NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Keheningan memenuhi ruang tamu. Kayla masih menunggu jawaban dari Mahesa.

Sementara Mahesa hanya menatap bingkai foto keluarga yang berada di atas meja.

Semakin lama, semakin terasa sesak.

Akhirnya Mahesa mengembuskan napas panjang. "Kay..."

"Aku rasa..." Kalimat Mahesa terhenti.

Kayla mengernyit. "Apa?"

Mahesa memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "hubungan kita harus selesai."

Wajah Kayla langsung berubah. "Apa?"

"Aku nggak bisa lanjut." Kalimat Mahesa terdengar begitu dingin.

Kayla berdiri dari duduknya. "Kamu serius?"

Mahesa ikut berdiri. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak."

"Aurel pergi."

"Raka juga nggak ada di rumah."

"Orang tuaku bahkan nggak mau menerimaku lagi."

"Aku nggak mau kehilangan mereka semua." kata Mahesa secara beruntun.

Kayla tertawa sinis. "Jadi sekarang aku yang harus kamu buang?"

Mahesa mengusap wajahnya. "Hubungan kita memang nggak pernah benar."

"Kay..."

"Aku ingin memperbaiki semuanya."

"Mungkin Aurel nggak akan memaafkan aku."

"Tapi aku tetap ingin mencoba." Kalimat Mahesa seperti menyiramkan bensin ke dalam api.

Kayla menatap Mahesa dengan mata yang mulai memerah.

"Memperbaiki?"

"Lalu aku?"

"Tujuh tahun, Mahesa!"

"Tujuh tahun aku menemanimu!"

"Tujuh tahun aku menunggu janji-janjimu!"

Mahesa hanya terdiam.

"Setiap kali aku minta kepastian..."

"Kamu selalu bilang sabar."

"Setiap kali keluargaku mendesak aku menikah..."

"Kamu selalu bilang tunggu."

"Dan sekarang..."

"Setelah semuanya terbongkar..."

"Kamu malah mau meninggalkanku?"

Mahesa menarik napas panjang. "Kay, kita memang harus berhenti."

"Tidak!" Kayla menggeleng keras.

"Aku nggak terima."

"Aku sudah terlalu banyak berkorban."

Mahesa menatap Kayla. "Pengorbanan apa?"

Pertanyaan Mahesa membuat Kayla semakin emosi. "Aku mempertahankan hubungan ini selama tujuh tahun."

"Aku menolak laki-laki lain."

"Aku bertahan menghadapi omongan keluargaku."

"Aku rela jadi perempuan yang selalu menunggu."

"Dan sekarang kamu bilang selesai?"

Mahesa menggeleng pelan. "Aku juga salah."

"Tapi semakin lama kita lanjut..semakin banyak orang yang terluka."

Kayla mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. "Kamu cuma takut kehilangan Aurel."

Mahesa tidak membantah. Diamnya sudah menjadi jawaban.

"Itu benar, kan?" bentak Kayla.

Mahesa menundukkan kepala. "Aku menyesal."

Jawaban Mahesa membuat Kayla tertawa pahit.

"Bukan."

"Kamu bukan menyesal selingkuh."

"Kamu menyesal ketahuan."

Mahesa langsung mengangkat wajah. "Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?" Tanya Kayla.

"Kalau aku nggak datang ke rumah Aurel..."

"Kalau aku tetap diam..."

"Apa kamu bakal mengakhiri hubungan ini?"

Mahesa kembali terdiam.

Kayla tersenyum getir. "Itu jawabannya."

"Tidak." bantah Mahesa.

"Kamu akan tetap datang kepadaku."

"Tetap pulang ke Aurel."

"Dan tetap menjalani hidupmu seperti tidak terjadi apa-apa." Setiap kalimat yang Kayla ucapkan membuat Mahesa kehilangan sanggahan.

Karena jauh di dalam hati Mahesa, Ia tahu ada bagian dari ucapan Kayla yang benar.

Namun bukan berarti ia ingin melanjutkan semuanya.

"Kay." Suara Mahesa terdengar lelah.

"Hubungan kita tidak terikat apa pun."

"Tidak ada pernikahan."

"Tidak ada ikatan hukum."

"Kalau memang harus berakhir..."

"biarkan selesai sampai di sini."

Mendengar kalimat Mahesa, mata Kayla membelalak.

"Jadi semudah itu buatmu?" tanya Kayla.

Mahesa memejamkan mata. "Aku hanya mencoba menghentikan kesalahan."

Kayla menggeleng sambil menahan tangis. "Semudah itu kamu bilang selesai."

"Karena yang kamu lepaskan cuma aku."

"Tapi yang aku lepaskan..."

Kayla menunjuk dirinya sendiri. "...adalah tujuh tahun hidupku."

Air mata Kayla jatuh tanpa bisa dibendung.

"Aku sudah kehilangan harga diriku."

"Aku kehilangan kepercayaan keluargaku."

"Aku kehilangan Ardi."

"Dan sekarang..."

"Kamu juga mau meninggalkanku?"

Mahesa tidak mampu menjawab. Ia hanya berdiri dengan wajah penuh penyesalan.

Ruangan kembali sunyi. Dua orang yang selama tujuh tahun sama-sama menyimpan rahasia. Kini berdiri saling berhadapan.

Bukan sebagai dua insan yang sedang memperjuangkan cinta. Melainkan dua orang yang sama-sama harus menghadapi konsekuensi dari pilihan yang pernah mereka ambil.

♡♡♡

Sedangkan di tempat lain, Najwa masih berada di ruang kerjanya. Beberapa berkas terbuka di atas meja.

Di sampingnya, sebuah buku catatan berisi poin-poin yang disampaikan Aurel malam itu.

Najwa tidak terbiasa mengambil kesimpulan hanya dari emosi kliennya. Sebagai pengacara, ia selalu memisahkan perasaan dan fakta.

Setiap perkara harus dibangun di atas data. Bukan asumsi. Ia kembali membuka catatannya. Aset. Pinjaman bank. Leasing kendaraan. Hak asuh anak.

Lalu satu nama yang sejak semalam terus menjadi perhatian. Adalah Kayla.

Najwa mengembuskan napas pelan. Perselingkuhan memang menjadi luka terbesar bagi Aurel.

Namun dari sisi penyelesaian hukum dan pembagian harta, Najwa tetap harus memahami bagaimana kondisi keuangan keluarga Aurel selama ini.

Beberapa informasi yang berhasil Najwa pelajari dari dokumen awal yang diberikan Aurel menunjukkan satu hal. Hubungan Mahesa dan Kayla bukanlah hubungan yang sepenuhnya bergantung pada uang.

Memang terdapat beberapa kali aliran dana dari rekening Mahesa kepada Kayla. Nominalnya pun bervariasi. Ada yang kecil. Ada pula yang cukup besar.

Namun pola transaksi itu tidak menunjukkan bahwa Mahesa menanggung seluruh kebutuhan hidup Kayla.

Najwa menandai beberapa catatan. "Berarti selama ini Kayla masih memiliki penghasilannya sendiri." Ia bergumam pelan.

Dari informasi yang diperoleh, Kayla tetap bekerja dan memiliki pemasukan pribadi. Uang yang diterimanya dari Mahesa lebih menyerupai bantuan pada waktu-waktu tertentu, hadiah, atau biaya untuk beberapa keperluan bersama.

Setidaknya, itu yang terlihat dari data awal. Belum ada gambaran bahwa seluruh biaya hidup Kayla berasal dari Mahesa.

Najwa kembali menulis sebuah catatan. "Fokus perkara tetap pada perselingkuhan, kondisi rumah tangga, aset bersama, utang, dan kepentingan Raka." Najwa menutup pulpennya.

Sebagai pengacara, Najwa tidak ingin Aurel terjebak pada dugaan-dugaan yang belum tentu bisa dibuktikan.

Kalau memang ada kerugian keuangan yang berkaitan dengan rumah tangga, semuanya harus dihitung secara jelas.

Kalau memang ada harta yang dibeli selama perkawinan, harus dipetakan.

Kalau ada utang, juga harus diketahui asal-usul dan penggunaannya.

Semua itu jauh lebih penting daripada sekadar berasumsi bahwa seluruh penghasilan Mahesa mengalir kepada Kayla.

Ponsel Najwa tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan dari Aurel masuk.

"Najwa maaf mengganggu. Aku sudah mulai mengumpulkan dokumen pinjaman dan berkas rumah." itu isi pesan dari Aurel.

Najwa tersenyum tipis. Ia segera membalas. "Bagus. Simpan semua dokumen itu. Jangan ada yang hilang. Semakin lengkap datanya, semakin mudah kita memahami posisi hukumnya."

Beberapa detik kemudian, balasan dari Aurel kembali masuk. "Terima kasih sudah mau membantuku."

Najwa menatap layar ponselnya cukup lama. Kemudian ia menuliskan satu kalimat lagi. "Aku akan membantumu semampuku. Tapi apa pun hasil akhirnya nanti, aku ingin setiap keputusan diambil berdasarkan fakta, bukan hanya karena luka."

Pesan itu terkirim. Najwa lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tahu, perkara seperti ini tidak pernah sederhana. Kadang-kadang, yang paling sulit bukan membuktikan siapa yang bersalah. Melainkan memastikan bahwa ketika semuanya selesai, tidak ada pihak yang mengambil keputusan karena dikuasai amarah sesaat. Dan untuk Aurel Najwa berharap sahabatnya itu tetap menjadi perempuan yang tegas, tetapi tidak kehilangan kebijaksanaan di tengah badai yang sedang ia hadapi.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!