NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Lembah Kabut Roh - Desa Kabut

Setelah keluar dari paviliun seratus herbal. Shen Yifan mulai berjalan kearah gerbang utara kota Istana Langit.

Gulungan peta itu ia simpan ke dalam tas rajutannya dan Shen Yifan melanjutkan perjalanannya.

Para penjaga gerbang hanya melirik sekilas sebelum membiarkannya lewat.

Tak lama kemudian, tembok kota yang menjulang tinggi mulai tertinggal di belakangnya.

Hamparan padang rumput terbentang luas sejauh mata memandang. Angin sejuk berembus perlahan, menggoyangkan ilalang yang tumbuh liar di sepanjang jalan. Di kejauhan tampak pegunungan yang diselimuti kabut tipis, sementara langit biru membentang tanpa batas.

Shen Yifan menghirup udara segar dalam-dalam. "Jauh lebih nyaman daripada hiruk-pikuk kota."

Ia mengikuti jalan tanah yang membelah padang rumput, sesekali tampak para petani memikul hasil panen, pedagang kecil mendorong gerobak, hingga beberapa kultivator berlalu-lalang menuju arah yang berbeda.

Tidak lama kemudian... Derap langkah kuda terdengar dari belakang.

Shen Yifan menoleh.

Sebuah kereta kayu sederhana yang dipenuhi karung-karung gandum melaju perlahan ke arahnya. Seorang kusir tua duduk santai di bagian depan sambil menggoyangkan cambuknya pelan.

Ketika kereta itu sejajar dengannya, kusir tua tersebut tersenyum ramah.

"Anak muda, kau juga menuju utara?"

Shen Yifan mengangguk. "Kebetulan searah."

Kusir itu tertawa kecil. "Kalau begitu, daripada menghabiskan tenaga berjalan, naik saja."

Ia menepuk-nepuk bak belakang kereta yang dipenuhi karung gandum.

"Masih ada tempat."

Shen Yifan tidak banyak berpikir. "Kalau begitu, terima kasih, Paman."

Dengan satu lompatan ringan, ia naik ke atas bak kereta lalu bersandar pada salah satu karung gandum.

Kereta itu kembali melaju perlahan menyusuri jalan utama.

Derap kaki kuda terdengar berirama, ditemani semilir angin yang membawa aroma tanah dan rerumputan liar.

Shen Yifan mendongak menatap langit yang begitu luas.

Entah mengapa, setiap kali meninggalkan keramaian manusia, pikirannya selalu menjadi jauh lebih tenang.

Kereta kayu itu terus melaju perlahan.

Derap kaki kuda berpadu dengan suara roda yang bergesekan dengan jalan tanah, menciptakan irama yang menenangkan.

Kusir tua itu melirik Shen Yifan yang sejak tadi hanya memandangi langit. "Anak muda."

Shen Yifan mengalihkan pandangannya. "Ada apa, Paman?"

Kusir tua tersenyum kecil. "Kau kelihatannya sedang memikirkan sesuatu yang berat."

"Begitu terlihat?" Shen Yifan ikut tersenyum.

"Hahaha... Orang tua sepertiku sudah bertemu banyak orang." Kusir itu mengusap janggut tipisnya. "Kalau seseorang terus melihat langit tanpa berkedip, biasanya ada dua kemungkinan."

"Oh?"

"Sedang jatuh cinta... atau sedang memikirkan kehidupan."

Shen Yifan terkekeh pelan. "Untung bukan yang pertama."

Kusir tua ikut tertawa. "Kalau begitu, pasti yang kedua."

Suasana kembali tenang beberapa saat, angin kembali berhembus pelan, menggoyangkan ilalang di sepanjang jalan.

Shen Yifan akhirnya membuka suara. "Paman... Menurutmu, seperti apa dunia ini?"

Kusir tua tampak berpikir sejenak. "Aku tidak tahu dunia para kultivator, aku hanya seorang kusir. Tapi menurutku... Dunia ini seperti jalan yang sedang kita lewati."

Shen Yifan menatap jalan tanah di depan kereta.

"Kadang rata, kadang berlumpur, kadang penuh batu. Namun selama roda kereta masih berputar... Perjalanan akan tetap berlanjut."

Shen Yifan terdiam.

Kusir tua melanjutkan sambil tersenyum. "Orang miskin mengejar makanan, pedagang mengejar keuntungan, kultivator mengejar keabadian. Semua orang sedang mengejar sesuatu."

"Lalu bagaimana dengan Paman?" tanya Shen Yifan.

Kusir tua mengangkat bahu. "Aku? Aku hanya mengejar hari esok, selama masih bisa makan, masih bisa melihat matahari terbit, dan kudaku masih mau menarik kereta. Itu sudah cukup."

Shen Yifan kembali menatap langit biru yang luas, di bawah langit yang sama.

Ternyata setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Namun pada akhirnya, semua sedang berjalan di jalan mereka masing-masing.

Ia tersenyum tipis. "Mungkin... Hakikat kehidupan bukan tentang seberapa jauh kita melangkah. Melainkan tentang apakah kita masih memiliki alasan untuk terus melangkah."

Kusir tua tertawa puas. "Itu ucapan yang bagus, Anak Muda.... Tapi, jangan terlalu banyak berpikir. Kalau terlalu sering melihat langit, nanti kau lupa melihat jalan di depanmu."

Shen Yifan tersenyum dan mengangguk pelan. "Terima kasih, Paman."

Percakapan itu pun berakhir.

Shen Yifan kembali menyandarkan tubuhnya pada karung gandum, sementara kusir tua itu terus mengendalikan kudanya dengan santai.

Kereta kayu terus melaju ke arah utara, meninggalkan Kota Istana Langit yang semakin lama semakin jauh di belakang mereka.

......................

"Nona Bing," panggil Jian Chen sambil menggigit sepotong daging panggang di tangannya.

Nangong Bingxue menoleh sekilas. "Ada apa?"

Jian Chen menelan makanannya terlebih dahulu sebelum berkata, "Tentang Shen Yifan... Apa Nona juga merasa dia sedikit aneh?"

"Aneh dalam hal apa?" tanya Nangong Bingxue datar.

"Bukankah aneh?" Jian Chen mengangkat bahu. "Saat turnamen itu, dia baru pertama kali membuat pil, tapi gerakannya begitu tenang. Seolah-olah dia sudah melakukannya berkali-kali."

Nangong Bingxue tetap diam.

Jian Chen melanjutkan, "Aku tahu dia pasti sudah mempelajari teori alkimia sejak lama. Tapi teori tetaplah teori. Banyak orang hafal ribuan resep pil, namun ketika mulai menyalakan tungku, tangan mereka justru gemetar."

Ia menatap langit sejenak. "Membaca buku dan membuat pil adalah dua hal yang berbeda."

Nangong Bingxue tersenyum tipis. "Jadi, menurutmu dia menyembunyikan sesuatu?"

Jian Chen menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi instingku mengatakan... Shen Yifan bukan orang sesederhana yang terlihat."

Nangong Bingxue mengalihkan pandangannya ke arah pegunungan di kejauhan. "Setiap orang memiliki rahasia, Jian Chen."

"Selama rahasia itu tidak menyakiti orang lain, aku tidak merasa perlu mencampurinya."

Jian Chen tertawa kecil. "Itu memang jawaban yang paling mungkin keluar dari mulut Nona Bing."

"Oh iya Chen... Guru memerintahkan kita untuk pergi ke lembah kabut roh!" Sahut Bingxue, mengalihkan topik.

"Serius?" Jian Chen tampak terkejut.

Bingxue tersenyum. "Iya Jian Chen. Guru menyuruh kita untuk memandu junior kita."

"Emang ada apa di Lembah kabut roh?"

"Katanya, ekspedisi biasa. Untuk menambah wawasan junior kita yang notabene nya murid baru!" jawab Bingxue.

"Baiklah... Kapan kita akan berangkat?"

"Nanti siang, kita berangkat." jawab Bingxue.

"Baiklah... Nona Yue juga ikut?" sahut Jiam Chen, biasanya Nangong Yue selalu ada di dekat kakaknya, Bingxue.

Nangong Bingxue menggelengkan kepalanya. "Ia sibuk berlatih. Saat ia bisa membuat Pil Grade tiga, Yue jadi sangat sibuk sekali." Bingxue menghela napas, "Hah... Aku tidak bisa melihat adik imutku lagi selama satu bulan ini!"

"Dasar... siscon, haha."

......................

Tiga hari kemudian.

Selama perjalanan, Shen Yifan beberapa kali turun dari kereta untuk membantu kusir tua memberi makan kuda atau mendorong kereta saat melewati jalan berlumpur.

Sebagai balasannya, kusir tua selalu membagikan makanan sederhana yang ia bawa. Meski tidak banyak berbicara, perjalanan panjang itu terasa jauh lebih ringan.

Semakin jauh mereka melaju ke utara, udara mulai berubah.

Angin yang semula hangat kini terasa lebih dingin.

Kabut tipis perlahan menyelimuti jalan, sementara pepohonan tinggi mulai menggantikan hamparan padang rumput.

Tak lama kemudian, sebuah permukiman akhirnya terlihat di kaki pegunungan.

Rumah-rumah kayu berdiri berjajar sederhana. Asap tipis mengepul dari cerobong, sementara para pemburu, pedagang herbal, dan kultivator hilir mudik memenuhi jalan utama.

Di pintu masuknya berdiri sebuah batu besar dengan dua huruf yang dipahat sederhana.

Desa Kabut.

Meski hanya sebuah desa, suasananya jauh lebih ramai daripada yang dibayangkan Shen Yifan.

Di hampir setiap sudut tampak para kultivator membawa senjata. Ada yang baru kembali dengan pakaian berlumuran darah, ada pula yang sibuk membeli pil penyembuh dan perbekalan.

"Anak muda, perjalanan kita sampai di sini." Kusir tua menghentikan keretanya sambil tersenyum.

Shen Yifan turun dari bak kereta, lalu menangkupkan kedua tangan. "Terima kasih atas tumpangannya, Paman."

Kusir tua hanya tertawa kecil."Kalau kita berjodoh, mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi."

Shen Yifan mengangguk pelan.

Setelah memandangi punggung kereta yang perlahan menjauh, ia mengalihkan pandangannya ke arah pegunungan yang diselimuti kabut putih.

Di balik pegunungan itulah, lembah Kabut Roh berada. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah memasuki Desa Kabut.

1
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!