Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Urat Saraf di Pagi Hari
"Siapa bilang lo boleh ngajak Kayla?"
Suara bariton yang terdengar tegas itu seketika memotong kalimat Gavin. Dari arah pintu kelas, Arka berjalan masuk dengan langkah lebar. Kedua tangannya membawa sekeranjang mangkuk bubur ayam pesanan Kayla yang uap hangatnya masih mengepul tipis. Tatapan mata Arka yang biasanya ramah dan hangat penuh senyuman, kini mendadak berubah menjadi setajam silet begitu mendapati posisi Gavin yang terlalu dekat dengan meja sahabatnya.
Gavin tidak langsung menjauh. Cowok itu perlahan menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di depan dada dengan santai. Senyuman smirk andalannya terukir di sudut bibir, menatap Arka dengan pandangan meremehkan.
"Wih, bodyguard-nya datang nih," sindir Gavin, suaranya terdengar sengaja ditinggikan agar memancing perhatian beberapa anak kelas yang mulai berdatangan. "Suka-suka gue lah mau ngajak siapa juga. Lagian gue nanya langsung ke orangnya, bukan ke lo.jangan suka ikut campur deh Lo—"
Arka meletakkan mangkuk bubur di atas meja Kayla dengan sedikit entakan, menciptakan bunyi ketukan yang cukup keras di permukaan kayu. Ia lalu menggeser tubuhnya, berdiri tepat di antara Kayla dan Gavin, seolah-olah menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng pelindung.
"Kayla nggak bakal ikut acara balapan gak jelas lo itu, Gav. Jadi mending lo balik ke meja lo sendiri sebelum bel masuk bunyi," ucap Arka dingin, sama sekali tidak gentar dengan reputasi Gavin sebagai pentolan sekolah yang gemar membuat masalah.
Atmosfer di pojok kelas 12-IPS 2 itu mendadak mendingin, berubah mencekam dalam hitungan detik. Dua pasang mata saling mengunci; Arka dengan tatapan protektifnya yang lurus, dan Gavin dengan tatapan menantang yang sarat akan provokasi. Beberapa teman sekelas mereka yang menyadari ketegangan itu mulai berbisik-bisik, mengira akan ada baku hantam yang pecah sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
Kayla yang duduk di kursinya hanya bisa menghela napas panjang. Kepalanya yang sudah pusing karena mimpi buruk tadi pagi, kini terasa semakin berdenyut melihat drama tidak penting dua cowok di depannya ini. Baginya, urusan perut jauh lebih mendesak daripada menonton perebutan ego remaja pria.
"Siniin buburnya, gue laper."
Kalimat datar yang keluar dari mulut Kayla itu sukses memecah tatapan Arka dan Gavin yang semula menegang. Kedua cowok itu menoleh ke arah Kayla secara bersamaan.
Arka mengerjapkan mata, perlahan menurunkan bahunya yang sempat tegang. Ketegasan di wajahnya luruh seketika, digantikan oleh senyuman hangat seperti biasa. Ia segera menggeser mangkuk bubur ke hadapan Kayla, lengkap dengan sendok plastiknya. "iya, Kay. Nih, masih anget. Udah gue pastiin gak pakai kacang sama seledri sesuai pesanan lo."
"Makasih," jawab Kayla singkat, langsung menyambar sendok dan mulai menyuap bubur ayam itu ke dalam mulutnya, mengabaikan keberadaan Gavin seolah cowok itu hanyalah patung pajangan di dalam kelas.
Gavin yang merasa diabaikan total menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan tidak suka. Rahangnya mengencang tipis. Selama ini, tidak ada satu pun perempuan di sekolah ini yang berani mengacuhkannya, apalagi setelah ia memberikan perhatian lebih. Sikap dingin dan penolakan mentah-mentah dari Kayla justru tidak membuatnya mundur; hal itu malah menjadi bahan bakar yang membakar rasa penasarannya. Gavin merasa semakin tertantang untuk mendekati dan meruntuhkan tembok es Mikayla.
"Gue berharap lo bakal Dateng ya, Kay. Nanti malam gue tunggu di tempat biasa," ucap Gavin setengah berbisik, memberikan senyuman misterius sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan angkuh menuju barisan meja paling belakang tempat tongkrongannya.
Begitu Gavin menjauh, Arka langsung menarik kursi di depan meja Kayla dan mendudukinya secara terbalik, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi. Wajahnya kembali berubah serius saat menatap Kayla yang masih asyik mengunyah.
"Kay, lo beneran mau ikut ajakan si Gavin?" tanya Arka dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
Kayla menelan buburnya perlahan sebelum menjawab, "Belum tahu. Tergantung mood gue nanti malam."
"Jangan, Kay. Lo tahu sendiri kan Gavin itu kayak gimana? Dunia dia itu liar, isinya cuma balapan malam, nongkrong gak jelas, dan masalah. Gue nggak mau lo kenapa-napa," cecar Arka, mencoba memberikan pengertian. Sebagai orang yang tahu betul rapuhnya hati Kayla di balik sikap juteknya, Arka takut Gavin hanya memanfaatkan pelarian emosi Kayla.
Kayla meletakkan sendoknya, menatap Arka dengan pandangan lelah. "Ka, gue cuma butuh tempat buat napas. Di rumah gue ngerasa sesak, dan kalau lingkungan Gavin bisa bikin gue lupa sebentar sama masalah di rumah, kenapa enggak?"
Arka terdiam. Ia tahu betul apa yang dimaksud Kayla dengan 'masalah di rumah'. Rasa bersalah mendadak menyergap Arka karena ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu memulihkan hubungan Kayla dan Pak Hendra. Namun, firasatnya mengatakan bahwa mendekat ke arah Gavin adalah keputusan paling salah yang bisa diambil oleh sahabatnya itu.
"yaa..kalau gitu Lo pergi bareng gue aja,kita jalan jalan.kalo Lo suntuk di rumah terus,tapi plis jangan ikut sama Gavin!" Ucap Arka dengan setengah memohon.
Kayla menatap Arka dalam-dalam. membenarkan perkataan Arka dalam logikanya.
Bel berbunyi nyaring, memutus obrolan serius mereka dan memaksa Arka untuk kembali ke bangkunya sendiri, meninggalkan Kayla yang kembali menatap kosong ke luar jendela dengan pikiran yang berkecamuk.