"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"
Anisa Rahmawati
Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kapal yang sudah di tentukan oleh nahkoda kemana dia akan berlayar saja belum tentu akan sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Tidak ada yang bisa menebak jika ombak yang ada di lautan tidak akan menenggelamkan kapal itu. Atau mungkin sebuah batu karang besar yang ada di tengah lautan akan menjadi sandungan, lalu kapal akan karam di dasar lautan tanpa bisa mencapai tempat untuk berlabuh. Berusaha boleh, namun berharap lebih jangan. Itu akan sangat menyakitkan jika semua hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Tidak jauh berbeda dengan sebuah perasaan. Angga mati-matian berjuang selama dua tahun penuh untuk meyakinkan Anisa jika dia mampu menjadi imam sekaligus Ayah sambung dari gadis kecil yang di beri nama Eliziane. Namun kembali lagi, tidak akan ada yang bisa memaksakan takdir yang sudah tercetak rapi di Lauh Mahfuz.
Di sebuah ruangan besar di rumah mewah dengan beberapa kerabat dekat dari kedua bela pihak keluarga menyaksikan moment haru malam ini.
Sepasang pengantin yang kini sudah duduk di depan penghulu dengan para saksi dari kedua bela pihak keluarga. Tangan Dimas kini sedang berjabat dengan paman Yuna yang menjadi wali nikah hari ini. Angga mulai mengucapkan kalimat sakral yang akan membawa mereka ke sebuah kehidupan baru. Kehidupan pernikahan yang akan banyak ujian dan cobaan di dalamnya. Dengan satu tarikan nafas, Angga berhasil melafazkan kalimat yang sudah di nantikan Yuna selama satu tahun ini.
Nina menarik nafas lega saat orang-orang yang ada di ruangan itu mengucapkan kata sah di ujung kalimat Angga. Adik kecilnya kini sudah menjadi seorang istri. Hari ini tanggung jawabnya menggantikan mendiang kedua orang tuanya telah berpindah pada Angga. Laki-laki yang dulunya begitu mencintai sahabatnya ini, sekarang sudah menjadi adik iparnya.
Berulang kali Nina meyakinkan Yuna, pasti akan ada yang tersakiti dari pernikahan ini dan itu pasti Yuna. Namun adiknya itu tetap meyakinkan dirinya jika dia akan berusaha membuat Angga hanya akan mencintainya nanti.
Yuna tahu rasa cinta Angga pada Anisa mungkin tidak bisa di hapus dengan mudah, namun dia yakin jika suatu saat nanti hanya akan ada dirinya di dalam hati laki-laki yang kini sedang memasangkan cincin pernikahan di jari manisnya.
Tidak jauh dari tempat di laksanakan ijab kobul, Anisa duduk di kursi di samping Dimas yang masih memangku putrinya yang sudah terlelap.
Kedatangan mereka tadi di sambut hangat oleh keluarga Angga terutama Profesor Wijaya yang sudah menganggap Anisa seperti putrinya sendiri. Namun berbeda dengan Nina yang hanya menatap dingin pada Dimas. Dia masih merasa sakit hati dengan sikap laki-laki itu terhadap sahabatnya. Nina bahkan tidak menyapa Anisa, bukan karena dia mengabaikan sahabat yang begitu dia rindukan namun dia kecewa jika Anisa kembali melangkah ke jalanan yang sempat membuatnya terjatuh ke dasar jurang yamg menyakitkan itu.
Guru terbesar dalam hidup adalah pengalaman, namun sepertinya Anisa tidak bisa belajar dengan baik yang di namakan pengalaman. Ataukah memang cinta di hati Anisa belum beranjak sejak dulu, dan kini mulai mengalahkan kesakitan yang di berikan laki-laki itu padanya lalu membiarkan dirinya kembali pada kehidupan yang dulu penuh dengan luka.
Selesai ijab kobul, semua keluarga kini sedang menikmati hidangan mewah yang tersedia di sana. Pernikahan tidak semeriah pernikahan konglomerat pada umumnya, namun keluarga Angga menyiapkan yang terbaik untuk menyambut keluarga baru mereka.
Nina membawa putranya yang kini berusia hampir lima tahun menuju tempat Anisa berada. Dia ingin mengabaikan, namun kini dia tidak tahan lagi saat Anis menatapnya sendu.
Semarah-marahnya seorang sahabat, dia tidak akan mampu mengabaikan sahabatnya lama-lama. Apalagi tatapan penuh permohonan Anisa, sungguh Nina tidak bisa lagi menahannya lebih lama.
"Aku benci padamu." Ucap Nina saat sudah beberapa menit duduk di di kursi yang ada di depan Anisa.
"Maafkan aku." Jawab Anisa.
Indra yang juga ikut bergabung disana tersenyum pada Anisa.
"Bagaimana kabar kamu Nis ?" Tanya Indra
"Baik Ndra." Jawab Anisa.
Indra mengangguk lalu tatapannya beralih pada Dimas dang gadis kecil yang dia tahu adalah anak dari Anisa.
"Kamu Dimas, apa kabar ?" Tanya Indra. Dia tahu laki-laki ini sedang merasa tidak nyaman untuk memulai percakapan, karena mereka memang tidak saling mengenal.
"Aku juga baik." Jawab Dimas singkat.
"Tentu saja baik, karena kamu tidak perlu berjuang keras untuk bisa memeluk putrimu yang sudah kau buang." Ucap Nina sinis.
"Nin," Lirih Anisa menegur sahabatnya.
"Kenapa ? kamu mau membelanya ? apa kamu secinta itu padanya hingga harus sampai seperti ini ?" Ujar Nina dengan suara yang sedikit meninggi.
"Nina, ini masih di acara. Jangan merusak hari bahagia Yuna, Anisa hanya ingin menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Kita wajib menghargai itu." tegur Indra pada istrinya.
"Aku menyayanginya Ndra, kamu tahu hanya dia dan Yuna yang aku punya, dan aku tidak ingin dia kembali terluka seperti dulu. Kamu yang paling tahu bagaimana menderitanya dia saat itu, aku tidak ingin itu terjadi lagi." Ujar Nina dengan suara pelan.
"Ayo kita kembali ke kamar, kamu harus beristirahat." Ujar Indra lalu berpamitan pada Anisa dan Dimas untuk membawa istrinya pergi dari sana. Dia mengerti, istrinya tidak berniat menyakiti hati Anisa.
Anisa masih menunduk dalam sambil tersenyum miris. Apa yang di katakan oleh sahabatnya ini memang benar, nama laki-laki yang kini terdiam sambil memeluk putrinya tidak pernah beranjak dari dalam hatinya dari dulu. Bukan dia mengharapakan, sungguh dia tidak lagi berharap untuk kembali bersama Dimas, hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya harus bersikap.
Dia hanya tidak ingin merusak hatinya karena membenci orang lain. Membenci hanya akan menjadi penyakit hati, dan itu bukan hanaya menyakiti orang yang kita benci tapi juga diri kita sendiri akan ikut tersakiti. Tidak ada yang salah berdamai dengan masalalu, mulai melangkah tanpa dendam di hati jauh lebih mudah dari pada setiap hari jiwa akan di gerogoti dendam yang tidak akan ada akhirnya.
Bukankah manusia memang tempatnya salah. Kita boleh memberi jarak dari orang yang pernah menyakiti, namun jangan sampai membenci apalagi mendendam. Itu akan merugikan diri kita sendiri.
Setelah kepergian Indra dan Nina, hening kembali menguasai. Dimas hanya diam dengan hati yang teriris perih. Bukan karena perkataan tajam dari sahabat Anisa, namun dia kembali merasa tertampar. Hanya seorang sahabat dari Anisa saja begitu tersakiti saat dia memperlakukan Anisa seenaknya dulu, apalagi Anisa yang merasakannya sendiri. Entah sedalam apa luka yang di goreskan di hati perempuan yang ada di sampingnya ini, dan Anisa masih berbesar hati mengizinkan dia bertemu dan memeluk putri mereka.
Berjuang ? apakah itu perlu sekarang ? Apalagi jika perjuangannya hanya akan kembali menyakiti Anisa, sungguh Dimas tidak lagi punya kepercayaan diri saat melihat tatapan benci dari Nina beberapa menit yang lalu.
"Mas," Panggil Anisa pelan.
Dimas mengalihkan pandangannya pada wanita yang masih saja menunduk dalam di sampingnya. Dia diam, menunggu apa yang ingin di utarakan Anisa padanya.
"Tolong antarkan aku dan Zia ke hotel terdekat ya." Pinta Anisa.
Dimas mengangguk, mengikuti apapun kemauan Anisa.
Biarkan saja seperti ini, bukan berhenti berjuang. Namun dia tidak lagi ingin serakah seperti dulu. Anisa tidak melarangannya untuk bertemu dengan Zia, sudah merupakan hadiah terbesar dalam hidupnya.
Anisa beranjak sendiri dari tempat duduk, langkah kakinya menuju sepasang pengantin yang tidak jauh dari tempat dia duduk.