Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
Malam jatuh di kawasan Menteng Barat. Gerimis tipis membasahi pelataran kediaman kolonial milik Ibu Suri Helena Atmadja. Lampu-lampu gantung kristal bernuansa emas memancarkan cahaya hangat ke seluruh penjuru ruangan, namun hawa dingin yang penuh intrik terasa amat kental di dalam aula makan utama.
Sebuah meja kayu jati panjang buatan Perancis telah ditata sangat anggun dengan deretan perak dan porselen langka. Di ujung meja, Ibu Suri Helena duduk tegak. Di sisi kanan dan kirinya, Rosalin dan Catherine duduk dengan gaun sutra formal, pandangannya bagai elang yang sedang mengintai mangsa.
Pintu ganda ruang makan terbuka lebar.
Adrian Atmadja melangkah masuk dengan kemeja hitam yang dibalut jas abu-abu gelap. Di sampingnya, Vira Atmadja melangkah dengan keanggunan yang sempurna. Vira mengenakan gaun malam lengan panjang berpotongan simpel berwarna hijau zamrud yang mempertegas kulit bahagianya yang cerah. Rambutnya disanggul rapi, dan di lehernya melingkar kalung zamrud kuno peninggalan almarhumah ibunya.
Di samping Vira, Elvano kecil berjalan anggun menggandeng jemari Tante Cantiknya yang kini resmi menjadi ibunya.
"Nenek," sapa Adrian dengan nada hormat namun penuh ketegasan yang tak terbantahkan. Ia membimbing Vira menuju dua kursi utama yang telah disiapkan di samping kanan Ibu Suri.
Ibu Suri Helena menatap Vira dari ujung kepala hingga ujung kaki melalui kacamata berbingkai emasnya. Tatapannya begitu tajam, mencoba mencari celah ketakutan atau keraguan dari wanita yang baru saja merebut posisi tertinggi di keluarga Atmadja ini.
Namun Vira tidak sedikit pun menunjukkan kegentaran. Dia membungkuk sopan, mengulas senyuman manis yang memancarkan ketenangan jiwa. "Selamat malam, Ibu Suri Helena. Suatu kehormatan bagi saya bisa memenuhi undangan makan malam keluarga ini."
"Duduklah," suara Ibu Suri Helena terdengar datar dan berat.
Makan malam dimulai dengan keheningan yang tegang. Hanya suara denting sendok perak yang beradu dengan porselen. Hingga akhirnya, Rosalin meletakkan sendok supnya dan memecah keheningan dengan senyuman beracun.
"Aku mendengar dari berita, Vira... bahwa seluruh aset peninggalan keluarga Mahendra telah berhasil ditarik kembali ke dalam konsolidasi V-Tech," ujar Rosalin, suaranya sengaja dinaikkan agar terdengar oleh seluruh anggota keluarga. "Sungguh pencapaian yang mengagumkan bagi wanita yang baru saja melewati skandal perceraian yang begitu riuh."
Vira meletakkan serbet kainnya di pangkuan, menatap Rosalind dengan pandangan mata yang jernih dan tenang.
"Terima kasih, Bibi Rosalin." sahut Vira halus. "Keadilan memang membutuhkan waktu, namun apa yang menjadi hak keluarga Mahendra pada akhirnya harus kembali ke tempat yang seharusnya. Dan perihal perceraian itu... itu bukanlah skandal, melainkan pembersihan atas benalu yang mencoba merusak martabat keluarga saya."
Catherine yang duduk di samping Rosalin terkekeh tipis, menyela sebelum Rosalind membalas. "Pembersihan yang sangat bersih, tentu saja. Tapi Vira... sebagai wanita yang kini memegang gelar Nyonya Atmadja, tanggung jawabmu bukan hanya mengurus aset bisnis. Keluarga Atmadja memiliki tradisi peninggalan darah murni dan pengelolaan yayasan sosial. Dengan kondisi... kesehatan medis yang kita semua sudah tahu, bagaimana kamu berniat menjalankan peranmu di dalam dinasti ini?"
Pertanyaan Catherine bagai belati yang sengaja ditancapkan di atas meja makan. Sindiran halus namun kejam atas ketidakmampuan Vira memberikan keturunan secara biologis.
Tangan Adrian di bawah meja seketika mengepal. Tatapan mata elangnya menggelap, siap menyemburkan amarah yang bisa menghancurkan jamuan makan malam itu saat itu juga.
Namun, sebelum Adrian sempat bersuara, Vira memegang lembut telapak tangan suaminya di bawah meja, memberi isyarat bahwa dia sanggup mengatasi jebakan ini sendiri.
Vira menatap Catherine, lalu beralih menatap Ibu Suri Helena yang sedang memperhatikan reaksinya dengan saksama.
"Bibi Catherine." ucap Vira dengan suara yang begitu merdu, tenang, namun penuh wibawa mutlak. "Martabat sebuah dinasti besar seperti Atmadja tidak hanya diukur dari darah, melainkan dari karakter, keberanian, dan bagaimana kita melindungi nama besar ini dari ancaman luar."
Vira mengusap lembut kepala Elvano yang duduk di sampingnya. "Elvano adalah putra dari Adrian, dan itu menjadikannya putraku. Saya tidak membutuhkan hubungan darah untuk mencintai dan mendidiknya menjadi penerus Atmadja yang tangguh. Mengenai yayasan sosial... bukankah wanita yang pernah melewati neraka penderitaan adalah sosok yang paling paham bagaimana cara menyembuhkan dan memimpin dengan ketulusan yang nyata?"
Mendengar jawaban yang begitu cerdas, tegas, dan sama sekali tidak tersulut emosi, bibir Rosalin dan Catherine seketika terkunci rapat. Wajah mereka tampak sedikit memerah karena serangan terselubung mereka mentah begitu saja.
Ibu Suri Helena perlahan meletakkan garpunya. Untuk pertama kalinya malam itu, seulas senyuman tipis dan teramat langka terukir di wajah tua yang keras itu.
"Cukup, Rosalin, Catherine," pangkas Ibu Suri Helena dengan ketukan ringan tongkatnya di lantai. Tuk! "Vira benar. Keluarga Atmadja tidak membutuhkan wanita lemah yang hanya tahu cara bersolek dan melahirkan. Kita membutuhkan wanita dengan tulang punggung baja yang tahu bagaimana cara mempertahankan rumahnya."
Ibu Suri Helena menatap Vira, matanya memancarkan rasa hormat yang tulus. "Kamu lulus ujian pertamaku, Vira. Selamat datang secara resmi di keluarga Atmadja."
Sementara jamuan makan malam keluarga Atmadja berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Vira, guncangan baru mulai terjadi di ranah korporasi luar.
***
Di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di seberang gedung V-Tech, seorang pria berpaspor asing berambut pirang sedang memandangi dokumen lahan tambang Kalimantan melalui tabletnya. Pria itu adalah perwakilan dari konsorsium Verona Capital.
"Tuan Gavin," bisik sang sopir dalam bahasa Inggris. "Apakah kita akan langsung menuntut hak guna usaha itu ke pengadilan arbitrase internasional minggu depan?"
Pria yang dipanggil Gavin itu mengulas senyuman penuh kecurangan.
"Tentu saja," jawab Gavin dingin. "Siska Narendra telah menjual dokumen klaim palsu itu pada kita dengan harga tinggi sebelum dia dipenjara. Kita akan gunakan klaim ini untuk menjepit V-Tech dan menguras fokus Adrian Atmadja. Biarkan pasangan pengantin baru itu bersenang-senang sebentar lagi di Jakarta..."