NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah

Di tengah kepanikannya yang semakin memuncak, pandangan Alden refleks beralih menatap jam dinding besar yang berdentang di sudut kamarnya. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 8 malam.

Fakta itu menghantam dada Alden seperti godam yang sangat berat.

Kedua matanya membelalak menatap angka di jam tersebut, lalu beralih kembali pada tubuh lemah Aleta yang masih tak sadarkan diri di pangkuannya. Otaknya mulai menghitung mundur. Kejadian awal saat ia menarik Aleta masuk ke dalam kamar ini terjadi sebelum pukul 6 sore.

Itu berarti, selama dua jam lebih dirinya telah menahan Aleta.

Dua jam lebih ia mengurung, mengintimidasi, dan membiarkan emosi gelap menguasai dirinya hingga melintasi batas kewajaran. Selama dua jam itu pula, Aleta harus mengalami tekanan mental dan siksaan fisik yang begitu hebat dari keegoisannya sampai akhirnya gadis itu tumbang kehabisan daya.

Rasa bersalah yang teramat sangat kini bercampur dengan kengerian atas apa yang telah ia perbuat. Alden mencengkeram bahu Aleta dengan tangan yang bergetar semakin hebat. Waktu dua jam yang ia habiskan untuk merenggut kebebasan Aleta kini terasa seperti mimpi buruk yang nyata dan tak bisa ia putar kembali.

"Dua jam..." bisik Alden dengan suara bergetar, menatap wajah pucat Aleta dengan rasa sesal yang teramat dalam.

"Aleta, maaf... please, bangun..."

🌍🌍🌍

Tanpa membuang waktu lagi, ia perlahan membaringkan kembali tubuh lemah Aleta ke atas kasur, lalu bergegas bangkit dan berlari menuju pintu kamar.

Alden buru-buru keluar. Begitu pintu terbuka, koridor lantai atas terasa sangat sunyi. Ia menuruni anak tangga dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Keadaan rumahnya sudah sepi, seolah-olah seluruh pelayan dan orang rumah sengaja memberikan ruang—atau mungkin mereka memang tidak berani ikut campur dengan urusannya.

Tanpa menghiraukan apa pun lagi di sekitarnya, fokus Alden hanya tertuju pada satu hal: menyadarkan Aleta.

Ia langsung menuju ke arah dapur dengan napas memburu. Dengan gerakan cepat dan tangan yang masih sedikit gemetar, Alden mengambil segelas air putih. Tak berhenti di situ, ia membuka lemari es, mengeluarkan beberapa balok es batu, lalu menyiapkannya ke dalam satu baskom air dingin. Setelah menyambar selembar kain bersih yang akan digunakan untuk mengompres Aleta, Alden langsung membawa semuanya dan berlari kembali ke lantai atas.

Setiap langkahnya dipenuhi rasa bersalah yang mencekik. Ia tahu, waktu dua jam yang ia sia-siakan untuk menyiksa gadis itu tidak akan pernah bisa diulang, dan kini ia harus melakukan apa saja agar Aleta bisa segera membuka matanya.

Sambil membawa segelas air dan baskom, Alden menendang pintu kamarnya hingga terbuka dan langsung meletakkan peralatan itu di atas nakas samping tempat tidur. Napasnya masih memburu tak beraturan karena rasa panik yang merayap di sekujur tubuhnya.

Tanpa membuang waktu, Alden kembali naik ke atas kasur. Ia memindahkan tubuh lemah Aleta yang masih tak sadarkan diri ke dalam pangkuannya, menyandarkan kepala gadis itu di lengan kekarnya dengan sangat hati-hati—berbanding terbalik dengan sikap kasarnya beberapa saat lalu.

"Aleta, minum dulu... please," bisik Alden, suaranya bergetar menahan cemas.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengambil gelas dan mengarahkan bibir gelas itu ke bibir mungil Aleta yang tampak bengkak. Alden memiringkan gelasnya dengan sangat perlahan, memberikan sedikit demi sedikit air minum ke dalam mulut Aleta. Ia bergerak ekstra hati-hati, memastikan air itu mengalir pelan agar Aleta tidak tersedak dalam kondisi pingsan seperti ini.

Beberapa tetes air tampak membasahi sudut bibir Aleta dan mengalir turun ke lehernya yang bernoda kemerahan, namun sebagian kecil berhasil masuk. Alden terus memperhatikan wajah pucat itu dengan lekat, berharap ada respons sekecil apa pun—entah itu kerutan di dahi atau sekadar lenguhan pelan—dari gadis yang telah ia buat tak berdaya selama dua jam terakhir ini.

"Uhuk... Uhuk..."

Aleta terbatuk lemah, dadanya yang sempit naik turun berusaha menyesuaikan diri dengan air yang masuk. Respons kecil itu menjadi tanda pertama bahwa kesadarannya mulai kembali. Kelopak mata Aleta yang bengkak bergerak-gerak gelisah, berusaha terbuka meskipun terasa sangat berat akibat pening yang mendera kepalanya.

"Aleta? Hei, ini aku... minum lagi, pelan-pelan," bisik Alden dengan nada suara yang melembut drastis, menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam.

Mendengar suara Alden dan merasakan hawa hangat dari tubuh cowok itu, tubuh Aleta refleks menegang sedikit—sebuah reaksi trauma yang otomatis muncul bahkan sebelum matanya terbuka sempurna. Namun karena tenaganya masih kosong, ia hanya bisa menerima suapan air berikutnya yang diberikan Alden dengan sangat hati-hati.

Tenggorokan Aleta yang semula terasa kering dan tercekik kini mulai terasa sedikit segar, meskipun rasa perih di bibir dan lehernya masih tertinggal jelas, mengingatkannya secara paksa pada mimpi buruk dua jam yang baru saja ia lalui.

🌍🌍🌍

Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, Aleta langsung dihadapkan pada rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kepalanya berdenyut pening, dadanya masih terasa sesak, dan seluruh persendiannya terasa seperti lolos dari tempatnya. Ia ingin sekali menjauh, turun dari kasur, atau setidaknya mendorong Alden pergi, tetapi tubuhnya benar-benar lumpuh oleh rasa lemas yang luar biasa.

Melihat Aleta yang sudah membuka mata namun hanya bisa diam menatapnya dengan tatapan kosong dan rapuh, Alden perlahan menurunkan tubuh gadis itu dari pangkuannya. Ia menidurkan Aleta kembali di atas bantal dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut tubuh mungil itu akan hancur jika ia salah sentuh.

Tanpa bersuara, tangan Alden dengan cepat bergerak mengambil kain yang sudah direndam di dalam baskom air dingin. Ia memerasnya sedikit, lalu dengan saksama menempelkan kompres dingin itu ke leher Aleta—tepat di atas noda-noda kemerahan yang beberapa saat lalu ia buat dengan egois.

"Ssh..."

Aleta refleks memejamkan mata rapat-rapat. Sesekali ia meringis menahan perih dan rasa dingin yang tiba-tiba menusuk kulit sensitifnya. Rasa perih itu seolah menjadi alarm yang terus mengingatkannya pada tindakan kasar Alden.

Setiap kali Aleta meringis, tangan Alden yang memegang kain kompres itu ikut bergetar. Cowok itu hanya bisa diam membisu, menahan gejolak rasa bersalah yang kini berbalik menyiksa dadanya sendiri saat melihat tanda merah di leher Aleta yang kontras dengan warna kulitnya yang pucat.

Setelah dirasa cukup dan suhu tubuh Aleta mulai sedikit membaik, Alden perlahan mengangkat kain kompres dari leher gadis itu. Ia meletakkannya kembali ke dalam baskom dengan gerakan yang diusahakan se-tenang mungkin, meski gemetar di tangannya belum sepenuhnya hilang.

Alden menatap wajah Aleta sekilas. Gadis itu masih memejamkan mata dengan napas yang teratur namun lemah, enggan menatapnya. Sadar bahwa kehadirannya hanya akan menambah trauma dan ketakutan bagi Aleta, Alden memutuskan untuk memberikan ruang.

Ia berbalik, melangkah lebar meninggalkan kasur, lalu membuka pintu kamarnya.

Begitu keluar ke koridor yang sepi, Alden berjalan menuju pembatas lantai atas dan melongok ke bawah. Dengan suara beratnya yang kembali tegas—namun kali ini terselip nada panik yang samar—ia memanggil beberapa pelayan yang berjaga di lantai bawah.

"Bi! Bi Sum! Ke atas sekarang!" panggil Alden setengah berteriak.

Mendengar suara sang tuan muda, dua orang pelayan paruh baya buru-buru berlari menaiki anak tangga dengan wajah cemas. Mereka tahu jika Alden sudah memanggil dengan bintik ketegangan seperti itu, artinya ada hal serius yang terjadi.

"Iya, Den? Ada apa?" tanya salah satu pelayan dengan napas sedikit terengah-engah begitu sampai di depan Alden.

"Masuk ke kamar saya," perintah Alden dingin, matanya melirik ke arah pintu kamarnya yang terbuka sedikit.

"Ganti baju Aleta dengan pakaian yang longgar dan bersihkan badannya. Jaga dia sampai benar-benar tenang. Dan... jangan tanyakan apa pun pada dia."

Pelayan itu sempat tertegun melihat sorot mata Alden yang penuh rasa bersalah dan frustrasi, namun mereka segera mengangguk patuh dan buru-buru masuk ke dalam kamar untuk menolong Aleta.

🌍🌍🌍

Tunggu lagii yaa🥲

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!