Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Jantung Lin Liu berdegup kencang mendengar gedoran keras di pintu depan toko. Su Yan yang berada di sampingnya langsung berdiri waspada, wajahnya menegang.
"Itu suara siapa?" bisik Su Yan.
"A-Wei," jawab Lin Liu, suaranya bergetar. "Aku... aku lupa sama sekali soal deadline malam itu. Harusnya dari kemarin aku udah memberikan uang sepuluh juta. Lalu aku mintak untuk kasih waktu tambahan sampai jam delapan malam"
Su Yan menatap jam dinding toko yang menunjukkan pukul sebelas malam lewat. "Sekarang udah lewat tiga jam dari janjian loh."
Gedoran di pintu semakin keras, disertai suara beberapa orang yang berbicara dengan nada tidak sabar di luar sana. Lin Liu menghela napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di tubuhnya yang masih penuh luka, lalu melangkah menuju pintu depan.
"Lin Liu, tunggu—" Su Yan berusaha mencegah, namun Lin Liu sudah membuka kunci pintu dan melangkah keluar lebih dulu, tidak ingin melibatkan Su Yan lebih jauh dalam masalahnya.
Di luar, A-Wei berdiri bersama tiga anak buahnya, namun kali ini ada satu sosok lagi yang berdiri di belakang mereka—seorang pria paruh baya berpakaian rapi, mengenakan jas mahal yang sangat kontras dengan suasana gang sempit itu. Wajahnya tenang, namun matanya memancarkan aura yang jauh lebih mengintimidasi dibandingkan A-Wei sekalipun.
"Bos... Chen?" Lin Liu bergumam pelan, mengenali sosok yang selama ini hanya dia dengar namanya saja.
Chen Datong melangkah maju dengan santai, tangannya terselip rapi di saku jasnya. "Akhirnya kita bertemu langsung, Lin Liu. Saya dengar kamu sudah cukup merepotkan anak buah saya belakangan ini."
"Aku... aku belum sempat mengumpulkan sepuluh juta yang diminta, Pak," Lin Liu menunduk, suaranya bergetar meski dia berusaha terdengar tegas. "Tapi aku janji, aku akan bayar. Cuman aku butuh waktu sedikit lagi."
Chen Datong tertawa pelan, suaranya terdengar dingin di tengah keheningan malam. "Waktu, waktu, selalu soal waktu. Orang tuamu juga dulu selalu bilang begitu sebelum akhirnya kabur meninggalkan utang mereka padaku."
Lin Liu menatap pasrah matanya dipenuhi kesedihan. "Bapak... tau dimana orang tuaku?"
Senyum tipis Chen Datong semakin melebar, matanya menyipit penuh makna tersembunyi. "Tentu saja. Bahkan saya tahu persis ke mana mereka pergi sekarang."
Dunia Lin Liu seakan berhenti berputar mendengar kalimat itu. Selama ini dia hanya bisa bertanya-tanya, mencari-cari jawaban tanpa arah tentang kepergian kedua orang tuanya yang begitu mendadak. Dan kini, jawaban itu mungkin berada tepat di depan matanya, dari mulut orang yang paling tidak dia duga.
"Di mana mereka?! Tolong, Pak, beritahu dimana mereka!" Lin Liu melangkah maju, mengabaikan rasa takutnya, digantikan oleh dorongan putus asa untuk mengetahui kebenaran.
A-Wei segera menahan bahu Lin Liu, mencegahnya mendekat lebih jauh ke arah bosnya. Chen Datong hanya berdiri diam, menikmati keputusasaan yang terpancar jelas di wajah pemuda di hadapannya.
"Informasi itu ada harganya, Lin Liu," katanya akhirnya, suaranya tenang namun penuh perhitungan. "Bayar dulu utangmu. seluruhnya, bukan cuma sepuluh juta. Lalu saya akan mempertimbangkan untuk memberitahumu di mana orang tuamu berada."
Sebelum Lin Liu sempat menjawab, layar sistem tiba-tiba muncul di sudut penglihatannya, mengejutkannya untuk kesekian kali malam itu.
...[PERINGATAN: KEBERADAAN ENTITAS TERKAIT "ORANG TUA HOST" TERDETEKSI DALAM JARINGAN SISTEM.]...
...[TINGKAT AKTIVASI SISTEM MENINGKAT MENJADI 55%.]...
...[DATA TERKAIT MASIH TERKUNCI. DIPERLUKAN PENYELESAIAN MISI LEBIH LANJUT UNTUK MEMBUKA AKSES.]...
Lin Liu menatap layar itu dengan mata melebar, kemudian kembali menatap Chen Datong yang masih berdiri dengan senyum penuh teka-teki, seolah pria itu menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang dia kira.
Di tengah gang sempit yang temaram, dengan A-Wei dan anak buahnya mengepung dari segala arah, dan sebuah sistem misterius yang baru saja mengonfirmasi bahwa jawaban tentang orang tuanya ada hubungannya dengan pria di hadapannya, Lin Liu menyadari satu hal dengan pasti.
Perjuangannya untuk melunasi utang lima puluh juta itu bukan lagi sekadar soal bertahan hidup.
Ini baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.