Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Sekutu dari Masa Lalu dan Benang Takdir yang Terbuka
"Kau yakin semua rekaman dan dokumen lama ini masih tersimpan dengan rapi, Mam?"
Lucianna Francesca mengaduk teh kamomil di cangkirnya dengan gerakan anggun, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kilat kecemasan sekaligus ambisi yang membara. Sore itu, ia sengaja menemui Odelia di area taman belakang yang sepi, jauh dari jangkauan pelayan mansion Guinevere yang kini merangkap sebagai mata-mata James.
Odelia mendengus sinis, meletakkan sebuah map kulit cokelat usang yang sudah sedikit berdebu di atas meja kayu. "Kau meragukan kemampuanku, Lucianna? Selama bertahun-tahun aku tinggal di rumah ini, aku mencatat setiap kebusukan Bellamy Guinevere. Jalang kecil itu mengira dia bisa menghapus masa lalunya hanya dengan mengganti gaya pakaiannya menjadi hitam."
Lucianna membuka map tersebut. Lembar demi lembar menampilkan foto-foto lama, ruang obrolan digital yang dicetak, hingga laporan medis palsu. "Ini... semua bukti saat Bellamy menyiksaku di toilet kampus karena Javier mengantarku pulang?"
"Bukan hanya itu," Odelia menyeringai mengerikan, wajahnya yang kini tampak lebih tua karena stres setelah dinikahkan dengan Pak Dodi terlihat sangat haus darah. "Lihat halaman berikutnya. Bukti otentik saat Bellamy menyewa berandalan untuk merusak mobilmu, dan bagaimana dia menjebakmu seolah-olah kau yang mencuri perhiasan Diane agar Javier membencimu. Bellamy menghalalkan segala cara untuk mendekati Javier karena dia tahu, Javier selalu lebih tertarik dan bersikap lembut kepadamu."
Lucianna menyentuh salah satu foto yang memperlihatkan dirinya menangis dengan pakaian basah kuyup akibat ulah Bellamy dulu. Rasa benci yang mendalam kembali meluap di dadanya.
"Bellamy yang sekarang sangat sombong karena merasa di atas angin," desis Lucianna, mengingat kembali bagaimana Bellamy mengabaikannya dan malah menggandeng Dallas tempo hari. "Dia pikir dia bisa mencampakkan Javier begitu saja dan berpindah pada Dallas. Kita harus menghancurkannya di pesta gala minggu depan, Mama. Aku ingin seluruh konglomerat melihat seberapa busuk dan gilanya mental Bellamy Guinevere yang sebenarnya."
"Tentu saja," Odelia menopang dagunya, matanya menyipit kejam. "Saat semua bukti kejiwaan dan kekejamannya terpampang di layar besar aula pesta, tidak akan ada satu pun pria yang sudi melihatnya—termasuk Dallas Enrique. Kita akan mengembalikan jalang itu ke tempat asalnya: kubangan lumpur kehancuran."
...****************...
Sementara konspirasi malam mulai merayap di paviliun belakang, di dalam kamar utama mansion mewah Guinevere, James terbaring di atas ranjang king size. Suasana kamar sangat tenang dengan pendingin ruangan yang berdesis halus, namun pelipis James tampak dibanjiri keringat dingin. Napasnya memberat seiring jiwanya ditarik paksa masuk ke dalam dimensi alam bawah sadar yang gelap gulita.
Sylvester—jiwa asli sang bos mafia—terbangun di sebuah ruang hampa udara yang dipenuhi oleh ribuan lembar kertas novel yang beterbangan. Di tengah-tengah ruangan, sebuah meja kerja mahagoni yang sangat ia kenal berdiri kokoh. Itu adalah meja kerjanya di markas besar Minerva di dunia nyata.
"Di mana aku...?" gumam Sylvester, menatap kedua tangannya yang kini tidak lagi mengenakan cincin berlogo Guinevere, melainkan tato naga hitam khas ordo mafianya.
Di atas meja kerja itu, sebuah buku bersampul emas dengan inisial 'D' tampak memancarkan cahaya redup yang magis. Detik itu juga, sebuah suara ghaib tanpa wujud menggema di dalam kepalanya, memutar kembali memori malam kematiannya yang selama ini terkunci rapat.
“Kau mengutuk karya ini, Sylvester Minerva...” suara itu berbisik, berat dan bergaung. “Kau menantang takdir yang sudah tertulis.”
"Tentu saja aku mengutuknya, bajingan!" teriak Sylvester ke arah kegelapan, amarah mafianya meledak seketika. "Bagaimana mungkin alur cerita sampah itu bisa tercipta?! James Guinevere digambarkan sebagai pengusaha tegas, tapi bagaimana logikanya dia bisa lumpuh tak berkutik hanya karena pelet dan manipulasi murahan dari pelayan rumah tangga seperti Odelia?! Sementara istrinya, Diane, jauh lebih cantik, elegan, dan berkelas! Itu plot paling dramatis dan menjijikkan yang pernah kubaca!"
Lembaran-lembaran kertas novel di sekelilingnya mendadak berputar lebih cepat, memproyeksikan kilasan ingatan masa depan yang belum sempat terjadi di lini masa novel asli.
Sylvester tertegun saat melihat bayangan dirinya—atau James—dalam kondisi hancur. Dalam plot asli itu, setelah Diane bunuh diri dan putri kesayangannya, Bellamy (Livana), tewas mengenaskan akibat dijebak oleh kelicikan duet ular Lucianna dan Odelia, James jatuh bangkrut total. Seluruh asetnya dirampas, dan ia diusir ke jalanan dingin sebagai gelandangan yang cacat.
Namun, di tengah-tengah fragmen keputusasaan di mana James asli duduk meratap di samping makam Bellamy yang sepi di bawah guyuran hujan deras, ada satu sosok yang tidak pernah Sylvester duga.
Seorang pemuda dengan setelan jas hitam yang kotor oleh tanah pemakaman berjalan mendekati James yang sedang kelaparan. Pemuda itu berlutut di atas lumpur, matanya merah bengkak karena menangisi mayat Bellamy—gadis yang selama hidupnya selalu mengejar pria lain, namun diam-diam dicintai oleh pemuda ini hingga akhir hayatnya.
Pemuda itu adalah Dallas Enrique.
"Tuan James... bangunlah," ucap Dallas di dalam proyeksi mimpi itu, suaranya parau namun sarat akan dendam yang mendalam. "Aku sudah membalaskan dendam Bellamy. Aku sudah mengirim Fernando, Javier, dan jalang Lucianna itu ke neraka terkutuk mereka. Sekarang, ikutlah bersamaku. Aku tidak akan membiarkan ayah dari wanita yang kucintai mati kelaparan di jalanan ini."
Dalam potongan memori asli novel itu, Dallas-lah satu-satunya orang yang sudi mengulurkan tangan pada James yang sudah menjadi gelandangan. Dallas juga yang menghancurkan keluarga Enrique dan komplotan Lucianna sebagai bentuk pembalasan atas kematian tragis Bellamy.
“Jiwamu tidak mati di dunia nyata, Sylvester...” suara ghaib itu kembali berbisik sebelum bayangan mimpi itu perlahan memudar. “Kau dan putrimu ditarik masuk ke sini karena penyesalan dan kutukanmu telah meretakkan dinding dimensi novel ini. Selamatkan pria yang menyelamatkanmu, atau alur kematianmu akan tetap menjemput.”
"Dallas...?"
Hah!
James mendadak terduduk di atas ranjangnya dengan napas memburu dan mata membelalak lebar. Jantungnya berdegup sangat kencang seperti habis berlari maraton. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden menyadarkannya bahwa ia telah kembali ke tubuh James Guinevere.
James memegangi dadanya, mencoba menstabilkan napasnya yang tidak beraturan. Seringai dingin namun penuh rasa takjub perlahan muncul di wajah matangnya yang tegas.
"Jadi... bocah sekaku es itu yang menyelamatkanku dan membalaskan dendam putriku di alur asli?" James terkekeh rendah, sebuah tawa bariton yang terdengar sangat berbahaya. Ia menyibak selimutnya dan berdiri, menatap ke luar jendela ke arah distrik bisnis kota. "Menarik. Sangat menarik. Dallas Enrique... kau ternyata jauh lebih berguna dari yang kukira."
James melangkah menuju meja rias, mengambil ponselnya dan langsung mendial sebuah nomor privat yang terhubung langsung ke jaringan intelijen bayangannya.
"Halo, Bram?" ucap James begitu panggilan tersambung. "Kirimkan seluruh detail tambahan mengenai pergerakan rahasia Dallas Enrique di distrik barat kepadaku pagi ini juga. Dan satu lagi..." James menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh otoritas mutlak. "...perketat pengawasan pada Lucianna dan Odelia. Sampaikan pada Bellamy, umpan catur kita sudah siap digerakkan."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉