Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Pagi itu datang seperti biasa.
Matahari baru saja naik ketika Hella sudah memulai aktivitasnya.
Rumah besar milik Dave kembali bersih mengilap.
Lantai telah dipel.
Ruang tamu sudah rapi.
Bunga-bunga di taman depan pun telah disiram.
Seolah tidak ada yang berbeda.
Namun sebenarnya ada.
Setidaknya bagi Dave.
Sejak bangun pagi, pikirannya terus kembali pada kejadian kemarin malam.
Kalimat yang ia ucapkan kepada Hella.
"Ingat posisimu di rumah ini, kau di sini untuk bekerja, bukan untuk mencari pria"
Dave mengembuskan napas pelan.
Entah kenapa.
Semakin dipikirkan.
Semakin terdengar kasar.
Padahal ia tidak bermaksud merendahkan Hella.
Ia hanya...
Tidak suka melihat Johan terlalu dekat dengan wanita itu.
Dan justru karena alasan itulah Dave semakin kesal pada dirinya sendiri.
Karena alasan tersebut terdengar tidak masuk akal.
Dave turun menuju ruang makan.
Seperti biasa.
Segelas kopi panas sudah tersedia.
Roti panggang juga sudah tertata rapi.
Dan seperti biasa pula.
Hella sedang berdiri di dapur.
Merapikan beberapa peralatan.
Namun pagi ini.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Hella tetap sopan.
Tetap bekerja seperti biasa.
Tetapi entah kenapa.
Dave merasa wanita itu sedikit lebih menjaga jarak darinya.
"Hella."
Suara Dave membuat Hella langsung menoleh.
"Iya, Tuan."
Nada suaranya tetap sopan.
Tetap sama.
Namun tidak seperti biasanya.
Dave mendadak kehilangan kalimat yang sudah ia siapkan sejak tadi.
Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang sangat jarang ia ucapkan.
Mungkin bahkan hampir tidak pernah.
Kata Maaf.
Namun saat Dave sedang mencari kata yang tepat.
Hella justru lebih dulu berbicara.
"Tuan..."
"Hm..?"
"Saya mau meminta izin."
Dave mengernyit.
"Izin..?"
"Iya, Tuan."
"Apa..?"
Hella menundukkan kepala sedikit.
"Lusa saya ingin pulang untuk beberapa hari."
Dave terdiam.
Entah kenapa.
Dadanya terasa sedikit tidak nyaman mendengar kalimat itu.
"Pulang..?"
"Iya, Tuan."
"Berapa lama..?"
"Kurang tau Tuan."
Dave menatap Hella beberapa detik.
"Lalu pekerjaanmu..?"
"Sebelum berangkat akan saya siapkan semuanya terlebih dahulu lusa."
"Tidak."
Hella sedikit bingung.
"Maksud saya alasan kamu pulang."
"Oh..."
"Saya rindu anak saya, Tuan."
Dave diam.
"Lalu ada sedikit kepentingan lain juga."
"Apa..?" tanya Dave penasaran.
Hella tampak ragu.
"Beberapa kepentingan saja Tuan."
Dave kembali terdiam.
Biasanya ia tidak akan peduli.
Biasanya ia cukup mengangguk dan mengizinkan.
Selesai.
Namun kali ini berbeda.
Karena pikirannya justru melayang ke kejadian semalam.
Dan semakin lama.
Semakin muncul satu dugaan yang tidak ia sukai dalam hatinya.
"Apa dia pulang karena marah..?"
"Apa karena tersinggung..?"
"Apa karena ingin menjauhi ku beberapa hari..?"
Dave menatap Hella yang masih berdiri dengan sopan di depannya.
Wajah wanita itu terlihat biasa saja.
Tidak menunjukkan kekesalan.
Tidak menunjukkan kemarahan.
Namun justru itu yang membuat Dave sulit menebak.
"Hanya itu alasannya..?" Tanya Dave lagi.
Hella mengangguk.
"Iya, Tuan."
"Karena rindu anakmu..?"
"Iya."
Dan tentu saja Hella tidak berbohong.
Ia memang sangat merindukan Dimas.
Namun yang tidak diketahui Dave...
Tanggal pendaftaran sekolah Dimas juga semakin dekat.
Ada beberapa urusan yang harus ia urus secara langsung.
Dave mengalihkan pandangannya ke meja makan.
Perasaan bersalah yang tadi sempat muncul perlahan mengendap kembali.
Kalimat permintaan maaf yang sudah berkali-kali ia susun dalam kepala mendadak terasa sulit diucapkan.
Sangat sulit.
"Baik lah."
Hella mengangkat kepala sedikit.
"Tuan mengizinkan..?"
Dave mengangguk.
"Hm."
"Terima kasih, Tuan."
Hella tersenyum kecil.
Senyum yang sopan.
Lalu kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Dave tetap duduk di kursinya.
Memandang punggung Hella yang semakin menjauh.
Kalimat yang sejak tadi ingin ia ucapkan akhirnya tidak pernah keluar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dave merasa menjadi pengecut.
Karena ternyata meminta maaf kepada seorang wanita jauh lebih sulit daripada menandatangani kontrak bernilai triliunan rupiah.
Sementara di sisi lain.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa alasan kepulangan Hella bukanlah karena dirinya.
Melainkan karena seorang anak laki-laki bernama Dimas yang sedang menunggu ibunya pulang.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁