NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Begitu Julian menapakkan kaki di luar toko, Yisla langsung bersedekap dada, menatapnya dengan tatapan yang menuntut penjelasan.

"Oke, sekarang jelasin. Kenapa nyonya tadi mendoakan persalinanku? Sejak kapan aku hamil, Julian?!" tuntut Yisla dengan wajah merah padam antara kesal dan malu.

Julian menyengir kuda tanpa dosa sambil menepuk kantong goni di bahunya.

"Taktik marketing, Yisla! Kalau aku nggak bilang kamu lagi ngidam dan hamil, kita nggak bakal dapat diskon dari delapan koin perak jadi lima koin perak. Anggap saja itu akting demi menyelamatkan dompet kita."

Yisla melongo, tidak tahu harus takjub atau ngeri dengan kelicikan otak Julian. Namun, sebelum ia sempat mengomeli cowok itu, sebuah suara keras mendadak terdengar.

Kriuuuuk~

Julian nyengir kaku sambil memegangi perutnya. "Hehe... efek mikir keras sama lari-lari tadi. Gimana kalau kita cari makan dulu?"

Yisla menghela napas pasrah, walau perutnya sendiri sebenarnya juga sudah lapar. Mereka akhirnya berjalan melipir ke sebuah kedai makan kecil beratap rumbia. Di papan namanya tertulis menu hari ini: Bonci.

"Bonci? Makanan apa itu? Perasaan aku nggak pernah nulis menu namanya Bonci," gumam Julian super lirih, berusaha mengingat apakah pernah ia buat asal-asalan saat begadang dulu.

"Wah, ada Bonci hangat! Ayo Jul, itu makanan khas kota ini!" seru Yisla riang, langsung menarik lengan Julian masuk.

Mereka memesan dua porsi. Tak lama, pelayan datang membawa dua mangkuk tanah liat berisi kuah kental berwarna cokelat dengan potongan jamur, kentang, dan suwiran daging ayam. Kelihatannya sangat menjanjikan. Keliatannya aja sih nggak tau kalau rasanya.

Julian dengan semangat pahlawan kelaparan langsung menyendok kuah Bonci itu ke dalam mulutnya.

Sruuup...

Julian terdiam. Mengunyahnya pelan, lalu menatap mangkuknya dengan pandangan kosong.

"Gimana, Jul? Enak, kan?" tanya Yisla yang sudah mulai makan dengan lahap.

Julian menelan makanannya dengan susah payah. "Hambar, Yisla... Ini mah sup kentangnya Kak Vito versi ada ayamnya doang. Kurang garam sama kurang micin!"

Wush...

Duo Hemisphere bersaudara mendadak muncul dan duduk di ujung meja kayu mereka.

"Selera lidah jelata dari dunia modern memang sulit menerima kuliner otentik abad pertengahan," cibir Animus sembari mencatat.

"Ih, tapi kalau hambar, kan Julian bisa minta disuapin sama Yisla biar rasanya jadi manis-manis romantis gila aww~" timpal Anima memanasi situasi dengan kedipan mata genit.

Julian mendengus kesal. Diabaikannya kedua makhluk gaib itu, lalu ia buru-buru menyambar sejumput bubuk kering misterius di tempat bumbu meja—berharap itu sejenis lada dan menaburkannya barbar ke mangkuknya demi menyelamatkan lidahnya yang menderita.

"Uhuk! Uhuk!"

Sedetik setelah kuah itu melewati tenggorokannya, Julian langsung terbatuk-batuk hebat sampai matanya berair. Wajahnya sampai merah padam, dan dadanya terasa terbakar.

"J-Julian?! Kamu nggak apa-apa?!" Yisla panik, buru-buru menyodorkan botol air kulit gratisan yang mereka bawa dari rumah.

Julian menyambarnya dan meneguk air itu sampai tandas. "Uhggh... Sialan! Itu bubuk apa sih?! Panas banget!" umpat Julian serak, menjulurkan lidahnya yang rasa-rasanya sudah mati rasa.

Yisla bukannya kasihan malah menepuk jidatnya sendiri. "Julian, itu namanya Nader-spice! Itu harusnya ditabur sedikit saja buat penghangat badan, bukan ditumpuk kayak mau bikin semen!"

"Ya mana aku tahu!" gerutu Julian, mengusap bibirnya yang mendadak dower.

Anima berjalan mendekat, sembari meniup-niup ke arah bibir Julian.

"Tuh kan, makanya dengerin kata Anima~ Kalau minta disuapin Yisla, rasanya pasti jadi manis, nggak bakal bikin bibirmu dower kayak bebek gini~"

"Diam bisa nggak?" desis Julian super lirih sambil melotot ke arah kursi kosong.

Yisla kembali mengernyit bingung. "Kamu beneran hobi ngomong sama angin ya, Jul?"

Yisla menggeleng pasrah, lalu menyodorkan sepotong kentang dari mangkuknya sendiri menggunakan sendok ke depan mulut Julian.

"Nih, makan kentangnya. Jangan kuahnya lagi, biar pedasnya hilang."

Julian tertegun menatap potongan kentang itu, lalu menatap Yisla yang tampak tulus. Demi menyelamatkan lidahnya, Julian maju dan melahap kentang itu langsung dari sendok Yisla.

Nyam.

"Nah, mendingankan?" tanya Yisla.

Julian mengangguk kaku, mendadak salah tingkah karena taktik suap-menuap dari Anima malah kejadian secara tidak langsung.

"E-eh, iya... lumayan," gumamnya buru-buru menghabiskan sisa isi mangkuknya.

Setelah membayar dengan dua koin perunggu, Julian berdiri dan merapikan mantel wolnya. Ia melirik ke luar jendela, di mana langit kota perlahan mulai berubah kejingga-jinggan ditimpali salju yang kembali turun.

"Oke, perut sudah aman, baju baru juga sudah dapat," ujar Julian. "Sekarang, agenda terakhir kita sebelum besok pulang yaitu... cari penginapan murah!"

Yisla ikut berdiri, mengeratkan mantel putih gading barunya yang tampak sangat cantik.

"Penginapan? Kamu tahu tempat yang murah di sekitar sini, Jul?"

Julian tersenyum penuh misteri, menepuk saku celananya yang berbunyi kerincing. "Tenang, Yisla. Walaupun aku nggak tau, kita bakal coba aja! Ayo!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!