NovelToon NovelToon
Bibit Kembar Cinta Masalalu

Bibit Kembar Cinta Masalalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:58.5k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.

Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.

“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”

Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pintu ruang CEO terbuka dengan bunyi klik pelan. Langkah tegas Kay terhenti tepat di ambang ketika pandangannya menangkap sosok yang tidak ia duga akan berada di sana. Lampu utama ruangan dimatikan. Hanya lampu meja di sudut yang menyala redup, menciptakan bayangan hangat di sofa panjang dekat jendela.

Di sana, seorang gadis kecil terlelap, wajahnya masih menyisakan jejak air mata. Tubuh mungil itu meringkuk dalam pelukan Axlyn yang duduk bersandar, satu tangan mengusap lembut rambut anak itu dengan gerakan teratur dan menenangkan.

Entah mengapa, setiap kali melihat wanita itu, ada sesuatu di dada Kay yang terasa tertarik, seperti benang halus yang mengikat tanpa ia pahami ujungnya. Perasaan aneh yang ia rasakan, kecurigaan yang mulai tumbuh membuat Kay semakin memperhatikan wanita itu.

Tapi melihat Axlyn di sana… rasanya berbeda. Seolah-olah pemandangan itu bukan pertama kalinya ia lihat. Seolah-olah wanita itu memang seharusnya berada di ruangannya. Ingatan tentangnya kosong. Hampa, tidak ada satu pun potongan masa lalu yang bisa ia tarik keluar untuk menjelaskan perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali Axlyn berada di dekatnya. Kecuali memori yang kembali ia dapatkan saat pertarungan tadi.

Namun hatinya pengkhianat yang menyebalkan yang selalu bergerak lebih dulu. Kay tidak bersuara. Ia hanya berdiri, memerhatikan dalam diam. Axlyn tampak kelelahan. Rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya lembut saat menunduk memandang gadis kecil itu. Tangannya tidak berhenti bergerak, mengusap, menepuk pelan, seolah ia sudah terbiasa menenangkan anak yang trauma.

Kay mengerutkan kening. Kenapa setiap melihat wanita ini, jantungnya berdetak seperti mengingat sesuatu yang tidak bisa dijangkau pikirannya? Kenapa rasanya seperti ia pernah kehilangan dia? Tanpa sadar, kakinya melangkah lebih dekat. Ia berdiri hanya beberapa meter dari sofa, menatap wajah Axlyn yang tertunduk.

Dan saat itulah Kay melihatnya. Tangan kiri Axlyn tidak sepenuhnya memeluk anak itu. Tangan itu mencengkeram bagian perutnya sendiri. Jemarinya memutih karena tekanan. Kay mencoba menajamkan pandangan. Benar, Kay tidak salah lihat Axlyn sedang menggigit bibirnya sendiri. Bahunya sedikit bergetar. Napasnya tertahan, bahkan terlalu pelan untuk disebut normal. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Wanita itu sedang menahan sakit.

Kesadaran itu menghantam Kay begitu keras hingga membuat dadanya sesak. Tanpa buang waktu Kay bergegas menghampirinya untuk memastikan lebih jelas apa yang terjadi pada Axlyn. Entah mengapa ketakutan seketika melanda hati dan pikirannya.

“Axlyn! Apa kau terluka?” Suaranya rendah, tapi tegang.

Axlyn tersentak kecil, seolah baru menyadari kehadirannya. Ia mencoba tersenyum. Terlalu dipaksakan, padahal raut wajahnya sudah tertulis jelas bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Kepanikan semakin Kay rasakan saat sentuhan pada wanita itu terasa sangat dingin.

“Saya tidak ingin membangunkan dia,” bisik Axlyn, menunjuk gadis kecil yang masih tertidur.

Kay tidak peduli, sebab yang ia khawatirkan dan ia takutkan adalah kondisi Axlyn saat ini. Kay berlutut di depan sofa, sejajar dengan Axlyn. Tangannya tanpa sadar terangkat, hampir menyentuh wajah wanita itu sebelum akhirnya beralih ke tangan yang mencengkeram perutnya.

“Kau sakit?” tanya Kay tajam, sudah sepenuhnya dilanda kepanikan.

“Tidak apa-apa. Hanya sedikit—”

Kalimat itu terpotong ketika wajah Axlyn memucat lebih jauh. Napasnya tercekat. Cengkeramannya makin kuat. Panik semakin menjalar cepat dalam tubuh Kay. Perasaan yang sama seperti saat seseorang hampir merenggut sesuatu yang sangat berharga darinya. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan dengan hati-hati memindahkan gadis kecil itu ke posisi yang lebih nyaman di sofa. Setelah memastikan anak itu tidak terbangun, Kay berbalik pada Axlyn.

“Kita ke klinik. Kau harus segera mendapat pemeriksaan dan perawatan dokter.”

“Saya benar-benar tidak—”

Kay tidak memberi kesempatan untuk menolak. Ia menyelipkan satu tangan di punggung Axlyn dan satu lagi di bawah lututnya, mengangkatnya dengan mudah. Tubuh wanita Axlyn terasa ringan, bahkan terlalu ringan baginya.

Saat Axlyn refleks mencengkeram kerah jasnya, sebuah kilatan aneh melintas di benak Kay. Bayangan samar kembali terlintas dari tangan yang sama mencengkeramnya saat ini. Tangisan dan janji yang tak terdengar jelas. Kepalanya kembali berdenyut saat memori itu kembali menyeruak masuk dalam ingatannya, tapi ia mengabaikannya.

Yang penting sekarang adalah keadaan Axlyn. Kay berjalan cepat keluar ruangan menuju klinik perusahaan di lantai yang sama. Jantungnya berdetak keras, lebih keras dari yang pernah ia rasakan bahkan dalam rapat paling menegangkan sekalipun.

“Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau terluka,” gumamnya, lebih pada diri sendiri.

Axlyn menunduk, suaranya lemah. “Saya tidak ingin merepotkan Anda atau yang lainnya.”

Kata-kata itu membuat langkah Kay terhenti sepersekian detik. Merepotkan?Entah kenapa, kata itu terasa salah. Sangat salah bagi dirinya yang kini sepenuhnya dilanda kekhawatiran dan ketakutan karena Axlyn menahan rasa sakitnya sendirian.

“Jangan pernah mengatakan itu lagi,” ujar Kay pelan namun tegas, sorot matanya berubah gelap. “Apa pun yang terjadi padamu… bukan hal sepele bagiku.”

Axlyn terdiam seolah telah berhasil mendapatkan Kay kembali dalam hidupnya. Begitu juga Kay, ia terkejut sendiri begitu kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan. Namun saat ia menatap wajah pucat wanita dalam pelukannya, satu hal menjadi semakin jelas. Meski ingatannya tidak menyimpan nama atau cerita tentangnya, hatinya tidak pernah benar-benar lupa.

Sebenarnya Axlyn sudah merasakan perutnya terasa seperti ditusuk dari dalam sejak pertarungan itu di mulai. Namun, ia memilih diam dan mengabaikannya berharap rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya. Tapi siapa sangka setiap langkah yang Kay ambil membuat rasa nyeri itu bergetar, menjalar sampai ke punggung. Axlyn hanya mampu menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara. Apalagi Kay terlihat masih marah atas tindakannya yang ingin menerima tikaman itu demi melindungi Kay maupun Hezlyn.

Axlyn merasa tidak boleh lemah sekarang, mengingat ia adalah pengawal yang harus melindungi anak Kay. Meski ia sudah menahannya sejak tadi. Sejak pria besar itu mengayunkan pisau ke arah Kay dan Hezlyn.

Lampu koridor perusahaan terasa terlalu terang. Pandangan Axlyn mulai berkunang-kunang. Ia bisa merasakan darah hangat merembes dibagian bawahnya yang membuat hati dan pikirannya merasa tidak tenang.

Saat Kay mendorong pintu klinik perusahaan dengan bahunya, Axlyn akhirnya menyerah pada rasa lelah dan sakit yang sejak tadi ia tahan. Tangan Axlyn tanpa sadar mencengkeram jasnya lebih erat. Sampai tak lema kemudian, dokter yang bertugas menghampiri mereka.

“Apa yang terjadi padanya?” suara panik dokter menyambut mereka.

Bersambung ….

1
Roziana Anni
𝗄𝖺𝗄 𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺
Alfi Nirhays
lama x up nya kak
Fahmi Ardiansyah
kak mana kelanjutannya maf aku udh lama menunggunya.semoga kakak sellu sehat semua ya.
Lisa Halik
kapan update ni cerita thor...tergantung
Yuu
author kpn upp lagi🤧...
dah rindu nihhh
TS
ea,,thour bikin mereka berjodoh aj
Rani R.I
thourr kok blm up sihh,, sibuk kahh
Fahmi Ardiansyah: sama aku juga sellu mengeceknya tpi belum juga up.
total 3 replies
Shee_👚
ngakak dispenser manggil sayang🤣🤣🤣
Rani R.I
sandiwara yg luar biasa,,, axlyn jgn egois donk . kasihan kay pada GK ada yg mau jujur
Rani R.I
bau bau nya sepencer berjodoh sama Sherin 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
bkn nya gk mau jujur,,axlyn sengaja ingin kau yg mengingatkan nya sendiri key,,, mending kau desak dispenser untuk ngaku wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
setelah mengetahui semuanya nanti,, pasti kay bakalan kecewa terhadap keluarga nya karena sudah tega menyembunyikan semua nya,, padahal bisa di jelaskan secara baik baik...
Rani R.I
kay mode manja,,🤣🤣🤣
Rani R.I
bkn hanya ngikutin sifat nya Levi tapii Felix sang ayah angkatnya wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
duhhh penasaran sama rahasia besar ituu,,, semoga Leon lekas sadar jgn sampai meninggal yea thourr
Rani R.I
akhhh slalu kerennn dan menegangkan 🤣🤣🤣🤣🤣.. udah macam nonton film aja 🤣🤣🤣
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭 akhirnya setelah di tunggu tunggu sekian lama,, sekian purnama up juga thourr 🤣🤣🤣🤣🤣🤣.. akuu setiap hari bolak-balik,, dan sengaja berhenti untuk ngecek,, ehhh tiba tiba sudah sampai bab 50 🤭🤭🤭
Ratna Sumaroh
kay, kalau sudah kau selidiki dan kau juga harus siap mentalmu
Ratna Sumaroh
kay, akan tau kebenarannya atau masih jauh nih 🤔❓
Ratna Sumaroh
kay,, gak mau jauh jauh dari calon baby 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!