NovelToon NovelToon
Mafioso In Action

Mafioso In Action

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Contest / Kriminal / Mafia / Tamat
Popularitas:235.5k
Nilai: 4.4
Nama Author: WiraBP

16+ Bijaklah dalam membaca!!!

Apa jadinya jika harus menghadapi banyak masalah yang berasal dari masa lalu, namun tanpa ingatan masa lalu tersebut?

Itulah yang terjadi dan dialami oleh seorang laki-laki berusia 23 tahun bernama Berlin G Axel. Dirinya tidak dapat mengingat semua tentang masa lalunya sendiri, dan harus menghadapi semua masalah yang berasal dari masa lalu.

Banyak sekali ancaman dan bahaya yang mengincar Berlin, termasuk orang-orang berharganya dan termasuk juga dengan kekasihnya yaitu Nadia. Itu cukup membuat Berlin harus bisa melindungi apa yang ingin ia lindungi, dan sekaligus harus bisa menyelesaikan masalah-masalah itu.

Di sisi lain Berlin juga harus mencari kejelasan soal ingatan masa kecilnya, dan soal keluarga besarnya yang tidak dapat ia ingat sama sekali.

Apakah ia berhasil mendapatkan ingatan-ingatannya kembali? Dan ingatan-ingatan apa saja yang telah hilang atau ia lupakan?

source cover: Pinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WiraBP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Laki-laki #25

Sesampainya di Rumah Sakit Kota, Berlin dapat melihat banyaknya orang yang berada di sana. Dirinya juga dapat melihat banyaknya pasien korban dari ledakkan yang terjadi pada dini hari tadi. Tidak hanya itu, terlihat cukup banyak juga anggota polisi yang berjaga di sekitar dari Rumah Sakit tersebut.

Rombongan dari Berlin sempat dilakukan penggeledahan barang bawaan oleh beberapa anggota polisi yang berjaga. Namun setelah itu mereka semua dipersilahkan untuk memasuki area dari Rumah Sakit, karena mereka semua tidak membawa barang-barang mencurigakan.

Nadia pun berjalan perlahan dengan menuntun temannya yaitu Vhalen menuju meja resepsionis di lobi Rumah Sakit.

"Permisi, apakah ada pasien dengan atas nama Lakit Angkasa ...?" ucap Vhalen kepada salah satu perawat wanita di balik meja resepsionis tersebut.

"Sebelumnya ... saya berbicara dengan siapanya pasien ?" jawab perawat tersebut.

.

"Saya keluarganya ...," sahut Vhalen dengan menggenggam sehelai tisu yang sudah basah dipenuhi air mata yang membasahinya.

"Oh, kalau begitu ... mari saya antarkan," ujar perawat wanita tersebut.

Perawat wanita tersebut melangkah keluar dari meja resepsionis miliknya, dan lalu mengantarkan Vhalen menuju ruang perawatan dari adiknya yang cukup jauh dari lobi Rumah Sakit.

Nadia pun berjalan bersama dengan Kimmy yang menemani temannya Vhalen menuju ruang perawatan. Mereka bertiga berjalan lebih dahulu dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.

Namun di saat yang bersamaan terlihat empat anggota Brimob dengan pakaian taktis dan persenjataan lengkap mereka, serta dengan masker berwarna hitam yang menutup penuh wajah identitas mereka. Empat anggota Brimob tersebut terlihat tiba-tiba berjalan menghampiri Berlin yang sedang berbincang dengan beberapa temannya.

Nadia yang melihatnya pun sempat menghentikan langkahnya untuk berjalan menemani Vhalen menuju ruang perawatan dari saudaranya. Kimmy yang mengetahuinya pun berhenti melangkah dan lalu mendekatinya serta mengatakan, "Aku tahu ..., biar aku yang temani Vhalen ...," ucapnya dengan menepuk pundak milik Nadia.

Nadia meresponnya dengan hanya mengangguk dan lalu berjalan menghampiri kekasihnya yang terlihat terlibat dalam sebuah perdebatan kecil dengan para anggota Brimob tersebut. Dirinya merasa sedikit khawatir dan curiga, karena tentu Berlin sendiri memiliki banyak masalah yang tentunya juga sudah tidak terhindar dari kesehariannya.

...

"Selamat siang, apakah betul saya sedang berbicara dengan Berlin ?" tanya salah satu anggota tersebut dengan pakaian taktik lengkapnya kepada Berlin yang berada di hadapannya.

"Ya betul, saya sendiri ..., ada apa emangnya ?" jawab Berlin dengan sedikit bingung.

"Bisa ikut dengan kami ke Kantor Polisi ?" ujar salah satu anggota tersebut dengan nada sedikit berbisik.

"Tunggu, memang perlu apa dengan saya ?" sahut Berlin dengan sedikit mengangkat tangannya serta satu kali melangkah mundur.

"Memangnya teman kami salah apa, Pak ?!" cetus Adam yang tepat berada di samping dari Berlin.

Tidak hanya Adam yang mencoba untuk menghalangi Brimob tersebut, tapi hampir semua temannya yang menyaksikan berusaha meminta kejelasan kepada para anggota yang berada di hadapan mereka. Ekspresi ketakutan sama sekali tidak terlihat dari wajah semua teman-temannya termasuk Berlin sendiri, saat berhadapan langsung dengan keempat anggota Brimob tersebut yang terlihat sangat garang.

"Jika anda ingin menindak warga, tolong diberikan kejelasannya terlebih dahulu !" pekik Sasha dengan sedikit terbawa emosi amarah yang mulai melonjak.

Seketika sedikit keributan di tengah keramaian dari lobi Rumah Sakit yang penuh dengan banyaknya orang pun tercipta. Cukup banyak pasang mata yang tertuju kepada keributan yang tercipta oleh rombongan dari Berlin.

Berlin sebenarnya menaruh rasa curiga dengan keempat anggota Brimob yang menghampirinya, karena dari seluruh anggota polisi di sekitarnya hanya keempat anggota Brimob tersebut yang menghampiri serta berusaha untuk membawanya. Namun di sisi lain, Berlin sendiri memang memiliki janji kepada seorang petinggi dari kepolisian tepat sebelum dirinya berangkat menuju Rumah Sakit Kota.

...

Keributan serta perdebatan terus saja berlanjut. Karena akan menjadi sangat ricuh di tempat yang tidak seharusnya jika keributan tersebut tidak segera mereda, Berlin pun memilih untuk menuruti permintaan dari keempat anggota Brimob tersebut.

"Oke cukup, saya akan menuruti apa permintaan anda !" pekik Berlin menyela keributan yang terjadi di sekitarnya.

"Kok ?!"

"Berlin, apa yang kau pikirkan ?!"

Setelah Berlin berkata seperti itu, terjadi sedikit percekcokan antara dirinya dan teman-temannya. Semua teman-temannya bingung dengan keputusan Berlin yang terlihat sangat bulat tanpa keraguan.

Di saat yang bersamaan tiba-tiba Nadia berada di samping Berlin dan lalu menggenggam erat tangannya, seolah ia tidak ingin lelakinya itu dibawa oleh beberapa anggota polisi di depannya.

"Memangnya ada apa ini, Pak. Kok sampai dia harus ikut ...?" cetus Nadia dengan terus memegangi tangan milik lelakinya itu.

Karena melihat kehadiran seorang wanita yang terlihat sangat dekat dengan Berlin, salah satu dari anggota Brimob itu dengan terpaksa harus sedikit menjelaskan maksud dan tujuan mereka.

"Jadi begini ... kami di sini diutus langsung oleh atasan kami, dan kami hanya melaksanakan tugas kami saja ...," jawab salah satu anggota tersebut dari balik masker muka yang ia kenakan.

"Apakah ada surat tugas atau surat perintah yang terlampir ?!" bentak Nadia dengan jari yang terus menggenggam jari jemari milik Berlin.

.

"Nah ... ada nggak ?!" sambung Adam.

Namun keempat dari anggota Brimob tersebut terlihat tidak menjawab pertanyaan yang Nadia berikan, mereka hanya terdiam membisu. Berlin pun mencoba untuk sedikit menenangkan serta meyakinkan kekasihnya tersebut, agar bisa melepaskannya. Dirinya juga merasa sangat yakin semuanya akan baik-baik saja, kalau memang dugaannya benar.

.

"Sudah, semua akan baik-baik saja kok, kamu tenang saja ..., dan tunggu aku di sini, ya ...?" ucapnya dengan sangat pelan sambil menatap kedua mata miliknya Nadia, serta melepas perlahan jari jemari milik kekasihnya yang terus menggenggam tangannya.

"Tapi ...." Kedua mata milik Nadia terlihat berkaca-kaca membendung air mata saat mendengar keputusan yang Berlin ambil, yaitu untuk ikut bersama dengan anggota polisi tersebut. Ia sangat menyadari serta mengetahui kalau memang lelakinya itu tentu memiliki banyak masalah yang terkait langsung dengan hukum, dan dirinya mencemaskan hal tersebut.

Melihat air mata yang mulai sedikit menetes membasahi pipi milik Nadia, Berlin sedikit lebih mendekatkan dirinya tepat di hadapannya dan lalu tersenyum kepadanya serta sedikit tertawa kecil di hadapan wanitanya itu.

.

"Haha ... jangan cengeng, tunggu saja ... aku janji tidak lama kok ... aku akan kembali," celetuk Berlin dengan mengusap pipi milik kekasihnya yang sempat basah oleh air matanya yang menetes. Lalu tersenyum dan sedikit tertawa kecil kepadanya, serta menatap kedua mata milik Nadia yang berkaca-kaca.

Berlin sendiri sangat memahami perasaan apa yang membuat kekasihnya itu terlihat sangat khawatir dan cemas kepada dirinya. Namun ia mencoba untuk terlihat semuanya akan baik-baik saja di hadapan dari wanitanya, dan dirinya sangat yakin tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika memang dugaannya benar.

Setelah berkata seperti itu, Berlin mulai berjalan pergi bersama dengan beberapa anggota polisi di sekitarnya. Nadia hanya terpaku dan terdiam setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Berlin, serta melihat lelakinya berjalan pergi dengan dibawa oleh anggota Brimob di sekelilingnya.

"Berlin, hati-hati ...," cetus Nadia dengan melihat Berlin yang mulai berjalan perlahan pergi.

.

Mendengar ucapan tersebut, Berlin hanya sedikit menoleh dan tersenyum kepada Nadia yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.

Tidak hanya Nadia yang merasa sangat keberatan atas dibawanya Berlin bersama dengan keempat anggota tersebut, tetapi juga hampir semua teman-temannya merasa sangat keberatan atas hal itu. Namun Berlin sendiri memilih untuk menuruti permintaan mereka, dan pergi dengan dikawal oleh empat anggota Brimob dan beberapa polisi lainnya yang cukup ramai.

Semua teman-temannya termasuk dengan kekasihnya sendiri yaitu Nadia, hanya dapat melihat Berlin yang berjalan pergi bersama dengan keempat anggota tersebut. Mereka tidak bisa melakukan perlawanan atau penolakan lagi, karena memang keputusan Berlin sendiri yang memilih untuk menuruti permintaan mereka.

"Mau bagaimana lagi ? ... Berlin sendiri juga menurutinya," ujar Adam yang lalu berjalan menuju Vhalen dan Kimmy berada.

"Aku yakin dia akan baik-baik saja kok," ucap Sasha dengan merangkul temannya yaitu Nadia yang terlihat sangat cemas dan khawatir dengan keberadaan Berlin.

"Biasanya kalau Berlin sudah mulai mengambil keputusannya sendiri dengan sangat tenang, semuanya akan baik-baik saja," lanjut Asep yang lalu berjalan melewati lorong keramaian menuju ruang perawatan.

.

"Aku harap begitu ...," gumam Nadia dengan tatapan kosong.

Nadia melihat sendiri kekasihnya Berlin berjalan pergi dengan terlihat sangat diamankan oleh beberapa anggota polisi. Dirinya sempat ingin menangis saat melihat Berlin diamankan oleh petugas, tapi ia terus menahan air mata yang terbendung di matanya.

"Kamu tenang saja ..., nanti kalau terjadi sesuatu kepada Berlin ... kami juga tidak tinggal diam," tutur Sasha dengan menarik tangan milik Nadia dan lalu berjalan menuju ke ruang perawatan.

Dengan berjalan lorong melewati keramaian di Rumah Sakit, Nadia mengambil serta memberi kabar kepada Berlin melalui ponsel genggam yang ia simpan di saku.

"Aku menunggumu sesuai dengan apa yang kamu mau ...," isi pesan teks tersebut.

.

~

.

Setelah mencoba untuk menghubungi walikota dengan mengirimkan beberapa surat kepadanya, Netty pun berjalan menaiki anak tangga untuk menghampiri Prawira yang terlihat sedang menunggu seseorang di helipad atas Kantor Polisi Pusat.

Prawira terlihat bersandar di pembatas tepat di pinggir helipad dan helikopter polisi berwarna biru yang terparkir di sana. Matanya tertuju sangat fokus pada layar kaca ponsel yang ia genggam, tanpa menghiraukan lingkungan sekitarnya.

"Selamat siang, Komandanku !" sapa Netty yang tiba-tiba berada di sampingnya.

"Astaga ...!" gusar Prawira yang dikejutkan oleh kehadiran Netty yang tiba-tiba berada di sampingnya.

.

"Untung aja ponselku nggak jatuh ...," sambungnya.

"Yang penting nggak jatuh hati 'kan ?" celetuk Netty dengan sedikit melirik menatap ke arah Prawira.

"Jangan ngaco kamu ...!"

"Tapi ... aku sangat nggak keberatan kok ... kalau anda memang benar begitu kepadaku," gumam Netty dengan nada sedikit berbisik malu.

"Apasih ? Sudah cukup, kamu sudah mencoba untuk menghubungi walikota ?" sela Prawira yang mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Hehehe ... sudah kok. Namun belum ada respon dari staff maupun dari walikotanya langsung," jawab Netty dengan sedikit tertawa kecil, serta ikut bersandar di pinggir pembatas tepat bersebelahan dengan Prawira.

.

"Anda serius mengundang anak laki-laki itu untuk datang ke sini ?" sambungnya.

Prawira meresponnya dengan hanya mengangguk saat rekannya menanyakan hal tersebut. Karena entah mengapa, dirinya sangat merasa ingin kembali bertemu dengan anak laki-laki tersebut.

"Serius, anak laki-laki itu akan ke sini ?!" pekik Siska yang tiba-tiba berdiri di depan pintu masuk tangga.

"Kalau iya, memangnya kenapa ?" sahut Prawira.

Siska terlihat sangat ceria dan bersemangat saat mendengar jawaban dari Prawira. Dirinya merasa sangat ingin bertatap muka secara langsung, bahkan berkenalan dengan anak laki-laki yang dimaksud.

"Ti-tidak ada apa-apa sih ...," sahut Siska dengan sedikit tertunduk dan dengan nada yang terdengar cukup malu-malu.

"Sana selesaikan tugasmu dulu !" titah Prawira kepada Siska.

"Biar nanti bisa bertemu dengannya, semua tugas saya akan segera selesai 10 menit lagi ...!"

Dengan terlihat sangat ceria dan bersemangat, Siska kembali menuju ruang kerjanya dengan sedikit berlari kecil menuruni anak tangga.

"Kenapa sih tuh anak, semangat sekali kelihatannya ?" celetuk Netty yang menanggapi sikap dari Siska baru saja.

"Entahlah ...," gumam Prawira dengan terus melihat layar kaca ponsel yang ia genggam.

...

Prawira dengan sangat sabar masih menunggu kedatangan dari anak laki-laki yang dahulu sempat ia culik sendiri. Dirinya merasa sudah saatnya anak tersebut harus mengetahui banyak hal yang telah terjadi pada keluarga besar yang dia miliki.

Karena terjadinya pertukaran yang tidak seharusnya dan bahkan sangat tidak diinginkan oleh seluruh keluarga telah terjadi. Prawira sendiri melakukan penculikan serta pengasingan kepada anak laki-laki yang ia maksud. Maka dari itu sangat dapat dipastikan anak laki-laki tersebut tidak tahu menahu tentang keluarganya sebenarnya.

"Mungkin ... ini sudah saatnya untuk memberitahukan kepada anak itu tentang beberapa hal penting dari keluarganya," gumam Prawira sendiri dengan nada berbisik.

Bersambung.

1
kzqrzbz
lucu bangetttt/Scowl/
kzqrzbz
S
anan
hadiri k
anan: iya masma ☺️ kita sesama punya karya kita salai dukung sesama author 👏👏 semangat k
total 2 replies
Arsha Nadya
besttt😍😍😍
WiraBP: 😍😍🙏☺️
total 1 replies
Lee
Maaf boomlike y kak..
main jg ktmptq..
Lee
Mampir lgi ya kak..
jgn bosan..
Yukity
Yeee....ada kelanjutannya👍🏼😁
WiraBP: ada dong ...😁
total 1 replies
R.F
kmn aja
R.F: oh pantesan aja
total 2 replies
Lee
Mampir jg ke novelku y kak.
makasih..
WiraBP: siap, makasih sudah mampir 🙏😊
total 1 replies
Lee
My ice girl saranghae mampir lg kak..
CHEESE CAKE.
Mampir sekaligus promosi, karya baru» [klik profil].
senja
wah akan ada penyerangan ya
senja
arti Kamerad apa?
Irma Kirana
next kak Wira 😂😘😘
WiraBP: baiklah, nanti next di season berikutnya 😆🤭✌️
total 1 replies
Irma Kirana
semangat kak Wira
Yukity
Kok Nggantung ya🤔
kirain masih ada chapter bonus lagi✌️😁
Yukity: sama2😍
total 2 replies
Taki
nah klo chapter yg ini aku kurang puas Thor, karena cukup menggantung endingnya😁
seolah bikin aku bertanya-tanya gimana kelanjutannya?🥺
WiraBP: makasih 🙏😁
total 3 replies
Suya
Thor lanjut dong! season 2 atau apa gitu, masih penasaran aku😭
sumpah dah bagiku di chapter bonus ini menggantung🥺 butuh kelanjutannya 😭
WiraBP: makasih kak 🙏😁
total 3 replies
Yukity
eh..ketinggalan 4 bab🙈

lha..serius Tamat🤔😱

Yuk buat karya baru lagi Thor..
semangaat👍🏼😍
Yukity: Wokey...😍😍
total 2 replies
Taki
kalaupun ini ending, aku sih cukup puas dgn pernikahan mereka berdua😍

tapi rasanya masih ada yg ganjal meski udh end gitu Thor. Aku ngarep klo ini cerita masih ada kelanjutannya 🥺

yah pokoknya semangat terus deh buat Author yg udh hadirkan cerita yg menghibur ini 💪🔥
WiraBP: siap makasih supportnya 🙏😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!