NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Malam Berdarah di Lereng Gunung Lawu

Bau amis darah bercampur pekat dengan aroma tanah basah setelah diguyur hujan di lereng Gunung Lawu. Di dalam sebuah gubuk kayu yang sudah agak miring, suasana mendadak sunyi setelah jeritan terakhir seorang wanita diredam oleh tikaman keris.

Erlang kecil, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, meringkuk di dalam gentong beras kosong di pojok dapur. Tubuhnya gemetar hebat. Matanya mengintip lewat celah kayu gentong yang retak. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia takut suara detak jantungnya sendiri akan terdengar oleh orang-orang kejam di luar.

Di ruang tengah, ayahnya, Ki Sadewa, sudah berlutut dengan napas memburu. Darah segar mengalir dari pundak dan dadanya. Di hadapannya, berdiri tiga orang pria tegap berpakaian hitam dengan wajah tertutup kain. Salah satu dari mereka memegang selembar kain sutra pembungkus kitab yang sudah kosong.

"Di mana kitab sisanya, Sadewa? Jangan buat kami mencincang tubuhmu menjadi potongan kecil," tanya pria bertopeng yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu. Suaranya berat, dingin, dan tanpa ampun.

Ki Sadewa terbatuk, memuntahkan darah segar ke lantai tanah. Ia terkekeh lemah, seolah ejekan terakhir untuk musuhnya. "Kalian... kalian tidak akan pernah bisa menguasai inti tenaga dalam itu, karena hatimu terlalu kotor oleh ambisi."

"Mulutmu masih saja lancang!" bentak pria bertopeng lainnya sambil menendang dada Ki Sadewa hingga pria paruh baya itu terjerembap ke belakang.

"Cepat katakan! Di mana bagian inti dari kitab pusaka itu?!" bentak sang pemimpin lagi, ujung kerisnya yang berlumuran darah kini tepat berada di depan tenggorokan Ki Sadewa.

"Aku sudah membakarnya. Kalian hanya mendapatkan kulit luarnya saja. Percuma..." bisik Ki Sadewa dengan sisa-sisa tenaganya.

"Bohong! Geledah seluruh rumah ini! Cari sampai dapat!" perintah sang pemimpin dengan geram.

Dua anak buahnya langsung mengacak-acak isi rumah. Mereka membanting lemari, memecahkan gerabah, dan merobek kasur jerami. Erlang yang berada di dalam gentong beras semakin menyusutkan badannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya meleleh tanpa suara.

“Ibu... Ayah...” jerit Erlang dalam hati. Beberapa menit lalu, ia masih melihat ibunya tersenyum sambil menyuapinya makan malam. Sekarang, ibunya sudah terkapar tak bernyawa di dekat pintu depan.

Salah satu penjahat berjalan mendekati dapur. Langkah kakinya yang berat terdengar semakin jelas. Deg... deg... deg... Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dapur yang berantakan. Matanya sempat tertuju pada gentong beras tempat Erlang bersembunyi.

"Ada sesuatu di dapur?" teriak pemimpinnya dari ruang tengah.

"Tidak ada apa-apa di sini, hanya gentong kosong dan beberapa peralatan masak," sahut pria itu sambil menendang kuali hingga pecah, lalu berbalik kembali ke ruang tengah. Erlang mengembuskan napas yang sempat tertahan dengan sangat perlahan.

Di ruang tengah, sang pemimpin tampaknya sudah kehilangan kesabaran. "Jika kau tidak mau bicara, maka matilah bersama rahasiamu, Sadewa."

"Silakan... Tapi ingat, gusti Allah tidak tidur. Kejahatanmu... akan menuai badainya sendiri," kata Ki Sadewa dengan pandangan mata yang mulai meredup.

Jleb!

Keris itu tertancap telak di dada Ki Sadewa. Pria itu menegang sejenak, lalu perlahan ambruk ke lantai, menyusul istrinya yang sudah lebih dulu tiada.

"Sialan! Kita tidak menemukan kitab intinya. Cari ke luar, mungkin dia menyembunyikannya di sekitar pekarangan!" seru sang pemimpin frustrasi. Ketiga orang bertopeng itu kemudian bergegas keluar dari gubuk, meninggalkan sepasang suami istri yang telah menjadi mayat.

Suasana gubuk kembali sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik malam dan angin gunung yang berembus lewat celah dinding. Erlang masih tidak berani keluar. Ia terus menangis membisu di dalam kegelapan gentong.

Hampir setengah jam berlalu, tiba-tiba terdengar langkah kaki lain yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Langkah kaki ini terdengar panik, berbeda dengan langkah kaki tiga pembunuh tadi.

"Sadewa! Nyi Sadewa!" Sebuah suara pria paruh baya memecah kesunyian dengan nada penuh kekhawatiran.

Pria itu mengenakan pakaian kain blacu sederhana, rambutnya diikat rapi ke belakang. Namanya Ki Suro, paman seperguruan dari ayah Erlang. Begitu melihat dua tubuh yang terbujur kaku di lantai, Ki Suro langsung berlutut. Wajahnya pucat pasi.

"Ya Gusti... Sadewa... Maafkan aku, aku terlambat," bisik Ki Suro dengan suara bergetar. Ia memeriksa urat nadi Ki Sadewa, namun sudah tidak ada denyutan lagi. Air mata menetes dari sudut mata pria perkasa itu.

Tiba-tiba, Ki Suro menajamkan pendengarannya. Sebagai seorang yang memiliki sedikit dasar ilmu meringankan tubuh, ia mendengar suara isakan yang sangat halus dari arah dapur. Dengan waspada namun cepat, Ki Suro melangkah ke dapur.

"Siapa di sana? Keluar," kata Ki Suro dengan lembut namun tegas. Ia mendekati gentong beras yang agak bergoyang.

Saat Ki Suro membuka tutup gentong, ia melihat seorang anak kecil dengan mata sembap dan wajah penuh ketakutan. Erlang langsung menjerit kecil dan mencoba menyembunyikan wajahnya.

"Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!" teriak Erlang ketakutan.

Melihat anak itu, runtuhlah pertahanan hati Ki Suro. Ia segera mengenali anak itu. "Erlang? Ini Paman Suro, Nak. Ini Paman Suro. Jangan takut, Paman di sini."

Erlang mendongak perlahan. Begitu mengenali wajah familier yang sering berkunjung ke rumahnya, Erlang langsung menghambur keluar dari gentong dan memeluk leher Ki Suro dengan sangat erat. Tangisnya pecah sejadi-jadinya.

"Paman... Ayah... Ibu... Mereka semua dibunuh orang-orang jahat hitam!" racau Erlang di sela tangisnya yang histeris.

Ki Suro mengusap punggung Erlang dengan lembut, mencoba menenangkan bocah yang gemetaran itu. "Iya, Paman tahu, Nak. Paman tahu. Sekarang kamu aman bersama Paman. Jangan menangis lagi, ya?"

"Kenapa mereka jahat sekali, Paman? Ayah dan Ibu salah apa?" tanya Erlang dengan polos, matanya yang memerah menatap Ki Suro penuh tuntutan penjelasan yang belum bisa ia pahami.

Ki Suro menghela napas panjang, hatinya terasa seperti diiris. "Mereka orang-orang serakah yang mencari sesuatu yang bukan milik mereka, Erlang. Sudahlah, jangan dilihat lagi. Ikut Paman sekarang. Kita harus pergi dari sini sebelum mereka kembali."

"Tapi Ayah dan Ibu..." Erlang menoleh ke arah ruang tengah, ingin mendekati jasad orang tuanya.

Ki Suro langsung memutar tubuh Erlang agar tidak melihat pemandangan mengerikan itu lagi. "Ayah dan Ibumu sudah tenang di sana, Erlang. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Orang-orang tadi mungkin masih ada di sekitar lereng gunung. Ayo, naik ke punggung Paman."

Erlang yang masih lemas hanya bisa mengangguk pasrah. Ia naik ke punggung Ki Suro dan memeluk pundak pria itu dengan erat. Ki Suro mengambil selembar kain panjang untuk mengikat tubuh Erlang ke punggungnya agar tidak terjatuh.

Sebelum melangkah keluar, Ki Suro menatap jasad sahabat seperguruannya untuk yang terakhir kali. "Sadewa, demi ikatan persaudaraan kita, aku bersumpah akan merawat dan menjaga Erlang dengan seluruh jiwaku. Istirahatlah dengan tenang."

Ki Suro kemudian meniup lampu minyak di meja, membuat gubuk itu menjadi gelap gulita. Dengan gerakan yang cepat namun senyap, Ki Suro melompat keluar lewat jendela belakang dapur, menembus kegelapan malam dan lebatnya hutan lereng Gunung Lawu.

Sepanjang perjalanan menuruni bukit, Erlang tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ki Suro, menatap ke arah gubuk mereka yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di balik pepohonan. Di malam yang berdarah itu, masa kecil Erlang yang damai telah direnggut paksa, dan sebuah perjalanan hidup yang baru, yang penuh dengan ketidakpastian, baru saja dimulai di bawah asuhan sang paman guru.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!