Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi Sebelum Badai
Suara raungan mesin beberapa mobil SUV hitam perlahan-lahan menjauh, meninggalkan kesunyian yang ganjil di halaman depan kediaman keluarga Wijaya di Kawasan Singasana. Elena Wijaya telah resmi berangkat menuju Kota Bandar Samudra dengan membawa serta Hendra dan hampir seluruh tim keamanan inti yang selama ini menjaga perimeter ketat rumah tersebut.
Kini, istana megah berlantai marmer putih di Jalan Widya Mulia itu terasa jauh lebih luas, namun di saat yang sama, terasa sangat kosong. Hanya ada empat orang penjaga keamanan tersisa yang bersiaga di pos gerbang luar, penjaga perimeter biasa yang kemampuannya jauh di bawah standar militer. Bagi musuh yang terlatih, pertahanan rumah ini sekarang tak lebih dari selembar kertas tipis yang mudah robek.
Nathan berdiri diam di lobi utama, menatap gerbang besi hitam yang baru saja tertutup rapat. Di telinga kanannya, earpiece spiral masih terpasang, namun frekuensi radio internal kediaman kini terdengar sangat sepi, hanya sesekali diisi oleh laporan rutin yang malas dari penjaga di pos depan.
"Mereka sudah pergi," sebuah suara lembut terdengar dari arah belakang.
Nathan berbalik perlahan. Clara berdiri di dekat tangga marmer besar, mengenakan kardigan rajut longgar berwarna abu-abu hangat. Wajahnya tampak sedikit muram saat menatap ke arah pintu keluar. Kepergian ibunya selalu meninggalkan rasa hampa yang sama setiap tahunnya, sebuah pengingat bahwa baginya, keluarga adalah nomor sekian setelah urusan bisnis Megantara Group.
"Betul, Nona Clara. Nyonya Elena baru saja meninggalkan perimeter luar," jawab Nathan dengan nada datar yang sopan.
Clara menghela napas kecil, melangkah turun mendekati Nathan. "Rumah ini selalu terasa seperti museum kuno yang mati setiap kali Ibu pergi. Sangat besar, sangat mewah, tapi tidak ada kehidupan di dalamnya." Ia menatap Nathan dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Setidaknya, kali ini aku tidak sendirian. Ada kamu di sini, Nathan."
"Saya akan memastikan keselamatan Anda terjaga sepenuhnya selama kepergian Nyonya Elena, Nona," jawab Nathan tegas.
Clara tertawa pelan, suara tawanya terdengar sedikit sedih di tengah aula yang sunyi itu. "Kamu selalu menjawab seperti itu. Tapi tidak apa-apa. Aku akan berada di ruang tengah untuk menyelesaikan sketsa kemarin. Jika kamu membutuhkan sesuatu, atau jika kamu merasa bosan, katakan saja padaku."
"Terima kasih, Nona. Saya akan melakukan patroli perimeter dalam terlebih dahulu," ucap Nathan seraya membungkuk hormat.
Setelah memastikan Clara berjalan menuju ruang tengah yang hangat, Nathan segera berbalik dan melangkah menuju barak keamanan di samping garasi luar. Ia harus bergerak cepat. Waktu yang dimilikinya tidak banyak sebelum malam tiba, dan ia tahu betul bahwa Robert si Broker Timur tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Hari pertama dan kedua kepergian Elena berlalu dalam keheningan yang menyesatkan. Bagi Clara, ini adalah hari-hari yang menyenangkan karena ia bisa melukis tanpa interupsi atau kritik dingin dari ibunya. Namun bagi Nathan, setiap jam yang berlalu adalah masa persiapan taktis yang krusial.
Di dalam kamarnya yang terkunci rapat pada malam kedua, Nathan membuka tas taktis militer miliknya yang tersembunyi di dalam lemari pakaian. Ia mengeluarkan sebuah pemindai frekuensi radio saku berteknologi tinggi dan mulai memetakan kembali seluruh titik buta kamera pengawas di sekitar kediaman Wijaya.
Ia menghubungkan ponsel satelitnya ke jaringan aman milik Rendra. Hanya dalam tiga detik, panggilan terenkripsi langsung terhubung.
"Rendra, bagaimana pergerakan di pelabuhan tua?" tanya Nathan langsung tanpa basa-basi, suaranya sangat rendah.
"Robert mulai bergerak, Bos," jawab Rendra di seberang sana, terdengar suara gemerisik kertas dan ketukan kibor yang cepat. "Namun mereka tidak terburu-buru. Sistem pelacakan kami mendeteksi adanya mobilisasi tiga kendaraan minibus di salah satu gudang terbengkalai di sektor utara. Ada sekitar dua belas hingga lima belas orang bersenjata yang berkumpul di sana sejak siang tadi. Mereka sedang mempersiapkan peralatan taktis, termasuk alat pemotong sinyal frekuensi radio."
Nathan menyipitkan matanya. "Mereka akan memutus seluruh komunikasi luar sebelum masuk ke dalam rumah."
"Benar, Bos. Begitu mereka mengaktifkan jammer, empat penjaga di pos depan tidak akan bisa menghubungi polisi atau pusat komando Megantara. Mereka akan terisolasi sepenuhnya. Robert tampaknya ingin melakukan penculikan kilat tanpa meninggalkan jejak." Rendra berhenti sejenak, nada suaranya berubah cemas. "Apakah Anda yakin tidak ingin saya mengirimkan tim bantuan dari Bravo Satria untuk bersiaga di sekitar perumahan?"
"Tidak. Jangan kirim siapa pun," perintah Nathan dingin. "Kehadiran pasukan tambahan akan membuat Robert membatalkan serangannya. Aku ingin mereka semua masuk ke dalam rumah ini."
"Tapi Bos, menghadapi lima belas orang bersenjata sendirian di dalam area terbuka seperti kediaman Wijaya adalah tindakan berisiko tinggi. Bahkan untuk orang dengan kemampuan seperti Anda."
Sudut bibir Nathan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin. "Mereka mengira rumah ini adalah sasaran empuk yang tidak terjaga. Mereka tidak tahu bahwa begitu mereka melintasi pagar itu, mereka tidak sedang memasuki sebuah rumah... mereka sedang melangkah masuk ke dalam peti mati mereka sendiri."
"Dimengerti, Bos. Saya akan tetap memantau pergerakan mereka melalui satelit dan memberikan pembaruan posisi setiap lima belas menit."
"Bagus. Pastikan peladen komunikasi satelit kita tetap aktif meskipun mereka menggunakan alat pengacak sinyal lokal," ucap Nathan sebelum memutuskan sambungan telepon.
Nathan berdiri, berjalan perlahan mengitari kamarnya. Ia mengeluarkan beberapa peralatan taktis kecil yang telah ia persiapkan sebelumnya, beberapa gulungan kawat baja tipis yang sangat kuat, tiga bilah pisau lempar berujung karbon hitam yang tidak memantulkan cahaya, serta sebuah pistol taktis berperedam suara kaliber 9 mm yang ia sembunyikan di balik panel dinding kayu kamarnya.
Selama dua jam berikutnya, dengan memanfaatkan statusnya sebagai pengawal yang sedang "melakukan patroli rutin", Nathan bergerak di sekitar halaman samping dan koridor dalam rumah. Di beberapa titik buta kamera pengawas yang krusial seperti lorong belakang dekat dapur dan tangga darurat menuju balkon lantai dua.
Nathan memasang beberapa jebakan kawat taktis yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang di bawah cahaya temaram.
Setiap jebakan dipasang dengan presisi militer, dirancang bukan hanya untuk memperlambat gerakan musuh, melainkan untuk melumpuhkan mereka secara instan dalam keheningan. Nathan mempersiapkan rumah mewah ini seperti ia mempersiapkan zona pertahanan parit di tengah medan perang.
Pukul tujuh malam, hujan kembali turun mengguyur Kawasan Singasana. Rintik hujan yang deras berisik mengetuk atap kaca ruang tengah, menciptakan atmosfer yang semakin sunyi dan dingin di dalam kediaman Wijaya.
Clara duduk di atas sofa beludru besar, memandangi kanvas lukisannya yang kini telah selesai sepenuhnya. Di atas kanvas itu, pemandangan Danau Lavender yang tertutup kabut tampak begitu hidup, namun entah mengapa, goresan warnanya terasa jauh lebih kelam dan melankolis dibandingkan sketsa-sketsa yang biasa ia buat sebelumnya. Ada bayangan dingin yang tersirat di antara pepohonan pinus yang ia lukis.
Mendengar langkah kaki yang teratur mendekat, Clara menoleh. Nathan berdiri di ambang pintu ruang tengah, memegang sebuah nampan kayu kecil berisi secangkir teh cengkih hangat yang mengepulkan uap tipis.
"Nona Clara. Saya membuatkan teh hangat untuk membantu Anda rileks," ucap Nathan dengan suara beratnya yang tenang.
Clara sedikit terkejut, namun senyuman hangat langsung menghiasi wajah cantiknya. "Ah, Nathan. Terima kasih banyak. Kamu tahu saja kalau aku sedang kedinginan."
Nathan meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja kayu di depan Clara, lalu melangkah mundur dua langkah untuk menjaga jarak profesionalnya.
Clara menyesap teh hangat itu secara perlahan, membiarkan kehangatan cengkih menjalar di tenggorokannya. Ia menatap Nathan yang masih berdiri tegak di dekatnya, tampak kokoh seperti patung penjaga yang tidak pernah lelah.
"Kamu membuat teh ini sendiri?" tanya Clara dengan mata berbinar penasaran. "Rasanya sangat khas. Sangat mirip dengan teh cengkih yang pernah kubeli di daerah pegunungan dulu."
"Ibu saya dulu sering membuatkan teh seperti ini saat hujan turun di malam hari, Nona," jawab Nathan datar, matanya menatap kosong ke arah lantai marmer. Ia tidak berbohong untuk bagian ini, aroma cengkih adalah satu-satunya memori hangat yang tersisa dari masa kecilnya sebelum dihancurkan oleh keserakahan Elena.
Clara menatap Nathan dengan tatapan yang dipenuhi rasa simpati yang mendalam. Ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas nampan, lalu menepuk ruang kosong di sofa sebelahnya. "Nathan, duduklah sebentar. Di sini tidak ada orang lain, tidak ada Ibu, dan tidak ada Pak Hendra. Kamu tidak perlu berdiri sekaku itu sepanjang malam."
"Tugas saya adalah tetap bersiaga, Nona," jawab Nathan menolak dengan sopan.
"Hanya beberapa menit, Nathan. Anggap saja ini adalah perintah dari majikanmu yang sedang kesepian," bujuk Clara dengan nada bercanda yang sedikit memohon.
Nathan terdiam selama beberapa detik. Ia melihat mata bulat Clara yang jernih dan tulus. Kepolosan gadis ini terkadang terasa sangat mengganggu bagi Nathan, karena Clara adalah satu-satunya sosok di kediaman Wijaya yang memperlakukannya seperti manusia, sementara Nathan sendiri sedang mempersiapkan sebuah ladang pembantaian yang akan menghancurkan seluruh hidup gadis itu dalam hitungan jam.
Dengan gerakan yang sangat teratur, Nathan akhirnya duduk di ujung sofa yang berlawanan dengan Clara, tetap menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mendengar helaan napas gadis itu.
"Terima kasih," gumam Clara lembut, tersenyum puas. Ia memeluk lututnya di atas sofa, menatap ke arah jendela besar yang basah oleh air hujan. "Tahu tidak, Nathan... terkadang aku merasa sangat bersalah."
"Bersalah untuk apa, Nona?"
"Bersalah karena menikmati semua kemewahan ini," jawab Clara lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara gemuruh guntur yang samar di kejauhan. "Rumah ini, mobil-mobil mewah, pakaian mahal... semuanya dibeli dengan uang yang dihasilkan dari dunia bisnis ibuku yang sangat keras. Aku tahu banyak orang yang membenci keluarga kami. Aku tahu ada banyak orang yang menderita di luar sana demi kesuksesan Megantara Group. Dan aku... aku hanya bisa melukis di dalam sangkar emas ini tanpa bisa mengubah apa pun."
Nathan menatap profil wajah samping Clara. Ia bisa merasakan kejujuran dan rasa sakit yang nyata dari setiap kata yang diucapkan gadis itu. Clara bukanlah ibunya. Clara hanyalah seorang gadis malang yang terperangkap di dalam jaring keserakahan Elena Wijaya.
"Anda tidak bisa memilih di keluarga mana Anda dilahirkan, Nona Clara," ucap Nathan, suaranya kali ini terdengar sedikit lebih lembut, kehilangan sebagian kebekuan esnya yang biasa. "Namun, Anda bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari kejahatan yang mereka lakukan."
Clara menoleh cepat ke arah Nathan, matanya melebar karena terkejut mendengar ucapan yang begitu berani dan mendalam dari mulut pengawalnya. "Nathan... apa maksudmu?"
Sebelum Nathan sempat menjawab, ponsel satelit di dalam saku jasnya bergetar pelan sebanyak tiga kali, sebuah sinyal taktis darurat dari Rendra.
Nathan langsung menegakkan tubuhnya, seluruh sarafnya menegang dalam sekejap. Aura ketenangan di dalam ruangan itu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan tak kasat mata yang sangat pekat.
"Nona Clara," ucap Nathan dengan suara berat yang dipenuhi otoritas mutlak, matanya menatap tajam ke arah pintu keluar ruang tengah. "Saya rasa sudah waktunya bagi Anda untuk kembali ke kamar tidur Anda di lantai dua. Dan apa pun yang terjadi setelah ini... pastikan Anda mengunci pintu kamar Anda rapat-rapat dari dalam, dan jangan pernah membukanya sebelum saya sendiri yang meminta Anda."
Clara tersentak melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah Nathan. "Nathan... ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Badai di luar sudah mulai mendekat, Nona," jawab Nathan dingin seraya berdiri tegak, matanya berkilat tajam di balik temaram lampu ruang tengah. "Dan saya harus memastikan tidak ada satu pun tetesan air hujan yang bisa membasahi Anda malam ini."