NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

babak baru 4

Waktu terus berjalan.

Satu demi satu kendaraan mulai memenuhi area parkir sekolah. Aula yang semula lengang perlahan dipenuhi suara tawa para siswa dan wali murid yang saling bertegur sapa. Di sudut halaman, beberapa orang tua sibuk mengabadikan momen bersama anak-anak mereka. Ada yang membetulkan letak toga, ada yang merapikan kerudung putrinya, ada pula yang tak henti-hentinya memuji anak mereka yang hari itu tampak begitu dewasa.

Suasana hangat itu memenuhi hampir seluruh penjuru sekolah.

Namun...

Di balik meja registrasi, Haseena hanya bisa memandang semuanya dalam diam.

Matanya mengikuti seorang ibu yang dengan telaten membenarkan kerah jas putranya.

Tak jauh dari sana, seorang ayah merangkul anak perempuannya sambil tertawa ketika kamera ponsel mulai menghitung mundur.

"Tiga... dua... satu..."

Klik.

Sebuah foto keluarga kembali tercipta.

Tanpa sadar, bibir Haseena ikut tersenyum.

Namun senyum itu perlahan memudar.

Dulu...

Ia juga pernah berada di posisi itu.

Ibu yang sibuk membenarkan letak kerudungnya.

Abah yang selalu berkata, "Anak Abah paling cantik."

Kak Husna yang gemar mengacak-acak rambutnya hanya untuk membuatnya kesal.

Dan Zafran yang tak pernah mau diam ketika diajak berfoto bersama.

Kini...

Semua itu tinggal potongan kenangan yang hanya bisa ia putar berulang-ulang di dalam kepala.

"Seen..."

Suara Aretha memanggil pelan.

Haseena tersadar dari lamunannya.

"Hm?"

"Itu tamunya."

"Oh... iya."

Ia segera kembali memasang senyum.

"Selamat datang, Bu."

"Silakan mengisi buku tamu terlebih dahulu."

Seorang wanita paruh baya tersenyum ramah.

"Nak, tanda tangannya satu saja atau semua anggota keluarga?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tidak ada nada yang bermaksud menyakiti.

Namun...

Kalimat itu menghantam Haseena tepat di tempat yang paling rapuh.

Keluarga...

Lengkap.

Dua kata yang kini terasa begitu jauh dari hidupnya.

Tangannya yang semula memegang bolpoin perlahan melemas.

Bayangan Ibu kembali memenuhi kepalanya.

Disusul wajah Kak Husna yang hingga hari ini belum pernah ditemukan.

Dadanya sesak.

Seolah seseorang menggenggam jantungnya begitu erat.

Ia membuka mulut.

Namun tak satu kata pun berhasil keluar.

Aretha yang berdiri di sampingnya langsung menangkap perubahan itu.

Dengan tenang ia mengambil alih.

"Oh, satu saja tidak apa-apa, Bu. Perwakilan keluarga saja."

"Oh begitu ya? Terima kasih."

"Sama-sama, Bu. Silakan langsung masuk."

Wanita itu tersenyum lalu berjalan menuju aula tanpa pernah menyadari bahwa pertanyaannya baru saja membuka kembali luka seseorang.

Begitu tamu itu menjauh...

Haseena langsung menundukkan wajah.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Jangan sekarang...

Tolong...

Jangan sekarang...

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Cepat-cepat ia mengipaskan kedua tangannya ke wajah, berharap angin kecil itu mampu mengeringkan air mata yang belum sempat jatuh.

Aretha menghela napas pelan.

Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan sahabatnya.

"Seen..."

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk membuat pertahanan Haseena hampir runtuh.

"Aku nggak apa-apa..."

Suara Haseena bergetar.

"Aku cuma..."

Ia tertawa kecil.

"...takut makeup murahku luntur."

Candaan itu terdengar ringan.

Tetapi mata Haseena mengatakan hal yang berbeda.

Aretha tahu.

Sahabatnya sedang berusaha menyelamatkan harga dirinya di tengah keramaian.

Karena menangis di depan banyak orang bukanlah hal yang diinginkan Haseena.

Aretha kemudian merangkul pundaknya pelan.

"Nggak apa-apa."

"Nangis juga nggak apa-apa."

Haseena menggeleng sambil tersenyum.

"Nanti aja."

"Kalau acara udah selesai."

"Kalau sekarang..."

"...aku masih harus jadi panitia."

Kalimat itu membuat Aretha terdiam.

Ia baru menyadari...

Kadang orang yang terlihat paling kuat bukan karena mereka tidak ingin menangis.

Melainkan karena mereka tahu...

Masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum mereka boleh runtuh.

 

Di kejauhan...

Bel sekolah berbunyi pelan.

Pertanda acara kelulusan akan segera dimulai.

Haseena menarik napas panjang.

Lalu kembali berdiri tegak di belakang meja registrasi.

Senyumnya kembali terukir.

Seolah beberapa menit yang lalu tidak terjadi apa-apa.

Namun tak seorang pun tahu...

Di balik senyum itu, seorang anak perempuan sedang berusaha keras berdamai dengan kenyataan bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia akan merayakan sebuah pencapaian tanpa kehadiran seorang ibu.

 

Catatan Haseena

> Hari ini aku iri.

Untuk pertama kalinya, aku iri melihat orang-orang datang bersama keluarganya.

Padahal dulu aku selalu bersyukur.

Aku selalu percaya bahwa keluargaku, meski sederhana, adalah rumah paling hangat yang pernah Tuhan titipkan.

Namun hari ini... maafkan aku, Ya Allah.

Aku belum benar-benar ikhlas.

Aku masih berharap Ibu duduk di antara kursi-kursi itu.

Aku masih berharap Kak Husna tiba-tiba muncul sambil berkata bahwa semuanya hanya salah paham.

Aku tahu harapan itu mungkin tidak akan menjadi nyata.

Tetapi izinkan aku menjadi anak yang lemah... hanya untuk hari ini.

— Catatan Haseena

 

Haseena menoleh ke arah kursi yang seharusnya ditempati keluarganya.

tak ada seorang pun disana

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!