Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Benar-benar sangat luar biasa sekali Manager baru mereka ini. Dia bahkan datang lebih pagi dari pada karyawannya. Membuat mereka mereka yang biasa terlambat merasa malu di buatnya.
Hari-hari tenang Embun dan temen-temennya berubah menjadi hari-hari yang penuh dengan kesibukan. Bagaimana tidak, mereka semua harus kembali mengontrol keuangan 5 tahun belakangan ini.
Memang luar biasa sekali bukan?
"Gile bener Pak Sean, ampun gue." ungkap Fika yang juga merasa lelah menghadapi semua ini.
"Sorry ya, Guys gue gak ikutan. Soalnya gue juga megang kerjaan yang sekarang." gumam Tasya yang merasa kasihan dengan temannya.
"Yaudah, gak apa-apa kok. Namanya juga kerja " sahut Embun masih berusaha berpikir positif untuk semua ini.
"Udah waktunya jam makan siang ini. Keluar yuk makan, di kantin yang gak da enaknya itu. Tapi harus tetap makan, karena cuma itu yang ada." ujar Fika lagi.
"Kalian duluan aja. Aku udah pesen kopi sama cake aja deh. Nanti tolong ambilin di lobby kayak biasa ya."
"Embun, kamu jajan terus, Emang gaji kamu cukup?" tanya mereka yang merasa Embun ini terlalu banyak membuang uang, karena setiap hari pasti ada saja aksinya membelanjakan teman-teman nya.
"Udah gak, usah mikirin soal itu. Yaudah gih sama, sekalian tolong anterin kesini nanti, oke?" katanya lagi membuat mereka pun memilih keluar untuk makan.
Sedangkan Embun masih di ruangan arsip, mencari berkas-berkas keuangan tahunan yang di cari Sean.
Dia menikmati pekerjaan ini dengan bersenandung kecil disana. Sampai mengundang rasa penasaran seseorang yang lewat.
"Kok cepet banget baliknya? sekalian tolong ambilin berkas yang udah aku susun di dekat pintu itu ya." ucapnya membuat seseorang yang datang itu melihat ke sudut dan melihat tumpukan berkas yang belum di susun.
"Thank-you?" ucapnya terkejut melihat siapa yang membawa berkas tersebut.
"Pak Sean?" gumamnya melihat siapa yang datang.
Embun benar-benar merutuki kebodohannya yang tidak menyadari siapa yang datang. "Maaf, Pak. Saya pikir itu teman saya." ucap Embun merasa malu.
Sean tidak menjawab, dia melihat apa yang di lakukan gadis itu.
"Oh ini, Pak. Ini berkas-berkas yang bapak minta. Saya udah tandain, dan menurut saya ada yang janggal di beberapa tahun belakangan soal penjualan dan pembelian bahan baku produksi, Pak." ujar embuh menjelaskan membuat Sean menarik berkas tersebut dan melihatnya.
Sean melihat jam dinding dan sudah waktunya istirahat dan makan siang, tapi kenapa gadis ini masih bekerja?
"Ini sudah waktunya istirahat, kenapa tidak pergi makan?" tanya Sean menatap datar.
"Udah pesen gr*b Pak, bentar lagi nyampek." jawab Embun malu.
"Oh iya, bapak mau kopi? saya pesenin ya Pak?" tawarnya pada Sean yang hanya diam menatapnya.
"Apa kamu benar-benar tidak mengenal saya?" tanya Sean menatap datar pada Embun.
Pertanyaan ini, apa maksudnya?
"14 februari satu tahun yang lalu, apa kamu tidak merasa memiliki janji dengan seseorang untuk pergi ke festival lampion?" tanya Sean lagi semakin membuat Embun tidak mengerti.
Sean mengambil ponsel miliknya, lalu menunjukkan pada Embun pesan yang dia terima waktu itu.
"Embun?" gumamnya lagi saat melihat isi pesan tersebut.
Sungguh, dia tidak pernah foto seperti itu. Dia bahkan tidak pernah berjanji dengan seseorang di tanggal tersebut.
"Apa maksud kamu?" tanya Sean dengan mata memerah.
"Pak, apa Embun yang bapak maksud adalah saya?" tanya Embun memberanikan diri.
"Saya hanya mengenal satu perempuan dalam hidup saya, dan itu kamu. Embun Wijayanto. Kita pernah bertemu saat kamu mengantarkan ibu teman kamu ke rumah sakit untuk operasi tumor otak dan bahkan kamu yang menjadi donaturnya waktu itu." ucap Sean menjelaskan membuat Embun semakin tidak mengerti disini.
"Pak, saya memang pernah membawa ibu-" hening sejenak, karena itu adalah ibunya Daniel.
"Ibu teman saya. Tapi yang keliru disini adalah soal janji di 14 februari tersebut. Saya tidak pernah berjanji dengan siapapun dan itu juga bukan foto saya. Saya tidak memiliki foto tersebut dan-" Embun menekan ikon nomor tersebut untuk melihatnya.
"Itu bukan nomor saya. Jika bapak tidak percaya, saya bisa memberi bukti pada bapak." ucapnya lagi memberi penjelasan.
Tak lama ponsel Embun berdering dan masuk nomor tidak di kenal.
"Ini nomor ponsel saya, dan saya bisa pastikan jika nomor ini memang milik saya sejak saya SMA." jelasnya lagi membuat Sean terdiam.
Di benar-benar diam sampai tidak tau harus mengatakan apa lagi, dan memilih pergi dari ruangan tersebut.
Jangan lupa like, komen juga ya!
Kasih dukungan sama akuh 👌🏽
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh