NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

​Langkah kaki Fahri dan Zara bergema di lorong lantai empat yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu kayu kokoh dengan papan nama "VIP Kartika 1", Zara sempat menghentikan langkahnya. Tangannya yang memegang gagang pintu mendadak dingin.

​Fahri yang menyadari ketakutan istrinya langsung menaruh tangan kanannya di atas tangan Zara, memberikan remasan lembut yang menenangkan. "Tenang, Zar. Ada suami kamu di sini. Ayo masuk."

​Zara mengangguk pelan. Ia memutar knop pintu dan mendorongnya perlahan.

​Di dalam kamar bernuansa krem itu, suasana tampak sangat dramatis. Di atas ranjang rumah sakit yang besar, seorang wanita paruh baya—Bu Ratna, ibunya Zara—sedang berbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya dipasang masker oksigen, dan tangannya ditempeli selang infus yang... jika diperhatikan lebih dekat oleh mata jeli Fahri, jarumnya bahkan tidak menembus kulit dengan benar, hanya diplester asal-asalan.

​Di samping ranjang, Pak Rahmad berdiri bersedekap dada. Begitu melihat pintu terbuka, wajah marahnya langsung terpasang. Namun, begitu melihat Zara tidak datang sendirian, melainkan menggandeng mesra tangan Fahri, mata Pak Rahmad hampir melompat keluar dari rongganya.

​"Zara! Berani-beraninya kamu bawa santri melarat ini ke sini?!" bentak Pak Rahmad dengan suara tertahan, takut terdengar sampai luar kamar. "Ibumu kritis gara-gara kamu, dan kamu malah membawa pengacau?!"

​"Zara pulang mau lihat Ibu, Yah!" sahut Zara, air matanya mulai menggenang melihat sang ibu yang tampak tak berdaya dengan masker oksigen. Zara hendak mendekat, namun Fahri dengan halus menahan pinggang istrinya.

​Fahri melangkah maju, berdiri tepat di antara Pak Rahmad dan Zara. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mewah itu, lalu menatap Bu Ratna yang masih "setengah sadar" di atas kasur. Saking niatnya berakting, tubuh Bu Ratna bahkan sempat terlihat sedikit bergetar kejang-kejang palsu.

​"Aduh, kasihan sekali Bu Murni mertua saya ini," ucap Fahri dengan nada yang sengaja dibuat prihatin, namun ada nada sarkasme tersembunyi yang membuat Pak Rahmad meradang. "Sakitnya parah banget ya, Pak Rahmad? Sampai-sampai bunyi monitor detak jantungnya stabil banget kayak orang lagi tidur siang."

​"Jaga mulut kamu, anak muda! Keluar kamu dari sini! Security—"

​"Gak usah panggil security, Pak Rahmad yang terhormat," potong Fahri santai. Ia merogoh saku jaket flanelnya dan mengeluarkan buku nikah cokelat tua, menunjukkannya tepat di depan wajah sang mertua.

"Saya ke sini sebagai menantu sah. Ini buku nikahnya. Jadi, saya punya hak legal buat menemani istri saya menjenguk ibunya."

​Pak Rahmad seketika membeku. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi lalu kembali merah padam. "N-nikah?! Kamu... Zara! Kamu benar-benar sudah gila?!"

​Mendengar keributan yang semakin memanas dan kata 'nikah' yang diteriakkan suaminya, Bu Ratna yang sedari tadi memejamkan mata mendadak kaget. Rasa kepo mengalahkan totalitas aktingnya. Tanpa sadar, Bu Ratna langsung membuka matanya lebar-lebar dan duduk tegak di atas ranjang.

​"Apa?! Menikah?! Sama siapa, Yah?!" seru Bu Ratna dengan suara yang sangat lantang dan bertenaga, sama sekali tidak mencerminkan seorang pasien yang sedang sekarat atau membutuhkan ventilator. Masker oksigennya bahkan terlepas begitu saja dari wajahnya.

​Suasana kamar VIP itu mendadak hening seketika.

​Zara melongo, air mata yang tadinya mau menetes langsung surut seketika. Ia menatap ibunya yang kini tampak segar bugar tanpa ada tanda-tanda lemas sedikit pun.

​Fahri langsung menahan tawa, menepuk tangannya pelan.

"Wah... Alhamdulillah! Luar biasa sekali! Ternyata efek kehadiran menantu dari Tasikmalaya langsung bisa menyembuhkan penyakit jantung stadium akhir dalam waktu satu detik. Mukjizat ini namanya, Bu!"

​"I-Ibu? Ibu gak apa-apa?" tanya Zara, suaranya bergetar, bukan karena sedih lagi, melainkan karena mulai menyadari sesuatu. Ia melirik ke arah kantung infus yang ternyata isinya tidak berkurang sama sekali. "Ibu... pura-pura sakit?!"

​Bu Ratna yang baru sadar kalau aktingnya berantakan langsung salah tingkah. Ia buru-buru memegang kepalanya dan kembali merebahkan diri dengan lemas yang dibuat-buat. "Aduh... aduh... kepala Ibu mendadak pusing lagi, Zar... aduh..."

​"Gak usah dilanjutkan aktingnya, Bu. Sudah telat, cut! Sutradaranya kurang pinter nih ngarahinnya," celetuk Fahri sambil melirik sinis ke arah Pak Rahmad yang kini wajahnya sudah menahan malu luar biasa karena kedok mereka terbongkar total.

​"Kalian... kalian benar-benar keterlaluan!" Zara berteriak, dadanya naik turun menahan rasa kecewa dan amarah yang meledak. "Bisa-bisanya Ayah dan Ibu membohongi aku pakai cara serendah ini cuma buat menyeret aku kembali ke Jakarta?! Aku benci Ayah!"

​Zara berbalik, hendak berlari keluar kamar karena sakit hati yang teramat sangat. Namun, dengan sigap Fahri menangkap jemari tangan Zara, menahannya agar tetap tegak di sampingnya.

​Fahri membalikkan tubuhnya, menatap Pak Rahmad dan Bu Ratna dengan tatapan mata yang tajam, dingin, dan penuh penegasan sebagai seorang kepala keluarga baru.

"Pak Rahmad, Bu Murni, permainan drama kalian selesai sampai di sini. Hari ini, saya bawa Zara pulang ke Tasikmalaya bukan lagi sebagai anak pelarian, tapi sebagai istri sah dari seorang Fahri Ahmad Bin Sulaiman Assalamu'alaikum."

​Dengan langkah mantap, Fahri menggandeng erat tangan Zara, membawa istrinya keluar dari kamar penuh kepalsuan itu, meninggalkan kedua orang tua Zara yang hanya bisa terpaku menahan malu dan amarah atas kekalahan telak mereka.

​Baru saja pintu kamar VIP Kartika tertutup rapat, langkah Fahri dan Zara kembali terhadang. Di ujung koridor yang sunyi, tepat di depan deretan lift, Reza sudah berdiri bersedekap dada. Cup kopi mahal yang tadi dipegangnya kini sudah lenyap, digantikan oleh gawai pintarnya yang digenggam erat hingga urat-urat tangannya menonjol.

​Wajah tampan Reza mengeras, matanya memerah menatap tajam ke arah jemari Fahri yang masih menggandeng erat tangan Zara.

​"Zara! Berhenti!" bentak Reza, suaranya menggema di sepanjang koridor rumah sakit, membuat seorang perawat yang sedang mendorong troli obat sempat menengok kaget sebelum buru-buru menjauh.

​Zara menghentikan langkahnya, refleks bergeser agak merapat di belakang bahu tegap Fahri. Rasa muaknya sudah sampai ke ubun-ubun. "Apalagi sih, Za?! Semua sandiwara murahan kalian di dalam udah terbongkar! Ibu gak apa-apa, dan aku gak bakal pernah mau kembali sama kamu!"

​Reza tertawa sumbang, melangkah mendekat dengan gertakan yang sengaja dibuat intimidatif. "Sandiwara? Hah! Itu semua taktik, Zara! Dan taktik itu harusnya berhasil kalau bukan karena bajingan kampung ini yang merusak semuanya!"

​Reza menunjuk wajah Fahri dengan jari gemetar penuh amarah. "Kamu... kamu pikir kamu siapa, hah?! Datang ke Jakarta pakai kemeja flanel murah, bawa buku nikah palsu hasil cetakan komputer, terus merasa sudah menang?!"

​Fahri yang ditunjuk-tunjuk sama sekali tidak bergeser. Ia malah melepas tangan kirinya dari saku jaket, lalu membetulkan posisi peci hitamnya yang agak miring dengan gerakan super santai.

​"Aduh, Mas Kopi Mahal... suaranya tolong dikecilkan dikit. Ini rumah sakit, banyak orang sakit yang butuh ketenangan, bukan butuh dengerin tangisan pria yang gagal nikah," sindir Fahri, senyum tengil andalannya kembali merekah di sudut bibir.

​"Gak usah sok menceramahi saya, Fahri!" raung Reza, maju satu langkah lagi hingga jaraknya hanya tersisa satu meter dari Fahri. "Kamu tahu tidak siapa saya?! Keluarga saya punya kuasa di kota ini! Dalam satu kedipan mata, saya bisa bikin kamu kehilangan pekerjaan di pesantren, atau kalau perlu, saya bikin kamu mendekam di penjara atas tuduhan pemalsuan dokumen dokumen pernikahan dan membawa kabur anak orang!"

​Mendengar ancaman itu, Zara mendadak panik. Ia mencengkeram jaket flanel Fahri dari belakang. "Fahri... gimana kalau dia beneran—"

​"Sstt... diam ya, Istriku. Anggap aja ini lagi dengerin radio rusak," potong Fahri lembut tanpa menoleh ke belakang, sukses membuat pipi Zara kembali merona panas di tengah suasana tegang.

​Fahri kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Reza. Kilat jenaka di mata hitam Fahri mendadak padam, digantikan oleh tatapan dingin, tajam, dan penuh wibawa seorang jawara pencak silat yang siap menerkam mangsanya.

​"Mas Reza yang terhormat... yang bajunya necis tapi kelakuannya krisis," ucap Fahri lambat-lambat, nadanya rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Saya ini emang orang kampung. Saya biasa megang cangkul, biasa ngupas bawang, dan biasa ngadepin monyet pangkalan yang hobi bikin rusuh. Tapi ada satu hal yang harus Mas tahu."

​Fahri maju setengah langkah, membuat Reza refleks mundur selangkah karena aura intimidasi Fahri yang mendadak luar biasa kuat.

​"Buku nikah yang dipegang Zara itu asli, ada tanda tangan Abah Mukhlas sebagai wali hakim dan dicap resmi. Kalau Mas mau menuntut secara hukum, silakan. Saya tunggu pengacara Mas di Tasikmalaya," Fahri tersenyum tipis, sangat tipis hingga terlihat mengerikan.

"Tapi... kalau Mas berani melangkah satu senti lagi buat menyentuh atau maksa istri saya... saya gak ragu buat nyoba jurus paku bumi saya di lantai empat rumah sakit ini. Mau coba?"

​Reza menelan ludah. Nyalinya mendadak ciut melihat kepalan tangan Fahri yang mengeras di samping tubuh, lengkap dengan kuda-kuda kakinya yang sangat kokoh. Ia tahu betul dari cerita orang-orang bahwa santri di depan ini bukan santri sembarangan.

​Ting!

​Suara denting lift di belakang Reza memecah ketegangan. Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan ruang kubus yang kosong.

​"Nah, pas banget lift-nya datang," Fahri mendadak kembali ke mode santainya, senyum usilnya kembali terbit seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia merangkul pundak Zara dengan protektif. "Ayo, sayang, kita masuk. Kasihan Mas Reza-nya udah mau nangis, nanti dikira kita gak punya rasa kemanusiaan."

​"Fahri... ih, sempat-sempatnya!" bisik Zara gemas, tapi ia dengan senang hati melangkah masuk ke dalam lift di samping suaminya.

​Saat tubuh mereka berbalik menghadap pintu lift, Fahri sempat menatap Reza yang masih berdiri mematung di koridor dengan wajah merah padam menahan malu dan kekalahan telak yang kedua kalinya hari ini.

​"Oh ya, Mas Kopi... satu tips dari saya selaku suami sahnya Zara," celetuk Fahri tepat sebelum pintu lift tertutup rapat.

 "Mulai besok, kalau mau bikin skenario film horor atau drama rumah sakit, sutradaranya diganti ya. Akting mertua saya tadi beneran jelek banget, gak estetik!"

​"FAHRIIII!!! BAJINGAN KAMU RA!!!" teriak Reza histeris, meluncurkan tendangan kosong ke arah udara saat pintu lift berlapis cermin itu resmi tertutup rapat, memutuskan pandangannya dari sang pengantin baru.

​Di dalam lift yang bergerak turun menuju lobi utama, Zara spontan menutup mukanya dengan kedua tangan, tertawa terpingkal-pingkal sampai bahunya terguncang. Rasa sedih, kecewa, dan trauma yang membayangi hatinya sejak kemarin kini benar-benar luntur, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa di samping santri rese yang kini resmi menjadi pelindung hidupnya.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!