NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tristan

"Bos."

Seorang pria berseragam keluar dari kantor polisi dengan langkah tenang. Begitu berada di tempat yang sepi, ia mengangkat ponselnya.

"Ada dua mahasiswa yang sepertinya mulai tertarik sama kasus anak-anak yang hilang."

Suara berat di seberang sana terdengar singkat. "Identitasnya?"

"Belum lengkap. Tapi mereka banyak bertanya soal pola penculikan."

Hening beberapa saat.

"Awasi mereka. Kalau mereka menemukan sesuatu, laporkan ke gue."

"Siap, Bos."

Panggilan pun terputus. Laki-laki itu segera menyimpan ponselnya, lalu kembali berjalan seolah tak terjadi apa-apa.

Di sebuah apartemen mewah, seorang pria berpakaian hitam memasuki ruangan luas dengan aroma nikotin yang mengudara.

"Tuan."

Pria yang duduk membelakangi pintu tidak langsung menjawab.

"Orang kita di kepolisian baru saja memberi kabar. Dua mahasiswa mulai ikut mencari tau soal anak-anak yang hilang."

Perlahan kursi itu berputar. Seorang pria berusia sekitar dua puluh empat tahun tampak duduk santai di balik meja kerjanya. Sebuah tato hitam menghiasi lengan kirinya hingga mendekati siku. Di sela jemarinya, sebatang rokok masih menyala, mengepulkan asap tipis yang memenuhi ruangan.

Ia mengembuskan asap rokok perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tatapan tajam yang sulit ditebak. Wajahnya masih terbilang muda, tetapi sorot matanya memancarkan ketenangan sekaligus aura dingin yang membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama.

"Dua mahasiswa..." gumamnya pelan.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Mereka bahkan belum tau sedang berhadapan dengan siapa."

Ia mengetukkan jari telunjuknya pelan di atas meja. "Siapa nama mereka?"

"Maaf, Tuan. Orang kita belum sempat mendapatkan identitas mereka."

"Cuma tau mereka mahasiswa?"

"Iya, Tuan. Mereka datang bersama seorang ibu yang melaporkan anaknya hilang."

Pria itu mengangguk pelan. "Berarti rasa ingin tau mereka cukup besar."

Ia kembali mengambil rokoknya, lalu mengisapnya dalam-dalam.

"Rasa penasaran sering kali menjadi awal dari petaka."

Anak buahnya hanya menundukkan kepala. "Tuan, apakah perlu kami hentikan sekarang juga?"

Pria itu langsung menggeleng. "Jangan.... Semakin kita bergerak sekarang semakin besar kemungkinan mereka curiga. Awasi saja. Ikuti ke mana mereka pergi. Dengan siapa mereka bertemu. Dan apa yang mereka cari. Kalau mereka hanya mahasiswa yang sok menjadi pahlawan mereka akan menyerah sendiri. Tapi kalau ternyata mereka menemukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka ketahui..."

Ia berhenti sejenak. Tatapannya berubah dingin.

"...pastikan mereka tidak sempat membicarakannya kepada siapa pun."

"Baik, Tuan."

Pria itu kembali memutar kursinya menghadap jendela besar di belakangnya. Di balik kaca, langit mulai diselimuti awan kelabu.

Sudah berbulan-bulan bisnis gelap yang ia bangun berjalan mulus. Semua direncanakan dengan rapi. Setiap orang memiliki tugasnya masing-masing. Tidak ada yang bergerak tanpa perintahnya.

Sebenarnya, ia tidak pernah berniat menetap di Indonesia. Atau mencari target dari Indonesia.

Namun, ada alasan lain yang membawanya kembali ke negeri tempat ayah kandungnya dilahirkan, sebelum akhirnya menetap di Eropa. Dan selama tujuannya belum tercapai tidak akan ada siapa pun yang ia biarkan menghancurkan semua rencananya.

***

Andara mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali ia berhenti di depan jendela, lalu kembali melangkah. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Kalau memang ada yang sengaja mengincar anak-anak... Gimana caranya bikin mereka muncul?"

Ia mengacak pelan rambut yang tertutup kerudung instannya. "Ah... nggak mungkin."

Ide pertama langsung ia coret. "Terlalu bahaya."

Ia kembali berjalan. "Kalau nyamar jadi anak jalanan?"

Andara menggeleng cepat. "Gila.... Umur gue udah hampir dua puluh. Muka gue juga udah ketahuan dewasa."

Ia kembali mengembuskan napas panjang. "Terus gimana..."

Pandangan Andara jatuh pada buku hariannya yang tergeletak di atas meja belajar.

Ia duduk, lalu mengambil sebuah pulpen. Bukannya menulis perasaannya seperti biasa, kali ini ia justru mulai membuat daftar kecil.

Yang sudah diketahui: Korban berusia sekitar 6–10 tahun. Berasal dari keluarga sederhana. Tidak ada permintaan tebusan. Hilang di tempat yang berbeda. Beberapa saksi melihat mobil berwarna gelap.

Andara menggigit ujung pulpen. "Berarti... Mereka nggak nyulik sembarang anak. Mereka pasti mengamati calon korbannya dulu."

Ia memberi tanda lingkaran pada kalimat terakhir. "Kalau gitu, mereka mungkin pernah datang ke tempat Riri jualan."

Mata Andara sedikit berbinar. "Berarti besok gue harus ke sana lagi. Bukan cuma ke tempat Riri tapi ke pasar, terminal. Dan tempat anak-anak biasa jualan. Mungkin ada pedagang yang pernah lihat orang asing mondar-mandir."

Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Azlan.

"Lan, besok sepulang kuliah kita ke tempat Riri biasa jualan lagi."

Tak lama kemudian balasan masuk. "Oke. Tapi jangan aneh-aneh."

Andara tersenyum tipis. Lalu membalas lagi. "Tenang. Gue cuma mau cari informasi."

Beberapa detik kemudian, balasan lain muncul. "Nah itu baru bener. Jangan pernah kepikiran jadi umpan."

Andara memandangi layar ponselnya cukup lama. Ia memang sempat memikirkan ide itu.nNamun setelah mendengar penjelasan polisi dan ucapan Azlan, ia sadar bahwa bertindak gegabah hanya akan membahayakan dirinya sendiri dan menyulitkan penyelidikan.

"Kalau mau menemukan pelakunya, gue harus lebih pintar dari mereka."

***

Andara adalah Andara. Gadis keras kepala yang jika sudah memutuskan sesuatu, akan berusaha mewujudkannya sampai akhir.

Begitu pula dalam urusan cinta. Begitu pula ketika ingin membantu orang lain. Sekali ia menetapkan tujuan, akan sangat sulit mengubah pikirannya.

Sore itu, Azlan sebenarnya sudah berjanji akan menemani Andara mencari informasi mengenai Riri. Namun menjelang pulang kuliah, sebuah telepon dari rumah membuat rencananya berubah.

"Dar, maaf banget."

"Kenapa?"

"Umi lagi kurang sehat. Gue harus pulang nemenin beliau."

Andara langsung mengangguk. "Gak usah minta maaf. Temenin Umi aja."

"Yakin lo gak apa-apa?"

"Iya."

Azlan memandang Andara penuh curiga.n"Janji sama gue."

"Apa?"

"Jangan cari informasi hari ini. Tunggu gue besok."

Andara tersenyum kecil. "Iya. Janji."

Mendengar itu, Azlan akhirnya mengangguk lega. "Oke. Gue percaya sama lo."

Padahal... Begitu Azlan pergi, Andara langsung mengembuskan napas pelan.

"Maaf ya, Lan, gue bohong."

Kini Andara duduk seorang diri di sebuah taman yang tidak jauh dari tempat Riri biasa berjualan bunga. Tatapannya menyapu setiap sudut jalan. Sesekali ia memperhatikan anak-anak yang masih berjualan tisu, air mineral, dan bunga di lampu merah.

Ia mencoba mengingat semua penjelasan polisi. "Korban berusia enam sampai sepuluh tahun. Berasal dari keluarga sederhana, tidak ada permintaan tebusan."

"Kalau memang ada yang mengincar mereka, siapa pun itu pasti pernah datang ke sini."

Di saat yang sama...

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di lampu merah, tak jauh dari taman tempat Andara duduk.

Di kursi depan, seorang pria berjas hitam memperhatikan keadaan sekitar.

Sementara di kursi belakang, seorang pria bermata abu-abu duduk santai sambil memandang keluar jendela.

Sejak tiba di Indonesia beberapa minggu lalu, ia tidak pernah berkeliling. Ia fokus menjalankan bisnis gelapnya.

Dan sekarang, ia ingin melihat langsung negeri tempat ayahnya dilahirkan.

Tanpa sengaja, pandangannya berhenti pada seorang gadis berhijab yang duduk sendirian di bangku taman. Angin sore meniup pelan ujung kerudung gadis itu. Tatapannya terlihat serius, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Tanpa sadar, pria itu bergumam pelan, "Cantik sekali."

Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju beberapa meter.

"Tunggu, Max." Sang sopir langsung menginjak rem perlahan.

"Ada apa, Tuan?"

Pria bermata abu-abu itu masih menatap ke arah taman. "Saya ingin melihat pemandangan indah itu dari dekat."

Max mengikuti arah pandang tuannya. "Maksud Tuan... perempuan itu?"

"Iya."

"Saya temani."

Pria itu menggeleng pelan. "Tidak perlu."

Ia membuka pintu mobil, lalu turun dengan langkah tenang.

Sementara itu, Andara masih sibuk memperhatikan keadaan sekitar. Ia sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekatinya.

Di sisi lain, seorang pria berpakaian lusuh mulai melirik tas selempang yang berada di samping Andara.

Ia mengendap pelan. Tangannya mulai terulur. Belum sempat menyentuh tas itu, sebuah tangan lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.

"Jangan." Suara pria itu terdengar datar, tetapi cukup membuat si pencopet terkejut.

Pria tersebut langsung melepaskan tangannya dan berlari menjauh di tengah keramaian.

Andara yang baru menyadari kejadian itu langsung menoleh. "Eh..."

Pria bermata abu-abu itu menatap tas Andara. "Tadi ada orang yang hendak mengambil dompetmu."

Andara buru-buru memeriksa isi tasnya. Dompetnya masih ada.

Ia mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah..."

Kemudian ia menatap pria asing di hadapannya. "Makasih ya, udah nolongin saya."

Pria itu tersenyum tipis. "Sama-sama."

Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama terdiam.

Andara baru menyadari logat bahasa Indonesia pria itu terdengar sangat fasih, tetapi intonasinya sedikit berbeda, seolah bukan penutur asli.

"Maaf," ucap Andara sopan. "Apa kita pernah ketemu sebelumnya?"

Pria itu menggeleng pelan. "Belum."

"Kalau begitu, berarti hari ini pertemuan pertama kita. Nama saya Andara. Kamu?"

"Tristan."

"Sepertinya kamu bukan asli Indonesia, ya?"

"Benar."

"Tapi kamu bisa berbahasa Indonesia?"

"Karena ayah saya orang Indonesia."

"Oh, begitu. Salam kenal."

Tristan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Andara hanya tersenyum tipis. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai isyarat hormat.

"Maaf."

Tristan sempat terdiam. Ia tidak begitu mengerti maksud gestur Andara, tetapi tetap menarik kembali tangannya sambil tersenyum kecil.

"Kamu sedang apa di sini?"

"Oh, aku—"

"Dara!" Seruan seseorang memanggil nama Andara membuat ucapannya terhenti.

Andara menoleh. "Kak Kafa?"

Keningnya berkerut heran. Kenapa Kak Kafa bisa di sini? batinnya.

Andara kembali menatap Tristan. "Oh iya, Tristan. Terima kasih ya, udah nolongin saya tadi."

Ia tersenyum ramah lalu melambaikan tangan. "Sampai ketemu. Bye!"

"Sama-sama."

Tristan membalas lambaian tangan Andara dengan senyum tipis.

Tristan masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Andara yang berjalan menghampiri laki-laki itu. Ia melihat raut wajah Andara yang semula serius berubah jauh lebih hidup. Gadis itu tampak berbicara cukup akrab dengan laki-laki tersebut.

Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju sebuah mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.

Tristan masih memandangi mobil yang perlahan menghilang dari pandangannya.

"Apa itu pacarnya?" gumamnya pelan.

Max yang sejak tadi berdiri tak jauh dari belakang tuannya akhirnya mendekat.

"Tuan."

Tristan tidak mengalihkan pandangannya. "Cari tau."

"Tentang perempuan itu?"

"Iya..Dan laki-laki yang menjemputnya."

Max mengangguk. "Baik, Tuan."

Tristan akhirnya berbalik. "Entah kenapa, saya merasa perempuan itu berbeda."

"Berbeda bagaimana, Tuan?" tanya Max sambil membukakan pintu mobil.

Tristan masuk ke kursi belakang, lalu menjawab pelan, "Dia cantik. Tapi bukan itu yang membuat saya memperhatikannya. Dia menolak berjabat tangan tanpa membuat lawan bicaranya merasa tidak dihargai. Caranya berbicara juga sopan. Dan saat dompetnya hampir dicuri, dia tidak panik berlebihan."

Max hanya mengangguk. "Jarang Tuan tertarik pada seseorang hanya karena pertemuan beberapa menit."

Tristan tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin karena saya tidak pernah bertemu perempuan seperti dia."

Mobil kembali melaju meninggalkan taman itu.

***

Sementara itu, di dalam mobil Kafa.

Begitu mobil mulai melaju meninggalkan taman, Andara lebih dulu membuka suara.

"Kenapa Kakak bisa tau aku di sini?"

Kafa tetap fokus menyetir. "Kenapa habis kuliah nggak langsung pulang?"

Andara langsung mengerucutkan bibirnya. "Aku lagi nanya, Kak. Kenapa malah dialihin?"

"Jawab pertanyaan Kakak dulu."

Andara menghela napas pelan. "Oke, aku jawab."

Ia menoleh dengan senyum jahil. "Tapi kalau Kakak nggak jawab jujur, nanti aku cium. Biar kita langsung dinikahin."

"Dara..." Kafa langsung menggeleng pelan.

Andara justru terkekeh. "Hehehe... Aku ada urusan aja. Mau jalan-jalan."

"Jalan-jalan?" Kafa melirik sekilas ke arahnya.

"Bohong sekali. Alasan kamu nggak masuk akal."

"Ih, beneran kok."

"Jawab yang jujur, Andara. Atau Kakak akan bilang sama Abi dan Bunda kalau dari kemarin kamu pergi berdua sama Azlan."

Andara sama sekali tidak terlihat panik. Ia justru menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyeringai jahil.

"Ya bilang aja... Paling nanti aku sama Azlan malah dinikahin."

Kafa langsung menoleh sekilas dengan tatapan tak percaya. "Kamu ini..."

Andara hanya mengangkat bahu santai. Dalam hati, ia yakin Kafa tidak akan benar-benar mengadu kepada Abi dan Bundanya. Andara terlalu mengenalnya. Lagi pula, selama bersama Azlan, mereka tidak pernah melakukan hal yang melanggar batas ataupun mencoreng kepercayaan kedua orang tua mereka.

Kafa menepikan mobilnya di bahu jalan.

"Kok berhenti, Kak?"

Tanpa menjawab, Kafa melepas sabuk pengamannya.

Klik.

Ia lalu memiringkan tubuhnya, mendekat ke arah Andara.

"K-Kakak mau ngapain?" tanya Andara, mendadak gugup.

Kafa tetap diam. Tatapannya lurus menatap mata gadis itu.

Entah mengapa, ia tidak suka ketika Andara menyembunyikan sesuatu darinya. Terlebih setelah mengetahui Andara pergi bersama Azlan sejak kemarin.

Setelah jarak mereka tinggal sekitar dua jengkal, Kafa akhirnya membuka suara.

"Jawab jujur, Andara. Kamu ke mana sama Azlan?"

Andara mengerjap beberapa kali. Jarak sedekat ini membuatnya bisa merasakan embusan napas Kafa yang beraroma segar.

Ia refleks menelan ludah.

"Kak..."

"Hm?"

"Jangan bikin aku kelepasan."

"Kelepasan apa?" Kafa mengernyit. "Kentut?"

Andara langsung memutar bola matanya. "Bukan! Kelepasan buat nyium Kakak."

Kafa terdiam.

"Jarak sedekat ini bikin aku susah napas."

Beberapa detik mereka saling menatap. Lalu tanpa sadar, sudut bibir Kafa terangkat membentuk senyum tipis.

Ia pun mengembalikan tubuhnya ke posisi semula..Andara langsung mengembuskan napas lega.

"Huft... aman..Coba kalau Kakak lebih lama lagi."

"Kenapa?"

"Aku bisa nekat, loh."

"Nekat saja." Kafa menatapnya santai. "Kakak yakin kamu nggak akan berani."

Andara mengangkat sebelah alisnya. "Kata siapa? Kalau aku berani gimana?"

"Dara..." Nada suara Kafa kembali melembut. "Sudah. Kenapa susah sekali menjawab pertanyaan Kakak?"

Andara mengembuskan napas pelan. "Ya kan tadi udah aku jawab, Kak Kafa sayang."

"Panggilan 'sayang' itu cukup untuk suami kamu nanti."

Andara tersenyum lebar. "Lah, kan Kakak itu my future husband."

Kafa menggeleng pelan sambil terkekeh kecil. "Cegil."

Andara menjulurkan lidahnya dengan jahil. "Emang, Weee..."

Kafa hanya bisa menghela napas sambil menghidupkan kembali mesin mobil. Entah sejak kapan, ia mulai terbiasa dengan tingkah Andara yang selalu berhasil membuatnya kehabisan kata-kata.

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!