Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
"Ma... Maa.... Tunggu Ma... Ini nggak seperti yang Mama pikirkan!" kata Gani dengan nada panik, ia menghentikan ibu mertuanya yang dengan sigap membantu Nisya untuk masuk kedalam rumah. Ketika sudah berada di depan pintu, bapak menghalau dengan sorot mata kecewa.
"Pak... Gani... Tolong Pak, jangan seperti ini. Gani sama sekali nggak berniat diam saja atas apa yang di lakukan ibu dan juga kak Lika. Gani...."
"Cukup Gan! Sama seperti istri saya, saya juga begitu kecewa dengan kamu. Saya cukup melihat jika kamu sedari tadi hanya diam, bahkan ketika Nisya direndahkan oleh mereka berdua. Tadinya, saya pikir rumah tangga kalian akan bisa diperbaiki. Tapi sepertinya, selama ibumu masih hidup dia tidak akan membiarkan anak saya bahagia. Jadi sebaiknya, kamu pergilah dulu. Pulanglah kerumah ibumu, bahagiakan dia dengan apa yang dia inginkan. Jangan pikirkan Nisya dan ketiga cucu ku, aku masih sangat sanggup menghidupi mereka!" kata bapak memandang Gani dengan sorot mata tajam.
"Tapi Pak...." kata Gani, seketika terdiam ketika tangan bapak Nisya sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Tidak ada tapi-tapian lagi Gan, kamu sudah mengecewakan kami kedua kalinya. Jadi lebih baik kamu renungkan semuanya!" kata Bapak Nisya. Dengan terpaksa, Gani menganggukkan kepala.
"Egois sekali jadi orangtua. Gani itu masih suami nya Nisya, kenapa malah kalian mengusirnya. Baru rumah seperti ini saja sudah sombong, bagaimana kalau punya rumah besar!" kata Ibu Gani membuat bapak Nisya menatapnya tajam.
"Lebih baik rumah seperti ini saya perbaiki sedikit demi sedikit, yang penting bukan rumah orang lain apa lagi hasil rampasan!" kata bapak Gani membuat Ibu Gani terkejut.
"Maksud kamu apa?" tanya ibu Gani menantang.
"Kamu tau persis apa yang saya katakan! Jadi, dari pada saya buka di sini dan kamu mendapatkan malu berkali-kali lipat sebaiknya kamu pergi sekarang juga dan jangan pernah datang kerumah saya lagi. Paham?" kata Bapak Gani dengan mata tajamnya.
Perkataan bapak Gani membuat Ibu Gani sedikit takut, pasalnya ada rahasia yang selama ini ia sembunyikan dan tidak ada satu orang pun yang tau. Meski itu almarhum suaminya sendiri dan juga kedua anaknya.
"Ayo Lika, kita pergi dari sini!" kata Ibu Gani panik. Ia menarik tangan Lika dengan terburu-buru.
"Pergilah... Jangan pernah kembali kerumah ini lagi!" kata Bapak Nisya.
"Pak...."
"Pergilah Gan... Bapak tidak akan merubah keputusan, jadi sebaiknya kamu tinggalkan rumah ini dan renungkan semuanya!"
"Bapak.. Kenapa nggak adil, kenapa bapak nggak membiarkan Gani menjelaskan semuanya dulu. Gani nggak salah Pak, Gani nggak ada niat untuk tidak membela Nisya. Gani hanya kaget dengan apa yang Gani lihat tadi!" kata Gani sedikit berteriak. Tapi tak disangka jika Syahrul melihat dan mendengar apa yang kedua nya perdebatkan, tanpa basa basi Syahrul melayangkan pukulan tepat pada wajah Gani sehingga memancing keributan ibu-ibu yang sedari tadi masih berada diteras.
"Syahrul... Sudah rul, jangan teruskan. Biarkan dia pergi dari sini!" kata bapak mencegah Syahrul yang akan kembali melayangkan pukulan pada Gani.
"Lelaki macam apa dia Pak, sedari kemarin saya sudah gatal ingin memukulnya tapi saya tahan karna menghormati mbak Nisya. Ternyata lelaki ini masih juga tidak berubah, bagaikan seorang pengecut!" kata Syahrul dengan kemarahan yang beluk reda.
"Iyaa bapak tau... Tapi tolong tahan emosi kamu, tidak enak dilihat para tetangga di sini, biarkan dia merenungkan kesalahannya sendiri disana. Cukup!" kata Bapak.
"Gani..... Ayo pergi, kenapa masih disini? Yaallah Ganiiiii.... Kenapa jadi begini?" teriak Ibu Gani yang balik lagi karna menghampiri anak lelakinya.
"Siapa yang lakukan ini sama anak saya?! Kamu, pasti kamu kan yang melakukan ini pada Gani. Kurang ajar kamu ya... Dasar nggak tau diuntung, kurang ajar! Miskin!" kata ibu Gani dengan tatapan marah.
"Jaga ucapan kamu Ratih!!!!" Bentak Bapak Nisya dengan mata melotot marah.
"Apa? Kamu sama anak kamu itu sama aja, selalu melakukan kekerasan. Dulu, suamiku sekarang anakku. Mau mu apa, hah?!" kata Ibu Gani membuat beberapa orang disana terkejut, begitu dengan anak-anak keduanya.
"Oh kamu masih menyalahkan aku, padahal semua itu kesalahan kamu dan suami kamu itu? iya! Jangan lupa Ratih, Kakakku mati itu karna kamu! Karna suami kamu!" Teriak Bapak Gani kembali mengejutkan orang-orang. sementara Gani, Lika dan Syahrul pun tak kalah terkejutnya dengan mereka.
"Kamu, kalian berdua yang tega mempermainkan kakakku yang sudah begitu baik pada kalian. Bahkan kalian mengambil semua apa yang dia miliki! Rumah, mobil, swalayan. Itu semua milik kakakku, MILIK KAKAKKU RATIH!" kata Bapak Nisya.
"Asal kamu tau Gani, kalau bukan karna Nisya yang begitu mencintai kamu pada saat itu. Saya tidak sudi menikahi kalian, saya tidak rela anak saya hidup dengan anak dari lelaki yanh sudah menghancurkan kehidupan kakak saya! SAYA TIDAK SUDI!" kata Bapak Nisya dengan wajah memerah marah.
"Maksud bapak apa? Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang bapak katakan, kenapa bapak begitu membenci almarhum bapak saya? Kenapa pak? Apakah ada yang tidak kami ketahui selama ini?" tanya Gani dengan nafas memburu.
"Iyaa.. Banyak rahasia yang sama sekali tidak kamu ketahui, bahkan disaat pernihakan kalian saya sudah meminta Nisya untuk membatalkannya karna saya tidak menyukaimu. Tapi Nisya kekeh dengan pilihannya dengan alasan cinta!" kata bapak.
"Kamu tau. Kakak saya, dia wanita yang sangat baik. Dia bahkan mencintai dan menyayangi laki-laki yang bahkan menjadi tukang kebun dirumahnya, tapi kamu tau apa yang dia dapatkan?" kata bapak Nisya terhenti. Bapak Nisya melihat ke arah Ibu Gani yang wajahnya tampak panik dan sedikit berkeringat.
"Apa?" tanya Gani.
"Tanyakan pada ibumu apa yang sudah mereka perbuat pada kakakku sampai akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya! Dan yang harus kamu tau. Rumah, Minimarket, bahkan swalayan yang kalian miliki itu adalah milik kakakku. Dia yang merintis dari awal hingga bisa sebesar itu, tapi semuanya di rampas dengan paksa oleh seseorang. Begitu dia mendapatkan semuanya, dia membunuh kakak saya secara perlahan. Satu lagi, ini adalah hal yang paling saya tidak ingin beritahu pada kalian. Tapi agat kalian sadar diri saja, bapak kamu. Anton! Dia masih hidup. Dan kamu tau dimana?" kata bapak Nisya dengan mata berkaca-kaca dan penuh kemarahan.
"Dimana Pak?" tanya Gani dengan nada sedikit tidak percaya.
"Cukup! Hentikan Sabar. Sudah cukup! Tidak cukupkah kamu sudah membuka semuanya, bukankah Mas Anton sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya. Kenapa kamu sekarang justru mengungkit semuanya, Nisya bisa bersama dengan Gani karna mereka berjodoh dan kamu tidak bisa memisahkan mereka!" kata Ibu Ratih, ibu Gani.
"Kenapa? Kami takut kalau anak kamu tau dimana sekarang bapaknya berada? Bukannya dia suda bebas beberapa tahun yang lalu, tapi kenapa kamu masih menyembunyikannya?" kata Pak Sabar. Membuat bu Ratih membelalakan mata, dia bingung dari mana pak Sabar tau jika dia menyembunyikan suaminya itu.
"kamu....?"
" Kamu kaget karna aku tau? Hahaha aku tau semua Ratih, aku tau. Bahkan aku tau kalau saat ini Minimarket kamu sedang tidak baik-baik saja. Iyakan?" kata Pak Sabar.
"Apa aku boleh membuka satu hal?"lanjutnya kembali membuat mereka terdiam.
"Bapak... Ngapain masih lama-lama disana, tutup saja pintunya. Biarin aja mereka pergi, muak sekali rasanya melihat mereka dirumah ini!" kata Mama Nisya dengan tangan bersedekap didada.
"Bapak hanya mengingatkan perempuan tua ini atas apa yang dia lakukan pada Kak Yuli Ma, biar anaknya tau seburuk apa orangtuanya!" kata Pak Sabar pada Mama Nisya.
"Oh jadi dia Istrinya Anton yang kamu ceritakan itu? Padahal cantikan Kak Yuli kemana-mana dibanding dia. Cih!" kata Mama Nisya.
"Kalian... Kalian benar-benar keterlaluan. Kenapa kalian melakukan ini pada kami, apa kurang balasan yang kalian berikan pada Anton. Kenapa kalian tega!" kata Bu Ratih.
"Apa yang terjadi pada Anton adalah bentuk hukuman dari negara, tapi apa yang kami rasakan. Saya Rasakan atas kehilangan Kak Yuli tidak akan sembuh begitu saja, apalagi kamu enak-enakan hidup dalam apa yang dimiliki oleh Kak Yuli. Kamu pikir aku diam saja? Tidak! Asal kamu tau, minimarket retail yang tidak jauh dari kamu itu adalah milikku. Aku yang sengaja mendirikannya disana agar Minimarket kecilmu itu bangkrut!" kata Pak Sabar membuat Bu Ratih dan kedua anaknya membelalakan mata.
Bersambungggg.
*****
Nah... Aku udah nepatin janji ya Guys, tapi berhubung aku masih dalam kondisi kurang vit. jadi, naskah hari ini cukup sampai di sini aja ya guys. Insyaallah besok aku update lagi, tetap stay ya guysss.
Good Night... Love youuu moreee🥰