal keluar dan udara malam kota kembali menyambut mereka, panel sistem menyala sekali lagi — lebih redup dari biasanya, lebih seperti sebuah catatan kecil di sudut layar.
**[Rekap Sesi Malam Ini:]**
**[Sun Wukong: Warrior I → Epic I — Selesai dalam 1 Sesi]**
**[Total EXP Didapat: 14.700 (Termasuk Bonus Smurf ×500%)]**
**[Senjata Tahap 1 Tersegel: Dibuka]**
**[Notifikasi Baru: Sistem mendeteksi sinyal jiwa hewan kontrak potensial di area Rawa Timur — Sektor 7. Kondisi: Kritis. Estimasi waktu bertahan: 68 jam.]**
---
Rio membaca baris terakhir itu sambil melangkah meninggalkan gang buntu yang gelap.
Dua hari lebih sedikit.
Ia melirik Wukong di sebelahnya. "Besok sore selesai sekolah, kita ke Rawa Timur."
Wukong mengangguk satu kali, pendek dan tegas, seperti seorang wakil komandan yang baru menerima briefing misi.
Tidak ada kata-kata lebih. Mereka berjalan pulang dalam keheningan yang nyaman, di bawah langit yang perlahan berubah dari hitam menjadi biru tua di ujung timur cakrawala.
Di pundak kiri Rio, sebuah ranting kayu kering kecil yang diselipkan di balik telinga seekor kera berbulu emas tipis bergerak-gerak kecil diterpa angin subuh.
Tidak ada yang tahu bahwa benda kecil itu pernah menghancurkan Istana Langit.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣