Faras, seorang aktor terkenal, mendapati kabar jika dirinya adalah seorang pria penyuka sesama jenis.
Ingin menampik berita bohong tersebut dan untuk menjaga image sebagai aktor, Faras pun memaksa ART nya yang bernama Talita untuk mau menjadi pacar.
Akankah sandiwara Faras dan Talita akan berjalan mulus? Ataukah akan terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tria Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pengakuan Faras
"Talita," bisik Faras dengan suara yang lemah. Dia mengangkat tangannya seolah sedang meminta agar Talita membantunya berdiri. "Tolong angkat aku, Ta!"
"Iya, Mas. Ayo, aku bantu."
Talita mengalungkan salah satu lengan Faras ke leher. Lalu sekuat tenaga mengangkat tubuh Faras. Mereka berdua bersama-sama melompat dan berhasil keluar dari kobaran api.
Namun, sepertinya mereka berdua berada di sisi yang berseberangan dengan berkumpulnya para kru. Sebab saat mereka keluar dari kepulan asap tak ada seorang pun yang terlihat.
Mereka harus berjalan memutar untuk bisa memberitahu semua orang bahwa mereka selamat. Tapi tubuh Talita dan Faras sama-sama lemas tak mampu lagi untuk berjalan.
"Kita di sini saja dulu, Ta. Yang penting kita sudah selamat," ucap Faras yang menjatuhkan diri di bawah pohon pinus, memegangi bahunya sambil mengernyitkan wajah.
Melihat Faras yang tampak kesakitan, membuat Talita bergerak ke samping untuk mengecek bahu Faras.
"Mas buka bajunya! Sepertinya bahu Mas Faras luka parah."
Faras menuruti perintah Talita. Dia hendak membuka kaos yang membalut tubuhnya tapi rasa sakit semakin bertambah seakan bahunya ditikam oleh sebilah pisau.
"Sakit ya? Aku robek aja bajunya ya?"
Tanpa menunggu jawaban dari Faras, Talita merobek bagian depan kaos hingga terbelah menjadi dua. Lalu membantu melepas kaos dengan sangat perlahan khawatir akan menggesek luka.
Talita melihat bahu Faras yang memerah. Namun, dia tak menemukan sesuatu apapun di dapat digunakan untuk mendinginkan luka itu. Maka Talita hanya bisa memiringkan tubuhnya dan meniup-niup pelan bahu Faras.
Faras sendiri menoleh memperhatikan Talita yang sedang meniup bahunya. Beberapa saat berlalu, Faras hanya diam memandang Talita.
"Pasti sakit ya, Mas?"
Suara sirine mobil pemadam kebakaran meraung-raung dari kejauhan. Menjadikan Faras tersadar dari lamunannya dan segera dia memasang wajah mode cuek.
"Ya, sakit lah. Pakai nanya segala."
Detik itu juga, salah seorang kru melihat Talita dan Faras yang ternyata sudah keluar dari kobaran api. Orang itu berteriak memanggil kru yang lain untuk membantu membawa Faras ke rumah sakit.
Hanya dalam hitungan menit, Faras sudah ditangani oleh dokter. Untung saja luka bakar di bahu Faras tidak sampai dikategorikan luka berat. Meskipun begitu, Faras harus di rawat selama beberapa hari untuk memulihkan tubuhnya yang terlalu banyak menghirup asap.
Setelah dokter selesai memeriksa, Natali langsung merobos pintu dan berjalan menghampiri Faras.
"Faras, tadi aku khawatir banget. Untung kata dokter luka kamu nggak parah," ucap Natali dengan nada bicara yang cemas.
Faras hanya menggumam tak jelas sambil berusaha mengangkat kepala. Dengan sigap, Natali membantu Faras yang ingin mengubah posisi menjadi duduk bersandar.
Dia menata bantal dan membaringkan Faras dengan perlahan. Lalu memandang Faras penuh perhatian.
"Kondisi Talita, bagaimana?"
Seketika Natali menampakan raut tak suka begitu Faras menanyakan tentang kondisi Talita. Bibir Natali mengatup rapat dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Dia baik-baik saja. Kamu nggak usah khawatir," sahut Natali secara asal.
Sebenarnya dia sendiri pun tidak tahu seperi apa kondisi Talita saat ini. Priya sudah menangani Talita dan Natali merasa tak perlu cemas akan keadaan gadis itu.
Hening selama beberapa saat. Baik Natali maupun Faras tak ada yang angkat bicara. Keduanya sama-sama melamun dengan pikiran masing-masing.
Kemudian, Natali menatap Faras dan berkata, "Far, aku boleh tanya sesuatu sama kamu? Tapi kamu harus jawab jujur ke aku."
Alis Faras terangkat. Dia penasaran dengan apa yang akan dibicarakan karena selama mengenal Natali tidak biasanya dia bersikap seperti ini.
Pandangan Faras membalas tatapan tajam Natali yang seakan sedang meneliti serta mendeteksi setiap kebohongan yang muncul di raut wajahnya.
"Kamu tanya apa?"
"Soal hubungan kamu sama Talita," kata Natali langsung kepada inti pembicaraan. "Kalian benar-benar pacaran?"
Faras memutuskan kontak mata dengan Natali dengan melempar pandangan ke jendela rumah sakit. Lalu dia menghela nafas berat, berpikir sejenak apakah tepat jika dia jujur pada Natali.
"Dia cuma pacar jadi-jadian," Faras berkata dengan ekspresi wajah datar.
Sementara itu, Natali tampak membuka sedikit mulutnya yang ternganga terkejut dan dahi yang mengerut bingung. Dia duduk di tepi ranjang agar dapat menatap lurus pada Faras.
"Maksudnya? Kamu sama Talita cuma pura-pura pacaran? Buat apa, Far?"
"Kamu ingat tentang gosip yang beredar jika aku ini homo? Gara-gara gosip itu, aku hampir kehilangan peran utama di film 'Bad Guys', Nat," Faras terdiam sejenak. Dia mengerlingkan mata menatap Natali. "Makanya, aku paksa Talita supaya mau jadi pacar aku untuk membantah omongan nggak bener di luar sana."
Natali menarik nafas panjang setelah mendengar penjelasan dari Faras. Lalu dia kembali bertanya, "Jadi, sebenarnya kamu nggak ada perasaan apapun ke dia?"
Beberapa saat Faras bingung. Dia sendiri tak mengerti bagaimana perasaannya pada Talita.
Faras terus menyakinkan dirinya sendiri jika dia tidak mencintai Talita tapi separuh hati Faras merasa tidak rela jika membiarkan Talita pergi jauh darinya.
Perlahan Faras menggelengkan kepala dengan sorot mata kosong. "Nggak aku nggak ada perasaan apa-apa ke dia. Justru selama ini, aku menyimpan rasa ke kamu, Nat. Aku suka kamu sudah sejak lama."
Kedua manik mata Natali berubah berbinar, terharu dengan pengakuan Faras. Ada rasa lega dalam diri Natali saat mengetahui jika Faras tidak memiliki perasaan pada Talita.
Satu tangan Natali membelai pipi Faras. Lalu menarik dagu pria itu agar menatap lurus padanya.
"Kenapa kamu nggak bilang sejak dulu, Far? Kalau kamu bilang dari dulu, aku pasti bakal putusin Jackson demi kamu."
Faras mendengus dan tertawa kaku seakan sedang mentertawakan dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaan pada Natali.
"Aku pikir, kamu sudah bahagia sama Jackson. Jadi aku nggak mau ganggu kamu. Waktu itu, aku cuma bisa berharap kamu putus sama dia."
"Faras," Natali tersenyum dan detik berikutnya, bibir Natali langsung menubruk bibir milik Faras.
Mereka berciuman di atas ranjang rumah sakit dengan mesra. Saling mengecap dan Natali pun meremas bagian depan baju pasien yang digenakan Faras.
Seharusnya Faras bahagia dengan momen ini. Hal seperi ini yang dia nantikan sejak lama. Namun, sebagian pikiran Faras bercabang memikirkan Talita. Benaknya masih belum tenang selama dia belum mengetahui kondisi terkini dari Talita.
Tak disadari oleh dua manusia yang sedang berciuman, jika sepasang mata sedang mengawasi mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Talita mundur satu langkah begitu melihat Faras dan Natali yang sedang berciuman dengan sangat mesra. Tak mau merusak suasana syahdu itu, Talita hendak menutup pintu dan pergi.
Namun, saat itu juga Faras melepaskan ciuman dan melempar tatapan ke arah pintu. Pandangan Faras dan Talita bertemu. Seketika Faras membulatkan mata karena terkejut akan keberadaan Talita yang entah sejak kapan.
Mungkinkah gadis itu mendengar percakapannya bersama Natali?
"Talita?" panggil Faras yang dengan cepat menyibak selimut dan berniat turun dari ranjang.
Talita segera memutar badan dan berlari pergi dari kamar Faras secepat yang dia bisa. Sementara Natali menahan lengan Faras yang ingin mengejar Talita.
"Faras, stop! Buat apa kamu kejar dia?"