NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tolong Aku

Bau cat dinding yang baru menguap tajam menyambut Alena begitu ia melangkah masuk. Alasan utamanya membeli rumah minimalis dari perusahaan real estate elite ini sederhana, ruang perapiannya. Tidak besar, tapi cukup mewah untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin yang menyiksa.

​"Entah sampai kapan aku harus bertahan di sini," Alena menghempaskan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit sampai getar ponsel memaksanya kembali tegak.

​"Ya, Alena di sini."

​"Bagaimana rumah barumu? Kau menyukainya?" Suara merdu di seberang sana terdengar akrab.

​Alena tersenyum. Itu Megan, sang pemilik real estate. Wanita tinggi semampai dengan lekuk tubuh sempurna yang selalu sukses membuat Alena sedikit iri jika melirik sepasang kaki pendeknya sendiri.

​"Ya, Megan. Aku menyukainya. Sangat nyaman. Terima kasih atas servis luar biasamu, Meg."

​"Jangan ragu menghubungiku jika ada kendala, Alena."

​"Tentu," Alena terkekeh pelan. "Oh ya, apa perusahaanmu juga menyediakan jasa desainer interior yang bisa membuat rumah mati menjadi terlihat lebih hidup?"

​"Kami punya tim terbaik. Kau butuh sekarang?"

​"Bukan untukku. Tapi seseorang yang kukenal sepertinya sangat membutuhkannya. Aku akan mempromosikan perusahaanmu padanya," ujar Alena, teringat pada rumah Lux yang dingin dan sunyi tanpa sentuhan wanita.

​"Terima kasih atas rekomendasinya. Aku menghargai itu," pungkas Megan hangat sebelum memutus sambungan.

​Alena bangkit, melangkah menuju kamar kedua yang sengaja ia alih fungsikan sebagai ruang kerja. Begitu lampu dinyalakan, ruangan itu langsung berubah menjadi ruang taktis. Dindingnya dipenuhi kumpulan foto, kliping berita, dan berkas-berkas rahasia. Di sinilah misi utamanya dimulai, membongkar kebenaran di balik kematian ayahnya.

​Tatapan Alena terkunci pada salah satu foto pria di dinding. "Sepertinya, aku harus segera menjenguk Kevin."

***

​"Hai," Alena meletakkan keranjang buah di atas nakas, tatapannya mengunci Kevin yang bersandar di ranjang rumah sakit.

​Kondisi pria itu jauh lebih baik dari beberapa hari lalu. Perban di tangan dan kakinya telah dilepas, menyisakan gurat kemarahan yang samar.

​"Kejutan yang luar biasa. Aku tidak menyangka kau sudi menjengukku," Kevin menyunggingkan senyum sinis.

​"Josh bilang kau kecelakaan parah setelah pulang dari bar. Tentu saja aku harus datang, sekadar memastikan..."

​"Memastikan apakah tanganku masih berfungsi?" potong Kevin cepat, matanya menyipit tajam.

​Alena terkekeh rendah. "Kenapa ketus sekali, Dear?"

​"Jangan sok manis, Alena. Kau tahu persis aku tidak mengalami kecelakaan."

​"Oh ya?" Alena memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat, penuh simpati palsu. "Kalau bukan kecelakaan, lalu dari mana semua luka memar itu berasal?"

​"Dari seorang jalang yang tidak tahu diuntung!"

​Tawa Alena pecah, terdengar begitu menyebalkan di telinga Kevin. "Kalau begitu, aku harus berterima kasih pada 'jalang' itu. Tangan kirimu terlalu nakal semalam, berani meremas bokongku. Sayang sekali dia tidak sekalian mematahkan lehermu."

​Alena melangkah mendekat, membungkuk hingga bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Kevin. "Aku mengawasimu," bisiknya penuh ancaman sedingin es.

​Saat Alena menegakkan tubuh dan berbalik, suara Kevin menahannya di ambang pintu.

​"Perhatikan langkahmu, Nona. Sesuatu bisa saja datang dari arah yang tidak pernah kau duga," seringai iblis terukir di wajah Kevin.

​Alena hanya menukikkan sebelah alisnya, lalu melenggang pergi tanpa sepatah kata pun.

​Deru mesin mobil sport Alena meraung membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya bising. Dua bulan dari target tiga bulan misinya di negara ini telah berlalu, namun konspirasi di balik kematian ayahnya dan hilangnya sang saudara masih gelap gulita.

​Tiiiit! Tiit!

​Klakson panjang yang provokatif mengejutkannya. Sebuah mobil sport lain mendadak mepet di sisi kanan, memacu raungan mesin yang sengaja memburu. Alena menyeringai, langsung menginjak pedal gas lebih dalam, meliuk lincah di antara kepadatan lalu lintas.

​Namun, seringainya surut dalam sekejap. Lewat spion, ia menyadari bukan hanya satu mobil yang mengejarnya, melainkan dua.

​Shit! Ini serangan terencana.

​Menyerang balik dalam kondisi terjepit adalah bunuh diri. Satu-satunya opsi adalah kabur. Alena memutar kemudi dengan brutal, memutus rute utama menuju area pinggiran yang sepi.

​Napasnya memburu pendek, naik-turun tak beraturan seiring sensasi panas yang mendadak melumpuhkan lengan kanannya. Sial, sebutir peluru baru saja menembus dagingnya dalam aksi kejar-kejaran tadi.

​"Keparat itu tidak main-main," rintih Alena, mencengkeram setir dengan tangan kiri yang gemetar.

​Pandangannya mulai berkunang-kunang saat mobilnya berhasil meloloskan diri ke sebuah jembatan tua yang sepi dan terbengkalai. Ia menginjak rem dalam-dalam.

​Alena membuka tas, meraih sebilah pisau taktis. "Kenapa harus tangan kanan? Sial, akan sulit mengeluarkan peluru ini sendiri."

​Kesadarannya perlahan terkikis, warna putih mulai mendominasi pandangannya. Dengan sisa tenaga, ia menyobek ujung bajunya, membebat kasar lengannya yang terus mengucurkan darah segar.

"Bertahanlah, Lea..." bisiknya pada diri sendiri.

***

Pax kembali ke bar untuk menuntut permintaan maaf dari pelayan wanita yang sudah menyerangnya. Wanita yang tidak lain adalah Alena.

Pax, mengedarkan pandangannya segala penjuru klub, tidak melihat wanita itu sama sekali. Ia mendekati bartender yang sudah sejak lama di kenalnya.

"Hai, Pax." sapa Josh, si bartender.

"Hm," Pax mendaratkan bokongnya di atas kursi.

"Kau baru terlihat, apa keluargamu membiarkanmu mendekam di penjara," ledek si bartender.

Mengabaikan ledekan pria itu, "Di mana wanita itu?" tanya Pax to the poin.

"Wanita?"

"Ya, wanita yang menjadi sumber kegaduhan itu terjadi. Si rambut hitam legam," jelas Pax memberikan gambaran sosok Alena.

"Katakan jika aku salah, bukankah kau menyukai wanita dengan rambut pirang?"

"Dia harus meminta maaf padaku. Bukan berarti aku tertarik padanya," Pax mendengkus kesal.

"Alena tidak masuk, ini sudah dua hari ia tidak masuk."

"Ah... Alena. Jadi namanya Alena," Pax menyunggingkan senyumnya. "Berikan aku nomor teleponnya."

"Aku tidak memilikinya. Dan jangan menyentuhnya, Pax. Dia bukan orang sembarangan."

"Ck! Berikan ponselmu!" Pax mengabaikan peringatan yang diberikan oleh Josh.

"Aku tidak mempunyai nomornya."

"Kalau begitu berikan ponselmu agar aku memeriksanya sendiri." Pax berdiri merampas ponsel Josh disaat pria itu terlihat mengotak atik ponselnya.

"Tidak memiliki nomornya, huh?" Pax mendelik kesal. Nama Alena terpampang di layar ponsel. Josh sepertinya berniat untuk menghapusnya.

"Dia akan membunuhku, Pax!" Josh merampas kasar ponsel miliknya.

"Jangan jadi pecundang, Josh." Pax terkekeh seraya menekan panggilan ke nomor ponsel Alena. Pada deringan pertama panggilannya sudah tersambung.

"Hei wanita angkuh..."

"Tolong aku," Alena menyela dengan segera.

"Katakan di mana posisimu?" Pax segera berdiri.

"Jembatan...."

Setelah itu tidak ada lagi jawaban.

​Pax Willson mengumpat keras, memacu mobilnya membelah aspal seperti kesurupan. Sambungan telepon Alena mendadak terputus. Satu-satunya petunjuk yang ia tangkap dari suara lemah wanita itu sebelum hilang adalah kata 'jembatan sepi'.

​Pax langsung menghubungi kepala keamanannya. "Periksa seluruh koordinat jembatan terbengkalai di kota ini. Aku butuh datanya dalam lima menit!"

​Begitu sebuah daftar panjang masuk ke ponselnya, Pax kembali memaki. "Kirim orang ke setiap titik di daftar ini! Cari wanita asing berkulit eksotis yang mengendarai mobil sport!"

​Mengikuti instingnya sendiri, Pax memutar arah kemudi dengan kecepatan yang melampaui angin. Lima belas menit berburu, netranya menangkap siluet mobil sport yang familier, terparkir janggal di sudut jembatan kumuh.

​Pax mengerem mendadak, melompat keluar, dan menggedor kaca mobil dengan tidak sabar. Saat pintu terbuka, wajah pucat Alena terdongak lemah.

​"Oh... ternyata kau," gumam Alena parau.

​"Apa yang terjadi padamu?!"

​Alena menggerakkan dagunya dengan lemah, menunjuk lengan kanannya yang bersimbah darah. "Bantu aku... keluarkan pelurunya."

​Netra Pax membola sempurna. Darah segar mengalir deras, menembus sobekan kain yang mengikat lengan wanita itu. Tanpa membuang waktu untuk bertanya, Pax melepas jas mahalnya, membebatkan kain tebal itu ke luka Alena guna menahan pendarahan.

​Sambil menekan luka dengan satu tangan, tangan lainnya mendial nomor Ansel.

​"Ada apa?" sahut suara malas di seberang sana.

​"Segera ke koordinat yang kukirim sekarang!" bentak Pax.

​"Aku sibuk, Pax."

​"Seorang wanita cantik sekarat karena luka tembak di hadapanku! Cepat!" Klik.

​Pax menatap Alena yang kian memutih. "Bertahanlah, dokter sedang menuju kemari."

​Alena menggeleng lemah, menyodorkan pisau taktis yang ia ambil dari tasnya ke tangan Pax. "Keluarkan sekarang. Aku tidak punya waktu untuk menunggu doktermu. Aku tidak mau mati konyol di sini."

​Pax tertegun melihat daya tahan mental wanita di hadapannya. "Bagaimana bisa aku mengeluarkannya tanpa bius? Kau bisa gila karena sakit!"

​"Jangan banyak bicara. Lakukan saja!" sergah Alena dengan sisa kekuatannya.

​Pax menggeram, menatap pisau di tangannya lalu beralih pada sorot mata Alena yang keras kepala. "Baiklah, kau boleh memelukku sekencang yang kau bisa. Ini akan sangat sakit."

​Alena hanya mengangguk pasrah, memajukan tubuhnya bersandar pada dada bidang Pax.

​"Sesungguhnya aku paling tidak tega melihat wanita terluka, tapi—"

​"Jangan banyak bacot!" umpat Alena lirih dalam bahasanya sendiri.

​"Dia mulai mengumpat dengan bahasa aneh lagi," gumam Pax, menarik napas dalam sebelum menusukkan ujung pisau, membedah daging untuk menjangkau peluru yang tertanam dalam.

​Napas Pax tercekat saat darah hangat wanita itu kembali merembes di jemarinya, sementara tubuh Alena menegang hebat dalam dekapannya.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!