menginjak usia pernikahan ke tahun ke lima. aku dan suamiku masih tinggal dirumah orang tua dari suamiku.
bersama dengan dua saudara ipar yang setiap hari tiada henti nya merengek pada suamiku untuk memenuhi gaya hidup mereka.
padahal mereka tau suami ku hanya seorang buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa, bahkan uang dapurpun aku hanya diberi separuh dari gajinya. itu pun masih untuk jajan anak anak kami juga untuk membeli listrik.
mau tau gimana kelanjutannya, ikutin terus ceritanya yaa .
terus dukung outhornya dengan like dan komen ya readers😋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
"biar sewa yang penting nyaman, dan terutama bukan rumah ibu!" kataku lalu meninggalkan ibu mertua yang masih menatap tajam bersama dengan saira.
aku biarkan ibu mertua bebas berdua dengan perempuan itu, aku tinggalkan mereka begitu saja untuk mencari taman sekitaran komplek perumahan blok i ini.
setengah jam berjalan tak terasa aku sampai ditaman dimana yang letaknya lumayan jauh dri rumah yang aku sewa, sepanjang jalan aku banyak menyapa warga sekitar komplek. warganya ramah dan asik, semoga kami dapat bertetangga dengan baik berada dalam satu lingkungan.
"sarii yaa?" tanya seseorang yang baru ku lihat wajahnya.
"iyaa Bu, maaf ibu siapa ya?" tanyaku pada perempuan yang saat ini berada duduk disampingku di area taman ini.
"hehe ini aku loh sri tetangga kamu, beda tiga rumah dari rumah mas Ilham" jawabnya sambil tersenyum.
"mas Ilham siapa ya Bu?" tanyaku lagi yang memang tidak mengetahui siapa itu Ilham.
"Ilham itu adiknya Bu Harun mbak, pemilik rumah yang sekarang mbak kontrakin itu loh" jawabnya, aku pun hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
"oohh gituu, saya baru tau mbak. soalnya kemarin kan saya sewanya sama Bu Harun, memang beliau bilang rumah itu milik adiknya tapi saya ga tanya siapa nama adiknya itu" jawabku sambil terkekeh.
"oohh gituuu, gapapa mbak. mba sendirian aja disini?" tanya Sri sambil melihat sekeliling taman.
"ngga mbak, itu sama anakku kok" jawabku sambil menunjuk Aska yang berada di ayunan taman seorang diri.
"oohh sama anaknya, itu aku juga sama anakku lagi main ditiang estafet itu" katanya sambil menunjuk anaknya yang sedang bermain bersama anak-anak lain, aku pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum.
"anak mbak perempuan ya makanya gampang akrab sama anak perempuan lainnya, beda anak saya cowo masih malu-malu main sama anak perempuan hehehe" kataku sambil terkekeh pada Sri.
"iyaa mbak, biasa itu namanya juga anak-anak" kata Sri menjawab.
"mbak sendiri kenapa nih pagi-pagi udah kesini aja?" tanyaku pada Sri.
"hehe iyaa nih, lagi pengen aja si mbak. mbak sendiri kenapa? pasti karna ada mertuanya yang julid yaa, oppss" kata mbak sri sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, aku pun hanya terkekeh tak merespon dengan kata apapun.
"hehe maaf ya mbak, abis tadi saya dengerr si waktu jalan kesini omongan mertua mbak soalnya kenceng apalagi didepan pintu teras juga mbaknya" kata Sri
"gapapa mbak, yaa begitulah mbak hehehehe" jawabku.
"hehehe iyaa iihhh maaf loh ya mbak, aku kalo punya mertua kaya begitu uuuhh udah aku kasih cabe itu mulutnya. julidnya kelewatan" kata Sri lagi menahan geram dengan tingkah ibu mertua, padahal ia baru melihat satu kali ibu mertua ku.
"tapi, begitu begitu dia baik kok mbak. yaa namanya juga rumah tangga ujiannya kan dari mana aja ada tergantung gimana kita ngatasinnya aja" jawabku pada Sri.
"iyaa si mbak, kadang ya orang banyak yang bersyukur banyak yang ngga ya mbak. kaya mbak ini punya mertua begitu tapi masih dibela didepan orang hehehe harusnya bersyukur mertuamu mba dapat menantu seperti mbak bukan perempuan nenek sihir itu" kata Sri yang membuatku menyerit heran.
"perempuan nenek sihir?" tanyaku dengan alis bertaut.
"iyaa itu perempuan nenek sihir yang tdi sama mertuanya mbak itu loh" jawab Sri dengan tampang kesal.
"ooohh saira, emang mbak kenal sama dia?" tanyaku pada Sri.
"yaa kenal lah mbak, siapa si yang ga kenal sama dia. si tukang halu, yang katanya pengusaha, pendidikan tinggi, padahal mah heemm boro-boro mbak" katanya lagi dengan nada kesal pada saira.
"mbak tau banyak ya soal dia?" tanyaku pada Sri.
ini kesempatan ku mencari tau siapa wanita itu sebenernya, aku akan buat ibu mertua malu dengan wanita pilihannya untuk jadi menantunya.
"yaa Taulah mbak, dia itu suka Gonta ganti lelaki mbak. sana sini mau, lihat aja dandanannya iihh ga banget kan. terakhir kali saya itu denger dia kencan sama bos-bos kantoran mbak, terus ketauan sama istrinya bos itu. eeehh taunya tdi saya liat dia masuk kedalam rumah mbak terus digandeng sama mertuanya mbak" katanya lagi menceritakan siapa saira.
"aahh masa sih mbak? jangan liat dari tampilannya loh, kelihatannya dia baik kok" jawab ku dengan alis menyerit.
"duuhh mbak si, saya ga maksa mbak buat percaya. tapi si itu yang saya tau mbak, soalnya saya juga udah lama kan disini jadi tau laah orang-orang sini tuh gimana mbak" jawabnya lagi .
"oohh emangnya si saira itu tinggalnya dimana mbak?" tanyaku lagi penasaran.
"aaduuuhh mbak lagi gatau juga dia tinggal dimana?" tanya Sri dengan mata membola, aku hanya menggeleng ringan tanda tak tau.
"saira itu tinggal dirumah tiga gang dari sini mbak, rumah pertama digang itu" jawab Sri yang membuatku membelalakan mata.
pantas saja ibu mertua kekeh sekali ingin menginap dirumah, ternyata beliau tau jika saira tinggal tidak jauh dari rumah yang kami sewa.
aku tidak bisa diam begitu saja ini, aku harus membuat ibu mertua bisa pulang kerumahnya sendiri. bisa repot jika ibu terus menginap dirumah kami.
"serius mbak?!" tanyaku dengan mata terbelalak, Sri pun menganggukan kepala membenarkan.
"iyaa mbak serius, ngapain aku bohong" jawabnya dengan yakin.
seketika aku pun terdiam, aku dan sri sama sama tidak mengeluarkan sepatah kata lagi kami sama sama sibuk dengan ponsel masing-masing begitu pun aku yang juga memikirkan perkataan sri. jika benar rumah sewa ku dan rumah saira berdekatan bukan tidak mungkin ibu mertua akan sering menginap dirumah kami dan bertemu saira dirumah kami juga.
kenapa malah sekarang jadi aku yang kelabakan, aku harus membicarakan ini dengan mas Radit.
aku pun bangkit dari duduk dan mengajak Aska untuk pulang.
"Aska ayok pulang sayang, udah mulai siang" kataku pada Aska.
"loh kok udah mau pulang aja mbak,?" tanya Sri yang masih berada disampingku.
"iyaa Sri, aku harus masak makan siang. kamu emang belum mau pulang?" kataku memberi pertanyaan pada Sri.
"iyaa deh aku ikut pulang juga, biar jalan juga ada temennya" jawabnya sambil memanggil anaknya, setelah Aska dan anak dari Sri menghampiri kami pun melangkahkan kaki untuk pulang kerumah.
"anak kamu namanya siapa Sri?" tanyaku pada Sri.
"oh ini Zahra mbak, ini Aska ya?" kata Sri menjawab pertanyaan ku sambil menyapa Aska yang hanya dibalas anggukan olehnya.
tak terasa kami sudah sampai didepan rumah.
"mampir dulu Sri?" kataku berbasa-basi dengan Sri.
"ngga mbak aku langsung aja, lagian kayanya masih ada nenek sihir. males ah, kapan-kapan aja" jawab Sri sambil terus melangkah.
aku pun hanya menggeleng kepala lalu terus melanjutkan langkah memasuki rumah, sampai didepan rumah aku disambut dengan ocehan ibu mertua yang membuat telinga semakin sakit mendengarnya.
"bagus ya kamu ada mertua dan tamu dirumah bukannya ditemani malah ditinggal pergi, dasar gatau sopan santun!" kata ibu mertua terus mengoceh.
"laaahh tadi kan aku udah bilang Bu mau jalan-jalan, lagian kan dia tamu ibu bukan tamuku" jawabku dengan ketus, kesal dengan perkataan ibu mertua.
"dasar menantu kurang ajar, melihat menantu lain gaada yang seperti kamu sari. yaampun salah apa aku sampai Radit memberikan menantu seperti ini" kata ibu mertua yang membuatku sakit hati.
"cukup ya Bu, lebih baik ibu pulang sebelum aku habis kesabaran meladeni ibu" jawabku dengan lantang.
"heh, rumah ini juga rumah yang disewa anakku bukan rumahmu. jadi suka-suka aku mau ada disini atau tidak, gaada urusannya sama kamu!" kata ibu mertua membentakku
"mau ibu apa si, terus cari-cari masalah denganku?" tanyaku dengan sinis menyekap tangan didada.
"mau ku itu gampang, kamu tinggalkan Radit biar Radit sama saira. saira itu lebih baik dari kamu, sudah cantik, pengusaha, dan pasti bakalan sayang mertua ga seperti kamu!" jawab ibu mertua membuatku semakin naik darah.
"oh ya? coba ibu bicara seperti ini didepan mas Radit? bagaimana? aku akan meminta pisah pada mas Radit jika ibu mau bicara seperti ini didepannya mas Radit!" kataku menantang ibu mertua.
ibu mertua membelalakan matanya, sbenernya aku tau ibu mertua ga mungkin melakukan itu dan aku pun gabisa jika harus meminta pisah pada mas Radit. tapi biarlah aku tantang ibu mertua sesekali, biar dia tau jika aku tak bisa begitu saja dia tindas.
"kurang ajar ya kamu!!" ibu mertua siap meyangkan pukulan padaku tapi aku segera menepisnya.
"ingat Bu,seperti yang ibu bilang aku mempengaruhi mas Radit aku bisa dengan gampang mengadukan perlakuan ibu padaku ke mas Radit. ingat itu Bu!" kataku dengan tegas pada ibu mertua.