"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Rasa malu membakar dada Nadia saat ia melangkah menyusuri koridor lantai atas kediaman megah keluarga Kincaid malam itu. Sepatu hak tingginya mengetuk marmer dengan irama keras nan kasar.
Penghinaan terbuka di lobi VIP tadi siang masih terngiang-ngiang di telinganya dan diperparah oleh sikap Alfie yang secara terang-terangan membela anak dari wanita asing itu di hadapan seluruh pemegang saham.
Nadia memegang ponselnya dengan jemari gemetar, lalu menekan nomor kontak yang sudah ia simpan sejak mendarat dari Belanda.
"Halo? Tuan Miller?" bisik Nadia setengah menuntut saat panggilan terhubung.
"Aku butuh jasa tim penyelidik swasta terbaikmu malam ini juga. Lakukan pelacakan mendalam atas nama Emma Ellis dan kedua anak kembarnya."
"Nona Nadia, melacak eksekutif tingkat tinggi Ellis Corporation bukan perkara mudah," sahut suara parau pria di ujung telepon.
"Perlindungan siber mereka sangat ketat."
"Aku tidak peduli berapa ratus ribu Poundsterling yang harus kubayar!" bentak Nadia.
"Bongkar basis data medis di Eropa, cari tempat lahir anak-anak itu dan cari tahu apakah wanita itu benar-benar keturunan dinasti Ellis atau cuma penipu berdarah sampah! Aku harus punya bukti sebelum wanita itu menggeser posisi dan hak milikku di keluarga Kincaid!"
Nadia mematikan sambungan telepon dengan napas memburu. Kehadiran Emma Ellis bukan sekadar ancaman bagi statusnya sebagai calon permaisuri Kincaid Group, tetapi juga ancaman bagi posisinya di mata Willa.
Saat ia berbalik hendak menuju ruang keluarga, pintu ruang kerja Alfie terbuka. Alfie keluar dengan kemeja putih yang lengannya tergulung kaku, wajahnya dipenuhi garis kelelahan.
"Alfie!" panggil Nadia sembari menghadang langkah pria itu.
"Kita perlu bicara!"
Alfie menghentikan langkahnya dan menatap Nadia dengan sorot mata dingin tatapan yang sama sekali tak menyisakan sisa kehangatan masa kecil mereka.
"Aku sedang sibuk, Nadia. Banyak laporan akuisisi yang harus kukaji."
"Sibuk?!" pekik Nadia.
Ia tertawa sumbang karena merasa diabaikan.
"Atau pikiranmu cuma dipenuhi oleh wanita bernama Emma Ellis itu?! Alfie, sadarlah! Kamu dipermalukan olehnya di meja rapat dan tadi siang kamu justru menekanku hanya demi membela dua bocah nakal itu!"
"Anak-anak itu bukan bocah nakal, Nadia!" bentak Alfie tiba-tiba.
Pria itu mencengkeram lengan sofa dekat koridor, matanya memerah.
"Anak-anak itu mirip denganku, mereka punya darah Kincaid! Aku bisa merasakannya!"
"Kamu sudah gila!" seru Nadia histeris.
"Flossie sudah mati empat tahun yang lalu di tengah badai hujan! Dia mati tenggelam atau membeku di jalanan! Bagaimana bisa kamu meyakini wanita berkelas dan dua anak angkuh itu sebagai keluarga yang pernah kamu buang?!"
"Tutup mulutmu, Nadia!" potong Alfie dengan nada dingin.
Langkah kakinya maju mengikis jarak, mengintimidasi Nadia hingga wanita itu terdesak ke dinding.
"Jangan pernah sebut nama Flossie dari mulutmu lagi dan untuk urusan perusahaan mulai besok, batasi kehadiranmu di gedung Kincaid Group. Jangan campuri proyek integrasi dengan ELLIS."
Nadia terbelalak dan hatinya hancur berkeping-keping oleh penolakan mentah-mentah dari pria yang selama ini ia kejar.
"Alfie, kamu membuangku begitu saja dari proyek ini? Hanya karena wanita itu?!"
Alfie tidak menjawab tanpa memedulikan air mata marah yang menetes di pipi Nadia, Alfie memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri tangga dan meninggalkan Nadia yang mematung dalam keputusasaan.
"Ada apa dengan keributan ini?"
Sebuah suara tenang namun berwibawa muncul dari balik pintu kamar utama. Willa melangkah keluar anggun dengan gaun tidur sutra mewahnya. Tatapannya tertuju pada Nadia yang sedang terisak pelan di sudut koridor.
"Willa," bisik Nadia sesenggukan.
Ia berlari kecil mendekati Willa dan memeluk lengan wanita tua itu.
"Alfie sudah berubah, Tante. Pikiran Alfie sepenuhnya diracuni oleh Emma Ellis! Dia membentakku dan menyuruhku menjauh dari perusahaan!"
Willa mengusap bahu Nadia pelan, lalu menuntun wanita muda itu masuk ke dalam ruang duduk pribadinya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Kendalikan dirimu, Nadia," ujar Willa tenang sembari menuangkan teh hangat ke cangkir porselen.
"Menangis seperti wanita lemah tidak akan menyelesaikan masalah."
"Tapi wanita itu wajahnya terlalu mirip dengan Flossie dan Alfie mulai mencurigai anak-anak kembar itu!" desak Nadia panik.
Tangannya memegang cangkir dengan gemetar.
"Bagaimana kalau wanita itu memang Flossie yang kembali untuk balas dendam? Bagaimana kalau dia tahu soal kejadian empat tahun lalu?!"
Cangkir di tangan Willa terhenti di udara mendengar ucapan Nadia. Matanya menajam dan memancarkan aura licik.
"Jaga bicaramu, Nadia!" tegas Willa dengan bisikan menekan.
"Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi empat tahun lalu selain kau dan aku."
Willa menyandarkan tubuhnya, memandang Nadia dengan tatapan penuh intrik.
"Ingat perjanjian rahasia yang mengikat kita berdua sejak malam itu," lanjut Willa.
"Siapa yang menyiapkan racun dosis rendah itu? Kita berdua bekerja sama merancang drama itu demi mengusir Flossie dari hidup Alfie dan memastikan posisi menantu keluarga ini jatuh ke tanganmu."
Nadia menelan ludahnya yang terasa pahit, bayangan dosa masa lalu kembali membayangi pikirannya.
"Jadi, dengarkan aku baik-baik," tekan Willa seraya mencengkeram jemari Nadia dengan erat.
"Bahkan jika wanita itu benar-benar Flossie yang bangkit dari kubur, dia tidak memiliki bukti apa pun. Secara hukum dan medis, dialah pelaku peracunan yang diusir. Selama kamu dan aku tetap berada di barisan yang sama, tidak ada satu orang pun termasuk Alfie yang bisa menghancurkan posisi kita di keluarga ini."
Nadia menatap mata Willa dan perlahan-lahan menghembuskan napas lega. Rasa takut di dadanya berganti menjadi ambisi yang kembali membara.
"Kamu benar," bisik Nadia dengan senyuman tipis.
"Kita yang memegang kendali atas rahasia itu."