Silvia adalah seorang gadis baik hati dan polos yang masih duduk di bangku SMA. Gadis kurus dengan rambut panjang dan kulit putih itu tak jarang menjadi rebutan dikalangan pria disekolah nya dan itu membuatnya merasa percaya diri.
Namun semuanya sirna ketika mendengar bahwa dia akan di jodohkan dengan seorang CEO yang tidak dia cintai. Tidak percaya bahwa dizaman modern seperti ini masih ada yang namanya perjodohan. Namun semua itu mungkin terjadi melihat kondisi keluarga nya yang krisis keuangan.
Dia pun harus siap meninggalkan kekasih nya bahkan impiannya di masa depan demi keinginan orang tuanya. Diawal semua terlihat baik baik saja sampai ketika dia mengetahui sifat asli suaminya yang membuatnya tersiksa batin setiap harinya. Oleh karena itulah dia akhirnya memutuskan untuk memilih jalan hidup nya sendiri bahkan nekat untuk menikah lagi.
"Inilah kehidupan Silvia dengan kehidupan pernikahan yang tak dia harapkan"...
[Cerita ini telah berhenti, tidak disarankan membaca] -Author-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wira Noviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25. Pilih Kasih
Zaiden pun mengangkat telepon dari Desi.
"Zaiden anakku" ucap Desi.
"Maaf ini siapa" tanya Zaiden.
"Ini ibumu nak kau tidak mengenali ibumu sendiri?" ucap Desi.
"Oh seperti nya aku lupa menyimpan nomor ponselmu, lanjutkan ada apa" ucap Zaiden mempermainkan Desi.
"Maaf ibu selama ini tidak mengabarimu bahkan ibu mengusirmu dari rumah, apakah kamu maafin mamah?" tanya Desi.
"Semudah itu?" tanya Zaiden.
"Kumohon nak maafkan kesalahan mamah dan datanglah kerumah sekarang, ibu ingin memberi mu kejutan" ucap Desi tiba tiba.
"Ha? Kejutan apa?" tanya Zaiden bingung dengan Desi yang tiba tiba ingin memberikan Zaiden kejutan.
"Datang lah dulu, cepat ya nak" ucap Desi lalu mengakhiri panggilan begitu saja.
"Kan benar kubilang, ibumu berusaha memperbaiki hubungan kalian berdua!" ucap Laura.
"Baiklah aku akan pergi" ucap Zaiden memeluk Laura dan mengecup dahi Laura lalu pergi.
"Hati hati!" ucap Laura dan beberapa saat kemudian Aleena datang menghampiri Laura.
"Berani sekali kau berpelukan dengan Zaiden ha!" ucap Aleena marah.
"Apa hak mu melarangku kau bukan istrinya!" tanya Laura tertawa dengan perkataan Aleena.
"Zaiden cuma milikku!" ucap Aleena tegas.
"Mimpi aja sana!.. Zaiden itu udah nyaman sama aku bukan sama kamu yang nggak pernah ada buat dia disaat dia sedih" ucap Laura meremehkan.
"Sialan kamu Ra!l bentak Aleena dan dengan sombong nya Laura pergi meninggalkan Aleena.
* * *
Dirumah Desi.
Zaiden pun masuk dengan mudah ke rumah dengan pintu terbuka seolah memang dibuka agar Zaiden masuk begitu saja.
"Mah..." panggil Zaiden, suara nya menggema namun tidak ada seorang pun menjawab hingga setelah beberapa lama akhirnya Desi pun datang.
"Akhirnya anakku datang juga" ucap Desi senang.
"Apa kejutannya? Tanya Zaiden dingin.
"Eum.. Kamu nggak sabar lagi ya.. Yaudah, Sayang sini anakku sayang" panggil Desi.
"Iya mah" Jawab Hevin dengan wajah sombong nya menuruni anak tangga satu persatu memperlihatkan smirk dan senyuman licik kepada Zaiden.
"Kakak?" Zaiden terkejut tidka menyangka dengan kehadiran Hevin yang sudah lama menghilang.
"Iya.. Udah setahun mamah nunggu Hevin dan akhir nya dia pulang juga" ucap Desi dengan gembira.
"Lama tidak bertemu adikku, Zaiden" ucap Hevin sombong dengan menikkan satu alis tersenyum meremehkan Zaiden.
"Mamah terharu banget akhirnya anak mamah pulang" ucap Desi.
"Apa apaan ini mah? Mamah setelah sekian lama gak nelpon dan sekali nya nelpon cuma buat kerumah dan temui pria bajingan ini!?" tanya Zaiden sangat kecewa dengan perbuatan ibunya.
"Kamu bicara apa tadi? Nggak sopan banget kamu! Dan bahkan menyebut kakak kamu bajingan? Dasar kamu anak tidak berguna.. Ibu menyesal telah mengundangmu! Pergi dan jangan pernah kembali lagi!" ucap Desi membentak Zaiden.
"Kenapa sih mah!?.. Dari dulu aku selalu salah dimata mamah! Dari dulu mamah lebih sayang dan banggain kak Hevin Mamah selalu mengutamakan kak Hevin padahal aku kan juga anak nya mamah" ucap Zaiden menangis dengan lemah.
"Mau tau? Kenapa mamah lebih sayang sama Hevin dibanding kamu? Pertama, karena Hevin itu lebih mapan dari pada kamu, kedua dia pintar dan ketiga dia lebih tampan dari pada kamu Zaiden!" ucap Desi menjelaskan dengan lantang.
"Mah, seandainya dari dulu mamah itu perlakukan aku dan kak Hevin dengan sama dan tidak pilih kasih mungkin aku bakalan kayak kak Hevin, tapi apa? Aku selalu di asingkan.. Mamah selalu membuat Hevin lebih bahagia! Saat kak Hevin dapat penghargaan mamah selalu bilang ke aku untuk mengikuti seperti kakak yang pintar tapi setelah aku mendapat penghargaan mamah malah nggak menghargai dan bilang kalau itu cuma keberuntungan aja... Dan sekarang juga kayak gitu mah.. Mamah merendahkan aku padahal kak Hevin juga tidak lebih baik dari aku, dia penghianat!!" ucap Zaiden membentak dengan keras merasa sangat kecewa.
"Diam kamu! Keterlaluan! Pergi kamu dari sini! Mamah nggak mau lihat kamu lagi!" ucap Desi sangat marah dengan Zaiden.
"Ini kedua kali nya mamah ngusir aku karena kak Hevin dan aku akan senantiasa mengingat ini semua" ucap Zaiden dengan kecewa dan sakit hati pergi meninggalkan rumah Desi.
"Mamah kok begitu sih? Aku akan menenangkan Zaiden" ucap Hevin.
"Nggak usah nak" ucap Desi.
"Kasihan dia mah" ucap Hevin memberi alasan.
"Kamu memang anak mamah yang paling baik" ucap Desi lalu Hevin langsung pergi.
Dihalaman rumah.
"Zai tunggu!" teriak Hevin mengejar Zaiden.
"Apa lagi kak" ucap Zaiden dingin dengan kecewa.
"Nggak usah dengerin kata kata mamah tadi, kakak pengen bicara dulu sama kamu, yuk duduk dulu disana" ucap Hevin.
Setelah mereka duduk.
"Apa lagi yang ingin kau katakan?" tanya Zaiden dingin.
"Kakak ke Indonesia dan pulang sebenarnya cuma ingin minta maaf pada Silvia dan balikan lagi sama dia, apa kau tau rumahnya dimana?" tanya Hevin.
"Huh belum puas kau menyiksanya? Dia bahkan tidak ingin menyebut namamu apalagi melihat mu, jadi.. Pergilah" ucap Zaiden menolak memberitahu.