Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028
Kertas itu bisa dicuri, tetapi dua hari setelah RUPS, rasa lelah di tubuh Kiana tetap tidak ikut hilang.
Pagi tanggal 18 Juli, ia duduk di ruang kerja kecil apartemen dengan salinan permohonan dokumen Catatan Sipil di satu sisi meja dan jadwal pertemuan notaris di sisi lain. Kopinya sudah dingin. Layar laptop masih menampilkan revisi notulen RUPS, terutama bagian yang mencatat nomor register pernikahannya dengan Hans.
Semua terlihat terkendali.
Tetapi dadanya masih terasa seperti baru keluar dari ruang rapat yang penuh asap.
Ponselnya bergetar.
Vani mengirim voice note, suaranya terdengar terlalu segar untuk seseorang yang semalam masih mengancam staf hukum Hendro lewat telepon.
"Kia, lo jangan pura-pura kuat sendirian terus. Dokumen udah aman jalurnya, notaris udah gue pegang, CCTV juga masih kita kejar. Hari ini lo keluar sebentar. Datengin pos sepupu gue. Lihat dunia Hans. Kadang obat paling manjur itu bukan kopi, tapi lihat orang yang bikin napas lo normal."
Kiana menatap voice note itu beberapa detik.
Datang ke tempat kerja Hans?
Selama ini Hans selalu muncul di hidupnya seperti garis yang tegas. Di depan api. Di dapur apartemen. Di parkiran saat ia hampir ambruk. Di meja makan dengan sepiring sup hangat dan kalimat pendek yang membuat dunia tidak terlalu bising.
Tetapi Kiana belum pernah melihat dunia tempat Hans menjadi dirinya sendiri tanpa dirinya.
Satu jam kemudian, mobil Grab yang ia pesan berhenti di depan Pos Damkar Tanjung Priok.
Bangunannya jauh dari bayangan kantor pemerintah yang rapi. Cat temboknya sudah pudar oleh panas Jakarta Utara. Di satu sisi, lapangan latihan terbuka memantulkan cahaya matahari. Di dekat garasi, sebuah mobil pemadam tua berdiri dengan bodi merah kusam, selangnya digulung rapi di samping ban yang penuh bekas debu. Bau solar, karet basah, dan nasi bungkus bercampur dengan udara asin dari arah pelabuhan.
Kiana turun sambil merapikan kemeja putihnya.
Tidak ada marmer.
Tidak ada lobi dingin.
Tidak ada resepsionis yang tersenyum karena takut salah menyebut nama keluarga.
Di sini, seorang pemadam berseragam kaus hitam berjalan lewat sambil menggigit gorengan, lalu berhenti begitu melihatnya.
"Cari siapa, Kak?"
Kiana membuka mulut, tetapi sebelum ia sempat menjawab, pemadam itu menatap wajahnya lebih lama. Matanya melebar.
"Eh. Ini... Kakak yang itu ya?"
"Yang itu?" Kiana mengulang, bingung.
Dari arah garasi, seorang pemadam muda lain menoleh. "Yang mana?"
"Yang fotonya pernah Bos tunjukin waktu ambil cuti nikah!"
Dalam tiga detik, dua kepala muncul dari balik mobil pemadam. Seseorang yang sedang mencuci helm mengangkat dagu. Seorang sopir paruh baya di dekat bangku kayu ikut berdiri.
Lalu suara pertama meledak.
"Nyonya datang!"
"Wih, akhirnya!"
"Bos, istrimu nyamperin ke pos!"
Kiana merasa panas langsung naik sampai telinganya. Ia terbiasa menghadapi direksi tua, komisaris yang menyindir, dan Jovian Loe yang menatapnya seolah hidupnya masih bisa diatur. Tetapi lima pemadam yang berseru riang di halaman pos membuatnya hampir ingin mundur ke dalam mobil.
"Saya cuma..." Ia berhenti, tidak tahu harus menjelaskan apa.
Seorang pria muda bertubuh tegap mendekat dengan senyum tertahan. Wajahnya cokelat terbakar matahari, matanya tajam tetapi ramah.
"Rio," katanya, memperkenalkan diri. "Rio Santoso. Anak buah Bos."
"Kiana," jawab Kiana.
Rio melirik ke arah teman-temannya yang masih menyeringai. "Maaf, Kakak. Mereka jarang lihat Bos punya ekspresi manusia. Jadi begitu tahu istrinya datang, semua langsung kurang ajar."
"Rio!" seseorang dari belakang protes. "Kok kita yang dibawa-bawa?"
Sopir paruh baya yang tadi berdiri menepuk bahu pemadam itu. "Sudah, jangan bikin tamu malu. Kak Kiana, saya Wardi. Di sini orang panggil Pak Wardi. Duduk dulu, panas begini nanti kepala pening."
"Terima kasih, Pak."
Pak Wardi membawa Kiana ke bangku panjang dekat ruang makan kecil. Meja kayunya penuh gelas plastik, botol kecap, termos air panas, dan satu panci stainless yang tutupnya sedikit terbuka. Dari dalamnya keluar aroma semur daging sapi, bawang manis, dan lada.
"Makan dulu, Kak," kata Pak Wardi. "Bos masak dari pagi."
Kiana hampir mengira ia salah dengar. "Hans yang masak?"
Rio menarik kursi di seberang, wajahnya berubah bangga seperti sedang memamerkan prestasi regu. "Kalau Bos jaga dapur, kami hidup. Kalau bukan Bos, paling mentok mi instan sama tempe yang gosong sebelah."
"Jangan buka aib pos," gumam Pak Wardi, tetapi tangannya sudah menyendokkan nasi dan semur ke mangkuk kecil.
Kiana menerima mangkuk itu. Uap hangat menyentuh wajahnya. Potongan dagingnya tidak mewah, tetapi empuk. Kuahnya manis gurih, seperti masakan rumahan yang tidak dibuat untuk dipuji, melainkan untuk memastikan semua orang cukup kuat menjalani giliran jaga.
Ia teringat catatan Hans di meja makan.
Makan dulu. Langit belum runtuh.
Ternyata kalimat itu bukan hanya untuknya. Di tempat ini, Hans juga menjaga orang lain dengan cara yang sama.
"Bos lagi latihan?" tanya Pak Wardi kepada Rio.
Rio mengangguk ke arah lapangan. "Masih. Dari tadi belum turun."
Kiana mengikuti arah tatapannya.
Di bawah matahari yang mulai meninggi, Hans bergantung pada palang besi. Kaos hitamnya menempel di punggung, basah oleh keringat. Lengannya terangkat, otot bawah kulit bergerak setiap kali ia menarik tubuhnya naik. Gerakannya tidak cepat untuk pamer. Justru terlalu stabil, terlalu bersih, seolah setiap tarikan sudah dihitung sejak sebelum tubuhnya bergerak.
Satu.
Dua.
Tiga.
Pemadam lain di dekatnya sudah terengah-engah. Hans tetap bernapas pendek dan teratur.
Kiana tidak sadar sendoknya berhenti di udara.
Ia pernah melihat Hans menggendongnya keluar dari api. Pernah melihat bahunya ketika pria itu terluka. Pernah melihat punggungnya saat memasak di dapur apartemen. Namun di lapangan ini, tubuh Hans bukan hanya kuat.
Tubuh itu seperti pernah diajari untuk bertahan hidup saat orang lain tidak sanggup lagi berdiri.
Hans turun dari palang, mengambil tali yang menggantung dari menara latihan, lalu memanjat. Telapak tangannya mencengkeram tali tanpa ragu. Kaki dan pinggangnya bergerak dalam ritme pendek, rapat, efisien. Dalam beberapa detik ia sudah mencapai tanda paling atas, menepuk besi, lalu turun dengan kendali yang sama tenangnya.
"Bos memang begitu," Rio berkata pelan, mungkin menyadari Kiana terlalu diam. "Kalau latihan, kami cuma bisa ikut sebisanya."
"Dia selalu sekuat itu?"
Rio tidak langsung menjawab.
Di lapangan, Hans mulai lari membawa beban. Dua selang besar dikaitkan di pundaknya. Sepatunya menghantam tanah dengan suara berat, tetapi langkahnya tidak berantakan. Setiap belokan tajam diambil dengan bahu rendah, kepala tetap menghadap depan.
"Kakak," Rio menurunkan suara, "saya nggak tahu cerita lengkapnya. Di pos, Bos nggak pernah banyak cerita."
Kiana menoleh.
"Tapi orang biasa nggak bergerak seperti itu," lanjut Rio. "Orang yang cuma latihan damkar juga nggak begitu. Bos itu... kayak pernah datang dari tempat yang lebih keras."
Jantung Kiana berdetak lebih lambat, justru karena kalimat itu terlalu dekat dengan dugaan yang selama ini ia simpan.
"Militer?"
Rio mengangkat bahu, tetapi matanya tidak bercanda. "Saya nggak bilang apa-apa. Kalau Bos dengar, saya disuruh push-up sampai magrib."
Pak Wardi yang sedang menuang teh tawar ikut mendengus. "Rio, mulutmu itu lebih bahaya dari kompor bocor."
"Saya cuma bilang Kakak jangan kaget kalau Bos agak beda."
Kiana menatap Hans lagi.
Agak beda.
Kata itu terlalu kecil untuk pria yang selalu tidur seperti prajurit siap dipanggil, menyusun selimut dengan lipatan presisi, menolak makanan tertentu seperti tubuhnya masih membawa aturan medan, dan memandang setiap pintu seolah dari sanalah bahaya pertama akan masuk.
Di ujung lintasan, seorang pemadam muda tersandung saat menarik selang. Hans berhenti seketika. Ia tidak berteriak. Ia hanya bergerak mendekat, mengambil posisi di samping pemadam itu, membetulkan pegangan, lalu menepuk bahunya dua kali.
"Ulangi. Napas dulu."
Suaranya tidak keras, tetapi semua orang menurut.
Kiana pernah mendengar nada itu di apartemen saat Hans berkata, "Duduk." Saat ia berkata, "Makan." Saat ia berkata, "Jangan lawan sendirian."
Perintah yang terdengar dingin bagi orang lain, tetapi anehnya selalu membuat tubuhnya merasa aman.
"Nyonya," salah satu pemadam di dekat garasi tiba-tiba berseru lagi, "kalau mau foto Bos, sekarang bagus. Keringatnya mahal!"
Tawa langsung pecah.
Kiana tersedak teh.
Rio menutup wajah dengan satu tangan. "Ya Allah, malu-maluin."
Hans yang sedang berdiri di tengah lapangan akhirnya menoleh.
Untuk sesaat, semua suara seperti turun volumenya.
Pandangan Hans menemukan Kiana di bangku panjang dekat ruang makan. Tangannya masih memegang sarung tangan latihan. Rambut pendeknya basah di pelipis. Dadanya naik turun, tetapi wajahnya yang biasanya datar benar-benar berhenti bergerak.
Kiana ikut membeku.
Ia tiba-tiba sadar ia datang tanpa memberi tahu. Sadar ia duduk di posnya, makan masakannya, didengar oleh teman-temannya saat mereka memanggilnya istri. Sadar pipinya masih panas dan mungkin semua orang bisa melihatnya.
Lalu sudut bibir Hans naik sedikit.
Hanya sedikit.
Tetapi cukup untuk membuat Rio bersiul, Pak Wardi tertawa, dan seorang pemadam di dekat mobil tua berseru, "Wah, Bos senyum! Catat tanggalnya!"
Hans mengalihkan pandangan tajam ke arah mereka.
Tawa langsung pecah lebih keras.
Ia berjalan mendekat dengan langkah yang masih menyimpan sisa latihan. Di depan Kiana, Hans berhenti. Bayangannya jatuh menutupi ujung sepatu Kiana dari matahari.
"Kenapa tidak bilang mau datang?"
Kiana mengangkat mangkuk kecilnya sedikit, seperti bukti bahwa ia diterima dengan sah. "Kalau bilang, kamu mungkin melarang."
"Tidak."
"Benar?"
Hans menatap semur di mangkuknya, lalu ke wajahnya. Suaranya turun setengah nada. "Kalau kamu bilang, saya masak lebih banyak."
Tawa di belakang mereka berubah menjadi sorakan yang lebih ribut.
Kiana menunduk, menggigit bibir supaya tidak tersenyum terlalu jelas. Tetapi hangat itu tetap merambat dari dadanya ke ujung jari.
Di Bintang Grup, orang mengukur nilainya dari angka saham, nama keluarga, dan dokumen yang bisa dicuri.
Di Pos Damkar Tanjung Priok, orang-orang yang baru dikenalnya menyisihkan kursi, menyodorkan semur, dan memanggilnya istri Hans tanpa ragu.
Untuk pertama kalinya sejak RUPS, Kiana merasa kakinya benar-benar menyentuh tanah.
Namun ketika ia kembali melihat bekas tali di telapak tangan Hans, senyum itu perlahan menipis.
Orang seperti Hans tidak dibentuk hanya oleh api.