Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28-29.Gerbang langit
Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar keemasan yang menembus kabut abadi di puncak Pegunungan Kunlun. Tempat yang dijuluki sebagai "Atap Dunia" ini memancarkan aura magis yang sunyi, namun pagi ini kesunyian itu robek oleh deru mesin tiga helikopter militer berat bertanda khusus korps elite Ibukota.
Helikopter-helikopter tersebut mendarat di sebuah dataran salju yang luas, tepat di depan sepasang pilar batu raksasa yang tertutup es—pintu masuk kuno menuju **Sekte Gerbang Langit (Tianmen)**.
Pintu helikopter terbuka. Fang Yuan melangkah keluar, menapakkan kaki di atas salju tebal tanpa membuat salju tersebut amblas barang se-milimeter pun—sebuah kontrol *Qi* tingkat tinggi yang sempurna. Pagi ini, dia mengenakan jubah salju panjang berbulu putih dengan aksen hitam, sangat serasi dengan rambut biru keputih-putihannya yang *stylish*. Mata kirinya yang keemasan menatap tajam ke arah formasi kabit di depan mereka.
Di belakangnya, Su Ruyi turun dengan pakaian taktis musim dingin yang ketat, memegang busur panah modern di punggungnya, diikuti oleh Jenderal Qin dan sepuluh prajurit elite bersenjata lengkap.
"Tuan Muda Fang, berdasarkan peta Keluarga Lin, di balik kabut ini adalah wilayah terisolasi tempat Sekte Gerbang Langit berada. Namun, formasi kabut ini adalah *Formasi Pengubah Jiwa* kuno. Siapa pun manusia fana yang masuk akan tersesat dan mati membeku," lapor Jenderal Qin dengan napas beruap.
"Formasi sampah seperti ini bahkan tidak layak disebut formasi pelindung di mataku," ucap Fang Yuan datar, senyum nakal yang tipis menghiasi wajah tampannya.
Dia melangkah maju dua langkah, lalu mengangkat tangan kanannya dari saku jubah. Tanpa menggunakan mantra rumit, Fang Yuan hanya memberikan satu hentakan kaki ringan ke atas permukaan es.
*BUMMM!!!*
Gelombang energi *Qi* Tahap Pengumpulan Tingkat Empat yang murni meledak dari bawah sepatunya, menjalar seperti gempa lokal ke arah depan.
*KRETEK! KRETEK!*
Kabut abadi yang menutupi area tersebut seketika robek dan terhanyut paksa oleh angin energi murni milik Fang Yuan. Dalam hitungan detik, ilusi kabut itu lenyap, memperlihatkan sebuah tangga batu kuno setinggi ribuan anak tangga yang menuju ke sebuah kompleks istana megah di atas awan.
Di ujung tangga bawah, puluhan murid Sekte Gerbang Langit yang mengenakan jubah biru muda sedang berjaga. Melihat formasi pelindung sekte mereka dihancurkan hanya dengan satu hentakan kaki, wajah para murid itu seketika pucat pasi.
"S-Siapa kalian?! Berani sekali merusak Formasi Pelindung Tianmen?!" teriak salah seorang murid senior, menghunus sebilah pedang panjang yang dialiri energi es.
Fang Yuan melangkah menaiki anak tangga pertama dengan sangat santai, mengabaikan puluhan moncong pedang yang diarahkan kepadanya. Kedua tangannya kembali dimasukkan ke dalam saku jubah putih-hitamnya.
"Pergi dan beri tahu pemimpin sekte kalian," suara Fang Yuan yang merdu namun dingin bergaung kuat, langsung menembus ribuan anak tangga dan menggema di seluruh aula utama Sekte Gerbang Langit di puncak gunung.
"Fang Yuan dari Jiangnan datang untuk menagih utang darah. Jika dia tidak keluar dalam waktu tiga hitungan untuk berlutut... maka hari ini, aku akan menghapus nama Sekte Gerbang Langit dari lembaran sejarah dunia ini."
## Bab 29
"Sombong! Bocah tak tahu diuntung, berani sekali mengumbar omong kosong di tanah suci Tianmen!"
Mendengar ucapan Fang Yuan yang begitu meremehkan, puluhan murid senior Sekte Gerbang Langit langsung tersulut amarah. Mereka adalah para kultivator yang menganggap diri mereka lebih tinggi dari para semut fana di bawah gunung.
"Bentuk *Formasi Pedang Pembalik Es*! Tebas bocah berambut biru ini!"
*SHUT! SHUT! SHUT!*
Puluhan murid itu melompat serentak, membentuk formasi melingkar di udara. Energi *Qi* es dari pedang-pedang mereka menyatu, menciptakan badai salju buatan yang tajam bagai ribuan silet, meluncur deras ke arah Fang Yuan.
Fang Yuan tidak menghentikan langkah kakinya. Poni rambut biru keputih-putihannya bergerak tipis ditiup angin badai. Di matanya, formasi pedang ini tak lebih dari sekadar tarian anak-anak TK.
"Ruyi," ucap Fang Yuan malas.
"Dimengerti, Tuan Muda!"
Su Ruyi yang berada di belakangnya langsung menarik busur panah modern miliknya. Kecepatannya kini telah diperkuat oleh *Qi* murni yang diajarkan Fang Yuan. Tiga anak panah melesat sekaligus, dilapisi energi angin yang tajam.
*BOOM! BOOM! BOOM!*
Anak panah Su Ruyi menghantam titik lemah formasi mereka dengan akurasi absolut. Ledakan energi murni membuat formasi pedang tersebut runtuh seketika, melempar puluhan murid senior itu hingga terkapar di atas tangga batu sambil memuntahkan darah.
"B-Bagaimana mungkin... bahkan pelayannya saja sekuat ini?!" rintih sang murid senior dengan mata melotot jantungan.
Fang Yuan terus melangkah, melewati tubuh-tubuh yang bertumbangan tanpa melirik sedikit pun. Langkah kakinya yang santai namun berbobot akhirnya membawanya sampai ke pelataran aula utama di puncak Gunung Kunlun.
Di sana, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat menekan.
Tiga sosok pria tua berjubah abu-abu pekat dengan janggut panjang menjuntai telah berdiri menghadang. Aura yang mereka pancarkan jauh melampaui Master Qingxu yang telah menjadi abu di Ibukota. Mereka adalah **Tiga Tetua Agung Sekte Tianmen**, para kultivator setengah langkah menuju Ranah Pondasi Tubuh (*Half-Step Foundation Establishment*).
"Kamu yang bernama Fang Yuan?" salah satu tetua, Tetua Kuno Yuan, berbicara dengan suara yang menggetarkan batu-batu di sekitar pelataran. "Membunuh utusan kami, menghancurkan formasi pelindung, dan sekarang berani menginjakkan kaki di aula utama. Apakah kamu benar-benar berpikir tidak ada hukum yang bisa menyentuhmu di dunia ini?"
Fang Yuan menghentikan langkahnya sepuluh meter di depan ketiga tetua tersebut. Dia mengeluarkan tangan kanannya dari saku jubah putih-hitamnya, lalu menatap jam tangan kasualnya dengan santai.
"Dua hitungan telah berlalu," ucap Fang Yuan datar, senyum nakal yang sangat dingin terukir di sudut bibir tampannya. "Tinggal satu hitungan lagi sebelum aku meratakan tempat ini. Di mana pemimpin sekte kalian? Mengapa dia masih bersembunyi seperti kura-kura di dalam cangkangnya?"
"Bocah pencari mati! Terima pembalasan dari Sekte Tianmen!"
Ketiga Tetua Agung itu meledak dalam amarah yang sama. Mereka secara sinkron mengangkat tangan mereka ke langit, memanggil energi spiritual alam secara paksa. Langit di atas Puncak Kunlun mendadak bergemuruh, dan tiga naga es raksasa sepanjang puluhan meter terbentuk dari awan salju, siap mencabik tubuh Fang Yuan hingga menjadi serpihan es murni. Badai terdahsyat di atas awan secara resmi dimulai.