Mohon bijak memilih bacaan!
Mampir ke IG @oceannavinli untuk lihat visual
🍃🍃🍃
Dalam keadaan mabuk berat, Selena salah masuk kamar yang terhubung antara satu lewat sebuah pintu khusus yang berada di dalam kamar
Ia tak tahu ternyata sang pemilik kamar adalah musuh bebuyutannya, siapa lagi kalau bukan Nickolas Andersean, seorang playboy cap kadal tengah mabuk berat juga.
Keesokan hari, keduanya orangtua mereka memergoki Nickolas dan Selena saling dalam keadaan telanjang. Bagai di sambar petir di siang bolong mereka pun dinikahkan segera tepat di hari itu.
Bagaimanakah kisah rumah tangga antara Nickolas dan Selena? Mengingat keduanya saling membenci satu sama lain? Dan apakah hati mereka bisa terhubung antara satu sama lain seperti sebuah kamar 'Connecting Room'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty Five
Kediaman Samuel.
"Alexa, apa Samuel belum pulang?" tanya Selena kala melihat Alexa tengah sibuk mengelap meja di ruang tengah.
Alexa menghentikan gerakan tangannya kemudian mengalihkan pandangan ke arah Selena tengah memandanginya dengan tatapan penuh harap.
"Belum Nona, sepertinya Tuan Samuel masih sibuk dengan proyeknya." Alexa tersenyum hangat.
Selena menarik napas dalam. Sejak beberapa minggu yang lalu. Dia jarang sekali bertemu Samuel. Samuel seakan menghilang di telan bumi. Sampai-sampai Selena tak bisa berbicara pada sahabatnya itu. Dia pun berusaha menghubungi Samuel menggunakan ponsel barunya yang dibelikan Dimitri kemarin. Sebab ponsel lamanya sudah rusak akibat terjatuh ke kolam renang. Jadi, kontak di ponselnya sekarang hanya ada nomor Samuel dan Dimitri saja.
Selena menyesal karena tak menghapal nomor Mommynya dan mertuanya. Perasaan kalut seketika menyelimuti jiwanya. Terakhir kali ia mengirimkan pesan pada Mommynya memberitahu kalau dia berada di Moskow, sedang menenangkan diri atas sikap Nickolas. Sebagai seorang ibu, Naomi memakluminya dan berharap putrinya dapat segera kembali ke Los Angeles.
Kini Selena ingin pulang ke Los Angeles. Dan mau memberitahu Samuel. Namun, sejak kemarin baik Dimitri dan Samuel tak bisa dihubungi sama sekali.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Alexa bertanya lagi saat melihat Selena tercenung saat ini.
"Aku tidak apa-apa, tenyata Samuel benar-benar sibuk, ya sudah aku mau ke taman dulu." Selena tersenyum kecil lalu melenggang pergi dari hadapan Alexa.
"Maafkan saya, Nona. Kasihan sekali Nona Selena," Alexa bergumam pelan, melihat punggung Selena menghilang dari pandangannya.
Di taman belakang.
Selena mengotak-atik ponselnya, ingin mengunduh aplikasi instagram ataupun itu. Akan tetapi, ponsel yang dibelikan Dimitri tak bisa sama sekali menginstal aplikasi tersebut. Seakan di atur hanya untuk menelepon seseorang. Selena tak menyerah. Jari-jemarinya asik sendiri mengusap-usap layar ponsel. Berharap bisa terinstal, namun untuk kesekian kalinya selalu gagal.
Seandainya saja aplikasi bisa terunduh dia ingin meminta bantuan kepada Neytiri.
"Permisi Nona, ini cemilan untuk anda?" Alexa meletakkan piring di atas meja, yang di dalamnya ada beberapa potongan buah semangka.
Selena menoleh kemudian menaruh ponselnya di atas meja. "Terima kasih, Alexa."
"Sama-sama, Nona saya mau memberitahu kalau sebentar lagi Tuan Samuel pulang ke rumah," sahut Alexa seketika.
Kedua mata Selena berbinar-binar, mendengar kabar kalau Samuel akan pulang ke rumah.
"Benarkah?"
"Iya Nona. Mereka dalam perjalanan sekarang."
"Baiklah, sekali lagi terima kasih Alexa."
"Sama-sama, Nona. Selagi menunggu Tuan Samuel. Makanlah cemilan itu Nona."
Selena mengangguk cepat lalu mulai mengambil garpu kecil di samping piring.
"Saya permisi, Nona." Alexa membungkukkan badan sedikit kemudian berlalu pergi.
Akhirnya aku bisa pulang, sudah cukup aku main-main di sini, kasihan Mommyku di sana, pasti dia mengkhawatirkan aku.
Selena berbicara di dalam hati sambil memasukan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Hoek!" Belum sempat Selena mengunyah buah berwarna merah itu. Perutnya tiba-tiba bergejolak, dia langsung mengeluarkan potongan buah itu seketika. Kemudian menyemburkan makanan tadi pagi ke atas rerumputan.
"Hoek, hoek, oh my God! Ada apa denganku?" Selena menarik napas panjang, menenangkan dirinya sendiri. Dia nampak berpikir sejenak saat baru saja teringat kalau bulan ini dia belum datang bulan.
"Aku tidak mungkin hamil." Akhir-akhir ini, Selena hampir setiap hari muntah-muntah. Dia memegang perutnya, meremas sedikit dress panjang yang ia kenakan sekarang. Tengah menerka-nerka sejenak.
"Selena, kau kenapa?"
Di belakang sana, Samuel berjalan cepat menghampiri Selena. Melihat Selena tengah menundukkan muka ke bawah.
Selena berbalik lalu mengusap cepat bibirnya. "Samuel, akhirnya kau datang!"
Samuel tak langsung menjawab, malah melebarkan mata, melihat bekas muntahan di rumputan.
"Alexa!!!" teriak Samuel nyaring.
Selena tersentak dan tanpa sadar memundurkan langkah kakinya.
Dari dalam mansion, Alexa berjalan tergesa-gesa menuju taman belakang.
"Iya Tuan, ada apa?" tanyanya dengan napas terengah-engah.
Plak!!!
Selena tergelak di tempat, melihat Alexa di tampar Samuel barusan.
"Apa yang kasi dengan Selena ha?! Kau tidak lihat, dia muntah! Apa kau meracuninya!" bentak Samuel sambil menampar Alexa sekali lagi.
"Ahk! Ampun Tuan!" Alexa langsung bersimpuh di hadapan Samuel, menitihkan air matanya seketika saat rasa panas menjalar di pipinya saat ini.
"Samuel, hentikan!" Selena menarik tangan Samuel. "Kenapa kau menampar Alexa, dia tidak salah Sam. Perutku sedang tidak baik, bukan karena Alexa meracuniku," ucapnya dengan degup jantung yang berdetak cepat, ketika Samuel menatapnya dingin sekarang.
Samuel mendengus sejenak lalu berkata,"Pergi kau dari sini! Sebelum aku melayangkan tamparan di wajahmu itu!"
Alexa mengangguk cepat lalu berlarian masuk ke dalam mansion.
"Sam, kenapa kau bersikap seperti ini? Kasihan Alexa." Selena memberanikan diri membuka suara terlebih dahulu.
Hening sesaat.
Samuel seakan enggan membalas pertanyaan Selena. Dia malah memberi kode Dimitri untuk pergi.
"Kata Alexa, kau mencariku? Apa kau merindukanku, Selena?" Selepas kepergian Dimitri, bukannya menjawab pertanyaan Selena. Dia malah mengalihkan pembicaraan.
Selena keheranan sekarang, perubahan raut wajah dan sorot mata Samuel berubah dalam sekejap. Yang semula menakutkan, kini terkesan lebih ramah. Perasaan takut dan was-was menyelimuti hatinya sejenak.
"Em, Sam, sebenarnya aku mencarimu, karena ingin mengatakan padamu kalau aku mau pulang ke Los Angeles, aku merindukan Mommyku, Sam," ucap Selena dengan sangat hati-hati.
"Apa kau merindukan Nickolas?" Samuel malah bertanya balik sambil melayangkan tatapan tajam.
Selena meremas gaunnya seketika saat merasa hawa di sekitarnya tak nyaman.
terimakasih author 👍👍👍👍