Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. telefon dom
"Astaga, Papa... lihat ini," panggil Inda dengan suara parau, memperlihatkan foto USG itu kepada Ayah Fiki yang kini ikut melangkah mendekat dengan gurat wajah yang sudah melunak seutuhnya.
Gavin yang berdiri satu langkah di belakang Aruna hanya bisa mengulas senyum miring tipisnya yang penuh rasa lega. Walau sudut bibirnya masih mengeluarkan darah akibat pukulan Ayah Fiki tadi, rasa perih itu sama sekali tidak terasa dibanding rasa bahagia melihat dinding es pertahanan keluarga Aruna kini telah runtuh demi menyambut kehadiran calon buah hati mereka.
Ayah Fiki berdiri diam selama beberapa saat, menatap lekat-lekat lembaran foto USG yang dipegang istrinya, lalu beralih menatap Aruna yang masih sesenggukan. Ketegasan wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh hela napas panjang yang sarat akan keikhlasan seorang ayah yang harus merelakan anak gadisnya.
Ia melangkah mendekati Gavin yang masih berdiri tegap. Pandangan mata Ayah Fiki tertuju pada sudut bibir Gavin yang robek, lalu turun menatap map kulit hitam tebal berisi jaminan masa depan Aruna. Ayah Fiki menarik napas dalam-dalam, lalu tangan kanannya yang besar terangkat dan menepuk bahu kanan Gavin yang sehat dengan cukup kuat, sebuah hantaman yang kali ini penuh dengan rasa hormat dan penerimaan.
"Kamu punya nyali yang besar, Gavin," ucap Ayah Fiki, suara baritonnya kini terdengar jauh lebih rendah dan bersahabat.
"Om sudah memukulmu, tapi kamu tidak mundur sekali pun. Kamu malah pasang badan di depan anak Om. Di zaman sekarang, pria berumur tiga puluh tahun pun belum tentu punya keberanian dan tanggung jawab sebesar yang kamu tunjukkan sore ini."
Gavin mendongak, mengunci pandangan matanya dengan Ayah Fiki, lalu mengulas senyum miring tipis khasnya. "Terima kasih, Om Fiki. Ini sudah jadi kewajiban saya."
"Jangan panggil Om lagi. Mulai hari ini, panggil Papa, sama seperti Aruna memanggilku," potong Ayah Fiki dengan senyuman tegas yang sangat hangat, menandakan bahwa restu karpet merah telah resmi diberikan.
Ayah Fiki mengambil map kulit hitam dari tangan Gavin, lalu menoleh ke arah Evan dan Ethan yang sejak tadi mengawasi di sudut ruangan.
"Evan, Ethan... hubungi Dominic Alexsei, Katakan pada besan kita itu, Papa menerima lamaran adiknya. Segera nikahkan besok pagi juga"
"Siap, Pah" jawab Evan dan Ethan serentak dengan senyum penuh kemenangan aliansi keluarga. Ayah Fiki kembali menatap Gavin, lalu menunjuk sudut bibir pemuda itu dengan dagunya.
"Sekarang, kamu duduk di sebelah Aruna. Biar ibunya mengobati luka di bibirmu itu. Dan Gavin... ingat satu hal. Papa memegang janjimu sore ini. Jika sampai kamu membuat Aruna menangis atau menelantarkan cucu pertama di rumah ini, jangan harap perlindungan dari kakak mafiamu itu bisa menyelamatkanmu dari amarah Papa."
"Saya pegang janji itu, Papa," jawab Gavin mantap tanpa ada ragu sedikit pun.Gavin langsung melangkah mendekati sofa, duduk tepat di sebelah Aruna yang kini menatapnya dengan sisa air mata namun dihiasi oleh senyuman paling cantik yang pernah Gavin lihat.
Gavin kembali menyusupkan jemarinya, menggenggam erat telapak tangan Aruna dengan penuh komitmen yang kini bukan lagi sebatas kontrak pacar sewaan, melainkan sebuah ikatan takdir yang nyata seumur hidup.
***
Di sudut teras luar yang teduh, Ethan mengeluarkan ponselnya sementara Evan menyandarkan punggung pada pilar marmer. Dengan satu ketukan cepat, Ethan langsung menghubungi nomor khusus Dominic Alexsei. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara berat sang bos mafia terdengar di seberang telepon.
"Gimana, Ethan? Apa Alex harus dikirim ambulans ke sana?" tanya Dom langsung tanpa basa-basi.
Ethan terkekeh rendah, melirik ke dalam rumah melalui celah gorden jendela.
"Adik lo aman, Dom. Cuma dapet satu pukulan mentah di rahang dari papah Fiki, tapi dia tetep berdiri tegak kayak tugu monas. Om Fiki udah luluh liat keseriusan Gavin. Dan papah bilang terimakasih untuk berkas jaminan aset yang lo bikin."
Evan ikut mendekatkan wajahnya ke arah ponsel. "Dom, Om Fiki minta lo dan keluarga lo datang ke rumah malam ini juga. Beliau menerima lamaran Gavin. Kita urus dokumen legalnya besok pagi, tapi malam ini kita langsungkan lamaran keluarga secara resmi."
Di seberang telepon, terdengar hembusan napas lega yang sangat langka dari Dominic.
"Bagus. Aku akan menutup jalur logistik pelabuhan selama beberapa jam khusus untuk malam ini. Beritahu Om Fiki, keluarga Sterling akan sampai di sana pukul tujuh malam dengan formasi lengkap."
***
Setelah telepon ditutup, Dom tidak membuang waktu. Dengan tangan yang bergerak di atas meja kerjanya, ia langsung menyusun panggilan konferensi internasional terenkripsi. Jalur telepon itu menghubungkan tiga titik sekaligus, kediaman pribadinya, resor mewah di luar negeri tempat kedua orang tuanya berada, dan sebuah apartemen elite di negara tetangga tempat adik perempuan satu-satunya tinggal.
Bzzz... Bzzz...
Layar monitor besar di ruang kerja Dom menyala, menampilkan tiga ruang obrolan video yang terhubung bersamaan.
Di layar pertama, muncul sosok Caspian Alexandro Sterling sang patriark sekaligus mantan kepala keluarga mafia tertinggi Keluarga Sterling yang didampingi istrinya yang anggun, Valeri.
Di layar kedua, muncul Bianca Alexandra Sterling, adik perempuan satu-satunya di keluarga mereka yang tidak mau ambil pusing soal perusahaan keluarga. Pendidikan kuliahnya sudah selesai sejak umur 15 tahun. Bersama Gavin, fokusnya saat ini adalah memperdalam ilmu bela diri, menembak, olahraga ekstrem, dan bersantai. Bianca adalah saudara kembar Gavin yang berbeda 4 menit. Bianca tampak sedang memegang cangkir kopi dengan dahi berkerut.
"Dom? Ada darurat apa sampai kamu memakai jalur satelit merah?" suara Valeri terdengar cemas dari seberang layar.
"Ini tentang Gavin, Mom, Dad," jawab Dom dengan suara baritonnya yang sangat tenang namun bertenaga.
"Beberapa jam lalu, kelompok Barat mencoba membalas dendam atas kasus sabotase jalur logistik kita di pelabuhan. Mereka mengincar seorang wanita karier di salah satu perusahaan raksasa. Gavin turun langsung berdarah-darah untuk melindunginya."
Bianca langsung mendengus geli di layarnya.
"Anak nakal itu bertingkah jadi pahlawan kesiangan lagi? Siapa cewek itu, Dom?"
"Dia Aruna," potong Dom, matanya menatap tajam ke arah layar komputer.
"Dan kabar terbarunya... dokter keluarga baru saja mengonfirmasi bahwa Aruna sedang hamil lima minggu. Gavin menghamili cucu dari Thomas Erros."
Mendengar nama Tommy Erros disebut, Valeri langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena saking syoknya. Tommy Erros adalah sahabat karib Caspian sejak masa muda, seorang konglomerat terpandang yang garis keluarganya sangat lurus. Bahkan Keluarga Sterling selalu melindungi Keluarga Erros serta keturunannya. Karena King Sterling, kakek dari Caspian, pernah berutang nyawa pada orang tua Tommy Erros.
Mengetahui anak bungsu mereka yang baru berusia sembilan belas tahun telah menghamili cucu dari sahabat karib mereka adalah sebuah skandal sekaligus kejutan luar biasa.
"Astaga, Gavin!" pekik Valeri panik. "Tommy pasti akan sangat kecewa kalau tahu kelakuan anak bungsu kita!"
Bianca sendiri hampir saja menyemburkan kopinya ke layar.
"Demi apa?! Si bungsu yang bebal itu bakal jadi bapak?! Dan dia dapet cucunya Kakek Tommy?! Gila, ini plot twist paling keren tahun ini!"
Namun, di tengah kepanikan Valeri dan kehebohan Bianca, sosok Caspian Alexandro Sterling justru tetap duduk dengan tenang di kursi kebesarannya. Pria paruh baya dengan rambut yang sedikit memutih di pelipisnya itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Ia hanya menyesap cerutu mahalnya dengan gerakan yang sangat lambat dan elegan.
"Papa... kenapa Papa diam saja?" tanya Valeri heran melihat ketenangan suaminya.
Caspian mengembuskan asap cerutunya ke udara, lalu menatap Dom melalui kamera dengan senyum tipis yang sarat akan kebijaksanaan seorang penguasa bawah tanah.
"Aku sudah tahu sejak dua jam yang lalu, Dom," ucap Caspian tenang, suaranya berat dan berwibawa.
"Jaringan intelijen pribadiku di pelabuhan dan rumah sakit sudah melaporkan semuanya sebelum dokter keluarga membuka mulut. Jalur penerbangan pribadiku dari negeri tetangga juga sudah disiapkan sejak satu jam yang lalu."
Caspian mematikan cerutunya di asbak perak, lalu berdiri tegak dengan aura kepemimpinan yang begitu pekat.
"Valeri, siapkan gaun terbaikmu. Bianca, kemasi barang-barangmu sekarang dan naik ke jet pribadi bersama Jasper pengawalmu," perintah Caspian tegas tanpa menerima bantahan.
"Tommy Erros adalah sahabatku, dan keluarganya adalah lingkaran terhormat yang bersih. Jika anak bungsuku sudah berani mengambil langkah sejauh itu, maka malam ini juga, seluruh otoritas tertinggi Keluarga Sterling harus turun langsung ke rumah Fiki Erros untuk melamar Aruna secara resmi. Kita tunjukkan pada Tommy bahwa kita tidak akan pernah membiarkan darah daging kita lahir tanpa perlindungan dari keluarga ini."
***