Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Kebenaran Dari Keluarga Celo
Dua hari berlalu.
Itu artinya hari ini adalah hari dimana kita bisa bertemu dengan keluarga dari Celo seperti yang sudah di janjikan oleh adiknya kemarin lusa.
Saat hendak melangkah kaki menuju garasi, rupanya sudah ada mobil Rafka yang berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahku. Dia menunjuk ke arah gerbang mengisyaratkan sebuah kode agar aku membukanya.
"Sabar, lagian kemana coba pak Rudi ada tamu malah ngilang!" Pandanganku memutar ke sekeliling mencari keberadaan satpam rumah yang sudah bekerja sedari aku kecil itu .
"Astaga lama sekali, rasanya seperti gosong kulit gue terbakar matahari berdiri di sini terlalu lama." Rafka mengeluh sambil mengusap wajahnya yang di penuhi keringat.
"Lagian gak nelepon, yaudah ayo berangkat!" Dengusku kecut.
"Gue rela nunggu lama di sini tujuannya biar bisa bertemu kedua orang tua lu untuk berpamitan, Katty!!" Balasan Rafka tak mau kalah sengitnya.
Hufft...
Hembusan nafas kesal terlihat jelas dariku, tetapi apa yang di ucapkannya itu benar jika kita langsung pergi ayah dan bunda pasti khawatir dan penilaiannya tentang sahabat terbaik dari calon menantu kesayangannya ini akan buruk.
Tanpa bersuara sedikitpun aku mengangkat daguku sebagai tanda bahwa mengizinkannya masuk ke rumah untuk menemui kedua orang tuaku.
"Assalamualaikum om dan tante, saya diamanahi oleh Celo untuk menjaga dan menemani Katty selama kepergiannya ke London."
Ucapan pertama yang keluar dari mulut Rafka setelah bertemu ayah dan bunda yang pagi itu lagi berbincang hangat di ruang makan sebelum ayah ke kantornya.
"Waalaikumsalam, eh nak Rafka. Bukankah kita sebelumnya sudah pernah bertemu kan? Mari sarapan bareng." Bunda menyambut hangat kedatangan Rafka.
"Terimakasih tante, tetapi kedatangan saya hanya ingin meminta izin kepada om dan tante untuk mengajak Katty keluar sebentar karena kita ada sedikit urusan."
Rafka menyampaikan niatnya dengan disertai gerakan tangan yang mencium tangan ayah dan bunda.
"Tentu saja boleh, apalagi nak Rafka adalah orang yang di percaya oleh calon suami dari putri kesayangan om dan tante." Senyum ayah merekah saat memberikan izin kepada aku dan Rafka.
Izin kedua orang tua kesayanganku sudah berhasil kita kantongi.
Harapanku adalah semoga restu dari ayah dan bunda mampu mengungkap fakta dari semua prasangka buruk terhadap Celo yang sebenarnya sudah dari lama aku rasakan.
Sekedar mengulik overthinking yang aku rasakan jauh sebelum kemunculan Lady, sikap Celo yang cukup di kenal romantis dan super peduli selama ini ternyata itu semua tidak benar-benar bisa membuatku nyaman.
Aku bahagia tatkala dia memperlakukanku layaknya seorang ratu, tetapi entah kenapa perlahan kebahagiaan itu berubah menjadi sebuah kecurigaan.
Kesibukannya bekerja juga bisa aku maklumi karena aku juga bukanlah wanita yang tidak punya pekerjaan, tetapi ada hal yang janggal bagiku.
Apalagi aku pernah membaca sebuah quotes yang lewat dari beranda salah satu media sosialku.
*** hal-hal yang terlihat berlebih kadangkala menyimpan duri di dalamnya ***
Kalimat sederhana itu selalu saja berputar di otakku, sehingga waktu itu aku sempat menolak lamarannya.
Lagi-lagi aku hanya menyimpannya seorang diri selama ini, aku tidak ingin merusak momen bahagia yang berusaha di bangun Celo sirna begitu saja hanya karena kekonyolanku yang ter propaganda dari sebuah tulisan yang tak sengaja aku baca.
"Halo... Lu pikir gue sopir yang duduk menyaksikan majikannya melamun." Sorot mata Rafka seakan menegaskan protesnya terhadapku yang sedang terpaku mengulas perlakuan-perlakuanku pada Celo.
Aku tak bersuara, hanya tatapan dingin yang aku tunjukan padanya.
Bersyukurnya Rafka menyadari jika aku tidak suka dengan ucapannya yang baru saja dia lontarkan, lantas dia menancap gas menuju cafe tempat yang telah di sepakati untuk bertemu dengan adik Celo beserta kedua orang tuanya.
Perjalanan yang kali ini kita tempuh cukup menyita waktu bukan karena jaraknya yang jauh, tetapi karena suasananya yang tidak mendukung.
Aku pun tak tahu bagaimana nanti respon yang akan aku berikan saat mendengar fakta dari keluarga Celo.
Rafka tiba-tiba menghentikan mobil di sebuah mini market yang tak jauh dari halte pemberhentian bus. "Gue mau cari permen. Lu mau ikut turun apa nunggu di sini?"
"Sini saja, tetapi gue titip minuman isotonik." Ekspresiku perlahan mulai normal menjawab pertanyaannya kali ini.
Tangan Rafka memberi hormat. Aku terkekeh saat melihatnya, ada saja tingkah pemuda lapuk ini. Kadang kala dia menyebalkan, tetapi kadang juga menunjukan kedewasaan yang sesuai umurnya.
Terlepas apapun itu yang jelas untuk sekarang dengan kehadiran dia cukup mengobati overthinking yang aku rasakan tentang Celo.
Rafka berlari keluar dari mobil untuk segera membeli yang kita butuhkan. Sementara di dalam mobil aku berniat menyalakan audio sebagai hiburan, tetapi tak sengaja aku menyenggol sebuah kertas.
Aku mengambilnya dan ternyata kertas itu adalah potongan dari sebuah buku harian.
"Apa mungkin seorang Rafka menuliskan keluh kesahnya dalam sebuah diary?" Aku mengigit ujung ibu jari tangan kananku di sertai senyum lucu karena hal itu tak bisa pernah aku bayangkan pria sedingin dia suka nulis buku harian.
Tak lama berselang dia pun kembali masuk mobil, aku segera mengembalikan sobekan kertas tadi ke tempat semula.
Khawatir keluarga Celo sudah terlebih dahulu sampai dan menunggu terlalu lama, Rafka segera menambah kecepatan laju mobilnya.
Alhamdulillah kita sampai tepat waktu.
Kita pun langsung diarahkan oleh salah satu waiters cafe tersebut ke sebuah kursi yang sepertinya memang telah di reservasi oleh adik Celo sebagai tempat pertemuan kita.
Ku lihat nampak mama dan papa Celo sudah duduk di sana, sementara adik Celo menurut penuturan dari mamanya lagi memesan menu.
Lima menit kemudian adiknya Celo pun bergabung dengan kita berempat.
"Maaf ya om, tante jika aku dan Rafka sudah bikin bingung sehingga kalian harus meluangkan waktu untuk bertemu kita." Aku membuka topik obrolan.
Kedua orang tua Celo tersenyum.
"Gak masalah kak, lagi pula kita juga kaget pas kak Rafka menanyakan silsilah keluarga kita." Respon adik Celo dengan wajah yang cukup kooperatif.
"Boleh tahu siapa saja sepupu kalian yang tinggal di luar kota atau luar negeri?" Rafka langsung menanyakan lebih detail.
"Boleh kak, aku bawa kok foto-foto keluarga kita saat lebaran tahun lalu pas kebetulan memang dengan formasi lengkap." Adik Celo membukakan galeri ponselnya.
"Bisa di pastikan jika memang tidak ada yang namanya Lady di sini kak dan jujur aku juga mama dan papa cukup bingung."
"Karena kak Celo pamitnya ada urusan bisnis mendadak yang mengharuskan dia pergi ke London karena investor di sana mau bertemu secara langsung dengannya."
"Maaf ran, jadi Celo pun berbohong pada keluarga?" Tanyaku dengan mengerutkan dahi karena tak habis pikir Celo bertindak sejauh itu.
..