Ketika sebuah tangisan bayi menyadarkan lamunan seorang Raina Saraswati dan membuat tangisannya sejenak berhenti. Bayi merah yang baru berusia satu hari itu terus menangis dan Raina hanya diam memandanginya.
Bagaimana nasib Bayi merah itu? Apa yang akan di lakukan Raina?... Simak terus ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu
Makan malam pun sudah tersaji di meja makan. Seperti yang sudah di perkirakan Mami Meli akan terheran karena ada satu piring tambahan di meja makan. Mami Meli menanyakannya pada Bibi dan Bibi mengatakan hanya di minta menambah piring saja. Mbok Parmi keluar kamar untuk makan malam. Mami Meli pun menanyakan mengenai piring tambahan tersebut.
"Bu, apakah akan ada yang datang? Saya lihat ada satu piring tambahan di meja makan." Mami Meli.
"Loh, saya juga baru tau ini dari Bu Meli. Coba tanya Bibi." Mbok Parmi.
"Bibi juga ga tau Bu." Mami Meli.
"Mungkin Tanu akan makan malam bersama kita seperti biasa." Mbok Parmi.
"Ah, iya Ibu benar." Mami Meli.
Tak berselang lama terdengar suara bel berbunyi Mami Meli pun berinisiatif untuk membuka pintu karena Bibi tengah di sibukkan dengan persiapan makan malam. Mami Meli diam mematung kala melihat siapa yang datang ke rumah putranya.
"Selemat malam.." Sapa Dokter Rahmat.
"Hah, Ah, iya selamat malam dokter. Silahkan masuk dok. Silahkan duduk." Ucap Mami Meli gugup mempersilahkan Dokter Rahmat masuk.
"Terima kasih. Maaf saya datang tidak membawa apa-apa karena langsung pulang dari rumah sakit." Dotker Rahmat.
"Tidak apa-apa Dok. Apa ada masalah?" Tanya Mami Meli.
"Selamat malam dokter. Terima kasih Dokter mau menyempatkan datang ke rumah saya."
Belum sempat dokter Rahmat menjawab Rangga sudah datang menemui dokter Rahmat. Mami Meli hanya mengerutkan keningnya saja. di otaknya berfikir jika ini memang kerjaan anak dan menantunya yang mengundang Dikter Rahmat untuk makan malam bersama.
Mami Meli kini benar-benar diam saja terpaku dengan kelakuan anak dan menantunya yang mengundang Dokter Rahmat untuk makan malam bersama mereka. Tak menunggu lagi mereka langsung menuju meja makan. Mbok Parmi pun menyapa Dokter Rahmat.
Dokter Rahmat di persiapkan duduk di samping Mami Meli. Sepanjang makan malam Mami Meli hanya diam saja. Saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan Dokter Rahmat dada nya bergemuruh namun Mami Meli berusaha bersikap biasa saja. Semua tak luput dari pandangan Raina dan Rangga begitu juga dengan Mbok Parmi.
Setelah makan malam Rangga dan Rain memberikan kesempatan untuk Mami Meli dan Dokter Rahmat untuk berbincang berdua. Sementara Rangga beralasan Raina yang sering kelelahan setelah dinyatakan hamil. Sementara Mbok Parmi menemani Kelen tidur.
"Apa kabar dek?" Sapa Dokter Rahmat.
"Seperti yang Mas Rahmat lihat saya sehat." Jawab Mami Meli.
"Beberapa bulan tidak bertemu kamu makin cantik Dek." Dokter Rahmat.
"Mas Rahmat bisa saja." Jawab Mami Meli menundukkan wajahnya karena Mami Meli malu jika Dokter Rahmat mengetahui wajahnya yang memerah.
"Besok weekend ikut ya makan malam bersama anak-anak saya." Ajak Dokter Rahmat.
"Untuk apa?" Tanya Mami Meli.
"Memperkenalkan pasangan baru dan Ibu sambung mereka." Dokter Rahmat.
"Loh, Kenapa saya harus hadir Mas?" Tanya Mami Meli.
"Karena siapa yang akan saya perkenalkan jika Adek tidak ikut dengan Mas." Dokter Rahmat.
"Ah, Mas bisa saja." Mami Meli.
"Saya sudah yakin dan tidak ingin menyesal nantinya. Setelah saya perkenalkan adek ke anak-anak saya. Saya akan bicara pada Rangga untuk meminta adek." Dokter Rahmat.
Mami Meli hanya diam mematung mendengar ucapan Dokter Rahmat. Mami Meli tak tau harus berkata apa. Matanya berkaca-kaca melihat kesungguhan Dokter Rahmat. Dulu Mami Meli sempat membicarakan tentang Dokter Rahmat yang memberikan perhatian khusus padanya dengan Raina. Raiana mendukung saja apa yang terbaik untuknya. Hanya saja Rangga belum mengetahuinya. Mami Meli takut jika Rangga tak menyetujuinya.
Orang tua Randy datang berkunjung yang seperti biasa untuk menjenguk cucu mereka. Raina pun selalu menerimanyq dengan baik begitupun dengan Rangga dan Mami Meli. Karena Kelen memang darah daging mereka. Kali ini Orang tua Randy meminta ijin untuk membawa Kelen bersama mereka beberapa hari.
Raina mengijinkan karena memang sudah pernah orang tua Randy membawa Kelen dan akan mereka kembalikan lagi seperti biasa. Namun kali ini Mami Meli yang keberatan. Mami Meli sudah terlalu sayang dengan Kelen. Namun, Mami meli tak dapat berbuat apa-apa karena orang tua Randy pun mempunyai hak atas Kelen.
"Jangan terlalu lama membawa cucuku ya Jeng." Pinta Mami Meli.
"Iya jeng. Saya akan membawanya satu minggu saja. Besok akan ada acara di pondok dan kami ingin Kelen menghadiri nya karena akan ada do'a untuk Papa dan Mamanya juga." Mama Randy.
"Terima kasih Ma. Mama selalu mendoakan Kakak." Raina.
"Iya Nak. Walau bagaimana juga mereka anak Mama dan Papa." Mama Randy.
"Rai juga minta maaf Ma. Rai tidak bisa hadir di sana karena tengah hamil muda." Raina.
"Masya Allah benarkah?" Mama Randy.
"Iya Ma Alhamdulillah." Raina.
"Alhamdulillah. Sehat selalu Mama dan Bayinya ya Nak." Mama Randy.
"Iya Ma. Terima kasih doanya." Raina.
Mami Meli terus memeluk Kelen yang akan di bawa oleh orang tua Randy dan seperti biasa Mbok Parmi ikut bersama dengan mereka karena Kelen akan rewel jika tak ada yang di kenalnya. Walaupun jika di sana nanti Mbok Parmi tak mengerjakan apapun hanya menemani Kelen saja.
"Mbok pamit ya Nak." Pamit Ibu.
"Iya Bu. Jaga kesehatan Ibu ya." Raina.
"Iya. Jangan terlambat makan ya. Dan jangan terlalu kelelahan. Ingat ada adik Kelen di dalam sini." Mbok Parmi.
"Iya Bu. Disini masih ada Mami kok." Raina.
"Iya Bu. Saya ga akan lupa untuk mengingatkan Raina." Mami Meli.
Mereka pun berpamitan pergi menyisakan Raina dan Mami Meli. Saat mobil orang tua Randy keluar bersamaan dengan mobil orang tua Rama yang masuk ke halaman rumah Diana. Kemudian mereka pun menghampiri Raina dan Mami Meli untuk sekedar menyapa.
"Mel, apa kabar?" Tanya Mama Rama.
"Baik Mba. Mba apa kabar?" Mami Meli.
"Tentunya sangat baik Mel. Saya mengurus dua cucu kandung saya yang menggemaskan." Sindir Mama Rama.
"Mi Tante, Rai masuk dulu ya." Raina.
"Kamu gimana sih Rai. Sodara datang bukannya di suruh masuk malah di tinggal pergi." Mama Rama.
"Maaf Tan. Saya kelelahan karena terlalu lama duduk." Raina.
"Makanya kamu berikan saja Kelen pada orang tuan Randy biar kamu bisa mengurus Rangga dengan baik. Mungkin dengan begitu kamu bisa cepet kasih keturunan untuk Rangga." Mama Rama.
"Terima kasih Tante masukannya. Kami cukup bahagia dengan keluarga kami." Raina.
"Ealah... Ngeles aja. cucu kandung itu berbeda Rai dengan cucu cucu an." Mama Rama.
"Teirma kasih Tante sudah mengingatkan kami." Raina.
"Sudahlah Kak. Jika Kakak akan pergi mengunjungi dua cucu Kaka silahkan." Usir Mami Meli.
🌼🌼🌼