~NOVEL KE 11~
Novel ini merupakan kumpulan cerita kehidupan dari seorang remaja sebelas tahun bernama Hani.
Dia adalah putri tunggal dari pasangan Lea dan Erik yang sibuk bekerja sepanjang waktu.
Sehingga sehari-hari nya, Hani bermain sendiri bersama pensil dan buku sketsa nya.
Semuanya berjalan biasa sampai ketika Hani menerima sebuah pensil ajaib dari seorang Pak Tua.
Mulai saat itu lah kehidupan monoton gadis kecil itu berubah jadi istimewa!
Yuk ikuti kisah-kisah nya!
catatan: Novel ini Mel dedikasikan khusus untuk dua bocil Mel (Ram dan Riy) dan umum nya untuk semua anak-anak hebat Indonesia.
Love you all, Kiddo..🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi
"Hallo, Nona manis.. Senang bertemu dengan mu lagi.."
Hani menatap ngeri ke arah Madame Go di hadapannya.
Sejak kejadian dipaksa masuk ke dalam mobil, Hani sudah menduga kalau ia mengalami penculikan lagi.
Tapi saat ia melihat Madame Go kembali. gadis itu tetap saja terkejut. Tak menyangka kalau tebakannya itu akan benar.
'Bagaimana ini? Mama di mana? Apa Mama juga diculik??' tanya Hani dalam hati.
Mata gadis itu langsung melayang ke sekitarnya. Demi mencari keberadaan sosok Lea. Namun sayangnya, ia tak jua melihat Lea di manapun.
Saat ini Hani berada di ruang kantor Madame Go. Ia tak tahu sudah berapa lama berlalu sejak ia diculik lagi. Karena tepat setelah masuk ke dalam mobil, Hani langsung dibius hingga tak sadarkan diri. Ketika ia tersadar, tahu-tahu ia sudah berada di ruang kerja Madame Go.
"Kau mencari Mama mu ya? Sayang sekali. Aku tak mengundangnya ke tempat ini. Lagipula, lebih baik bila kita selesaikan urusan kita berdua saja, bukan Han? Kau tentu tak ingin Mama mu ikut terlibat dan menjadi wanita penghibur di rumah ku ini?"
Hani sebenarnya tak terlalu mengerti dengan istilah 'wanita penghibur' itu. Namun gadis itu bisa menebak kalau itu adalah hal buruk yang bisa terjadi pada Mama nya bila benar Lea ikut diculik juga sepertinya.
"Apa mau mu, Tante? Apa Tante menginginkan uang?" Hani memberanikan diri untuk bertanya.
"Jangan panggil aku Tante. Aku bukan Tante mu! Dan uang? Tidak.. Tentu saja bukan itu yang ku mau, Nona manis. Yah.. Walaupun aku juga tak akan menolak bila orang tua mu ingin menukar mu dengan sejumlah uang," ujar Madame Go seraya terkekeh kecil.
Hani tampak kebingungan dengan ucapan sang Madame. Karena itulah ia kembali membenarkan diri untuk bertanya padanya.
"Kalau begitu, apa yang Tante mau, kalau bukan uang?"
"Aku ingin tahu, bagaimana cara mu bisa melarikan diri bersama teman-teman kecil mu kemarin?!"
Hani tersentak kaget. Sesaat kemudian tangan nya reflek memegang kantung celana yang ia kenakan. Di mana dalam kantong tersebut terdapat pensil ajaib miliknya.
'Bagaimana ini? aku jelas tak boleh mengatakan tentang pensil itu kepada wanita jahat ini. Bagaimana jika dia mengambil pensil ku?' Hani sibuk berpikir tanpa suara.
"Kenapa diam? Ayo Nona manis. Aku yakin, kau pasti mempunyai sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Mungkin sesuatu seperti.. Pensil ajaib?" tebak Madame Go dengan sangat tepat.
Hani kian terlihat gugup. Tangan nya lagi-lagi reflek langsung memegang kantong celana nya. Dan gestur itu juga telah dilihat oleh Madame Go.
Sesaat kemudian, Sang Madame memberikan titah pada anak buah nya yang berada di dalam ruangan itu juga.
"Kau! Keluarkan pensil atau benda apapun yang ada di dalam kantong celana anak itu!"
Sang anak buah langsung melakukan perintah Madame Go. Meski ia menerima perlawanan dari Hani, namun lelaki bertubuh kekar itu akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah pensil dari dalam kantong Hani.
"Jangan! Jangan ambil pensil Hani!"
Hani berusaha mengambil kembali pensil nya. Namun usahanya itu berakhir sia-sia. Karena ada pengawal lelaki lainnya yang sigap menahan Hani hingga tak bisa bergerak bebas lagi.
Sementara itu Madame Go memandang tertarik pada pensil hasil rampasannya.
'Jadi, inikah pensil ajaib itu? Bagaimana caranya agar anak ini mau memberitahu ku cara menggunakannya?' Madame Go sibuk berpikir sendiri.
Kemudian ia mengambil secarik kertas kosong dalam laci meja nya. Dan ia menuliskan sesuatu pada kertas tersebut.
'Uang' begitulah yang ia tuliskan di kertas itu.
Akan tetapi setelah menunggu beberapa saat, tak ada perubahan apapun yang terjadi. Sehingga sang Madame pun menatap bingung pada pensil yang berada di tangannya itu saat ini.
Detik kemudian Madame Go teringat pada rekaman kejadian saat Hani dan dua anak lainnya menghilang. Saat itu Hani tampak seperti sedang menggambar.
'Apa aku harus menggambar sesuatu yang ku inginkan terlebih dahulu sebelum yang ku inginkan bisa terwujud?' pikir sang Madame lebih lanjut.
Menit-menit berikutnya, Madame Go pun sibuk menggambar. Kali ini ia menggambar bunga. Tak ada yang bisa ia gambar dengan cukup baik. Karena memang, ia tak memiliki bakat dalam hal menggambar.
Madame Go kembali menunggu sesuatu yang ajaib terjadi. Namun tetap saja, hanya sepi sunyi saja lah yang menjawab harapan kosong nya itu.
Madame Go akhirnya habis kesabaran. Pandangannya langsung kembali kepada Hani.
"Nona manis.. Bisa kau tunjukkan bagaimana cara kerja pensil ajaib ini?" tanya Madame Go to the point.
Hani langsung bungkam seribu bahasa. Dan itu membuat Madame Go langsung menyipitkan mata ke arah nya.
Sesaat kemudian, Madame Go memberi isyarat pada seorang pengawal nya. Sang pengawal pun lalu keluar ruangan. Untuk selanjutnya kembali lagi dengan menyeret paksa seseorang bersamanya.
"Lepaskan aku! Tante sudah berjanji untuk membiarkan ku pergi!" Teriak gadis muda yang ditarik paksa oleh pengawal Madame Go ke dalam ruangan. Gadis itu adalah Tara.
Hani memandang bingung kepada Tara. Ia tak menyangka kalau Tara juga diculik lagi oleh Madame Go.
'Apa itu berarti Nuri juga diculik oleh wanita jahat itu? Bagaimana ini? aku harus menemukan Nuri juga berarti sebelum aku pergi dari sini!' gumam batin Hani tanpa suara.
"Hani?!"
Tara terkejut saat pandangannya beradu dengan kedua netra milik Hani. Sesaat kemudian ia terburu-buru memalingkan pandangan nya ke arah lain.
Gadis enam belas tahun itu merasa bersalah kepada Hani. Karena sebabnya lah sehingga Hani kembali ditangkap oleh Madame Go. Ini terjadi karena Tara lah yang telah memberitahu alamat rumah Hani kepada wanita jahat tersebut.
"Jadi, Nona manis.. Bagaimana bila kita sedikit bermain-main dengan Tara? Apa aku harus melakukan sesuatu dulu kepadanya. Sebelum kau mau memberi tahukan ku tentang cara kerja pensil ajaib ini, Hmm..?" ujar Madame Go memecah keheningan yang ada di ruang kerja miliknya.
Hani bergeming. Tak menanggapi ucapan Madame Go sama sekali.
Pada mulanya ia tak mengerti dengan arah pembicaraan Madame Go. Sampai ketika Madame Go memberikan isyarat kepada salah satu pengawalnya. Dan pengawal itu tiba-tiba menarik kasar rambut Tara ke belakang. Dan itu membuat Tara langsung menjerit kesakitan.
"Aduhh! Sakit!" pekik Tara yang kesakitan.
Hani ikut mengernyit saat melihat Tara disiksa kemudian. Dan ia lebih merasa ngeri lagi, manakala ia melihat jari tangan Tara diinjak kencang oleh kaki pengawal dari Madame Go.
Ruangan kecil tersebut selanjutnya terisi oleh jerit tangsi dan kesakitan Tara. Hingga akhirnya Hani tak lagi mampu untuk mendengarnya lagi. Dan ia berontak saat itu juga.
"Hentikan! Jangan siksa dia, Tante! Dia kesakitan!" Pekik Hani merasa iba.
"Aku sih mau saja berhenti menyiksanya. Nona Manis. Tapi setelah kau mau memberi tahukan ku bagaimana cara kerja dari pensil ajaib ini? Bagaimana, Nona Manis?" tutur Madame Go mengajak negosiasi.
***