Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM DI UJUNG SENJA.
Matahari perlahan mulai bergeser ke barat, memancarkan sinarnya yang kian menghangat. Akibat pusaran gairah dan pertempuran panas yang menguras tenaga di atas ranjang sejak pagi menjelang siang tadi, perut Damar mulai menyuarakan aksi protes. Ia menunduk, menatap Kirana yang masih bersandar manja di dada bidangnya.
"Sayang, cacing-cacing di perut suamimu ini sudah mulai berdemo," bisik Damar dengan kekehan rendah. "Bagaimana kalau kita keluar sebentar untuk makan di restoran tepi pantai dekat vila? Aku tahu kamu juga pasti lapar."
Kirana terdiam sejenak sembari melirik jam dinding di kamar mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Di masa lalu, kecelakaan maut yang merenggut nyawa Damar terjadi tepat pada jam menjelang makan siang. Karena merasa mereka telah berhasil melewati jam-jam krusial yang ditakdirkan tersebut, perlahan benteng kecemasan di hati Kirana mulai melonggar.
"Baiklah, Suamiku. Kiran juga lapar," jawab Kirana akhirnya dengan seulas senyuman manis.
Mereka pun bersiap-siap dan segera bergegas menuju sebuah restoran estetik yang terletak tidak jauh dari kompleks vila. Sesi makan siang yang merangkap makan sore itu berlangsung dengan teramat hangat dan intim. Damar yang biasanya dikenal sebagai CEO berdarah dingin dan kaku, berkali-kali melontarkan gombalan receh nan lucu yang sukses membuat Kirana tertawa terbahak-bahak. Kedekatan itu perlahan-lahan membuat Kirana benar-benar melupakan sisa kemelut kecemasan yang sempat menghimpit dadanya sejak pagi.
Setelah urusan perut selesai, Damar menggandeng jemari Kirana, mengajak sang istri berjalan-jalan santai menyusuri bibir pantai berpasir putih untuk menikmati angin sore. Namun, di tengah suasana pantai yang lumayan ramai oleh para wisatawan, Kirana tidak menyadari adanya bahaya laten yang tengah mengintai dari balik kerumunan.
Dari arah berlawanan, ada dua orang pria bertubuh tegap dan seorang wanita berpakaian serba hitam yang sejak awal pergerakan terus memperhatikan langkah Damar dan Kirana. Tatapan mata ketiga orang asing itu tampak begitu menyeramkan, pekat oleh aura kebencian yang mendalam. Mengingat area tersebut adalah tempat umum yang ramai pengunjung, Damar dan Kirana awalnya hanya menganggap mereka sebagai wisatawan biasa yang kebetulan sedang melintas.
Namun, asumsi itu seketika berantakan. Tepat saat jarak di antara mereka terkikis hanya tinggal satu langkah kaki, salah satu pria asing itu mendadak merangsek maju dengan gerakan yang sangat cepat.
SREET!
Sebuah pisau komando yang berkilau tajam dikeluarkan dari balik jaketnya dan langsung dihentakkan kuat, menusuk tepat ke arah perut kiri Damar.
"Kak Damar!" jerit Kirana histeris, suaranya melengking memecah keheningan pantai saat melihat darah segar seketika merembes membasahi kemeja putih yang dikenakan suaminya.
Meskipun terkejut dan menahan rasa sakit yang luar biasa menjalar di perutnya, insting bertarung Damar sama sekali tidak tumpul. Dengan sisa kekuatan yang ada, Damar mencengkeram pergelangan tangan sang pelaku, lalu melayangkan sebuah tendangan berputar yang sangat keras tepat mendarat di dada pria tersebut hingga sang penyerang jatuh tersungkur di atas pasir.
Melihat rekannya jatuh, wanita berpakaian serba hitam itu melangkah maju dengan wajah yang memerah padam akibat amarah yang meledak-ledak. "Rasakan itu, Damar! Kau sudah menghancurkan seluruh keluargaku! Kau benar-benar pantas mati karena telah membuat Ayah dan kakakku masuk penjara!"
Mendengar bait kalimat penuh dendam itu, Damar yang kini berlutut sembari menekan luka di perutnya langsung bisa menebak identitas sang pelaku. "Kau... putri bungsu dari keluarga Pratama."
"Ya, benar! Aku Sheila Pratama!" teriak wanita itu dengan tawa hancur yang terdengar gila. Tatapannya beralih menatap tajam ke arah Kirana dengan penuh penghinaan. "Dulu kau menolak mentah-mentah untuk menikah denganku hanya karena demi membela wanita kampung tak berguna ini! Dan sekarang, kau bahkan tega menghancurkan perusahaan Papaku sampai gulung tikar! Jadi, kau memang sudah sangat pantas mati, Damar!"
Mendengar suaminya dihina dan melihat kondisi Damar yang kian melemas dengan darah yang terus mengalir, gairah keberanian di dalam dada Kirana seketika mendidih. Rasa takutnya menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa geram yang tak terbendung.
PLAKK!
Dengan gerakan kilat, Kirana melangkah maju dan melayangkan sebuah tamparan yang teramat keras tepat di pipi mulus Sheila, hingga wajah wanita sombong itu terlempar ke samping.
"Jaga mulutmu, perempuan iblis! Kau dan keluargamu yang pantas membusuk di neraka karena sudah mencoba mencelakai suamiku!" pekik Kirana dengan napas memburu dan mata yang berkilat tajam.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menamparku!" jerit Sheila murka. Ia langsung memberi kode kepada satu pria rekannya yang tersisa untuk membalas perbuatan Kirana. "Hajar jalang itu!"
Pria kedua itu bersiap maju untuk melayangkan pukulan ke arah Kirana. Namun, belum sempat tangannya menyentuh seujung rambut pun, dari berbagai arah dari balik kerumunan pantai, beberapa pria berbadan kekar dengan pakaian kasual langsung berlari merangsek maju dengan gerakan taktis.
Hanya dalam hitungan detik, anak buah suruhan keluarga Pratama beserta Sheila langsung diringkus dengan posisi mengunci di atas tanah. Ternyata, meskipun berada di pulau terpencil, Damar diam-diam tetap menempatkan belasan anak buah lapangan terbaiknya untuk terus mengawal pergerakan mereka dari jarak aman.
Setelah memastikan ketiga pelaku berhasil dilumpuhkan tanpa celah, Kirana langsung mengabaikan mereka. Fokusnya beralih sepenuhnya pada tubuh Damar yang kian merosot di atas pasir pantai.
"Cepat! Amankan mereka dan segera bawa suamiku ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Kirana kepada para pengawal dengan suara yang melengking panik, air matanya kini runtuh tak terbendung lagi.
"Nyonya Muda, tenanglah. Salah satu dari tim kami sudah menghubungi Pak Ricko sejak awal penyerangan. Helikopter medis pribadi milik Tuan Besar sedang dalam perjalanan kemari dan akan mendarat di helipad vila dalam waktu lima menit," lapor salah satu kepala pengawal dengan sigap sembari membantu memapah tubuh Damar.
Kirana segera berlutut di samping Damar, menaruh kepala suaminya di atas pangkuannya. Seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat karena rasa takut yang masif melanda jiwanya. Jemari tangannya yang gemetar terus menekan luka robek di perut Damar, mencoba menghalau aliran darah yang kian pekat membasahi pasir putih.
"Kak Damar... Suamiku... tolong bertahanlah, aku mohon dengan sangat," ratap Kirana dengan suara parau di sela tangisnya. "Jangan tinggalkan aku... Kau sudah berjanji pagi tadi untuk tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu. Tolong tepati janjimu, Sayang..."
Damar yang wajahnya mulai memucat menatap wajah sembap istrinya dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis. Di tengah rasa sakit yang mendera, ia memaksakan seulas senyuman tipis di bibirnya, lalu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar untuk mengusap lembut air mata di pipi Kirana.
"Aku... aku tidak akan pergi ke mana pun, Istriku yang cantik," bisik Damar dengan suara baritonnya yang terdengar sangat lirih dan lemah, sebelum matanya perlahan-lahan terpejam sepenuhnya tepat saat suara gemuruh baling-baling helikopter medis mulai terdengar membelah langit senja di atas pulau.