Hati Kanaya hancur saat mengetahui bahwa suaminya berselingkuh bahkan sudah menikah siri selama lima tahun dan lebih menyakitkan lagi keluarga suaminya mengetahui dan mendukung pernihakan Riko dan Sinta. Selama ini Kanaya selalu bertahan dan menerima semua perlakuan keluarga suaminya itu. keluarga Riko tidak pernah mengaggap Kanaya sebagai bagian dari keluarga mereka hanya menganggap Kanaya sebagai pembantu di rumah itu.
Kanaya lebih sakit hati lagi pada saat mendengar pengakuan anaknya bahwa keluarga suaminya itu menyakiti anaknya bahkan Riko sendiri tidak perduli sama sekali terhadap anaknya.
Apakah Kanaya akan tetap mempertahankan pernikahannya atau memilih berpisah setelah mengetahui pengkhianatan suaminya itu serta perlakuan keluarganya terhadap putrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
“Muka kamu kenapa Ko?” Tanya Jihan yang melihat wajah anaknya yang lebam.
Riko tidak menjawab sedangkan Jihan yang tidak tega kepada anaknya itu mengambil es batu dan kain untuk mengompres lebam di wajah anaknya itu.
Selesai mengompres dan mengobati luka anaknya itu Jihan kembali Bertanya kepada anaknya.
Riko memberitahukan kepada wajahnya bisa seperti itu. Jihan kaget mendengar jawaban anaknya itu.
“Jadi maksudnya Ana itu di jaga ketat oleh keluarga Kanaya?” Tanya Jesika memastikan.
bahkan anggota keluarga lain juga kaget mendengar penjelasan Riko barusan. Joy, Sinta, Ria dan Jesika tidak menyangka bahwa Kanaya menjaga anaknya dengan sangat ketat.
“Salah Abang sendiri yang tidak pernah sayang kepada Ana” ucap Ria dalam hati. Ria tidak berani berbicara seperti itu langsung kepada Abangnya itu.
“Apa jangan-jangan Kanaya sudah dapat uang warisan makanya dia bisa sewa bodyguard untuk anaknya itu?” tanya Jesika yang merasa Kanaya sudah mendapatkan bagian warisan dari Arumi.
“Bisa jadi” ucap Joy.
“Ya sudah mas kamu ke rumah Kanaya dan tanyakan soal uang warisan itu” ucap Sinta memberi usul.
“Begini saja Riko kamu awasi rumah Bu Arumi itu dan kamu pastikan keluarga Kanaya tidak ada di rumah terus kamu ambil uang itu” ucap Jihan memberikan idenya.
“Mama suruh aku mencuri?” tanya Riko kepada mamanya.
“Kamu itu tidak mencuri Riko, itu kan uang istri kamu, kamu Cuma ambil diam-diam saja” ucap Jesika yang membuat Ria menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kakak perempuannya itu.
“Ya sama saja kak, nanti kalau aku ketahuan yang ada aku di hajar oleh warga sekitar terus masuk penjara, sudah aku tidak mau melakukan itu” ucap Riko menolak ide mamanya itu.
“Ingat Riko kamu butuh uang untuk membayar pengacara, memangnya kamu punya uang, sedangkan istri kamu sudah jelas dia memiliki uang apalagi adiknya itu pengacara sudah bisa di pastikan Kanaya akan menang dan kamu kalah terus kamu tidak dapat apa-apa” ucap Jesika memanasi adiknya itu.
“Ya ko apalagi sekarang mobil belum juga ketemu, apa kamu tidak malu pergi ke kantor tidak menggunakan mobil?” tanya Jihan yang juga ikut-ikutan memanasi anaknya itu.
“Akan aku pikirkan nanti, sekarang aku mau istirahat, aku capek” ucap Riko tanpa menunggu jawaban dari mereka Riko langsung menuju kamarnya.
Badannya sudah sakit di hajar oleh preman sekarang di rumah malah di tanyak masalah uang warisan rasanya kepala Riko mau pecah memikirkan itu semua.
. . .
“Kakak janji ya jangan bilang ke mama soal kejadian tadi” pinta Ana sebelum dia keluar dari mobil.
“Kenapa tidak boleh kasih tau Na?” tanya Renata heran.
Ana memberitahukan alasannya kepada Renata bahwa dia tidak mau mamanya kepikiran. Karena mamanya sudah banyak menghadapi masalah.
“Ya sudah kamu masuk Sana, kakak mau pergi sebentar” ucap Renata yang sepertinya tidak mau berjanji untuk tidak memberitahukan soal kejadian tadi.
“Tapi kakak janji dulu” ucap Ana tidak mau turun sebelum kakaknya itu berjanji.
”Ana please kakak lagi buru-buru” ucap renata kepada adiknya itu.
Entah kenapa Renata tidak mau berjanji, Ana juga tidak bisa memaksa kakaknya karena sepertinya Renata memiliki urusan yang sangat penting sampai-sampai Renata membuka pintu mobil untuk Ana dan menyuruh Ana turun.
Mau tidak mau Ana turun dari mobil tanpa mendengar kakaknya berjanji untuk tidak memberitahukan soal kejadian tadi.
Setelah Ana turun Renata langsung pergi dari sana dengan membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Entah ada urusan apa dia sampai terburu-buru seperti itu.
Ana terlihat sedih dan juga takut, takut kakaknya memberitahukan soal kejadian tadi pada saat ayahnya itu memaksa dirinya ikut papanya itu.
“Semoga kak Nata tidak memberitahukan masalah tadi kepada mama” ucap Ana penuh harap dan masuk ke dalam rumah, Ana langsung masuk ke dalam kamarnya.
. . .
“Kanaya” panggil Arumi dan mengetuk pintu kamar Kanaya.
Kanaya yang mendengar panggilan dari mamanya segera membuka pintu kamarnya. Kanaya mengajak mamanya itu untuk masuk kamarnya.
“Anak ku ternyata begitu banyak yang dia rahasiakan” ucap Kanaya yang membuat Arumi bingung.
“Maksud kamu apa? Apa yang di rahasiakan anak kamu dari kamu?” tanya Arumi penasaran.
Kanaya menunjukkan sebuah video kepada mamanya itu di mana di sana terlihat Riko yang memaksa Ana untuk ikut bersamanya. Ya kejadian tadi videonya sudah sampai di tangan Kanaya dan lagi dari orang yang tidak di kenali oleh Kanaya.
“Tega sekali Riko kasar kepada anaknya” ucap Arumi yang tidak habis pikir dengan sikap Riko yang sangat kasar dengan anaknya sendiri.
“Sebaiknya kamu lapor polisi saja, sikap Riko ini sudah sangat keterlaluan Aya” ucap Arumi memberi saran kepada anaknya itu.
“Tidak bisa ma” ucap Kanaya yang membuat Arumi heran.
“Apa yang membuat kamu tidak bisa melaporkan riko ke kantor polisi?” tanya Arumi kepada anaknya itu.
“Apa kamu mau anak kamu sampai kenapa-napa oleh Riko” ucap Arumi merasa geram dengan anaknya itu.
Kanaya memberitahukan alasannya tidak bisa melaporkan Riko ke kantor polisi, dia tidak mau anaknya di hina di sekolah. Jika teman Ana tahu Riko masuk penjara anak pasti akan dijadikan bahan olokan temannya. Kanaya juga tidak ingin Ana sedih jika papanya masuk penjara. Kanaya yakin anaknya tidak mau papanya masuk penjara.
“Itu bukan lah sebuah alasan Kanaya” ucap Arumi kepada anaknya.
“Ma tolong hargai keputusan aku ma” ucap Kanaya memohon kepada mamanya itu.
“Terserah kamu tapi kalau sekali lagi, mama mendapatkan informasi Riko menyakiti Ana maka mama sendiri yang melaporkan Riko ke kantor polisi” putus Arumi.
“Iya ma, jika mas Riko masih menyakiti Ana maka aku tidak akan menghalangi mama melaporkan mas Riko ke kantor polisi” ucap Kanaya.
“Makasih ya ma, mama sudah mau mengerti aku” ucap Kanaya dan memeluk sang mama.
Arumi hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia juga tidak bisa memaksa anaknya itu. Arumi tau anaknya juga bingung harus melakukan apa. Arumi yakin dan percaya Kanaya tau yang terbaik untuknya itu.
Kanaya melerai pelukan mereka berdua. Kanaya menatap ke arah mamanya itu dengan lekat.
“Ma, menurut mama, jika aku mengajak Ana ke psikolog gimana ma?” tanya Kanaya kepada mamanya itu.
Ada rasa sakit saat Arumi mendengar anaknya itu berniat membawa cucunya ke psikolog. Sebelum menjawab Arumi memejamkan matanya sebentar.
“Nak, jika memang itu yang terbaik untuk Ana, ya sudah kamu lakukan saja nak” ucap Arumi berat untuk mengatakan itu.
“Seharusnya aku yang mengalami itu karena sifat mas Riko. Tapi ternyata aku lupa jika ada anak ku yang selalu di sakiti lebih dari aku oleh mas Riko dan keluarganya itu. ini juga salah satu alasan aku tidak melaporkan mas Riko ke kantor polisi, aku tidak mau Ana di pojokan dan di salahkan. Aku sangat yakin keluarga mas Riko menyalahkan Ana yang membuat Ana semakin tertekan ma” ucap Kanaya.
Lagi dan lagi air matanya jatuh membayangkan penderitaan anaknya itu. Arumi segera memeluk anaknya itu, Arumi hanya bisa terdiam dan mengusap lembut punggung Kanaya.
Arumi sebisa mungkin menahan tangisnya itu, arumi tidak menyangka anaknya menyimpan banyak duka dan memikirkan banyak hal.
Arumi tidak kepikiran soal keluarga Riko yang akan menyalahkan Kanaya dan Ana. Ana sudah banyak menghadapi masalah Arumi juga tidak mau Ana menghadapi masalah lagi. Psikis Ana pasti juga akan terganggu.