[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA MAMA
10 Tahun Yang Lalu
"Raditya bertemu dengan Bianca pertama kalinya, itu di kantor. Saat itu, Bianca adalah mahasiswi magang di kantornya Radit. Bianca yang notabennya adalah gadis yang cantik juga ramah, berhasil membuat Radit jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tidak dapat dipungkiri, Bianca adalah cinta pertamanya. Raditya tak pernah jatuh cinta sebegitu hebatnya seperti cinta yang dia rasakan kepada Bianca. Cinta yang benar-benar tulus.
Tiga bulan berlalu, Raditya memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Bianca. Awalnya Bianca menolaknya, karena alasan dia ingin fokus kuliah dan mengejar cita-citanya dulu. Namun karena kegigihan Raditya, Raditya akhirnya bisa menaklukan hati Bianca dan mereka akhirnya berpacaran.
Tahun pertama semua terlihat biasa saja. Raditya sangat bahagia mendapatkan Bianca. Semua dia lakukan agar Bianca bahagia dan tidak pergi dari hidupnya. Dia bahkan pernah berjanji, akan memberikan seluruh hidupnya kepada Bianca. Ya, seluruhnya.
Namun di tahun ke dua, Bianca menghilang secara tiba-tiba. Raditya mencoba untuk menghubunginya namun ternyata semua sia-sia.
Dia mencari Bianca ke sana kemari, namun Bianca seolah hilang di telan bumi. Setelah lelah mencari dan menunggu Bianca selama lebih kurang tiga bulan lamanya, Raditya baru mendapatkan kabar jika Bianca sudah melanjutkan studinya ke Singapura.
Raditya sempat bahagia. Dia mencoba menghubungi Bianca melalui media sosial, berharap Bianca akan menyambutnya seperti dulu. Namun tak pernah ia dapatkan. Sampai Radit frustasi dalam menunggu balasan chat Bianca. Dia bahkan nyaris gila karena cintanya kepada Bianca. Sebab mereka sudah membicarakan masalah pernikahan. Konsep apa yang nanti diusung. Bulan madu kemana. Itu semua sudah Raditya susun dengan sangat rapi. Bahkan Raditya rela menabung demi bisa mewujudkan pernikahan impian yang Bianca inginkan.
Masuk di tahun ke tiga, Bianca juga belum bisa dihubungi. Raditya marah. Kecewa. Menjerit. Namun tak juga dapat mengobati rasa sedihnya yang dalam. Rasa sedih akan dikhianati. Dibohongin. Diabaikan. Ditinggalkan. Yang setiap hari, terus menggerogoti hati dan pikirannya.
Dia mulai putus asa, sampai dia berada di titik terendah dalam hidupnya.
Meminum rac*n serangga
Ya, Raditya pernah berada dalam kondisi sangat mengenaskan. Dia nyaris mati sia-sia. Mati karena cinta adalah hal yang sangat bodoh bukan?
Raditya lalu dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Antara hidup dan mati. Untungnya...dia tidak meneguk rac*n itu dalam kadar dosis yang banyak, jadi nyawanya masih bisa diselamatkan. Meski dia harus melewati masa kritis yang cukup lama. Hampir satu bulan lamanya. Setelah satu bulan, dia akhirnya bisa kembali ke rumah.
Namun tak sampai disitu, meski Raditya sudah kembali ke rumah, dia tetap hidup dalam nestapa. Hari-hari yang dia lalui hanya dengan duduk diam menyendiri. Raditya sangat berbeda, dia yang dulu ceria dan banyak bicara tiba-tiba berubah menjadi seperti seonggok raga yang tak berjiwa.
Raditya hancur, sehancur-hancurnya. Yang dia tanya setiap hari hanyalah Bianca. Bianca dan Bianca. Tak ada yang lain.
Sebegitu besar rasa cintanya pada Bianca sampai dia tak bisa menerima kenyataan jika Bianca sudah pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mama dan Papa sudah nyaris menyerah saat itu. Hingga Papa jatuh sakit karena melihat anak laki satu-satunya yang Papa punya, hancur hidupnya hanya karena seorang wanita. Kami juga sudah mencari kesana kesini cara supaya Radit bisa bangkit lagi. Bahkan sampai lima psikolog juga psikiater kami datangi, tak ada yang berhasil. Sampai seorang sahabat Papa datang menjenguk dan bilang :
OBAT CINTA ADALAH CINTA ITU SENDIRI
Nikahkan dia. Dia akan sembuh. Ucap sahabat Papa.
Kami pun lalu mengikuti sarannya dan mencarikan calon untuk Radit. Namun, karena kondisi Raditya yang seperti itu, tak ada wanita yang mau. Mereka semua menolak dengan alasan Raditya itu sakit jiwa (gila).
Hingga kami bertemu kamu Lis... "
"Kamu hadir di hidup kami bak dewi penyelamat bagi Raditya."
Aku ternganga mendengar cerita Mama. Aku Rasa tak percaya pada apa yang mama kisahkan membuat aku mendengus, membuang nafas secara kasar.
"Saat Papa harus menerima donor darah dan kamu hadir di sana, mama melihat ada ketulusan di hatimu, Kalista."
"Karena itu mama dan papa memutuskan untuk datangi rumahmu saat itu dengan alasan untuk berterima kasih karena kamu, sudah mau mendonorkan darahmu kepada papa. Padahal sebenarnya, kami hanya mau tahu dimana rumahmu. Kami ingin menikahkan kamu dan Radit dengan niatan kamu bisa menjadi obat bagi jiwa Radit yang sedang sakit."
Aku menghela nafas dalam. Pernikahan macam apa itu? Aku? Aku menjadi obat untuknya?
"Mama tahu tidak ma? Tujuh tahun aku menjalani rumah tangga dengan tidak bahagia. Aku menderita ma? Aku terluka. Setiap hari.... " Aku mulai menangis terisak.
"Mama bilang, mama menikahkan aku dan mas Radit agar aku menjadi obat bagi jiwa mas Radit yang sakit. Tapi kenyataannya ma... dia tidak pernah sembuh, namun justru aku yang ikut-ikutan sakit."
"Setiap hari aku harus menerima bentakannya, amukannya, emosinya yang kadang up and down dengan tiba-tiba. Sulit aku tebak apakah dia akan marah atau senang, ma."
"Ini bukan pernikahan ma. Ini penipuan namanya. Mama dan Papa sudah menipu Kalista dengan sangat jahat. Apa mama pikir Kalista ini boneka, ma?" Kataku setengah berteriak dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Bagaimana tidak, orang yang sudah aku anggap sebagai orangtua ku sendiri, tega mempermainkan hidupku. Tujuh tahun lamanya.
Aku kira, mas Radit mau menikah denganku karena dia benar-benar menyukaiku, tenyata...
"Mama tahu Kalista, kamu pasti marah dan benci pada mama dan papa. Maafkan mama kalista. Mama tidak tahu kalau kamu akan semenderita ini." Mama lalu turun ke bawah tepat di dekat kakiku. Dia memeluk kakiku seraya menangis dan meminta maaf berulang-ulang.
Seolah harga diriku sedang di pertaruhkan saat ini. Namun nuraniku juga tak setega itu melihat mama bersujud di kaki ku. Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?
Ku pejamkan mataku beberapa saat. Sungguh pilihan yang sangat sulit antara melanjutkan pernikahan ini atau aku menyerah saja. Sebab bukan hal yang mudah menggeser kedudukan Bianca dari dalam hati mas Radit yang sudah terlanjur jatuh cinta yang teramat dalam padanya? Dan aku, apa aku harus terus berusaha untuk membuat suamiku sendiri jatuh cinta padaku bahkan sampai aku menua? Ah, bodoh sekali aku.
"Maaf ma, tapi sepertinya Kalista akan... "
"Akan apa Kalista? " Papa tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah kami.
"Ayo bangun Ma... " pinta Papa seraya memegang tangan mama. Mama masih terisak. Begitu juga aku. Siapa yang tidak akan menangis menghadapi keadaan pelik seperti ini?
"Apa kamu sampai hati melihat kami yang sudah tua ini, menanggung kesedihan karena kamu tinggalkan, Kalista?"
"Apa kamu sampai hati, anak-anakmu... menjalani hidup, dalam keadaan orang tua mereka yang bercerai? Bukankah kamu sudah merasakan bagaimana memiliki orang tua yang berpisah, Kalista?"
Aku mengarahkan pandanganku kepada Papa. Benar, kata-kata Papa tidak ada yang salah, namun bukan berarti aku tidak bisa melakukannya. Aku memang tahu bagaimana sakitnya melihat perceraian kedua orang tuaku, bahkan di saat aku sedang manja-manjanya pada mereka. Namun keluarga yang sehat, jauh lebih dibutuhkan oleh psikis anak ketimbang keutuhan orangtuanya.
"Keputusan Kalista sudah bulat Ma, Pa. Izinkan Kalista mundur dari sandiwara ini. Kalista juga berhak bahagia di sisa umur Kalista. Kalista juga ingin merasakan bagaimana pernikahan yang di dalamnya ada cintai setulus hati, bukan keterpaksaan."
"Tidak Kalista... Jangan tinggalkan Raditya, Mama mohon... Jangan Kalista. Mama yakin, suatu hari kamu akan dapatkan cintanya Radit. Seutuhnya." Mama memegang wajahku dengan kedua tangannya. Namun dengan cepat aku lepaskan.
"Tidak ma, cinta mas Radit bukan untuk Kalista, tapi milik Bianca. Sekarang Bianca sudah kembali. Lebih baik Kalista ya pergi."
Aku kemudian berlalu meninggalkan mama dan papa begitu saja. Sebab keputusan ku sepertinya sudah bulat. Aku sudah final akan mengakhiri pernikahan palsu ini. Namun belum selesai batinku berceloteh, tiba-tiba mas Radit menarik tanganku.
"Mau kemana kamu?" Tanyanya.
*Bersambung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
JANGAN LUPA LIKE DAN SUBSCRIBE JIKA KALIAN SUKA SAMA NOVEL-NOVELKU YA... TERIMAKASIH. LOVE U SEKEBON 🥰😘