Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Malam ini Asha harus menemani Dirga bertemu dengan client di sebuah cafe
Asha dan Dirga datang lebih awal dari waktu yang sudah di tentukan
Asha pun memanggil pelayan untuk memesan.
" Coklat ingin satu dan leci tea satu " ucap Dirga lebih dulu
" Baik, ada lagi pak yang ingin di pesan "
" Itu dulu "
" Baik, di tunggu "
Asha diam saat Dirga masih mengetahui minuman favoritnya
Sedangkan Dirga, ia mengalihkan dirinya dengan memainkan ponselnya
Sambil menunggu, Asha memperhatikan seorang pria yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi
Asha bukan memperhatikan penyanyi itu, namun ia fokus dengan lagu yang dibawakan oleh penyanyi itu
Sebuah lagu yang dulu Asha putar saat meninggalkan Dirga
Tanpa Asha sadar, ia ikut menyanyikan lagu itu
" Jika aku tak lagi sama denganmu..
Tak lagi saling merindu
Kuatkanlah jalan tengah yang telah kita ramu
Renungkanlah bila aku tanpa kamu
Bagai langit tanpa biru
Tak bisa ku bayangkan
Tak lagi kau tempatkan aku di sudut hatimu "
Dirga diam-diam memperhatikan Asha
Namun begitu sadar ia langsung mengalihkan pandangannya
Sudah hampir tiga puluh menit mereka menunggu, client tak kunjung tiba
Ting..
Ponsel milik Asha mendapatkan pesan masuk
Pesan itu dari sektretaris client mereka, ia mengatakan jika tidak bisa hadir karena ada satu urusan dan mereka akan kembali membuat jadwal
" Pak Dirga "
" Ya "
" Mereka bilang kalau malam ini mereka ada urusan mendadak dan ga bisa hadir, dan mereka akan kembali menghubungi kita untuk pertemuan selanjutnya "
" Oh oke kamu atur saja kalau begitu "
" Baik pak, jadi kita mau langsung pulang Pak ? "
" Saya mau makan dulu, saya lapar "
" Baik "
Asha pun kembali memanggil pelayan dan kemudian memesan makanan untuk dirinya dan Dirga
" Dua nasi goreng seafood ya mba, satu pedas satu tidak pedas. Untuk yang tidak pedas, tolong banyakin bawang gorengnya yah " jelas Asha
" Baik, ada lagi ? "
" Tidak ada, cukup "
Pelayan itu pergi.
" Kenapa kamu pesankan itu ? "
Asha tersenyum
" Lalu saya harus pesan apa ? "
" Pak Dirga tidak menyukai ayam dengan sambal, tidak menyukai makan sayur malam hari, apalagi mie instan. Jadi saya rasa itu makanan yang tepat "
Dirga tak menyangka jika Asha benar benar masih hafal dengan semua itu..
Saat Dirga hendak bertanya, ponsel milik Asha mendatkan panggilan masuk
Dirga meihat nama Naufal di layar ponsel milik Asha
" Maaf Pak, saya izin angkat telpon dulu "
Dirga mengangguk
" Ya Fal, kenapa ?"
Asha pergi meninggalkan Dirga sendirian, sedangkan Dirga ia penasaran apa yang Asha bicarakan dengan Naufal
Tak lama Asha kembali duduk di kursinya
" Kalian yakin tidak ada hubungan apa apa ? "
Dirga ini bertanya itu, namun ia tahan dalam hatinya
.....
Saat perjalan pulang, Dirga memutar lagu di radionya
Saat itu radio memutarkan lagu Raisa - Mantan Terindah
" Mau dikatakan apalagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu"
Lagu yang menggambarkan hubungan keduanya
" Say boleh tanya sesuatu?" ucap Dirga tiba-tiba
" Hmm boleh, Pak Dirga mau nanya apa ?"
Saat Dirga ingin membuka mulutnya, lebih dulu ia mendapatkan panggilan masuk dari Ibu Dirga
Melihat nama itu, Asha pun langsung meremas ujung bajunya dan menjadi ketakutan
Dirga pun mengangkat telpon yang terhubung di mobilnya
" Dirga, dimana kamu sayang ?"
" Dijalan Mah, kenapa ? "
" Mamah cuma mau bilang, hari minggu kamu pulang ya. Mamah mau kenalin sama anak temen mamah "
" Mah udah berapa kali Dirga bilang, kalau Dirga itu nggak mau di jodohin Mah "
" Ya tapi sampai kapan kamu sendiri terus ? Mamah juga pengen liat kamu nikah Dirga "
" Pokoknya Dirga enggak mau, udah ya Mah Dirga lagi di jalan "
Panggilan berakhir begitu saja
Saat lampu merah, tanpa sengaja Dirga menoleh ke arah Asha
Kemudian Dirga melihat jari Asha yang mengeluarkan darah karena Asha mengelupas kulitnya tanpa sadar
" Asha, jari kamu berdarah Asha " ucap Dirga panik
Asha melihat jarinya yang sudah luka..
" A..ku"
Belum sempat Asha menjawab, Dirga langsung menutup luka itu dengan tisue
" Ada apa Sha ? Kamu kenapa ?"
" Nggak kenapa kenapa "
" Muka kamu pucat Asha "
" Cuma cape aja Pak "
Dirga melihat Asha yang kembali mengelupas jari lainnya
Dengan cepat, Dirga menggenggam satu tangan Asha dengan erat
" Nanti luka lagi Asha "
Belum sempat Asha betanya, Dirga sudah lebih dulu menjelaskan
Namun apa yang Dirga lakukan membuat kondisi jantung Asha berpacu lebih cepat
Dirga benar benar menggenggam dengan erat, hingga mereka tiba dirumah Dirga
Sesampainya dirumah Dirga langsung mengambil kotak obat miliknya, dan mengobati luka di jari Asha
" saya bisa sendiri Pak Dirga "
" Diam Asha, kamu bisa kan diam ? "
" Bisa pak " Asha mengangguk
Setelah mengobati lukanya, Dirga menutup luka itu dengan plester
" Kamu istirahat sudah malam "
" Baik pak "
Asha pun segera meninggalkan Dirga
Dirga merasa ada yang aneh
Asha akan melakukan hal itu jika dirinya sedang ketakutan
Lalu apa yang Asha tkutkan tadi ?
Di dalam kamar Asha kembali melihat cek dari dompetnya
Jumlah uang yang cukup banyak bagi Asha, namun tak pernah ia sentuh sedikitpun
" Maafin aku Dirga.. Maaf "
Asha memeluk cek itu sambil menangis
Setelah tujuh tahun, rasa takut itu kembali datang di hidup Asha
Ketakutan yang membuat Asha pergi menghilang dari kehidupan Dirgantara