Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11: Takhta Nona Onar
System Glitch
Waktu: 08:30 AM
Sinar matahari pagi London yang pucat menembus celah gorden apartemen tua itu. Di depan cermin berbingkai kayu yang sedikit kusam, Stella berdiri mengamati pantulan dirinya.
Hari ini, ia tidak mengenakan pakaian kasual pemberian sistem, melainkan setelan jas wanita berwarna emerald green yang ia beli kemarin sore dengan sisa uang hasil menggadai cincin.
Potongan jas itu luar biasa tajam dan pas di tubuhnya, memberikan siluet yang kuat, elegan, namun tetap memancarkan aura bahaya.
Kemeja sutra hitam di bagian dalamnya dibiarkan sedikit terbuka di kerah, dipadukan dengan sepatu hak tinggi hitam bersol merah.
Rambut bergelombangnya ditata rapi ke belakang, mengekspos tulang pipinya yang tegas dan mata monolidnya yang mematikan.
Tidak ada eyeliner tebal. Tidak ada lipstik merah menor. Hanya riasan nude bernuansa peach yang membuat kulit pucat nya terlihat sehat dan bersinar.
Dan tentu saja, semprotan terakhir parfum White Tea & Peony menyempurnakan pelindung tak kasatmatanya.
"Kau terlihat seperti bos mafia yang siap menagih utang darah," komentar Vix dari atas tempat tidur, menguap lebar hingga memperlihatkan taring-taring kecilnya.
Kesembilan ekor putihnya bergerak malas.
Stella menyeringai miring ke arah cermin, memoleskan sedikit pelembap bibir.
"Itu memang tujuanku, Rubah. Hari ini kita akan memancing ular keluar dari sarangnya."
[ Ding! ]
[ Misi Harian Terbuka: Buat Pintu Masuk yang Dramatis. ]
[ MISI: Masuki ruang rapat dewan direksi Rosewood Media tanpa diundang dan buat setidaknya tiga orang jajaran direksi kehilangan kata-kata. ]
[ Hadiah: 20 Poin Karma & 1 Gelas Kopi Karamel Macchiato Spesial. ]
Stella terkekeh pelan membaca layar biru di depannya. "Sistem ini benar-benar tahu apa yang aku butuhkan pagi ini. Ayo berangkat, Vix. Waktunya bekerja."
Waktu: 09:15 AM
Gedung Rosewood Media, Pusat Kota London
Gedung pencakar langit berlapis kaca itu selalu menjadi pusat kesibukan.
Di lobi utama yang berlapis marmer putih, para staf berjalan tergesa-gesa dengan wajah tegang.
Sejak berita hilangnya Stella Rosewood dan skandal memalukan di hotel kemarin meledak, saham Rosewood Media anjlok tajam. Ketegangan menggantung tebal di udara.
Dua orang resepsionis sedang berbisik-bisik di balik meja resepsionis.
"Kau dengar rumornya? Nona Stella kabarnya bunuh diri karena malu."
"Serius? Tapi kudengar Nona Chloe menangis semalaman sampai pingsan karena mengkhawatirkan kakaknya..."
Perkataan resepsionis itu terhenti saat pintu kaca putar otomatis di depan lobi bergerak.
Suara langkah sepatu hak tinggi tak tik... tak tik... tak tik menggema dengan ritme yang konstan, pelan, dan sangat berwibawa, memotong kebisingan lobi seketika.
Setiap pasang mata di ruangan itu perlahan menoleh ke arah pintu masuk, dan seketika itu juga, napas mereka seakan tercekat di tenggorokan.
Stella Rosewood berjalan masuk.
Wanita yang fotonya sedang ditayangkan sebagai 'buronan depresi' di setiap saluran televisi itu kini berdiri di sana, sehat walafiat, tidak terlihat seperti orang gila, dan justru memancarkan aura dominasi yang belum pernah dilihat siapa pun dari sosoknya.
Penampilan emerald green-nya mencolok kontras dengan nuansa monokrom lobi tersebut.
Seorang satpam keamanan berbadan besar buru-buru maju, berniat menghadangnya karena bingung, "N-Nona Rosewood? Anda... Anda baik-baik saja? Pihak keluarga mencari Anda dan"
Stella bahkan tidak memperlambat langkahnya. Ia hanya menoleh sekilas ke arah satpam itu, memberikan senyum tipis yang begitu dingin, dan mengangkat sebelah tangannya yang lentik sebagai isyarat untuk berhenti.
"Aku sangat baik, Gary. Dan aku sedang terburu-buru. Pastikan tidak ada wartawan yang masuk ke lobi ini selama lima belas menit ke depan, atau aku akan memastikan kau kehilangan uang pensiunmu," ucap Stella dengan nada santai namun tidak menerima bantahan.
Satpam bernama Gary itu mematung, kaget karena Stella mengingat namanya dan bahkan mengancamnya dengan senyum elegan.
Ia refleks menyingkir dari jalan.
Stella melenggang santai menuju lift VIP khusus direksi. Vix melayang di sebelahnya, tertawa mengejek melihat wajah-wajah ternganga para staf di lobi.
"Satu poin untuk gaya angkuhmu, Host."
Waktu: 09:30 AM
Ruang Rapat Utama Dewan Direksi, Lantai 40
Di dalam ruangan berpanel kayu mahoni yang kedap suara, belasan pria dan wanita berjas rapi duduk mengelilingi meja panjang.
Suasana rapat itu terasa suram namun dipenuhi kasak-kusuk rahasia.
Di ujung meja, duduk Paman Arthur, paman Stella yang saat ini menjabat sebagai Plt. Direktur Utama anak perusahaan.
Pria paruh baya dengan perut buncit dan rambut yang mulai menipis itu memasang wajah muram yang dibuat-buat. Di sebelahnya, duduk Chloe Rosewood, sang adik tiri.
Chloe mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya terlihat semakin rapuh.
Matanya sembab, sapu tangan renda terus-menerus ia tempelkan di sudut matanya.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian," suara Paman Arthur terdengar berat.
"Seperti yang kita ketahui, skandal kemarin telah menghancurkan harga saham kita. Dan sampai detik ini, Stella belum juga ditemukan. Polisi menduga dia melarikan diri ke luar negeri atau... melakukan hal yang tidak kita inginkan. Mengingat kondisinya yang secara mental tidak stabil, saya rasa dewan harus segera mengambil keputusan."
"Paman benar," Chloe angkat bicara, suaranya sengaja dibuat bergetar.
"Aku sangat menyayangi Kak Stella. Sungguh. Tapi dia selalu gegabah dan egois. Dia lebih mementingkan mengejar obsesinya pada Tuan Blake daripada memikirkan nasib ribuan karyawan di sini. Sebagai adik, hatiku hancur, tapi sebagai bagian dari keluarga Rosewood, kita harus mencopot nama Kak Stella dari daftar pewaris dewan direksi sebelum perusahaan ini benar-benar hancur."
Beberapa anggota dewan direksi mengangguk setuju. Gumaman persetujuan mulai terdengar.
Paman Arthur menyembunyikan senyum puasnya di balik tangan.
"Baiklah, jika tidak ada keberatan, mari kita mulai pemungutan suara untuk mencabut kepemilikan saham dan hak suara Stella Odette Rosewood secara permanen"
BRAK!
Pintu ganda ruang rapat itu terbuka lebar. Bukan didorong perlahan, melainkan dibuka dengan ayunan yang sangat keras hingga membentur dinding kayu di baliknya.
Suara debuman itu membuat seluruh orang di ruangan terlompat dari kursi mereka.
Keheningan yang mencekam langsung mengambil alih.
Stella berdiri di ambang pintu, bersandar santai pada kusen, kedua tangannya terlipat di depan dada. Senyum tengil menghiasi wajah cantiknya.
Udara di dalam ruangan yang tadinya pengap mendadak tergantikan oleh wangi White Tea & Peony yang segar dan mengintimidasi.
"Melakukan pemungutan suara tanpa mengundang sang pemilik saham utama? Tsk, tsk, tsk... Paman Arthur, kau selalu payah dalam hal tata krama rapat," suara Stella mengalun jernih, memecah kesunyian.
Mata Chloe membelalak sempurna, nyaris melompat dari rongganya.
Wajah gadis bergaun putih itu pucat pasi seolah baru saja melihat mayat bangkit dari kubur.
"K-Kak Stella?! B-bagaimana bisa kau..."
"Bagaimana bisa aku hidup? Bagaimana bisa aku tidak melompat dari jembatan karena malu?" Stella melanjutkan kalimat Chloe, melangkah perlahan memasuki ruangan.
Hak sepatunya mengetuk lantai dengan bunyi yang mengancam.
"Maaf mengecewakanmu, Adikku sayang. Tapi aku memutuskan udara pagi ini terlalu cerah untuk dihabiskan dengan meratapi nasib di dalam sungai."
"S-Stella!" Paman Arthur tergagap, wajahnya berubah merah padam.
Ia segera berdiri, menunjuk keponakannya dengan jari gemetar.
"Apa-apaan kelakuanmu ini?! Setelah mempermalukan keluarga kita di seluruh media nasional, kau berani datang ke sini dan mengganggu rapat direksi?!"
Stella mengabaikan pamannya. Ia berjalan santai menyusuri sisi meja, jarinya yang lentik menyentuh permukaan meja mahoni itu.
Tatapan matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah para anggota dewan yang masih syok.
"Mempermalukan keluarga?" Stella terkekeh pelan. Tawanya terdengar sangat merdu, namun sukses membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Ia berhenti tepat di seberang tempat duduk Chloe dan pamannya.
"Satu-satunya hal yang mempermalukan keluarga ini adalah memiliki jajaran direksi yang lebih cepat mengkhianati pemegang sahamnya daripada menyelidiki kebenarannya," ucap Stella datar, namun penuh tekanan.
Ia merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam, dan melemparkannya ke tengah meja hingga berputar dan berhenti tepat di depan Paman Arthur.
"Apa ini?!" bentak pamannya, meski keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
"Oh, tidak banyak," Stella memiringkan kepalanya, tersenyum dengan gaya luar biasa tengil.
"Hanya bukti aliran dana dari rekening Rosewood Media ke tiga perusahaan fiktif yang terdaftar atas nama istri simpananmu di Cayman Islands. Totalnya sekitar empat juta Poundsterling dalam dua tahun terakhir. Hebat sekali caramu menutupi kerugian perusahaan dengan menyalahkannya pada tingkah lakuku, Paman."
To be Continued