NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Penyembuhan Terkunci

Nama itu membuat Aelora lupa pada rasa lelahnya.

“Seraphiel.”

Daren mengucapkannya pelan, tetapi suara tersebut terasa lebih keras daripada semua bisikan yang memenuhi ruang penyembuhan.

Kael tidak bergerak. Hanya lengannya yang mengencang sedikit di sekitar tubuh Aelora.

Komandan Daren masih terbaring di atas meja batu. Kulitnya pucat, napasnya pendek, dan bekas luka di dadanya masih memancarkan garis keemasan. Eirna menahan bahunya ketika ia mencoba mengangkat kepala.

“Berbaring,” perintah tabib itu.

“Saya harus menjelaskan.”

“Kau bisa menjelaskan tanpa membuat jahitanmu terbuka.”

“Aku tidak merasa dijahit.”

“Karena aku belum sempat menjahitmu.”

Daren langsung kembali berbaring.

Aelora biasanya akan tertawa melihat seorang komandan bertubuh besar menyerah hanya karena tatapan Eirna. Sekarang ia tidak mampu. Kedua tangannya mencengkeram mantel Kael.

“Lelaki itu mengatakan namanya Seraphiel?”

Daren memandangnya. “Tidak secara langsung.”

“Maksudmu?”

“Dia memanggilmu anaknya.”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Seorang tabib yang sedang membersihkan alat menjatuhkan kain ke lantai. Orin berhenti menulis. Bahkan Piko yang berada dalam pelukan Aelora tidak bergerak.

Kael memandang pintu.

“Semua orang yang tidak berkepentingan keluar.”

Para pelayan dan prajurit yang tidak terluka segera meninggalkan ruangan. Beberapa tabib tetap tinggal karena Eirna membutuhkan bantuan. Orin menutup pintu, lalu berdiri di depannya.

Kael mendekati meja Daren.

“Ceritakan dari awal.”

Daren menarik napas hati-hati. “Setelah menerima laporan pergerakan pemburu gereja, saya memimpin pasukan menuju jalur utara. Kami berniat memeriksa desa-desa sebelum mereka mencapai wilayah dalam.”

“Berapa banyak pasukan yang ikut?”

“Dua belas.”

“Yang kembali?”

“Tujuh.”

Jari Aelora semakin kuat mencengkeram kain mantel.

Lima orang belum kembali.

Tidak ada yang perlu mengatakan kemungkinan terburuknya.

Daren melanjutkan, “Kami menemukan lelaki itu di dekat reruntuhan Jembatan Heron. Dia berlutut di tengah jalan. Kedua tangannya dirantai menggunakan logam suci. Satu sayapnya patah, sedangkan sayap lain seperti pernah dipotong dan tumbuh kembali.”

“Berapa jumlah sayapnya?” tanya Kael.

“Enam, kalau bekas luka di punggungnya juga dihitung.”

Aelora teringat bayangan laki-laki yang dirantai dalam pecahan cermin. Enam bekas sayap. Rambut putih. Darah emas.

“Wajahnya seperti apa?”

“Pucat. Rambutnya putih panjang.” Daren memandang Aelora. “Matanya emas.”

Aelora tanpa sadar menyentuh kelopak matanya sendiri.

“Dia terluka parah?”

“Sangat parah. Tapi dia masih bisa berdiri ketika pasukan kami mendekat.”

“Dan kau percaya begitu saja kepada malaikat yang muncul di tengah jalan?”

Daren mendengus lemah. “Tidak, Yang Mulia. Saya mengarahkan enam tombak ke tubuhnya.”

“Itu lebih masuk akal.”

“Dia tidak melawan. Dia hanya mengatakan bahwa kami terlambat.”

“Terlambat untuk apa?”

“Dia tidak menjawab. Dia menanyakan satu hal.”

Daren kembali memandang Aelora.

“Apakah Aeloria masih hidup?”

Nama itu terasa aneh sekaligus akrab. Bukan Aelora. Aeloria.

Nama yang mungkin diberikan sebelum Gereja Fajar menghapus sebagian hidupnya.

Aelora turun dari pelukan Kael sebelum dapat dihentikan. Kakinya goyah saat menyentuh lantai, tetapi ia berpegangan pada sisi meja.

“Apa lagi yang dikatakannya?”

Daren melihat Kael, meminta izin tanpa kata.

Kael mengangguk.

“Dia meminta kami membawa pesan. Katanya, jangan biarkan kau datang ke Katedral Fajar. Jangan melalui gerbang, cermin, atau jalur cahaya apa pun.”

Pesan yang sama dengan tulisan darah pada pecahan cermin.

Jangan datang melalui gerbang.

“Kenapa?” tanya Aelora.

“Karena mereka menyiapkan altar untuk darahmu.”

Eirna berhenti bekerja.

“Apa jenis altar?” tanyanya.

“Dia menyebutnya Altar Tiga Napas.”

Eirna memucat.

Kael melihat reaksinya. “Kau mengenalnya?”

“Hanya dari catatan lama. Altar itu membutuhkan tiga garis kekuatan untuk mengaktifkan satu pintu: darah langit, darah bumi, dan bayangan dari alam bawah.”

Pandangan semua orang beralih kepada Aelora.

Darah langit dan bumi ada dalam tubuhnya.

Bayangan dari alam bawah ada pada Kael.

“Asterion,” kata Aelora. “Dia masih berusaha membuka gerbang.”

Kael berdiri lebih dekat, seolah jarak satu langkah saja sudah terlalu jauh.

“Di mana lelaki bersayap itu sekarang?”

Wajah Daren berubah.

“Gereja membawanya.”

Aelora merasa lantai bergeser di bawah kakinya.

“Apa?”

“Pasukan mereka datang melalui lingkaran pemurnian. Kami mencoba membawa lelaki itu ke Nocthara, tetapi dia menyuruh kami mundur.”

“Kenapa kalian menurut?”

“Karena dia membuka rantainya sendiri dan menahan seluruh pasukan gereja seorang diri.”

Daren menutup mata beberapa detik untuk mengatur napas.

“Dia meminta kami menyelamatkan pasukan yang masih hidup. Saya menolak meninggalkannya. Kemudian seseorang menembakkan anak panah cahaya dari balik lingkaran.”

Tangan Daren bergerak menyentuh luka yang sudah tertutup.

“Anak panah itu ditujukan kepadanya,” katanya. “Saya mendorongnya.”

Itulah sebabnya Daren hampir mati.

Ia terkena anak panah yang seharusnya menembus Seraphiel.

Aelora menatap komandan itu. “Kenapa?”

Daren terlihat bingung. “Kenapa apa?”

“Kenapa kau melindunginya? Kau bahkan tidak tahu siapa dia.”

“Dia berdiri di antara pasukan gereja dan prajurit saya.”

“Dia malaikat.”

“Dan?”

“Kau iblis.”

Daren menatapnya sejenak, lalu berkata, “Saya pikir kita sudah sepakat bahwa sayap dan tanduk bukan ukuran apakah seseorang pantas diselamatkan.”

Aelora tidak menemukan jawaban.

Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang seharusnya mudah dipahami, tetapi dunia di luar istana terus membuktikan sebaliknya.

“Dia sungguh dibawa ke Katedral?” tanya Kael.

“Sebelum saya kehilangan kesadaran, saya melihat mereka mengikat lehernya. Mereka memanggilnya Pengkhianat Sayap Pertama.”

Aelora berbalik kepada Kael.

“Kita harus pergi.”

“Tidak.”

Jawabannya datang begitu cepat hingga hampir menimpa kata-kata Aelora.

“Dia memperingatkan kita.”

“Dan peringatannya mengatakan kau tidak boleh datang.”

“Kita bisa menyelamatkannya tanpa gerbang.”

“Kita belum tahu apakah lelaki itu benar Seraphiel.”

“Dia tahu nama Aeloria.”

“Nama dapat ditemukan.”

“Dia punya enam sayap.”

“Sayap dapat dibuat.”

“Dia melindungi pasukanmu!”

“Itu tidak membuktikan siapa dirinya.”

Aelora merasakan panas naik ke wajah.

“Kenapa kau tidak mau percaya?”

“Aku tidak percaya kepada siapa pun yang muncul tepat ketika musuh membutuhkanmu keluar dari istana.”

“Dia mungkin ayahku.”

Kalimat itu membuat para tabib menundukkan pandangan. Orin memandang buku catatannya. Daren berpura-pura tertarik pada langit-langit.

Kael tetap menatap Aelora.

“Aku tahu.”

“Tidak, kau tidak tahu.” Suara Aelora naik. “Kau sudah pernah bertemu Seraphiel. Kau tahu wajahnya. Kau bisa pergi dan memastikan.”

“Aku akan mengirim pengintai.”

“Pengintai tidak mengenalnya.”

“Aku mengenal cukup banyak ciri untuk menjelaskannya.”

“Berapa lama?”

“Beberapa jam.”

“Dalam beberapa jam mereka bisa memindahkannya ke Ruang Bawah Ketujuh.”

“Aelora.”

“Atau memotong sayapnya lagi.”

“Aelora.”

“Bagaimana kalau mereka membunuhnya?”

Cahaya tipis keluar dari mulut Aelora ketika ia mengucapkan kata terakhir.

Bukan api. Hanya embusan keemasan yang menghilang di udara.

Eirna segera mendekat dan menyentuh dahinya.

“Demammu naik.”

“Aku tidak peduli.”

“Aku peduli,” kata Kael.

“Aku tidak sedang bicara kepadamu.”

“Sayangnya aku tetap mendengar.”

Aelora menjauh dari tangan Eirna. Dunia mulai terasa terlalu terang. Bau obat, darah, dan logam memenuhi hidungnya.

“Aku akan pergi sendiri.”

Kael mengangkatnya sebelum ia sempat melangkah.

Aelora menendang udara.

“Turunkan aku!”

“Tidak.”

“Aku bukan bayi.”

“Tubuhmu berbeda pendapat.”

“Aku bisa berjalan.”

“Kau hampir jatuh saat berdiri.”

“Karena lantainya licin.”

“Lantainya kering.”

“Kalau begitu sepatuku jelek.”

Orin melihat sandal kain Aelora. “Sepatunya memang sedikit terlalu besar.”

Kael menoleh kepadanya.

Orin kembali menunduk pada buku.

“Namun bukan penyebab utama,” tambahnya.

Kael membawa Aelora menuju pintu.

“Aku belum selesai bicara dengan Daren.”

“Daren perlu dirawat.”

“Aku juga perlu jawaban.”

“Kau perlu tidur.”

“Aku membenci kata tidur.”

“Kalian berdua bisa membicarakannya setelah Putri meninggalkan ruangan,” kata Eirna. “Kalau dia tetap di sini, suhu tubuhnya akan terus naik karena marah.”

“Aku tidak demam karena marah.”

Cahaya kembali keluar dari mulutnya.

Kali ini berbentuk percikan kecil yang mendarat di pundak Kael. Kain mantelnya mengeluarkan asap.

Aelora melihatnya.

“Itu tidak sengaja.”

“Aku tahu.”

“Apakah panas?”

“Tidak.”

“Kau bohong.”

“Aku akan mengeluh nanti.”

Kael membawa Aelora keluar sebelum ia sempat melanjutkan protes.

Bisikan sudah menyebar ke seluruh sayap istana.

Para pelayan membungkuk saat Kael lewat, tetapi beberapa langsung menjauh begitu melihat Aelora. Seorang pelayan muda yang membawa nampan bahkan menempelkan punggung ke dinding untuk memberi jarak lebih lebar.

Aelora menyembunyikan tangannya di balik Piko.

“Mereka takut kepadaku.”

“Mereka baru saja mendengar cerita yang telah berubah lima kali sebelum mencapai lorong ini,” kata Kael.

“Cerita apa?”

“Bahwa kau membangkitkan Daren menggunakan darah malaikat.”

“Aku tidak menggunakan darah.”

“Versi lain mengatakan kau mencabut jiwanya dari dunia kematian.”

“Aku hanya menyuruhnya pulang.”

“Versi ketiga mengatakan kau memakan anak panahnya.”

Aelora mengangkat kepala. “Siapa yang percaya itu?”

“Pelayan dapur.”

“Bram pasti tidak.”

“Bram yang menambahkan bagian bahwa anak panahnya terasa seperti gula.”

Aelora menatapnya tidak percaya.

Sudut mulut Kael bergerak sedikit, tetapi tidak sampai menjadi senyum.

Setelah beberapa langkah, Aelora kembali melihat seorang penjaga menundukkan kepala terlalu cepat saat pandangan mereka bertemu.

“Aku tidak membangkitkan orang mati,” katanya.

“Aku tahu.”

“Jantung Daren cuma berhenti.”

“Aku berada di sana.”

“Eirna yang mencabut anak panah.”

“Benar.”

“Tapi mereka tetap takut.”

Kael tidak memberikan jawaban yang menenangkan.

“Mereka takut kepada hal yang belum mereka pahami.”

Aelora memainkan jahitan pada telinga Piko. “Kau juga?”

Langkah Kael melambat.

Aelora menunggu.

“Ya,” katanya.

Jawaban jujur itu terasa seperti sesuatu yang jatuh di dalam dada Aelora.

Ia menunduk.

Kael melanjutkan sebelum kesunyian berubah menjadi kesalahpahaman.

“Aku takut kau akan terus menghancurkan tubuhmu setiap kali seseorang terluka di depanmu.”

Aelora mengangkat wajah.

“Aku tidak takut kepada dirimu,” lanjut Kael. “Aku takut pada pilihan yang akan kaubuat saat merasa bersalah.”

“Apa bedanya?”

“Sangat besar.”

Mereka berbelok ke lorong yang tidak dikenali Aelora. Dindingnya terbuat dari batu hitam tanpa lukisan. Empat penjaga berdiri di depan sebuah pintu besi dengan rune ungu di sepanjang bingkainya.

“Ini bukan jalan ke kamarku.”

“Bukan.”

“Ke mana kita?”

“Ruang penyembuhan kerajaan.”

“Aku baru dari ruang penyembuhan.”

“Yang ini berbeda.”

Kael membuka pintu.

Ruangan di dalamnya kecil dan tanpa jendela. Hanya ada ranjang, meja obat, wastafel, satu rak berisi buku-buku tua, serta cermin bundar yang tergantung di atas baskom.

Rune perlindungan membentuk tiga lingkaran pada lantai.

Aelora melihat pintunya.

Tidak ada gagang pada sisi dalam.

“Kau mau mengunciku.”

“Untuk sementara.”

Aelora berhenti melawan. Perubahan itu membuat Kael lebih waspada daripada jika ia terus berteriak.

“Aku bukan tahanan.”

“Tidak.”

“Tahanan juga diberi kamar dan obat.”

“Ruangan ini dibuat untuk melindungi pasien dengan sihir yang tidak stabil.”

“Jadi sekarang sihirku tidak stabil?”

“Kau baru saja mengeluarkan cahaya dari mulut.”

“Itu cuma sedikit.”

“Cukup untuk membakar mantelku.”

“Katamu tidak panas.”

“Aku berbohong.”

Kael menurunkannya ke atas ranjang.

Aelora langsung turun lagi.

“Aku mau ikut pengintai.”

“Tidak.”

“Peta menuju Katedral mungkin hanya terbuka dengan darahku.”

“Kita tidak akan menggunakan peta.”

“Lalu bagaimana menemukan Ruang Bawah Ketujuh?”

“Dengan cara yang tidak menempatkanmu di atas altar.”

“Seraphiel mungkin tidak punya waktu.”

“Dan kau mungkin tidak punya tiga hari kalau terus memakai kekuatanmu seperti ini.”

Aelora menatapnya. “Tiga hari?”

Kael diam.

Aelora langsung memahami bahwa ia mengatakan terlalu banyak.

“Apa yang terjadi dalam tiga hari?”

“Eirna masih memeriksa.”

“Jangan bohong.”

“Aelora—”

“Apa yang terjadi?”

Kael mengusap wajahnya.

“Segel di tubuhmu rusak lebih cepat setelah ritual keluarga. Cahaya malaikat dan Umbra sedang mencari bentuk baru. Kalau keduanya gagal menyatu, tubuhmu bisa mulai menolak salah satunya.”

“Yang mana?”

“Kita belum tahu.”

“Dan obatnya ada di Katedral.”

“Menurut pesan yang belum terverifikasi.”

Aelora memukul dadanya sendiri dengan telapak tangan. Cahaya di balik kulitnya berdenyut.

“Kalau ini membakarku sebelum pengintaimu kembali?”

Kael menangkap tangannya sebelum ia memukul lagi.

“Aku tidak akan membiarkannya.”

“Bagaimana?”

Ia tidak menjawab.

Bayangan Kael terlihat tipis pada dinding. Retakan gerbang tadi melemahkannya. Luka bakar masih tersembunyi di bawah lengan baju. Mahkota Nocthara bahkan terbelah setelah ritual Aelora.

Kael sendiri hampir tidak berdiri dengan kekuatan penuh.

Namun ia masih mencoba menahan semua bahaya seorang diri.

“Aku bisa membantu,” kata Aelora lebih pelan.

“Kau baru saja menggunakan sihir yang tidak kaukenal untuk menarik Daren kembali.”

“Aku menyelamatkannya.”

“Dengan menghabiskan hampir seluruh tenaga hidupmu.”

“Dia hidup.”

“Dan kalau harga berikutnya adalah nyawamu?”

Aelora terdiam.

Kael memegang kedua bahunya.

“Kau tidak bertanggung jawab menyelamatkan semua orang.”

“Aku bertanggung jawab.”

“Tidak.”

“Daren diserang karena mencari informasi untukku.”

“Itu tugas yang dia pilih.”

“Mahkotamu retak karena melindungiku.”

“Itu pilihanku.”

“Orin hampir mati. Ryn dikutuk. Para prajurit di hutan terluka. Semua orang terus memilih menderita untukku.”

Suara Aelora pecah pada kata terakhir.

Air matanya turun tanpa sempat ditahan.

“Dan pada akhirnya kalian semua mati.”

Kael membeku.

Ruangan seolah menjadi lebih sempit.

Aelora menutup mulut menggunakan kedua tangan, tetapi kata-kata itu sudah keluar.

Kael berjongkok di depannya.

“Siapa yang mati?”

Aelora menggeleng.

“Aelora.”

“Aku tidak mau bicara.”

“Kau baru saja mengatakan kami semua mati.”

“Itu tidak penting.”

“Bagiku penting.”

Aelora mundur sampai betisnya menyentuh ranjang.

Kael tidak mengejar, tetapi tatapannya tidak melepaskan wajahnya.

“Daren mati?” tanyanya.

Aelora menggigit bibir.

“Nira?”

Air matanya bertambah.

“Ryn?”

“Berhenti.”

“Orin?”

“Aku bilang berhenti.”

“Dan aku?”

“Aku tidak mau bicara!”

Cahaya meledak dari tubuh Aelora.

Gelombangnya menghantam Kael dan mendorongnya satu langkah. Rune di lantai menyala putih, menyerap kekuatan sebelum dinding pecah. Retakan kecil tetap muncul di dekat langit-langit.

Aelora berdiri di tengah lingkaran dengan napas tersengal.

Kael kembali mendekat perlahan, kedua tangannya terlihat agar tidak menakutinya.

“Aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang.”

“Kau tetap akan mengunciku.”

“Ya.”

Aelora menatapnya dengan sakit hati.

Kael menyeka air mata dari pipinya menggunakan ibu jari.

“Bencilah aku kalau itu membuatmu tetap berada di sini.”

“Aku tidak membencimu.”

“Ya,” katanya pelan. “Itu yang membuat pintu ini lebih sulit ditutup.”

Kael berdiri.

Ia berjalan menuju pintu.

Aelora tidak mengikutinya.

Tidak memanggilnya.

Tangannya hanya memeluk Piko begitu erat sampai boneka itu terjepit di dadanya.

Kael berhenti di ambang pintu.

“Eirna akan datang. Aku pergi ke ruang strategi untuk mengirim pasukan mencari lelaki itu.”

“Seraphiel,” kata Aelora. “Namanya Seraphiel.”

Kael mengangguk.

“Apakah kau akan menyelamatkannya?”

“Aku akan memastikan siapa dia.”

“Itu bukan pertanyaanku.”

Kael melihat wajah anak yang baru saja memilih memanggilnya ayah, tetapi sekarang memandangnya seperti seseorang yang mungkin kembali mengambil pilihan darinya.

“Kalau dia bukan ancaman bagimu,” jawabnya, “aku akan membawanya pulang.”

“Dan kalau kau menganggap dia ancaman?”

Kael tidak menjawab.

Pintu menutup.

Rune pengunci menyala.

Bunyi logam terdengar dari luar.

Aelora memandang pintu sampai langkah Kael tidak lagi terdengar.

“Dia melakukan itu karena takut.”

Suara kecil muncul dari bawah ranjang.

Aelora menunduk.

Dua mata ungu menyala dalam kegelapan.

Seekor kucing kecil terbuat dari bayangan merangkak keluar. Tubuhnya tidak sepenuhnya padat. Ujung ekornya berubah menjadi asap, sedangkan salah satu telinganya memiliki sobekan kecil.

Aelora mengenalinya.

“Kau.”

Kucing yang menuntunnya di Hutan Hitam duduk dan menjilat kaki depannya.

“Aku senang kau masih memiliki ingatan pendek yang berfungsi.”

Aelora turun dari ranjang. “Kau bisa bicara?”

“Aku sudah bisa bicara sebelum kau lahir.”

“Kenapa dulu diam?”

“Kau sedang dikejar serigala. Bukan waktu yang baik untuk memperkenalkan diri.”

Piko bergerak di tangan Aelora.

Kucing itu memandang boneka tersebut.

“Dan benda itu terlalu banyak bicara untuk satu rombongan.”

“Namamu siapa?”

Kucing bayangan berpikir sebentar, seakan pertanyaan sederhana itu membutuhkan pertimbangan.

“Milo.”

Nama tersebut membuat sesuatu bergerak dalam ingatan Aelora.

Milo berdiri di atas tembok istana yang terbakar.

Milo menggigit tangan seseorang agar Aelora dapat melarikan diri.

Milo menghilang menjadi asap saat Gerbang Tiga Dunia runtuh.

Aelora berlutut di depannya.

“Kau juga mati.”

Milo berhenti menjilat kaki.

“Itu cara menyapa yang buruk.”

“Aku pernah melihatmu mati.”

“Banyak orang pernah melihatku mati. Sebagian besar salah.”

Aelora menyentuh kepalanya. Tangannya melewati sedikit asap sebelum menemukan bulu yang dingin.

“Apakah Kael tahu aku kembali dari masa depan?”

Milo menurunkan telinga.

“Dia tahu ingatanmu bukan mimpi.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kau menyebut tempat, senjata, dan kematian yang belum terjadi.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Milo berjalan menuju ranjang, lalu melompat ke atasnya.

“Aku tidak bisa menjawab semua hal.”

“Kenapa semua orang di istana ini memiliki rahasia?”

“Karena istana tanpa rahasia hanya bangunan besar dengan pajak tinggi.”

Aelora tidak tertawa.

Milo menggulung ekor di sekitar kakinya.

“Kael tidak menguncimu karena menganggapmu monster.”

“Dia tetap mengunciku.”

“Benar.”

“Kau seharusnya membelanya.”

“Aku kucing. Aku tidak wajib membela keputusan buruk manusia, iblis, atau malaikat.”

“Aku kira kau bayangan.”

“Itu alasan tambahan.”

Aelora duduk di ujung ranjang.

Ruangan itu terlalu sunyi. Tanpa jendela, ia tidak tahu apakah di luar masih sore atau sudah malam. Cahaya rune membuat kulitnya terlihat pucat.

Pandangannya jatuh pada cermin bundar di atas wastafel.

Kael memindahkannya ke ruangan aman setelah semua masalah yang terjadi melalui cermin.

Namun masih ada cermin di sini.

“Milo.”

Kucing itu membuka satu mata.

“Kau tidak terlihat di kaca.”

Milo langsung berdiri.

Aelora memandang pantulan ruangan. Ranjang terlihat. Rak buku terlihat. Aelora dan Piko juga terlihat.

Tidak ada Milo.

“Menjauh,” katanya.

Permukaan cermin beriak.

Pantulan Aelora berubah.

Rambutnya memanjang sampai pinggang. Tubuhnya tumbuh lebih tinggi. Gaun anak-anak berubah menjadi pakaian perang berwarna hitam-putih yang robek pada beberapa bagian.

Dua sayap besar muncul di punggungnya.

Satu putih.

Satu hitam.

Ujung keduanya terbakar.

Aelora remaja berdiri di dalam kaca.

Wajahnya kurus dan dipenuhi luka kecil. Darah mengalir dari pelipisnya. Kedua matanya merah karena terlalu lama menangis.

Aelora kecil turun dari ranjang.

“Itu aku.”

Milo melompat dan berdiri di depannya.

“Jangan mendekat.”

Versi remaja Aelora menempelkan kedua telapak tangan pada kaca.

Bibirnya bergerak.

Awalnya tidak ada suara.

Kemudian retakan muncul di sekitar jemarinya, dan bisikan lemah berhasil menembus.

“Aelora.”

“Apakah kau dari masa depan?”

Remaja itu mengangguk cepat.

Air mata mengalir di wajahnya.

“Dengarkan aku.”

Lingkaran cahaya keluar dari cermin dan melemparkan Milo ke samping. Kucing bayangan itu mendarat dengan tubuh membesar, giginya terlihat.

“Aelora, mundur!”

Namun Aelora kecil tidak bergerak.

Ia menatap wajah yang dikenalnya lebih baik daripada siapa pun.

Wajahnya sendiri.

“Apa yang terjadi?”

Versi remaja itu melihat ke belakang. Seolah ada seseorang mengejarnya dari sisi lain.

“Dia tahu semuanya.”

“Siapa?”

“Dia tahu kenapa kau kembali.”

Permukaan cermin mulai menghitam dari tepi.

Aelora mendekat satu langkah.

“Siapa yang tahu?”

Remaja itu memukul kaca.

Retakannya semakin lebar.

“Aelora, jangan biarkan dia berbohong kepadamu lagi.”

“Siapa?”

Waktu di dalam cermin hampir habis. Tubuh remaja itu mulai terpotong oleh garis-garis hitam.

Ia membuka mulut untuk terakhir kalinya.

“Jangan percaya Kael.”

Cermin pecah.

Serpihannya tidak jatuh. Semua pecahan melayang di udara, masing-masing memantulkan wajah Aelora remaja dengan ekspresi berbeda.

Menangis.

Marah.

Ketakutan.

Berlumur darah.

Dari luar pintu terdengar langkah cepat.

“Aelora?”

Suara Kael.

Rune pengunci bergetar.

Kael mencoba membuka pintu, tetapi cahaya putih menyebar pada bingkainya dan menolak sihirnya.

“Aelora, jawab aku.”

Aelora mundur sampai punggungnya menyentuh ranjang.

Milo berdiri di depannya, bayangannya melebar seperti sayap pelindung.

“Jangan percaya semua yang memakai wajahmu,” katanya.

“Tapi dia tahu aku kembali.”

“Musuhmu juga tahu.”

“Dia menangis seperti aku.”

“Air mata bisa ditiru.”

Di luar, Kael menghantam pintu sekali.

“Aelora!”

Aelora memandang pecahan cermin terbesar.

Versi remajanya masih terlihat di sana. Kali ini tidak bergerak. Ia hanya menatap Aelora kecil dengan mata yang dipenuhi luka lama.

Lalu bibirnya membentuk dua kata tanpa suara.

Dia ingat.

Aelora menatap pintu yang terkunci.

Untuk pertama kalinya sejak Kael menemukannya di Hutan Hitam, ia tidak menjawab ketika lelaki itu memanggil namanya.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!