Valendro sebagai ilmuwan yang mencanangkan ide mencari time glitcher agar kembali ke dimensinya atau diatur di tempat yang tepat, memiliki kesempatan kedua untuk mengatur sekelompok pasukan yang siap berpetualang di berbagai galaksi dan berbagai alur waktu. Namun untuk merekrut pasukan yang hebat saja, dia harus banyak berputar otak.
Untungnya beberapa prajurit yang telah berdedikasi, telah menyetujui dan mengabdi untuk Kaunsel Sejarah, dengan imbalan mereka diperbolehkan beberapa waktu sekali pulang atau pergi menemui orang yang mereka kasihi, baik itu keluarga ataupun sekedar pacar.
Tak hanya masalah pasukan, Valendro juga harus secara rutin memperbaiki Kapten pesawat yang dikendalikan oleh robot AI! Lancarkah petualangan mereka? Atau lebih banyak kegembiraan daripada yang sudah-sudah?
Hint: Novel ini adalah Saga dari Novel lama Author. Silakan DM author untuk info mengenai novel lama yang dimaksud
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArmandArt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan Audreena
< Serenium, Pukul dua dini hari >
Neoron dan Berliana saat ini sedang saling transfer data sambil menunggu Kru baru yang direkrut Makaria. Tak berapa lama transferan pun selesai.
"Permasalahan Nona Ria sebenarnya dialami hampir semua Kru Serenium, Kapten" kata Berliana membaca data di dalam otaknya. Sebelumnya dia tak mengetahui permasalahan Makaria, namun setelah data observasi, serta pantauan dirinya sendiri ketika beberapa kali berjalan melewati kru lain. Dia akui Kru lain juga bermasalah berkomunikasi dengan Celia si Duyung.
"Hampir...? Siapa yang pernah berbicara dengannya?" tanya Neoron sambil mengingat apa dia sendiri pernah berbicara dengannya. Berliana memiringkan kepalanya sedikit seolah berpikir kenapa Robot Kapten di depannya ini kurang observasi keadaan?
"Ruby, Kapten. Tapi Celia hanya meminta sesuatu darinya dalam jumlah agak banyak..." jawab Berliana akhirnya.
"Oh ya? Hmm... Pastilah saya sedang sibuk di Bridge. Apa yang dia minta...?" tanya Neoron lagi.
"Yodium Ozone. Untunglah kita ada banyak stok. Mungkin Profesor menyediakannya spesial kalau Nona Celia minta?" jawab Berliana.
*Pencarian Selesai. Memanggil Prajurit Baru hasil Perekrutan....*
Ucap Ivy tiba-tiba dari Bridge. Neoron dan Berliana pun mendatangi ruang teleportasi khusus bagi Prajurit Perekrutan yang letaknya agak terpisah dari Pod Teleportasi yang biasa digunakan Kru untuk mendarat dan kembali ke Serenium.
Setelah si Kru tiba, Berliana sedikit merengut dalam hatinya, "Mck...sial, bakal ada drama lagi nih di pesawat..."
****
< Bumi. Tahun 70 Sebelum Masehi. Kerajaan Qin Ting, China >
"Hmm...hh..." seorang gadis kecil terbangun dari tidurnya. Dia merasa melupakan sesuatu hal, namun dia juga merasa hal itu tak terlalu penting sekarang. Gadis itu melihat keluar jendela, matahari masih sangat tersembunyi, menandakan saat ini masih pagi dini hari.
Dengan gesit dia beranjak dari tempat tidurnya dan mulai bersiap-siap menghadapi pekerjaan hariannya sebagai Pemeriksa Racun dan Apoteker Kerajaan.
"Mimi? Selir Shen Hua mencarimu..." ucap salah seorang pelayan dari Selir tersebut.
"Ah iya, siap! Saya akan segera kesana!" jawab Mimi sopan sambil menautkan dua kepalannya di depan dada sambil menunduk.
(Tak berapa lama, di Paviliun Anggrek, Rumah Shen Hua...)
"Pelayan Mimi menghadap Nona Shen Hua. Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?" ucap Mimi sopan. Shen Hua adalah Selir kerajaan yang, tidak cantik sekali sih, tapi memiliki aset yang besar, pikir Mimi. Wanita itu mendekati Mimi sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Tuan Gao menitipkan ini untukmu. Dia harus berangkat pagi-pagi, ada tugas dari Raja untuknya ke Kerajaan Hou. Katanya ini hadiah dari pekerjaanmu sebelumnya..." ucap Shen Hua sambil tersenyum. Dia menyerahkan sebuah gelang kain dengan batu Emas didalamnya. Mimi melotot melihatnya, dia merasa Tuan Gao ada kesalahan memberi hadiah, dan dia tak ingat pernah mengerjakan sesuatu yang berhadiahkan sebagus ini.
"Apa ini...?!" celetuknya setelah menerimanya.
"Hm...entahlah, dia mengatakan benda ini diberikan oleh seseorang yang meminta bantuanmu. Katanya, sebaiknya kamu menyimpannya, karena benda tersebut takkan hancur oleh zaman... Simpan saja, sebelum aku mencurinya...heh" sambung Shen Hua diakhiri dengan senyum jahil.
Mimi hanya ikut tersenyum sambil dia mengantongi gelang tersebut. Sejenak sepersekian detik dia melihat Emas pada gelang tersebut berpendar sejenak, namun dia menggelengkan kepala cepat dan mengira itu hanya ilusi dia semata.
****
< Serenium Bridge, Pagi hari setelah waktu Sarapan >
"Tuan dan Nona, saya perkenalkan Audreena berasal dari Dimensi Gardesun, 77 juta Tahun Cahaya dari Ring'o'Dawn sendiri. Dan beliau seorang High Elf" ucap Neoron sambil meminta seorang wanita berparas luar biasa cantik, dengan telinga tinggi, bodi luar biasa proporsional dengan ukuran dada impian hampir semua kaum adam. Memakai dress Qipao berwarna dasar putih dengan garis hitam
Bagian samping pahanya berbelahan yang, menurut perkiraan Berliana, apabila wanita ini tak memakai stoking hitam, sudah pasti alat vitalnya terlihat. Wanita ini juga memakai jaket kulit berwarna hitam bergaris hijau. Terdapat dua buah kuas raksasa tersemat di punggungnya.
Anehnya, Berliana terkejut bahwa Hayate dan Osayr tampak acuh dengan tepuk tangan lemah. Celia dan Makaria sebaliknya, mereka tampak terpukau dengan penampilan kru wanita baru ini. Tepuk tangan mereka, terkesan seperti mereka baru saja bertemu Idol mereka.
"Salam kenal! Kalian bisa memanggil saya Rena, agar lebih simpel" ucap Audreena santai, tersenyum memamerkan giginya yg putih.
"High Elf...?!" celetuk Osayr dengan nada dingin. Membuat Berliana terkejut mendengarnya. Audreena yang menyadari nada tersebut berasal dari seorang Dark Elf pria, menghela nafas sedikit, seolah hal berbau stereotip mengenai rasnya adalah hal yang sudah biasa.
"Saya paham, kamu seorang Dark Elf, bukan? Tuan..." ucap Audreena sembari menawarkan salam.
"Osayr. Bukankah High Elf biasanya menginjak ras lain di satu lingkungan...?!" sindir Osayr dengan suara pelan namun cukup terdengar oleh Makaria. Audreena tersenyum kecil, dia lalu meminta semua untuk memberinya kesempatan menjelaskan dengan meminta mereka duduk.
"Saya seorang Penulis, Ahli Bela Diri. Namun saya tidak mengikuti tradisi High Elf yang arogan. Silakan anda tak percaya dengan saya. Tapi selama ini saya bekerja sebagai Penulis Surat Legal dan beberapa surat sampingan. Semua itu bersih dari, istilah yang mungkin anda ingat, meninggikan hati diatas ras lain" sahut Audreena menjelaskan.
Osayr menutup matanya sebentar, lalu dia memutuskan meninggalkan Bridge tanpa sepatah katapun. Hayate hanya mengangguk sebentar kepada wanita itu sambil tersenyum lalu menyusul Osayr.
"Umm...tak perlu dimasukkan ke hati, Nona Rena. Tuan Osayr memang, individu yang...ah sulit..." ucap Neoron sambil meminta wanita itu duduk. Audreena menuruti, dia lalu menjelaskan prahara antara Dark Elf dan High Elf di masa lalu.
Sejujurnya, menurut pandangan Makaria, Audreena malah terkesan sudah meninggalkan tradisi ras-nya sejak dia masih kecil. Hal ini sering terjadi di setiap keluarga sebenarnya. Ada saja anak yang, berbeda dari yang lain. Namun apabila Makaria memiliki anak asuh, dia berjanji dalam hati untuk mendandaninya seperti wanita dihadapannya.
"Gardesun? Apakah dimensi itu yang memiliki planet para Duyung? Saya pernah membacanya di salah satu buku di perpustakaan?" tanya Celia tiba-tiba. Membuat Makaria sedikit terlonjak dengan suara wanita Mermaid itu yang setengah lembut setengah mendayu.
"Ahhh! Ya, planet Aluivian! Planet unik yang hampir seluruh permukaannya adalah Air! Saya sarankan anda mengunjunginya suatu hari nanti, Nona..." sahut Audreena senang.
"Oh...maaf, saya sebenarnya juga Rejector dari planet itu sebelum...um....suami saya mengambil saya..." jawab Celia pelan. Membuat Audreena agak salah tingkah, namun tak lama, dia mendekati wanita Mermaid itu dan memegang dua sisi kepala wanita tersebut.
"Ini adalah kenangan yang saya ingat mengenai planet Aluivian. Semoga ini mengobati sedikit rasa kangen anda dengan kampung halaman..." ucap Audreena sambil kedua telapak tangannya berpendar putih. Membuat Celia agak tertegun melihat memori yang disimpan High Elf tersebut.