"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Taruhan Nyawa di Balik Kemudi.
***
Napas Galen yang memburu terasa panas menerpa permukaan kulit wajah Freya. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, detak jarum jam digital di dasbor seolah menjelma menjadi dentang lonceng kematian yang lambat.
Cengkeraman jemari kokoh Galen pada kedua sisi rahang Freya kian terasa menyiksa. Tekanan ibu jari dan telunjuk pria tersebut menembus hingga ke persendian tulang wajah Freya, meninggalkan rasa ngilu yang luar biasa hebat hingga membuat air mata di pelupuk mata Freya bergetar hebat, siap untuk tumpah kapan saja.
Selama satu tahun ini, Freya selalu memilih menjadi sekadar bayangan yang pasrah. Ia selalu menunduk—menangis ketakutan—dan menerima setiap hantaman badai makian yang keluar dari mulut sang duda.
Namun pagi ini, tepat setelah punggungnya dihantam kekerasan di koridor rumah dan rahangnya kembali dicengkeram ada sesuatu yang patah di dalam diri gadis remaja tersebut.
Rasa sakit fisik yang nyata di wajahnya entah bagaimana memantik sisa-sisa keberanian yang paling dalam dari jiwanya yang selama ini terkurung.
Dengan tubuh yang masih gemetar hebat menahan pasokan rasa takut yang mati-matian ia bendung, Freya memaksakan kedua kelopak matanya terbuka lebar.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun hidup di bawah kendali keluarga Danendra, Freya tidak memalingkan wajah. Ia tidak menunduk pasrah.
Gadis remaja dengan lekuk tubuh sintal yang terbalut seragam putih-abu-abu itu mendongakkan kepalanya dengan tegap. Sepasang manik mata bulat indahnya yang basah oleh air mata kini berkilat, memancarkan tatapan yang tak kalah tajam—dingin—menusuk lurus ke dalam manik mata elang milik Galen.
"Jika aku memang pembawa sial dalam hidupmu, kak..." Suara Freya keluar dari sela-sela bibirnya yang terjepit, terdengar parau, serak, namun bergaung dengan ketegasan yang luar biasa nekat di dalam kabin mobil.
Freya mencengkram pergelangan tangan kekar Galen yang menempel di wajahnya, bukan untuk memohon dilepaskan, melainkan untuk menahan pria itu agar tetap mendengarkan setiap larik kalimat pembangkangannya.
"Jika aku memang satu-satunya penyebab kematian istri yang sangat kakak cintai itu… kenapa tidak bunuh saja aku sekarang, hah?!". Tantang Freya, nadanya naik satu oktaf, memecah keheningan dengan keberanian yang teramat gila.
"Bunuh aku, kak Galen! Cekik saja leherku sampai aku mati seperti Kak Elena! Patahkan rahangku sekarang! Dengan begitu, hidup kak Galen yang sempurna tidak akan pernah lagi terganggu oleh anak pungut pembawa sial sepertiku! Ayo lakukan!".
Raungan nekat dari mulut Freya bergaung kencang, menampar keangkuhan Galen yang selama ini berdiri kokoh di atas singgasana otoritas mutlaknya.
Mendengar tantangan yang keluar begitu lancang dari mulut gadis yang selama ini ia anggap sebagai peliharaan kecil yang rapuh, tubuh tegap Galen sempat membeku selama satu detik.
Sepasang alis tebalnya menukik tajam, menciptakan lipatan dalam yang teramat mengerikan di keningnya. Kilat amarah yang membara di kedua matanya tidak meredup, melainkan justru semakin tersulut emosi yang luar biasa meledak.
Namun, alih-alih melayangkan pukulan fisik atau mempererat cengkramannya, sudut bibir tipis pria tersebut perlahan-lahan tertarik ke samping.
Sebuah senyuman smirk yang teramat sinis—dingin terukir di wajah tampannya. Pemandangan senyum mengerikan itu justru memancarkan aura sadis yang jauh lebih mencekam daripada bentakan kasarnya.
"Membunuhmu?". Bisik Galen, suaranya merendah menjadi lengkingan bariton yang teramat berat dan penuh dengan racun yang mematikan
.
Galen memajukan wajahnya satu jengkal lebih dekat, hingga ujung hidung mancungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Freya. Tatapan elangnya mengunci pergerakan mata Freya, menyedot habis seluruh keberanian baru yang sempat gadis itu kumpulkan dengan susah payah.
"Kau pikir mati adalah jalan keluar yang mudah setelah kau merusak duniaku, Freya Anindita?". Tanya Galen, setiap kata yang keluar terdengar seperti bisikan iblis yang menusuk langsung ke dasar batin Freya dengan nyata.
"Mati itu terlalu indah untuk anak pembawa sial sepertimu. Jika kau mati sekarang, kau hanya akan menyusul orang tuamu dan istriku ke neraka dengan tenang. Dan aku... aku tidak akan pernah membiarkanmu merasakan ketenangan itu seumur hidupmu!"
Galen tiba-tiba menghempaskan wajah Freya ke arah kaca jendela dengan sentakan yang teramat kasar, membuat pelipis Freya terbentur pelan pada kaca mobil yang dingin.
Sebelum Freya sempat mengaduh kesakitan, Galen sudah kembali bergerak dominan. Tangan kekarnya merosot turun, mencengkeram kuat kedua pundak Freya, mengunci tubuh gadis itu agar tetap menempel kaku pada sandaran jok mobil.
"Dengar baik-baik, Budak Kecil," Desis Galen, wajahnya mengeras sempurna dengan aura intimidasi yang puluhan kali lipat lebih pekat, membuat Freya kembali menciut dan tenggelam di bawah tekanan absolut sang penguasa tunggal.
"Tugasmu di dunia ini bukan untuk mati. Tugasmu adalah tetap hidup, bernapas di dalam rumahku, dan membiarkan dirimu membusuk di bawah rasa bersalah yang akan terus kutanamkan setiap hari di kepalamu! Aku akan memastikan setiap detik yang kau lalui di masa remajamu ini berjalan seperti neraka! Kau akan tetap menjadi samsak dari seluruh rasa sakit hatiku atas kematian istriku! Jangan pernah bermimpi untuk bisa lepas atau menantangku lagi, karena di rumah dan di hidup ini... nyawamu berada di dalam genggaman tanganku, Freya!".
Tekanan psikologis yang kejam dan masif yang dilontarkan Galen pagi itu akhirnya meremukkan sisa-sisa keberanian Freya.
Tatapan elang Galen yang sedingin es dan penuh dendam membuat seluruh tubuh Freya mendadak lemas, kehilangan dayanya. Rasa takut yang kembali merayap, menguasai seluruh aliran darahnya.
Freya memalingkan wajahnya ke samping dengan pasrah, tidak lagi berani membalas tatapan membunuh milik pria disampingnya. Air matanya kini benar-benar runtuh tanpa bisa ia tahan lagi, membasahi pipinya yang mulai memar kemerahan akibat bekas cengkraman kasar tadi.
Gadis tersebut hanya bisa meringkuk lesu, meremas tali tas sekolahnya di bawah kungkungan aura dominan Galen yang sangat kejam di pagi hari yang terkutuk itu.
Galen melepaskan cengkraman tangannya dari pundak Freya dengan satu hentakan kaku, lalu kembali duduk tegap di belakang roda kemudi. Ia merapikan lengan kemeja hitamnya yang sedikit kusut, menyugar rambut hitamnya ke belakang, lalu kembali menyalakan mesin mobil Mercedes-Benz miliknya yang menderu halus.
Dengan wajah yang kembali dingin, datar, dan acuh tak acuh seolah tidak terjadi badai emosi apapun sebelumnya.
Galen menginjak pedal gas dalam-dalam, membawa mobil mewah itu melesat membelah jalanan, melanjutkan perjalanan menuju sekolah Freya dengan rantai takdir kejam yang kini telah mengikat hidup mereka berdua dalam cengkeraman neraka yang sesungguhnya.
Setelah badai emosi yang itu mereda, kabin mobil kembali diliputi oleh keheningan yang kaku. Galen melajukan mobil mewahnya membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan konstan.
Tidak ada lagi obrolan, tidak ada lagi bentakan, bahkan tidak ada lagi suara helaan nafas di antara mereka.
Sepanjang sisa perjalanan, Freya hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong barisan pertokoan yang bergerak mundur, sementara jemarinya diam-diam mengusap sisa air mata yang mengering di pipinya.
Rasa perih di rahang nya yang memar masih terasa nyata, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal.
****