NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungi Megan

Dari jendela kamar, Pollux melihat Megan memasuki mobilnya. Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menandakan bahwa ia juga sedang marah. Pollux menatap kepergiannya hingga mobil yang dikendarai Megan tidak terlihat lagi.

Megeluarkan ponselnya, Pollux menekan angka empat yang langsung tersambung ke nomor saudaranya, Pax. Tidak menunggu lama Pax segera menjawab panggilannya.

“Aku melihat matahari masih terbit dari arah timur, ada apa gerangan Kakakku yang menduplikat wajah rupawanku tiba-tiba menghubungiku?” kelakar Pax yang dibalas Pollux dengan decakan kesal. Mendengar hal itu, Pax semakin tergelak.

“Hubungi Meg, dan ajak dia untuk makan siang!”

Di seberang telepon, Pax mengernyitkan dahi mendengar kalimat Pollux yang bernada perintah. “Dibanding diriku, mungkin dia akan menjerit kegirangan jika kau yang mengajaknya.” Sahut Pax dengan lempeng.

“Jangan banyak membantah, lakukan saja yang kukatakan!” Pollux yang suasana hatinya tidak stabil, tidak mampu mencerna makna tersirat dalam ucapan yang dipaparkan oleh adiknya.

“Beberapa kali dia menghindari ajakanku, dan hari ini aku tidak bisa. Wajah tampanku sedang terluka,” Pax menyapukan lidahnya ke sudut bibir yang memang sedang terluka. Ia berdecak, mengingat siapa pelaku yang telah berhasil mencemari wajah tampannya. Wanita yang sama, yang juga sudah menolak perasaannya. Alena, wanita ajaib karena berhasil menolak Pax bahkan setelah wanita itu menikmati ciuman yang sudah berpengalaman dan teruji mampu membuat siapa saja mabuk kepayang, kecuali Alena tentunya.

Pollux mengembuskan napas kasar. “Kau tidak berguna sama sekali,” ia pun memutuskan sambungan telepon.

Mengalihkan pikirannya dari wajah Megan yang sedang menahan tangisannya, Pollux masuk ke ruang kerjanya. Ya, bekerja biasanya berhasil mengalihkan pikirannya. Terbukti dalam beberapa hari ia bahkan tidak merasakan apa-apa setelah kehilangan Maria. Semua tentang wanita itu seakan menghilang seiring kepergiannya menghadap yang Kuasa.

“Tidak berhasil sama sekali,” Pollux menyingkirkan laptop dan beberapa dokumen dari hadapannya. Wajah Megan selalu saja menghampirinya. Pollux berdiri, mengusap wajah kasar, lagi dan lagi berdecak kesal.

Ia melihat jam dinding, kembali ia mengembuskan napas panjang. “Kenapa hari ini waktu berjalan begitu lambat,” gerutunya menatap sinis ke arah jarum jam yang masih menunjuk angka 5.

Lux menghabiskan waktu seharian di dalam kamarnya, bolak balik dari ruang kerja ke ruang kamar. “Kenapa air mata itu harus menggenang di manik indahnya. Sial, seharusnya ia mengenakan kaca matanya agar manik sialan itu tidak menghantuiku.”

Lux berjalan mondar mandir seperti setrikaan, matahari sudah tenggelam, tapi ia merasa detik demi detik semakin melambat. Ia ingin matahari terbit segera, dengan begitu ia mempunyai alasan untuk menghubungi Megan seandainya wanita itu tidak datang untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Sebaiknya aku tidur,” Beberapa detik kemudian, ia kembali duduk. Besok adalah akhir pekan, tidak mungkin Megan datang untuk bekerja. Kembali Pollux mengambil ponselnya. Kali ini ia menghubungi saudara kembarnya yang lain, Paula.

Panggilan pertama diabaikan. Jam 22.00, sepertinya Paula sudah tidur, tapi untuk kali ini Pollux mengabaikan hal itu, ia terus menghubungi Paula, dan berhasil. Panggilan ketiga, Paula akhirnya menjawab teleponnya.

“Kau sudah tidur?” tanya Pollux berbasa basi.

“Tidak, aku baru menyelesaikan ritual malamku,” sahut Paula di seberang telepon. Yang dimaksud dengan ritual malam adalah perawatan wajah cantiknya.

“Bagaimana kabarmu?” Pollux masih berbasa basi karena ia memang tidak bisa memerintah Paula begitu saja seperti yang ia lakukan kepada Pax siang tadi.

“Baik.”

“Kabar Aaron?” Pollux menggeram atas pertanyaan bodohnya, ia segera menjauhkan ponsel dari telinganya.

“KAU INGIN KUBUNUH, LUX!!”

“Besok akhir pekan, mau berkencan denganku?” tawar Pollux, sengaja melempar umpan.

“Kau kalah cepat. Megan sudah mengajaknya terlebih dahulu. Besok aku akan pergi bersamanya.”

“Ke mana? Jam berapa dia menghubungimu, apa suaranya terdengar sedih?” cecar Pollux, membuat Paula menautkan alisnya.

“Dia terdengar baik-baik saja. Menghubungiku jam 18.00, dan sepertinya esok ia mampir ke butik terlebih dahulu, setelahnya kami akan memanjakan diri ke salon mungkin.”

Pollux menganggukkan kepala. “Sudah larut, tidur lah.”

***

Akhir pekan pun tiba, Alena mendengar klakson mobil dari halam rumahnya. Ia segera berlari ke luar. Ya, Megan berbaik hati untuk menjemputnya.

“Mau kopi?” Megan menyambut Alena dengan senyuman sembari mengulurkan kopi.

“Terima kasih,” Alena menerimanya begitu selesai memasang sabuk pengamannya. “Kita akan ke mana?”

“Sahabatku memiliki butik, dia mendesain dan menjahit sendiri pakaian yang ia jual. Semua yang kau inginkan ada di sana selama itu berkaitan dengan pernak pernik kewanitaan. Apa kau keberatan jika aku mengajakmu ke sana?”

Alena menggelengkan kepalanya, Megan pun segera melajukan mobilnya.

Dua puluh menit perjalanan, mereka pun akhirmya sampai. Megan membawa Alena masuk ke dalam toko, dan langsung menuju ruangan Alena. Tanpa mengetuk, Megan membuka pintu dan melihat Pax sedang mengecup kening Paula.

Megan masuk dengan santai, menyapa kedua kakak beradik itu. Pax memutar tubuhnya, dan seketika ia menyeringai begitu melihat mata Alena yang melotot sempurna ke arahnya.

“Oh, kau!” pekik Paula girang sembari menghampirinya. “Hm, A-alena?”

Alena mengangguk, tersenyum tipis. Ia melirikkan ekor matanya pada pria yang juga berjalan mendekatinya.

“Jadi kau dan Alena sudah saling mengenal?” Megan menatap Paula dan Alena bergantian dan keduanya kompak mengangguk.

Megan menepuk jidatnya, tentu saja mereka saling mengenal, Alena dan Pollux bertetangga dan keduanya terlihat begitu dekat, bahkan Pollux menaruh perhatian padanya. Mengingat itu, Megan mengembuskan napas lelah.

“Hai,” Pax menyapa, membuat Alena menatap ke arahnya.

Pax mengulum senyumnya, ia merentangkan kedua tangan dan seketika jantung Alena berulah, berdegup tidak karuan.

Pelukan? Ia ingin memelukku di hadapan kekasih cantiknya? Apa si keong racun ini cari mati? Alena membatin di tengah gejolak jantung yang menggila dan tubuh yang memanas seakan sedang terbakar.

“Jangan-“ kalimatnya terhenti begitu tangan panjang pria itu menarik Megan ke dalam pelukannya.

“Kenapa kau selalu menghindariku?” Pax mengacak rambut Megan dengan gemas, tanpa melepas pelukannya.

Apa yang terjadi di sini. Ternyata si keong racun ini bukanlah pemain kelas teri, melainkan kelas kakap. Lihatlah tatapannya, begitu lembut terhadap Megan, sama seperti saat ia menatap kekasih cantiknya. Dan astaga, aku tidak percaya ini, beberapa hari yang lalu dia menciumku dan memintaku jadi wanitanya. Apa Megan juga kekasihnya. Tapi tunggu dulu, tatapan pria ini berbeda dari kemarin, sikapnya juga tidak hangat terhadap Megan, dan sekarang? Apa jangan-jangan setelah aku pergi, ada kejadian menggelikan seperti yang kualami... oh... tidak.

“Kau mengenal Paula dan Pollux, apa kau juga mengenal Pax?” tanya Megan penasaran.

“Pax?” Alena terlihat bingung.

“Dia mengenal Pollux?” tanya Paula dan Pax berbarengan.

Megan mengangguk sebagai jawaban atas kedua pertanyaan itu.

Pax menyeringai, ia berjalan mendekati Alena, berdiri di hadapan wanita itu. “Jadi kau mengenal Pollux?”

“Apa kau sedang ber-akting di hadapan kedua kekasihmu?” bisik Alena dengan sinis.

Pax tergelak mendengar pernyataan konyol Alena. “Kapan kau mengenal Pollux?”

Sepertinya pria ini bukan memiliki kesenjangan untuk melupakan kejadian yang sudah berlalu, tapi sepertinya ia memiliki kepribadian ganda. Oke, Lux versinya yang normal dan yang mereka sebut Pax adalah versinya yang menjadi keong racun pecinta wanita. Alena mengambil kesimpulan konyol yang menggelikan.

“Saat bertemu di bar, kau melecehkanku. Saat itu kau menjadi Pax atau Pollux?” Alena ingin membuktikan hipotesisnya.

“Pax,” jawabnya singkat.

Alena mengangguk faham, “Lalu bagaimana saat kita menghabisakan pagi dengan menikmati mie instan cup yang berakhir dengan undanganmu untuk menikmati secangkir kopi di rumahmu, kutebak saat itu kau jadi Pollux, bukan. Kau terlihat normal hari itu.”

Pax mendengus, sedangkan Megan dan Paula menganga mendengar hal itu. Mereka langsung tahu bahwa Alena mengenal Pax maupun Pollux, tapi tidak menyadari bahwa keduanya berbeda.

“Lalu apa lagi yang kau lakukan bersama Pollux?” Paula menarik Alena untuk duduk di sofa.

“Jogging dan kami akan bercerita banyak hal, layaknya tetangga yang akur,” jawab Alena polos.

“Tetangga?” Paula dan Pax kembali kompak bertanya.

Pintu terbuka, semua menoleh. Pollux berdiri di sana.

“Yassalam, apa ini?” Alena menganga. Ia melihat dua pria tampan yang sama persis, berdiri di tempat yang berbeda. “Apa ini yang dikatakan Upin Ipin?” Alena mendadak panik, ia memegang dadanya, melindungi jantungnya agar tidak melompat ke luar.

Pollux masuk dengan senyum geli di wajahnya. Melihat hal itu Megan kembali cemburu. Kenapa bukan ia yang menjadi alasan tawa di wajah pria itu.

“Kau sudah menyadarinya dari awal.” Pax menatap tajam ke arah saudaranya.

Pollux menggidikkan bahu tidak acuh.

“Katakan kau dan dia tidak pernah berciuman, Lux!” Pax menggeram kesal.

“Maybe,” Pollux mengerling jenaka.

“Kau pasti terkejut, maafkan aku.” Pollux mengacak rambut Alena yang masih membatu di tempatnya.

“Singkirkan tanganmu, Lux!” Titah Pax.

1
pika shu
koq GK up² thor
lyani
GPL y Meg
lyani
aku sih iyesssss
lyani
kepemilikan bro
lyani
😀😀😀
lyani
Krn cintanya bukan utk Maria
iis nuriyah: kak up 2 ajj kurang ini malah up 1✌️✌️✌️✌️🤣🤣🤣🤣 ayo semangat lgi up,a🥰🥰🥰
total 1 replies
lyani
Lux
lyani
tunggu....
lyani
kurang jitu
iis nuriyah
kak mw tnya cerita ortu triple GK ad ya
BumbleBee: ada dong kak. Di judul Menikahi Pria Tidak Sempurna di season duanya. Lucas dan Angel
total 1 replies
iis nuriyah
best👍👍👍👍
iis nuriyah
kak up,a yg bnyak donk🤣🤣🤣gk puas bca,a saking seru,a🥰🥰
lyani
wani Piro 😅
lyani
ciyeeeee
lyani
🤣
lyani
Wilson Rodriguez bodoh soal wanita 🤣
lyani
/Facepalm/
lyani
😂
lyani
nah begini harusnya
lyani
😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!